
At New York
Rudi memandangi ibunya yang masih tertidur pulas. Sudah pukul 10.15 pagi waktu setempat, itu artinya di Jakarta saat ini sudah pukul 22.15 malam.
Belum genap satu hari ia berada disana, setelah dari bandara yang dituju pertama kali adalah rumah sakit. Memastikan kebenaran yang dokter kabarkan bahwa kondisi ibunya kian membaik.
Rudi membalikkan tubuhnya berjalan menuju sofa tunggu, disana ia duduk mencakung menunduk dengan jemari saling bertaut. Terakhir kali ia berada diruangan itu beberapa bulan yang lalu, kemudian pulang membawa harapan baru untuk mengejar ketertundaan. Tapi nyatanya ia kalah cepat dengan takdir Tuhan.
Amaira Husna kini telah menjalani kehidupan baru, tak berhak Rudi mengusiknya. Bisa saja Rudi merebutnya tapi hal itu tak akan terjadi, sebab sama saja ia menghancurkan dirinya sendiri. Jangan terulang lagi, batinnya berbisik seraya menggeleng menepis pikiran buruk.
Dan kini Rudi tak bisa menolak fakta bahwa ia sudah berstatus sebagai seorang suami. Disaat harapannya tak menjadi kenyataan justru ia bertemu dengan Soraya.
Soraya. Sedang apa ia disana? batinnya.
Rudi menegapkan tubuhnya lalu merogoh ponsel dari saku celananya. Saat membuka pesan aplikasi dari Soraya, muncul tulisan online disana. Segera ia mendial nomornya, tak butuh waktu lama panggilan telpon kini sudah terhubung.
"Halo," ucap Soraya diseberang sana.
__ADS_1
"Belum tidur?"
"Mmm, aku belum mengantuk. Ada apa?"
Rudi mengernyit. Tak ada apa-apa sebenarnya, batinnya.
"Istirahatlah bukankah disana sudah malam," ucap Rudi memperingatkan.
"Baiklah, tapi tunggu jangan ditutup dulu!"
Perkataan Soraya membuat Rudi mengurungkan niatnya untuk mengakhiri panggilan, kemudian ia menyahuti, "Ada apa lagi?"
"Kondisinya sudah semakin sehat."
"Syukurlah," ucapan Soraya terdengar kelegaan. "Kapan kamu akan pulang?"
"Aku akan mengabarimu setelah aku bertemu dengan dokter yang menangani Mama"
__ADS_1
"Baiklah jaga dirimu disana, dan aku juga akan belajar untuk bersiap sesuai dengan apa yang kamu minta," kata Soraya terdengar yakin.
"Ohya," tanpa sadar bibir Rudi sedikit melengkung.
"Tentu! Kalau begitu sampai jumpa. Aku tutup telponnya, selamat malam."
Panggilan telpon itu sudah berakhir, kemudian Rudi beralih mencari nomor dari daftar kontak pribadinya. Setelah mendial dan tersambung Rudi berujar memberi perintah, "Selidiki Soraya, istriku. Cari tahu detail informasinya sampai yang terkecil. Aku butuh secepatnya. Dan jangan sampai Kakek tahu akan hal ini."
Baru saja Rudi menelpon salah satu orang kepercayaan Kakeknya. Ia meminta bantuan mencari tahu mengenai istrinya. Persiapan yang Rudi lontarkan beberapa hari yang lalu adalah tentang keterbukaan Soraya. Agar mereka bisa saling berbagi satu sama lain, karena perjanjian sebelumnya menurut Rudi sudah tak berlaku lagi. Apa yang ada didepan mata Rudi akan menjalaninya.
Toh kini mereka telah terikat dalam suatu ikatan pernikahan yang sakral. Meski berjalan tanpa cinta, tapi tak berarti kedepannya akan sama. Sebab cinta bisa datang kapan saja, tak perlu sekarang bisa saja diwaktu yang akan datang.
Tak lama pintu terdengar diketuk, terlihat dari arah pintu yang terbuka ada beberapa dokter dan perawat yang datang. Mereka mulai memeriksa keadaan pasien.
Dokter menjelaskan keadaan pasien sudah stabil dan sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Aluna juga memberi saran kepada Rudi, agar ia menemani ibunya untuk sementara waktu.
To be Continue
__ADS_1
Update lagi meski pendek, jangan lupa Jempol juga komentarnya agar author makin semangat updatenya 😘😘😘😘