Risalah Hati

Risalah Hati
Episode 69


__ADS_3

"Apa yang kalian berdua lakukan disini?" tanya Rudi saat hendak keluar dari ruang inap yang ditempati Soraya, tadi saat pintu terbuka ia menemukan dua sosok manusia tengah berdiri menghalangi akses jalannya keluar.


Rudi mengernyit memandang sosok asing yang berada dihadapannya. Namun tak lama lelaki dihadapannya kini menyapanya.


"Rudi, bagaimana keadaan Soraya. Aku ingin bertemu dan melihat kondisinya," ucap Gerry padanya.


Sorot mata Rudi tertaut pada sebuket bunga yang tengah dipegang Gerry. Gerry yang sadar akan hal itupun kembali berkata, "Ini adalah bentuk dari rasa simpati juga ucapan permintaan maafku pada Soraya dan tentunya aku juga ingin meminta maaf kepadamu."


Rudi makin bingung akan hal itu, minta maaf memang lelaki di hadapannya ini siapa, batinnya.


Angel pun kini menyahut, "Dia Jenny, awalnya aku tadi juga bingung tak mengenalinya. Tapi Jenny telah memperkenalkan diri dengan nama Gerry."


Rudi mengangguk, ia pun kini berujar," Keadaan Soraya sudah membaik, namun untuk bertemu dengan orang lain masih kami batasi sebab dia masih harus menjalani perawatan dengan para psikiater."


"Apa itu artinya Soraya terguncang dengan kejadian itu," ucap Gerry dengan penuh penyesalan.


Rudi mengangguk kemudian menepuk pundak Gerry. "Jangan terlalu menyalahkan dirimu, kamu sudah melakukan yang terbaik pada Soraya, terimakasih. Yang harus kita upayakan saat ini adalah mengembalikan kepercayaan diri dari Soraya, dan aku membutuhkan dukungan itu dari kalian," kata Rudi memandang Angel dan Gerry bergantian.


"Pasti. Pasti aku akan memberi dukunganku untuk Soraya," ucap Gerry yakin.

__ADS_1


"Aku juga," ucap Angel menimpali.


"Kalau begitu masuklah, Soraya baru saja selesai makan siang," kata Rudi mempersilahkan mereka berdua masuk.


Terlihat di atas ranjang seorang perawat sedang membantu membebahi peralatan makan yang selesai Soraya pergunakan. Langkah Gerry pun kini mendekat diikuti oleh Angel yang berdiri dibelakangnya.


"Soraya, apa kabar?" sapa Gerry canggung, entah mengapa ia kini merasa sedikit belu nyaman akan penampilannya, apalagi berada dihadapan Soraya yang notabene-nya sudah menjadi teman akrab sekaligus kepercayaannya.


Soraya menoleh pada sumber suara, wajah sedikit pucat sebab beberapa hari tanpa tersentuh make-up kini menatap wajah Angel dan kedua alis Soraya mengernyit.


"Sama seperti yang lain, pasti kamu juga tak mengenaliku," ucap Gerry kembali canggung hingga ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aku asisten pribadi sekaligus manager juga sahabat baikmu Jenny, maaf— maksudku Gerry," ucapnya.


Soraya menatap Gerry seakan tak percaya, tapi kini langkah Rudi tiba-tiba mendekat berdiri disamping ranjang Soraya. "Tak bisa dipercaya, Jenny yang aku kenal punya wajah setampan ini," ucap Soraya setelahnya.


Rudi berdehem, kemudian mengusap lembut puncak kepala Soraya. "Aku senang keadaanmu kian membaik," ucap Rudi yang menatap sorot mata istrinya yang juga tengah menatapnya.


Soraya pun meraih dan menarik tangan Rudi yang berada diatas puncak kepalanya, menggenggam jemari Rudi. "Maka dari itu, aku ingin pulang. Aku sudah bosan disini," ucapnya seraya merajuk.


"Kamu yakin?"

__ADS_1


"Hmm," gumam Soraya menjawab pertanyaan Rudi.


Terbesit senyum dari Gerry juga Angel yang menyaksikan interaksi Soraya dan Rudi. Mereka berdua terlihat dekat, seperti yang Angel ketahui memang sifat Soraya manja kepada orang-orang terdekat, apalagi pada Kakaknya Kevin. Seringkali ia merasakan kecemburuan bila melihat Soraya dengan Kakaknya.


"Kenapa ngalamun?" tanya Gerry yang menyenggol lengan Angel.


"Gak," Angel menggeleng. Ia pun yang baru pertama kali melihat keadaan Soraya kini mulai berbicara tentang tujuannya kemari. "Soraya, maaf aku baru sempat menjengukmu. Aku turut prihatin atas kejadian yang menimpa kamu, tapi Papa, Mama dan Kak Kevin akan terus berupaya untuk menuntut keadilan atas kamu. Persiapkan dirimu untuk persidangan nanti, dan jangan khawatir aku juga turut mendampingi kamu," ucap Angel mendekat kemudian memeluk Soraya yang masih duduk diatas ranjang rumah sakit.


"Bagaimana perkembangan kasusnya?" tanya Gerry pada Angel dan Rudi, sebab selama satu minggu belakangan ia memang menyendiri dan mengurung dirinya, hingga ia tak mengetahui informasi mengenai kejadian setelahnya.


"Sejauh ini Polisi masih melakukan pemeriksaan dan Ardi Wiguna sudah ditetapkan sebagai tersangka," ucap Rudi.


"Dari kasus ini semakin banyak pelapor, ternyata sudah banyak yang menjadi korbannya, tapi tak mau melapor karena adanya ancaman. Kasus yang terkuak ini menjadikan para korban yang semula takut kini bergantian memberi laporan juga bukti pada pihak polisi dan semoga saja ini makin memberatkan hukuman pada tersangka," jelas Angel.


"Apa kasus ini sudah menyebar ke media?' tanya Soraya, ketakutan serta merta muncul terpancar dari sorot matanya.


Orang-orang disekitarnya kini kembali terdiam, dan Soraya mengartikan bahwa hal itu adalah benar adanya.


Rudi pun mendekat dan meraih kedua tangan Soraya mengelus lembut telapak tangan kemudian menggenggamnya. "Kita hadapi sama-sama," ucap Rudi, seolah menyalurkan ketenangan.

__ADS_1


To be Continue


Sampai disini dulu... Next kita lanjutkan


__ADS_2