
Rudi duduk dengan gelisah, Soraya bisa menangkap bahwa suaminya kini tengah dilanda kegusaran. Di kursi pesawat pun tak banyak kata yang mereka bicarakan.
Soraya begitu memahami situasi ini, maka dari itu ia kini meletakkan tangan Rudi diatas pangkuannya kemudian menggenggamnya erat, mencoba menyalurkan segenap kepedulian juga kehadiran dirinya hanya untuk orang disampingnya.
Rudi tak bisa mengatakan apapun, ia hanya menghela nafas panjang kemudian menyandarkan punggungnya pada kursi penumpang seraya menutup matanya rapat.
Perjalanan yang di tempuh cukup lama, mereka kini tiba di sana pada waktu tengah malam. Bergegas Rudi dan Soraya menuju rumah sakit tempat Mamanya Rudi di rawat.
"Bagaimana keadaan Mama?" ucap Rudi kala tiba diruangan Aluna. Sebab saat ia berada diruang inap, Ibunya nampak tak ada. Dan saat menanyakan pada perawat, ia hanya diberi arahan untuk menemui dokter Aluna diruangannya.
Sejenak Aluna terdiam ia berusaha mengatur kata yang akan ia keluarkan dari mulutnya. Hal itu pun membuat diri Rudi dipenuhi tanda tanya, ia menangkap ada sesuatu yang tak beres disana.
"Katakan?" ucap Rudi yang terdengar mengusik.
Aluna menarik nafas sebelum berujar. "Mamamu— tak dapat tertolong."
Tubuh Rudi kaku, seakan lantai yang di pijaknya kini menyedot seluruh energinya. Nafasnya tercekat memandang tak percaya orang di hadapannya. "Apa yang kamu katakan?" tanya Rudi seakan tak percaya, tapi lebih tepatnya tak terima.
Aluna sudah memperkirakan apapun yang akan terjadi, ia saat ini tengah kesulitan meneguk salivanya. Ingin mengatakan bahwa itu benar tapi rasanya suaranya tersendat di tenggorokan, dengan bersusah payah ia hanya berucap satu kata, "Maaf."
Atmosfer di ruangan itu nampak tegang, penuh kepedihan. Seperti halnya yang Soraya rasakan, ia berdiri disamping Rudi menyimak kata-kata yang baru saja dilontarkan. Tangannya kini kuat mencekal lengan suaminya yang berdiri bak patung, kaku tanpa ekspresi.
"Aku ingin bertemu," usai menarik nafas yang serasa menggumpal di dadanya.
__ADS_1
Tak banyak yang bisa Soraya lakukan kecuali mengikuti arah langkah kemana suaminya pergi. Kali ini mereka tengah berada diruang jenazah. Yang tak pernah disangka oleh Soraya ia bertemu dengan mertuanya dalam keadaan seperti ini, pertemuan pertama dan terakhir kali.
Rudi kini terlihat begitu dingin, Soraya bahkan tak bisa menggambarkan sisi suaminya kali ini. Sejenak ia melihat keadaan Ibunya, mengecup keningnya kemudian mengajak Soraya pergi.
Bahkan hingga hari pemakaman tiba, yang diadakan di tempat pemakaman umum dekat kediaman Rudi yang berada di Amerika. Wajah Rudi masih terlihat tenang, tapi Soraya yakin batin suaminya berbanding terbalik.
Kakek telah hadir beserta keluarga dari pihak Soraya turut datang menyampaikan bela sungkawa. Hingga pemakaman selesai mereka hanya tinggal dua hari saja disini, sementara Rudi dan Soraya masih tetap tinggal.
Saat ini Soraya tengah duduk berhadapan dengan Aluna, sahabat sekaligus rekan kerja yang dipercaya untuk merawat Ibunya Rudi.
"Aku sudah banyak mendengar namamu," ucap Aluna memulai topik pembicaraan.
Kening Soraya berkerut. "Dari mana kamu bisa tahu aku?"
"Aku rasa banyak hal yang belum kamu ketahui tentang dia," ujar Aluna lagi, membuat rasa penasaran Soraya kian meningkat.
Soraya kini mengulum bibirnya, menatap wanita cantik di hadapannya yang jelas terlihat elegan dan berpendidikan.
"Apa yang kamu ketahui dari diri Rudi, dan—sejauh apa kamu mengenalnya?" ucap Aluna yang justru membuat Soraya bingung.
'Kenapa justru dia bertanya," batin Soraya. Namun Soraya kini bersuara, "Dia seseorang yang sulit mengekspresikan perasaannya."
Aluna tersenyum samar, kemudian mengangguk-anggukan kepalanya. "Kurang lebih seperti itu," ucap Aluna membenarkan.
__ADS_1
Soraya sedikit tercengang, benar dugaannya. Bukan hanya ia saja yang menerima sikap itu tapi orang lain juga.
"Hal itu terjadi sejak kondisi Mamanya memburuk. Apa kamu tahu kenapa dan sebab Mamanya mengalami depresi?"
Soraya menggeleng.
"Itu terjadi sejak lama. Papanya terlalu dalam menorehkan luka pada hati Mamanya, hingga membuat jiwanya terguncang. Belum lagi rasa cinta yang begitu mendalam hingga membuat seseorang menutup nurani yang menghambat jalan pikirannya. Mamanya depresi berulang kali mencoba bunuh diri, dan yang terakhir adalah kemarin, kami para dokter sudah tidak bisa menolong. Rudi sudah berusaha semaksimal mungkin mengorbankan perasaannya, waktunya dan meninggalkan cinta pertamanya, apa kamu tahu orangnya?" tanya Aluna menatap Soraya dan diangguki oleh orang dihadapannya.
"Setelah Rudi tak bisa mengejar wanita itu, lalu bertemu denganmu. Aku tahu Rudi tak pernah mengatakan dia mencintaimu, itu hanya belum. Sebab—," ucap Aluna terjeda sesaat.
"Apa?" tanya Soraya yang ingin tahu, sebab ia harus tahu apa yang terjadi dengan suaminya kini.
"Rudi hanya tak yakin pada dirinya sendiri, tugasmu hanya perlu meyakinkannya bahwa dia berharga untukmu dan kamu juga harus percaya pada dirimu sendiri bahwa kamu layak untuknya," ucap Aluna lalu bangkit berdiri.
"Aku yakin orang yang dibutuhkannya saat ini adalah kamu,"sambungnya kemudian pergi meninggalkan Soraya yang masih duduk menatap cangkir dihapannya.
To Be Continue
Sudah jelas ya disini, Alasan Rudi ninggalin Mbak Ira 😅😅
Jangan lupa dikomen, dilike juga di vote.. biar aku makin semangat nulisnya
Follow juga IG ku @XINHUA_ARYANNA
__ADS_1