Rise Of Legend [ LIGHTNING]

Rise Of Legend [ LIGHTNING]
Bab 10 Pelatihan Xeain


__ADS_3

Pada hari pertama resminya Nora menjadi pelayan, Nora bangun pada pukul enam pagi. Tiga jam lebih lambat dari Ellena. Bocah setengah manusia itu cukup terkejut saat tuan yang di layaninya telah pergi tanpa dirinya.


Untungnya (atau mungkin tidak) Emily berbaik hati memberitahu apa saja tugas Nora—yang masih takut padanya.


Pada dasarnya seperti pekerjaan pelayan kebanyakan. Setelah sarapan dengan roti gandum dengan madu yang sangat lezat, Nora membersihkan dua ruang kamar dilantai dua toko patung bibi Em yaitu The M, sendirian, lalu mencuci pakaian. Untungnya Ellena dan Emily tidak memiliki banyak pakaian kotor.


Setelah itu hingga jam Sembilan Nora bergerak membantu kesibukan toko patung yang ramai pembeli. Tugasnya sederhana, memastikan tidak ada debu yang menempel pada barang dagangan dan Nora harus menghafal letak-letak patung agar mudah mengarahkan pembeli yang bertanya padanya.


Kemudian pukul siang atau setengah jam sebelum tengah hari, Emily menyuruhnya untuk mengantar makan siang kepada Ellena.


Celakanya Nora harus berjalan sendiri hingga tempat pelatihan tuan barunya. Emily hanya memberinya lokasi di luar area kota dengan nama tempat Tuan X.


Butuh satu jam lebih bagi Nora bertubuh kecil itu sampai. Terima kasih pada Lezi, pemilik kedai es kream dan kudapan lain, wanita ramah itu berbaik hati menyuruh satu pegawainya untuk mengantar Nora hingga ke gerbang timur. Dengan menenteng tas yang lumuyan berat, Nora akhirnya sampai di lokasi yang dimaksud.


“Akhirnya!”


Teriakan itu berasal dari orang yang di kenalnya. Sosok ramping Ellena terbaring babak belur di tanah tanpa peduli pada sinar matahari yang menyengat. Nora segera menghampiri tuannya.


“Air…” Nora mengeluarkan kantung air dari tasnya dan memberikannya kepada Ellena yang langsung meneguknya rakus dan menghabiskan setengah isinya untuk menyiram kepalanya.


“Merasa lebih baik Tuan El?” tanya Nora hati-hati. Dia terlambat di hari pertama dia bekerja. Sungguh sial.


“Ya…aku ingin tahu kenapa kau terlambat tapi aku sudah kelaparan. Beri aku makan…” ujar Ellena dengan wajah payah. Nora sekarang benar-benar kasihan dengan kondisi tuannya.


Tidak ada yang tidak memar sepanjang yang Nora lihat. Saat membantu Ellena berdiri pun Nora ikut meringis kala mendengar suara berderak—mungkin tulang patah. Kaki Ellena juga pincang sebelah hingga wajahnya yang kunyu dan dekil karena keringat dan beberapa benjolan mengerikan.


Nora berhasil membantu Ellena duduk di satu-satunya pohon pada jarak lima ratus meter. Daunnya cukup rindang hingga nyaman untuk beristirahat. Tak membuang waktu Nora memberikan kotak makan tuannya yang langsung disambar dan dilahap habis. Nora juga ikut makan dengan porsi yang jauh lebih sedikit dari Ellena.

__ADS_1


“Pria tua sialan! Suatu hari aku akan jauh lebih kuat dan menendangnya tepat di bawah perut. Biar mampus!” geram Ellena pelan di sela suapannya. Nora bahkan sedikit meremang karena melihat mata emerald tuannya yang berkilat penuh dendam pada ‘pak tua’ yang disebutnya.


Karena penasaran Nora memberanikan diri bertanya, “Siapa maksud Tuan?”


Ellena melirik Nora sekilas lalu berlanjut menyuap makanan dalam mulutnya, “Orang sialan yang jadi guruku. Bibi Em pasti sudah tidak lagi sayang padaku hingga tega membuat pria tua tukang bully itu mengajariku. Ck.” Gerutunya kesal. Kekesalannya dari Xeain beralih pada bibinya yang dipikirnya tega menjerumuskannya pada pria macam Xeain.


Sementara Xeain memandang dua orang bocah itu dalam diam dari rumahnya. Setelah kejadian El berhasil mengalahkan Xeain dini hari tadi, Xeain memiliki beberapa pendapat tentang El.


Dia memiliki potensi. Sangat berbakat malahan. Xeain berani mengatakan bahwa El, adalah bocah genius yang hanya lahir beberapa dekade bahkan ratusan tahun sekali. Kelincahan dan daya intelektualnya yang tinggi cukup membuat bocah itu bisa mengalahkan nya sekali—pria yang ukurannya 3 kali lipat lebih besar darinya.


Xeain juga memperhatikan El sangat lihai menggunakan senjata—terutama dengan pisau-pisaunya. Jika saja El lebih dewasa sekarang, Xeain akan mengira bocah itu adalah seorang Assasin.


Terlebih matanya. Xeain adalah seorang veteran. Insting yang telah lama dia asah mengatakan bahwa mata seindah emerald itu istimewa, meski Xeain belum yakin apa tepatnya itu.


Xeain mendesah pelan. Dalam seminggu ini—atau bahkan lebih, hidupnya yang monoton akan terganggu dengan keberadaan seorang bocah—ah salah tapi dua bocah dari wanita liar bernama Emily Ellyzzia.


.


.


.


.


Sejak hari itu keseharian Ellena berubah cukup signifikan.


Selama satu bulan (Emily memutuskan untuk tidak kembali ke mansion mereka dalam waktu tidak di tentukan) penuh Ellena, menjalani pelatihan di bawah bimbingan Xeain.

__ADS_1


Kebanyakan dari ajaran pak tua itu ialah latihan fisik yang berfokus meningkatkan stamina Ellena yang payah—menurut Xeain.


Di mulai dari lari mengelilingi area luar kota Delos sebanyak mungkin dari jam tiga pagi hingga pukul enam. Awalnya Ellena sempat protes karena mengetahui area Delos tidak kecil meski bukan kota besar sekalipun. Tapi karena dia diamcam tidak boleh makan siang, akhirnya Ellena mati-matian berlari sekuat tenaga. Selama tiga jam pertama Ellena cuma berhasil satu putaran. Lalu menjadi dua kemudian tiga.


Sekarang setidaknya Ellena bisa menyelesaikan tujuh putaran.


“Dasar rubah payah. Aku bisa memutari kota ini sebanyak 100kali kau tahu itu?” cibir Xeain yang dibalas makian dalam hati oleh Ellena “Kalau begitu putari sendiri kota ini pak tua. Dipikir tidak capek apa?”


Menyebalkan, pikir Ellena.


Setelah itu Ellena mendapat waktu lima belas menit untuk sarapan. Itu pun hanya roti gandum dengan madu, ditambah dengan susu kambing yang baru saja di perah. Tidak memuaskan tapi bibi Em tidak main-main dengan perkataan bahwa Ellena tidak diperbolehkan makan sembarangan selama pelatihan neraka ini.


Berikutnya ialah latihan peningkatan fisik. Selain berlari, Ellena juga diharuskan mencapai target latihan yaitu 100 push up, 115 sit up, 200 squat jump, dan lompat tali 300 kali. Daftar diatas adalah target awal pelatihan dan pak tua Xeain mengharuskan Ellena menambah 5 setiap hari nya hingga pelatihan ini selesai.


Tak cuma itu Ellena juga diajarkan beberapa teknik pertarungan jarak dekat. Kebanyakan yang dipelajarinya ialah teknik yang mudah dilakukan dengan tubuh kurusnya. Beberapa jurus bantingan, cekikan, tendangan dan tangkisan. Yang paling Ellena sukai ialah jurus cekikan. Karena tubuhnya yang kurus yang kurang cocok dengan seni bantingan, Xeain menyuruh Ellena untuk menghafal macam-macam cekikan atau kuncian bila suatu saat dia bergulat dengan orang yang lebih besar darinya.


Oh, apa Ellena sudah bilang tubuhnya bertambah tinggi sebulan ini? Percaya atau tidak, Ellena hampir setinggi Emily.


“Jangan pernah memberi lawan kesempatan. Saat kau mendapatkan lehernya, segera selesaikan!” ujar Xeain yang menurut Ellena cukup sadis tapi dia mengangguk saja.


Tak sampai di situ, Xeain juga menekan Ellena untuk ahli bermacam senjata. Bagian ini sulit karena tidak semudah itu ahli dalam waktu sebulan. Tapi Ellena tidak terlalu mengecewakan Xeain karena bisa menyerap semua teknik nya meski belum bisa diterapkan secara nyata.


Yang mengecewakan mungkin karena Ellena tidak menunjukkan ketertarikan lebih pada seni pedang seperti Xeain yang dulu di kenal sebagai Pedang Besi dari Barat, meskipun lihai menggunakan pisau-pisau kecilnya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2