Risalah Hati

Risalah Hati
Episode 43


__ADS_3

"Huuuuft—," Soraya dan Jenny menghela nafas secara bersamaan. Kini mereka sedang melakukan perawatan di salon tempat langganan mereka.


"Nganggur ternyata gak enak," gumam Soraya kemudian melirik Jenny, lantas Jenny pun meliriknya.


"Apalagi aku harus bayar cicilan, kontrakan, makan. Mana sebulan ini gak perawatan, duh.... bakalan cepat keriput mukaku ini!," gerutu Jenny dengan berucap disertai gerakan gaya manja yang terdengar berisik, padahal kali ini sang pekerja salon sedang memberi masker padanya. Alhasil akibat banyak bergerak masker yang masih basah belepotan dimuka Jenny. "Ih Mbak yang bener dong!" omel Jenny pada pegawai salon.


"Masnya aja yang kebanyakan gerak," kata pegawai salon mencoba membela diri. Memang begitu adanya, batin pegawai salon.


"Apa?. Kamu panggil aku apa?. Mas?" ucap Jenny secara memekik. "Jenny, panggil aku Jenny!" tegasnya lagi.


Soraya dan pegawai yang melayaninya pun terkikik akibat ulah Jenny. "Berisik amat, ganggu pelanggan lain," kata Soraya memperingati.


"Pantesan, kamu pegawai baru ya?" tanya Jenny pada pegawai salon yang melayaninya dan dijawab dengan anggukan. "Hafalin namaku kalau perlu catet. J E N N Y," ucapnya mengeja nama.


"Awas kalau lupa, potong gajimu!" Jenny pun kemudian mulai membenarkan tidur berbaringnya, menikmati cairan masker yang mulai meresap di kulit wajahnya.

__ADS_1


"Gimana suami kamu?" tanya Jenny dengan mulut bergumam, sebab masker wajahnya sudah mulai mengering terasa kaku diwajah.


"Gak gimana-gimana. Dia masih di New York," jawab Soraya juga bergumam.


"Kenapa kamu gak ikut, sekalian bulan madu gitu?"


"Rudi disana lagi ada kerjaan," kata Soraya memberi alasan, agar tak menimbulkan tanya lebih.


"O—," Jenny ber-oh ria menanggapi ucapan Soraya. "Lalu gimana tanggapan suamimu setelah malam resepsi itu?"


"Dia gak mempermasalahkannya," ucap Soraya. Dari ekor mata Soraya, ia dapat melihat Jenny hendak membuka sedikit mulutnya, sebelum hal itu terjadi Soraya lebih dulu mengajukan pertanyaan pada orang disampingnya. "Kamu itu sebenarnya mau cari bahan berita atau apa, kenapa dari tadi nanya gak ada selesai-selesainya?" kata Soraya sambil berdesis.


"Kepo," sahut Soraya cepat-cepat. "Lalu gimana donk masalah kerjaan, udah ada agensi atau management artis yang lagi butuh kita gak?" tanya Soraya.


Jenny menghela nafas. "Sejauh ini mereka belum ada job. Tapi mereka bakal hubungi kita kalau ada project baru."

__ADS_1


"Tambah lama nganggurnya," ujar Soraya disertai menghela nafas panjang.


"Kamu masih enak, kaya dari lahir. Hidup gak kekurangan, apa-apa sudah terpenuhi. Beda sama aku yang sibuk utang sana-sini," keluh Jenny lagi-lagi.


"Ya udah sini biar aku yang utangin kamu. Butuh berapa?" tantang Soraya.


"Emang mau dibayar pake daun?" sahut Jenny yang sebenarnya dalam benaknya sudah tak enak hati.


"Gak masalah kalau bayarnya pake daun pisang satu kontainer," cetus Soraya sambil memejamkan matanya.


"Lah kalau mintanya segitu, berapa batang pohon Non? Haisttt ada-ada aja. Gak jadi ngutang lah kalau begitu!" seru Jenny ditanggapi kekehan oleh Soraya.


Hal itu nyatanya di dengar dan diamati oleh orang yang tak jauh dari mereka berdua, dengan sorot mata memincing sesekali melirik ia memastikan tak ada ucapan Soraya dan Jenny yang terlewatkan. Dengan senyum serigai ia kemudian bangkit dan meninggalkan tempat.


To be Continue

__ADS_1


**maaf kalau part ini rada garing, besok si abang Rudi udah author pulangin kug


Jadi jangan lupa Jempol Komentar juga VOTE-nya ya, agar author makin semangat nulisnya 😘😘😘**


__ADS_2