
Soraya menarik ponselnya yang tengah bergetar, ia tercengang bahkan matanya sampai membeliak. Sampai-sampai ia membaca dua kali isi pesan yang tertulis disana, tak berselang ia nampak kegirangan.
Segera Soraya berlari menuju ruang kerja milik Rudi. Entah karena merasa girang atau senang bukan kepalang, ia membuka pintu dan masuk tanpa permisi.
Rudi yang sedang sibuk dengan laptopnya tersentak akibat ulah Soraya, ia seketika menghentikan aktifitasnya dan matanya kini beralih menatap Soraya.
Soraya tak bisa membaca tatapan Rudi kali ini, ia justru membalasnya dengan cengiran yang terkesan canggung. Bagaimana tidak, ia tersadar akan ulahnya tadi terkesan bar-bar.
"Apa kamu akan tetap diam berdiri disitu tanpa mengatakan apapun?"
Sambil menggaruk kepala, Soraya mulai bersuara, "Apa aku mengganggu mu?" tanyanya yang terkesan basa-basi.
"Bila kamu tetap berdiam diri disitu, itu akan membuang waktuku. Sekarang katakan apa tujuanmu." kata-kata Rudi terdengar tajam, membuat Soraya mendegus pelan.
Sabar, jangan dimasukkan dalam hati, batin Soraya.
__ADS_1
Soraya melangkahkan kaki mendekat ke arah Rudi, ia berdiri di hadapan pria itu. Rudi langsung menutup laptopnya memperhatikan tingkah aneh Soraya yang juga tak kunjung mengeluarkan sepatah kata, bahkan terlihat jemari Soraya memelintir ujung kaos yang ia kenakan.
Alis Rudi terangkat, "Bicaralah."
"Aku mau memberi kabar baik untukmu," ucapnya setelah menarik nafas panjang, senyum mengembang kemudian Soraya melanjutkan ucapannya, "Lusa aku ada wawancara dengan pihak agensi baru dan bila aku diterima aku akan segera mengikuti casting."
"Hanya itu?"
Bibir Soraya langsung memberengut menanggapi ucapan Rudi, hanya itu responnya. "Kamu!" tuding Soraya kesal. "Gak ada basa-basinya. Ucapkan Selamat atau apalah. Buat orang bahagia apa susahnya sih!" gerutu Soraya.
Rudi mengangguk-anggukan kepalanya, tatapan matanya tak luput memandangi wajah Soraya yang terlihat kesal. "Kalau begitu selamat," sahutnya kemudian.
Rudi menghela nafasnya kemudian berdiri mendekat kearah Soraya. "Mulai dan lakukanlah pekerjaan barumu dengan baik," kata Rudi menujuk kening Soraya dengan jari telunjuknya, mendorongnya pelan agar Soraya menegakkan kepalanya.
Mata mereka berdua saling beradu. "Ten—tu," kata Soraya kembali gugup, karena jarak yang begitu dekat.
__ADS_1
"Lalu kapan kamu akan memulainya?" tanya Rudi seraya menarik tangannya, kini ia mundur berdiri bersandar di meja kerja sambil melipat tangan didepan dada.
"Lusa. Dan besok aku akan pergi ke kantor ada sedikit urusan."
Rudi mengangguk. "Apa perlu aku mengantarmu?" tanyanya pada Soraya sebab mengingat tak ada mobil lain di lantai parkiran basement apartemennya.
Soraya menggeleng. "Kamu ada jadwal pagi kan? Lebih baik aku menelpon supir pribadiku. Aku tak ingin terlalu banyak merepotkanmu."
Rudi hendak berujar namun Soraya dengan segera menyela, "Dan lusa Jenny akan menjemputku, jadi aku tak merepotkanmu," kata Soraya dengan cengiran.
"Baiklah, kalau itu yang kamu mau. Lantas untuk apa kamu memberitahuku?"
"Bukankah kamu yang memintanya, aku harus lapor padamu. Kamu sendiri yang mengatakan bahwa kamu kepala keluarga disini. Jadi aku pikir aku harus memberitahumu dan tentunya meminta ijin terlebih dahulu," ucap Soraya dengan suara yang terdengar lebih pelan.
Rudi terdiam mengamati Soraya. Ada kegembiraan yang timbul di hatinya. Nyatanya wanita dihadapannya melakukan tugasnya, apa yang ia katakan juga dituruti tanpa ada bantahan. Rudi menahan desiran yang tiba-tiba saja muncul merasuk di dadanya.
__ADS_1
Tak mungkin secepat ini, kata hatinya sukar mengakui.
To be Continue