Risalah Hati

Risalah Hati
Episode 21


__ADS_3

Rudi menghembuskan nafas kasar, tadi siang dirinya dilamar oleh seorang wanita. Bahkan untuk nama wanita itu saja ia lupa. Aneh memang, padahal sudah beberapa kali pertemuan antara dirinya dengan Soraya.


Kini Rudi memandangi kartu nama milik Soraya. Sekilas ia membaca, meremas kemudian melemparkannya ke dalam tong sampah. Tak peduli akan pesan yang diucapkan oleh Soraya tadi siang, yakni untuk menghubunginya.


Sebenarnya menelisik ucapan dari Soraya ada benarnya. Rudi lebih membutuhkan seorang pasangan hidup, sebab kakeknya sudah berulang kali mendesak, memintanya untuk segera menikah. Bila kemarin-kemarin ia selalu beralasan, tunggu sebentar lagi. Karena harapannya adalah menjadikan Amaira sebagai pendamping hidup. Kini jelas sudah harapan itu tiada, sebab janur kuning telah melengkung tak bisa untuk diluruskan kembali.


Keesokan harinya, Rudi melakukan tugas seperti hari biasa. Berada di ruang pribadinya mengerjakan tugas dan pekerjaannya sebagai dokter. Fokusnya pada layar komputer terlalihkan dari bunyi telepon, segera ia mengangkatnya dan tak berapa lama ia beranjak keluar menuju ruang direktur utama rumah sakit.


"Kakek memanggilku," kata Rudi usai menutup pintu.


"Iya duduklah!" ucap Kakeknya yang tak lain adalah Prasetyo Nugroho, selaku direktur utama juga pemilik dari rumah sakit tempat Rudi bekerja.


Rudi duduk di kursi sofa, berseberangan dengan posisi kakeknya.


"Kakek dengar kamu sudah memiliki seorang pasangan?," kata Kakeknya.


Air muka Rudi tampak berubah. Ia kemudian menggeleng pelan, menampik ucapan Kakeknya.

__ADS_1


Alis Kakeknya berkerut, lalu ia terkekeh, "Tak usah menyangkal, Kakek sudah mengetahuinya. Lagi pula, Kakek tak akan melarang kamu memiliki hubungan dengan wanita mana pun. Asalkan asal usul wanita itu jelas."


"Maksud Kakek?" tanya Rudi yang makin tak paham arah ucapan yang Kakeknya tujukan padanya.


"Selama ini Kakek menyuruhmu agar segera memiliki pendamping hidup, dan kamu selalu punya alasan untuk mengulur waktu. Baiknya Kakek yang harus ambil tindakan. Malam ini Kakek sudah siapkan pertemuan antara dua keluarga. Dan Kakek tak terima alasan lagi, apapun itu!," ucap Kakeknya penuh penekanan.


Rudi tercekat, pandangannya berubah serius.


"Jangan kira Kakekmu ini tidak tahu apa yang terjadi di hotel Wijaya. Saat menyuruhmu untuk menggantikan Kakek, aku juga meminta orang kepercayaanku datang bersamamu."


"Apa kamu masih menyangkalnya?" tanya Kakeknya setelah melempar beberapa lembar foto yang memperlihatkan Rudi dan Soraya tengah bergandengan tangan.


Seraya ditimpa batu besar. Rudi tak bisa menyanggah foto itu, karena itu benar dirinya. Tapi kenyataannya tak sesuai dengan yang dipikirkan oleh Kakeknya, ia tak punya hubungan apa-apa dengan wanita dalam foto itu. Otaknya terus berfikir, namun tak ada kata yang bisa ia utarakan. Kakeknya adalah orang yang keras kepala, ia tak mudah percaya bila tak ada bukti. Sementara foto itu dan juga orang kepercayaan Kakeknya yang berada di tempat kejadian beberapa hari lalu, seolah memberatkan bila Rudi berusaha menyangkal.


"Malam ini kita ke hotel Wijaya," ucap Kakeknya berdiri dan kembali duduk di kursi kepemimpinannya.


**

__ADS_1


Soraya tak bisa tidur semalaman karena memikirkan tindakannya kemarin hingga wajahnya kini terlihat kuyu. Dua kali melamar pria yang sama, aneh dan gila pikirnya. Sekali ditolak dan kali ini ia menggantungkan harapannya pada dering ponselnya. Sudah sekian lama ponsel itu ia amati, berharap ada nomor tak dikenal menghubunginya, yang tak lain adalah Rudi.


Tapi bila kenyataannya ia ditolak lagi, mungkin hal itu akan menjadi sebuah memori yang tak akan pernah bisa ia lupakan seumur hidup. Ia harus siap mencari cara lain, lelaki bayaran barang kali.


Ponselnya kini berdering, segera ia mengamati nama atau nomor yang muncul di layar ponsel pintarnya. Namun tak sesuai harapan, justru sangat jelas nama yang terpampang disana tertulis Om Bramantyo. Dengan lesu ia menggeser ikon hijau, lalu meletakkan ponsel itu tepat di telinga kanannya.


Terdengar diseberang sana, Omnya memberitahukan malam ini ada acara pertemuan keluarga dan Soraya diminta untuk bersiap menghadiri acara.


Bibir tipisnya kian mengatup, hanya suara gumaman yang Soraya keluarkan hingga telepon itu berakhir.


Nyatanya sekarang hari sudah sore, sudah lebih dari dua puluh empat jam namun belum ada kabar. Apa lelaki itu sibuk karena pekerjaannya hingga lupa dengan ucapan Soraya kemarin siang, atau kemungkinan buruk nomor yang Soraya berikan sudah dibuang makanya tidak menghubunginya.


Berjalan gontai, Soraya kini bersiap hendak menghadiri acara keluarga sesuai dengan perintah yang Omnya berikan.


To be Continue


pendek dulu yaaaa

__ADS_1


__ADS_2