![Rise Of Legend [ LIGHTNING]](https://asset.asean.biz.id/rise-of-legend---lightning-.webp)
Kawanan Serigala Bulu Biru ternyata cuma pembuka saja.
Menjelang siang saat matahari bersinar terik diatas kepala, rombongan Party Ellena disibukan dengan serangan demi serangan para Hewan Buas. Layaknya konvoi, para hewan buas datang bergiliran setiap satu hingga dua jam sekali.
Untungnya mereka belum menemukan Monster manapun. Jumlah hewan buas yang mereka hadapi memang banyak tapi mengalahkan seratus hewan buas masih mending dari pada belasan Monster.
Pemeran utama dalam setiap pertarungan adalah El—Ellena. Bocah tiga belas tahun itu serius dengan perkataannya bahwa dia tidak lemah. Andesz sekali lagi dibuat kagum dengan gerakan serta teknik belati dan stamina Ellena. Pria itu menuruti Ellena dengan tidak turun tangan langsung membantunya. Paling-paling dia mengkode Luxia atau Max untuk sedikit mengulurkan bantuan dari jauh.
“Kita berhenti di sini.” Andesz menyuruh Party untuk beristirahat tanah agak lapang dengan pohon besar mengayomi. Karena hari sangatlah terik, tempat itu memiliki udara yang lebih segar dan sejuk. Semua orang setuju untuk sekedar makan siang disana.
“El, aku ingin memasak daging serigala tadi.” Ellena setuju dan mengeluarkan daging serigala yang sudah di kuliti dan dibersihkan kepada Nora untuk di olah dan juga mengeluarkan alat-alat masak.
Max yang ikut menyiapkan makanan berkomentar, “Setelah kita menemukan sebuah kota, aku akan membeli alat masak.”
Luxia menyahut cepat, “Kau akan memperlambat perjalanan dengan semua beban itu.”
Kirein yang tidak mau ketinggalan langsung menyambar, “Tidak masalah. Semua alat masak Max bisa di simpan Tuan kita.” Andesz mendengus tapi tidak menolak gagasan tersebut—melihat memasak menjadi lebih mudah dengan peralatan yang mempumpuni, di hutan belantara sekalipun.
Semua bermula setelah serangan Serigala Bulu Biru selesai. Normalnya kelompok Andesz akan langsung pergi meninggalkan lokasi karena bangkai hewan buas atau monster dapat mengundang hewan lain. Tapi El—bocah itu sedikit berbeda dengan mereka.
El—Ellena mengumpulkan semua jasad Serigala Bulu Biru ke dalam tas kuning di pinggangnya. Melihat itu, Andesz langsung mengenali benda itu adalah Space Bag. Benda sihir yang berguna menampung banyak benda di dalamnya terlepas seberapa kecil penampilan luarnya, salah satu dari Space Things.
“Aku akan menjualnya saat menemukan Guild Petualang. Apa kalian keberatan?” Tidak ada yang keberatan karena semua hewan itu hampir semua di bunuh oleh El. Selain itu memang misi El-Ellena mengumpulkan jasad Hewan Buas 50 ekor sebagai bukti syarat Ujian Praktik nya, jadi tidak ada yang berkomentar lebih jauh.
__ADS_1
Space Bag adalah istilah yang digunakan untuk benda penyimpanan berbentuk tas. Ada jenis lain sesuai bentuknya seperti Space Ring, Space Bracelet, Space Eye, Space Coat…dll. Semua fungsinya sama—untuk menyimpan benda, yang membedakan adalah ukuran ruang di dalamnya. Ukuran ruang di dalam benda tergantung seberapa besar sihir saat membuatnya.
Andesz memiliki satu, berbentuk cincin dengan sebutan resmi Space Ring. Ukuran ruang di dalamnya cukup untuk memasukan tiga puluh ekor sapi dewasa. Harga Space Things selalu di atas 200 koin emas karena benda sihir semacam itu di Shinetheria tidak pernah tidak berguna. Banyak yang ingin memiliki namun barang sangat terbatas.
Melihat Space Bag milik El, Andesz mengira ukuran ruang di dalamnya lebih besar dari Space Ring nya karena El mampu mengeluarkan banyak benda keperluannya—dari senjata yang kebanyakan pisau dan belati (tapi Andesz yakin El memiliki senjata lain), makanan, serta alat-alat memasak Nora. Belum lagi Ellena masih bisa memasukan jasad hewan ke dalamnya. Harga benda itu pasti mahal hingga Andesz menebak El cukup kaya dan mulai menyesal memberi harga rendah kepada El. Pantas Kirein menyikutnya sangat keras tadi pagi.
Sementara Nora dan Max bertugas memasak, Ellena dan Luxia mengumpulkan kayu bakar lalu Kirein membuat apinya. Semua anggota Party melakukan tugas masing-masing kecuali Andesz yang duduk diam menunggu makanan siap. Ellena sempat hampir kesal tapi menilik Luxia, Kirein dan Max yang melakukan segala hal karena tidak ingin Tuan mereka bekerja remeh, Ellena jadi menahan diri. Toh sudah banyak tangan.
Setengah jam kemudian daging Serigala Bulu Biru panggang matang dan di bagi dengan adil. Ellena menikmati makan siangnya sementara yang lain merasa terperangah dengan rasa daging yang mereka makan, “Enak sekali. Daging hewan buas biasanya alot tapi ini sangat empuk dan rasanya sangat gurih juga lezat.” Kirein berkomentar dengan wajah berbinar melahap dengan semangat.
Andesz mengangguk setuju, “Apa yang kau gunakan Max?” tanya nya.
Dengan matanya Max menunjuk Nora yang makan dengan lahap di samping El, “Itu berkat Nora. Dia memintaku untuk melunakan daging dengan tinjuku lalu dia membaluri daging dengan bumbu nya sendiri. Aku juga terkejut saat mencicipinya tadi.” Itu adalah kalimat terpanjang yang Ellena dengar dari Max. Sedikit takjub tapi hanya sebentar.
Sembari menguyah gigitan terakhirnya Kirein berkata, “Kau luar biasa Nora.” dia sangat senang makan seenak ini meski di hutan belantara. Biasanya makan daging cuma di pemukiman penduduk saja dan lebih banyak makan roti keras, daging kering dan buah saat memasuki hutan. Max cuma bisa mengolah makanan yang setidaknya cukup di santap. Sedang yang lain? Nol besar.
Kelompok Andesz berdecak sebal sekaligus kagum dan sedikit iri terhadap El—Ellena. Sudah adiknya manis, penurut, pintar masak lagi. Pantas El agak protektif kepada Nora.
“Sebagai Petualang kau tidak bisa memaksa untuk terus makan makanan enak. Kadang kau bahkan tidak punya pilihan untuk memakan rumput dan serangga untuk bertahan hidup di medan sulit.” Lain halnya dengan Luxia yang berkomentar setelah mendengar selera makan El, “Pilih-pilih makanan akan membuat mu cepat mati.” Tambahnya seraya memasukan sepotong daging ke dalam mulutnya.
Ellena yang dikomentari menurunkan dagingnya dan menatap Luxia, “Kau ada masalah dengan ku Luxia? Kau dendam soal tadi pagi?” ungkap Ellena tidak menyembunyikan rasa kesalnya. Siapa yang senang di kritik padahal diam saja sedari tadi.
“Aku bukan bocah. Anggap itu nasehat dari seniormu.” Kata Luxia tak acuh.
__ADS_1
Alis Ellena kembali menukik—terlihat tidak senang dengan ucapan Luxia. Senior katanya? Apa Luxia tipikal orang kolot yang mengagungkan superioritas semata hanya karena usianya lebih tua? Oh ya Ellena lupa kalau Luxia juga terlihat sekali menyembah Andesz sebagai tuannya layaknya Dewa.
Mendengus sebal, Ellena menengok pada Nora, “Untuk makan selanjutnya gunakan bumbu untuk lima orang, Nora.” Katanya agak menekan yang dibalas anggukan Nora.
Kirein menyela cepat, “Hei hei El, jangan begitu. Luxia tidak bermaksud jahat padamu.” Katanya berusaha membujuk.
Namun Ellena menggeleng, “NONA Luxia bilang tidak baik pilih-pilih makanan jadi aku akan mengartikan bahwa NONA Luxia tidak menyukai bumbu yang disiapkan Nora. Jadi selanjutnya silahkan NONA Luxia makan rumput dan serangga dengam garam. Kedengarannya lezat.” sarkas nya namun masih dengan senyuman—senyum jengkel.
“Jangan iri hanya karena aku dan Nora lebih mempersiapkan kebutuhan kami. Bukan urusan orang lain kalau kami berusaha tetap makan enak di hutan belantara.” El menyerang telak Luxia sekali lagi. Nada yang dia gunakan santai dan tidak tinggi tapi sarat sindiran.
Andesz tidak bisa tidak menghela nafas. Cukup lelah dengan permusuhan anak buahnya Luxia dengan El yang berlangsung sejak bertemu di Guild Delos.
Kali ini Luxia tidak langsung meledak. Dia agaknya menebak El akan melakukan itu sejak dia berpikir konsekuensi membalas bocah itu, “Dasar kekanakan.” Cibirnya.
Ellena menbalas santai, “Saya memang masih tiga belas tahun, masih bocah. NONA Luxia sendiri sepertinya belum pantas mengalami pikun dini.” Dengan sengaja Ellena menambah dan menekan sebutan ‘Nona’ yang menunjukan garis hubungan mereka tidak lebih sekedar orang asing semata. Kali ini Ellena benar-benar membuat garis pembatas itu terlihat jelas.
Meski sudah menebaknya tapi Luxia tetap tidak tahan dengan mulut asin nan pedas bocah itu, “Aku akan urus makananku sendiri.” Ujarnya berusaha tenang meski semua tahu dia tengah emosi.
Ellena membalas dengan senyum ala pegawai, “Terima kasih atas kerja samanya.” Kerja sama dia bilang. Ellena bilang begitu dengan maksud mencomooh kelakuan Luxia yang menyebar minyak, maka dengan senang hati Ellena melempar api. Keduanya telah mengobarkan bendera permusuhan.
Semenatara Andesz, Kirein, Max dan Nora sedikit khawatir dengan kerja sama Party ini di masa depan.
.
__ADS_1
.
.