
Rudi, Soraya beserta keluarga dan teman-temannya kini tengah berada di pengadilan. Kasus yang tengah menimpa Soraya beserta para pelapor lain kini telah masuk dalam proses persidangan.
Persidangan digelar dengan suasana cukup menegang. Sebab tersangka menyatakan lewat kuasa hukumnya mengatakan bahwa hubungan itu dilakukan atas dasar suka sama suka. Para korban itu yang datang sendiri kepadanya.
Jelas para korban kini menyangkal, hingga terjadi argumen dari pihak korban kuasa hukum juga lawan.
Namun dari banyaknya korban juga bukti-bukti yang ada, akhirnya Ardi Wiguna ditetapkan sebagai tersangka atas kasus pelecehan seksual, penyerang dan pemerkosaan. Oleh hakim kini ia dijatuhi hukuman penjara. Bahkan sudah dipastikan karirnya di bidang perfilman sudah mati.
Para wartawan kini juga berkumpul diluar ruang persidangan. Mereka meliput berita juga tengah menyorot Soraya. Nama Soraya kini mencuat, bahkan apa yang dulu tak diberitakan di media kini para wartawan berbondong-bondong mengorek informasi tentang kehidupan pribadi dari Soraya.
Publik seakan dibuat tercengang atas pribadi Soraya Lee. Sungguh kebenaran yang di suguhkan dalam gosip infotainment kali ini berbanding terbalik dengan yang dulu. Berbagai skandal, gosip miring dari artis simpanan juga prostitusi itu hanya hoaks. Ditambah dengan klasifikasi dari Angel juga managementnya terdahulu, kini nama Soraya seakan terlepas dari sensasi yang selama ini membelitnya.
Berbeda lagi dengan kondisi di kantor tempat Soraya bekerja. Semua karyawan seolah terguncang, orang yang tak pernah dianggap juga dipandang sebelah mata justru orang itu adalah atasan mereka. Bos, atasan tertinggi juga pemegang saham terbesar di perusahaan tempat mereka bekerja. Juga nama Soraya Lee yang mereka sering gosipkan, jadi bahan perbincangan mereka kala mengobrol maupun bergosip ria nyatanya adalah atasan mereka sendiri.
Seperti halnya kini yang dialami oleh Rizal. Ia terkejut bukan kepalang saat tak sengaja di lobby ia memperhatikan layar televisi disana. Ia ikut bergabung dengan teman-teman yang lainnya menyimak berita. awalnya ia hanya ikut-ikut, namun kelamaan ia jadi sedikit heran, rekan kerjanya bisa masuk dalam TV. Tapi setelah disimak lebih jauh, tubuhnya tiba-tiba melemas, kakinya lunglai di tambah wajahnya berubah pias.
"Mati aku," gumamnya.
Sontak teman-temannya kini menoleh ke arahnya. "Kamu ke Zal?" tanya rekannya yang terheran melihat Rizal tengah berlutut lemas di lantai lobby.
"Itu—," ucapnya dengan nada horor menunjuk ke arah TV. "Ngalamat besok dipecat," sambunnya dengan nada lemas.
"Memang kenapa?" tanya rekan kerjanya yang memang tak paham.
__ADS_1
Rizal menghela nafasnya panjang. "Dia Ibu Soraya, artis sekaligus atasan kita," ucap Rizal dan diangguki temannya. "Kalian gak sadar apa, dia itu yang sering bersama kita. Yang sering kita bentak, cuekin juga suruh-suruh dia seenak jidat. Siap-siap ajalah, kita tanggung bersama resikonya," ucap Rizal bangkit berlalu pergi.
Sementara teman-teman yang lain masih berdiri ditempat. Mereka terbengong, mencerna ucapan Rizal.
"Berarti Soraya Lee itu atasan kita?" celetuk salah satu karyawan disitu, dan dibalasi anggukan lesu yang lainnya.
"Aku udah bentak dia," celetuk salah satu karyawati bernama Mita.
"Bahkan aku juga udah cuekin dia," sahut karyawati bernama Sella.
"Aku sering banget nyuruh dia bikin kopi sama foto kopi berkas, juga kadang suruh dia salin tugas-tugas dengan tulisan tangan," ucap karyawan bernama Sarah sambil mencebikkan bibirnya hendak menangis.
"Bahkan aku gombalin dia," kata karyawan yang bernama Dedy.
Sontak kumpulan karyawan itu menoleh serempak pada Andi dan bertanya dengan ucapan serempak, "Lalu?"
"Ditolak," cetus Kevin tanpa mereka duga. "Kenapa masih berdiri disini? lanjutkan pekerjaan kalian," perintah Kevin pada mereka.
"Tapi tunggu Pak Kevin, bukannya Bapak dulu juga pernah ngejar-ngejar Ibu Soraya dan bahkan maksa nganteri Bu Soraya pulang. Bapak udah tahu belum? sini deh aku kasih tahu kalau yang Bapak kejar-kejar itu adalah Bos kita," ujar Mita dengan nada sok tahu.
"Awas lo Pak, kita nanti juga tanggung sama-sama kalau Ibu Soraya sampai pecat kita," sahut Sella senang seakan bertambah pasukan kubu berada dipihak mereka.
Kevin menahan senyumnya agar tidak pecah, kemudian berujar, "Sudah ngasih tahunya?" tanya Kevin memastikan pada mereka dan dibalasi dengan anggukan. Sedikit menghela nafas, kini ia berujar sambil menunjuk arah layar TV, "Yang kamu gosipkan itu adalah adik saya."
__ADS_1
Seketika karyawan dan karyawati itu syok bahkan ada juga yang gigit jari. Kevin pun berlalu pergi sambil geleng kepala.
***
Rasa lega kini telah dirasakan oleh Soraya. Tadi usai persidangan selesai beberapa wartawan mengerubunginya. Ada satu pertanyaan yang kini masih membekas dibenaknya. "Kapan kembali ke dunia hiburan?"
"Apa keputusanmu?" tanya Rudi yang kini menatap lurus kedepan pada kerlap-kerlip lampu taman kota. Sebab saat ini mereka tengah berada di taman kota mencari udara malam.
"Menurutmu?" tanya Soraya yang menoleh ke arahnya.
Rudi menarik nafasnya dalam, kemudian berujar, "Aku tidak melarangmu, bila profesi artis itu merupakan impuanmu aku akan mendukungmu, dan tugasku adalah lebih memberikan pengawasan untukmu." Rudi menoleh dan tersenyum pada Soraya.
Soraya sejenak terdiam. "Aku dulu bercita-cita menjadi seorang idola, bisa masuk TV, dikenal orang banyak dan jadi kebanggaan orangtua. Yang aku tahu dulu Mama adalah seorang artis pada masa mudanya. Beliau keturunan ada asli orang Korea, setelah menikah dengan Papa, beliau tak lagi menjadi seorang artis. Aku ingin sekali melanjutkan impian Mama, tapi sayang baru aku sadari aku—tidak berbakat," ucap Soraya dengan sorot mata sendu.
Rudi menyimak kata-kata itu hingga Soraya selesai berucap, Matanya menyorot dalam pada wanita yang duduk disampingnya. "Dan kini?" ucapnya menanyakan apalagi yang menjadi impian Soraya.
Soraya menarik nafas dalam-dalam, menghirup oksigen kuat-kuat. Hingga dadanya kini terasa penuh dan mengembang. Perlahan iamenikmati udara yang berhembus dari nafasnya. "Aku ingin tetap menjadi seorang idola," kata Soraya membalas tatapan Rudi. "Idola dihati kamu," ucap Soraya dengan senyum mengembang.
Rudi tiba-tiba berdiri, tangannya terulur dan dengan senang hati Soraya menyambutnya. "Kita pulang," kata Rudi dan sontak membuat senyum Soraya luntur. Ucapan Rudi seakan membuat buyar suasana hati Soraya.
Tangan Soraya pun kini menyentak melepas genggaman tangan Rudi, kemudian berjalan pergi. Belum sampai lima langkah ia mendadak terkejut, sebab Rudi kini menyergapnya. Menghentikan langkah juga mendekap tubuh Soraya dari belakang. Tanpa kata kepala Soraya menoleh kebelakang menatap Rudi yang juga tengah memperhatikannya. Lalu dirasakannya hembusan nafas Rudi yang hangat menerpa wajahnya.
Sementara Rudi, tatapannya kini terarah pada belah bibir mungil milik Soraya yang sedikit terbuka tampak begitu menggoda.
__ADS_1
To be Continue