![Rise Of Legend [ LIGHTNING]](https://asset.asean.biz.id/rise-of-legend---lightning-.webp)
Andesz merasa dunia telah merenggut nafasnya.
Ada empat Elf Suku Dark Elves yang menggotongnya menjauh keluar suku. Daripada mencoba memberontak dan melarikan diri, Andesz justru terdiam kaku seperti orang terkena syok ekstrem. Bahkan saat dia di lempar pada kedalaman hutan yang gelap, Andesz tidak mengeluarkan suara apapun.
Pria berambut putih itu masih terbayang saat saat Ellena berada di antara gigi tajam Naga Orochi dan darah yang muncrat kemana-mana.
Deg Deg
Andesz mencengkram dadanya yang mengilu sakit. Langit diatasnya yang ternoda awan. Pria itu berharap hujan akan dan petir menyembar kemana-mana. Karena mungkin saja mereka datang untuk menyelamatkan Ellena.
Kenapa langit begitu terang? Petir petir itu harusnya turun menyambar Naga Orochi bahkan si gila Frega yang berani menyentuh Ellena. Bukankah kemarin-kemarin mereka (para petir) sangat sombong dan menakuti orang-orang? Kenapa mereka sekarang diam? Kenapa mereka tidak terlihat? Kenapa tidak terlihat?
Kenapa... Andesz tidak bisa berbuat apa-apa?
"Aa... Aaaaaaakhhhhhhhhh!!!!!"
Kepalan tangan Andesz memukul mukul tanah dengan tangis frustasi. Pria bermata biru itu berusaha mengeluarkan sesak saat bayangan Ellena yang tak berdaya di mulut Naga Oroch terus muncul di kepalanya.
"Hentikan! Hentikan! Ini tidak mungkin! Dia tak mungkin mati!!!"
Ellena adalah Guardian. Satu dari lima Guardian yang ditakdirkan menyelamatkan daratan Divernia dari bala yang tak bisa ditangani umat manusia. Mereka adalah utusan Dewa. Takdir mereka, termasuk Ellena masih jauh di depan.
Ellena tidak mungkin mati. Ellena tidak bisa mati!!
Dia sangat penting. Lebih dari nyawanya atau pun seluruh nyawa di Pulau ini.
Adalah tugas Andesz untuk menemukan Ellena dan membawanya ke ibukota dimana gadis itu aman hingga waktunya tiba.
Meski begitu.... Ya Dewa...
Andesz menangis kencang.
Apanya yang jenius pedang? Apanya yang hebat? Semua pujian atas kemampuan Andesz selama berada di istana ternyata nol besar. Dia mampu terus berjaya karena memiliki rekan rekannya. Andesz unggul karena memiliki para tangan kanannya.
Tapi terbukti, saat dibandingkan dengan Ellena yang masih bocah, bakat nya layaknya air sumur yang tergali sedikit lebih dalam demi bisa menampung air daripada bakat Ellena yang seperti danau kering tapi sedikit demi sedikit terisi air yang melimpah ruah.
"Ellena... " Andesz terisak.
Gadis itu tak pernah suka dipanggil dengan nama itu. Menurut Nora, satu satunya orang boleh memanggilnya begitu adalah keluarganya. Bibi Em, pemilik Toko The M adalah orang membiasakan Ellena dipanggil 'El' hingga pada titik panggilan 'Ellena' terdengar intim dan dekat.
__ADS_1
Sejujurnya Andesz menyukai nama itu. Ellena. Sangat perempuan sekali. Nama itu secantik pemiliknya.
Deg!
"Ellena...Ellena... "
Andesz tidak tahu sebanyak apa dia memanggil nama sang guardian berambut ungu, tapi mulutnya terus menerus menyebut nama tersebut layaknya sebuah mantra. Seolah dengan begitu dia bisa melihat Ellena lagi. Dalam keadaan utuh beserta sarkasnya yang menyebalkan.
'Andesz... kau masih saja bodoh ya?'
Apa? Tetiba seperti Andesz sudah gila, dia seolah bisa mendengar Ellena mengejeknya.
'Aku terlalu muda untuk mati. Aku belum puas menghabiskan uangku dan mengenyangkan perutku.'
Apa ini halusinasi? Atau Andesz benar benar mendengar suara Ellena sekarang?
'Terserah. Otakmu benar benar tertinggal bersama Kirein.'
Ya Dewa. Bahkan jika itu benar hanya khayalannya, bagaimana bisa itu meniru Ellena dengan sempurna? Menghinanya sebegitu dalam? Kejam.
Tapi ajaibnya Andesz mendapat kembali pijakannya. Bayangan Ellena yang berdarah masih berputar bagai kaset rusak di kepalanya, namun rasa sesak telah berubah menjadi rasa marah dan keinginan demi melihat Ellena.
Maka dia bangkit. Mencengkram tanah pada pijakannya.
"Ellena... Ellena... "
Nama itu masih tiada habis keluar dari mulut Andesz seperti mantra.
Lalu kemudian
**Grrrrrrrrr Grrrrr Grrrrrrrr***
Dari kegelapan Hutan Sylfy, berpasang pasang mata merah menyala bersamaan dengan geraman demi geraman binatang buas.
"Ellena...Ellena... "
Muncul sekewanan Serigala Cakar Besi mengelilingi Andesz dengan air liur menetes dari moncong mereka. Para Hewan Buas (belum berevolusi). Dengan satu bosnya, Serigala Cakar Besi paling besar yang memiliki kekuatan Monster Langka Tingkat 4 (bawah).
'Grrrrr Grrrrrr Grrrrrrr'
__ADS_1
"Ellena Ellena..."
Para serigala menyalak ganas pada Andesz yang berdiri dengan kepala menunduk. Telinga mereka bergerak gerak tidak senang pada calon mangsa mereka yang berkomat kamit tidak jelas namun tidak menunjukkan ketakutan selayaknya mangsa seharusnya bersikap.
Tapi bagi Andesz saat ini, bagaimana dia bisa merasa ketakutan? Jika ketakutan terbesarnya berada di tempat lain. Ketakutannya bukan saat dia terkepung para Hewan buas dan bos mereka. Tidak! Andesz lebih takut dia benar benar kehilangan gadis itu. Andesz benar benar ketakutan bila dia tidak bisa melihat wajah cantik dan menyebalkan itu lagi.
'Andesz... '
"Ellena... kau harus hidup... "
*Grrrrr Grrrrr Grrrrr**
*HOGH**
Bos para serigala menyalak kencang, memerintahkan para anak buahnya menyerbu dan mencabik cabik mangsa mereka. Maka demikian banyak serigala berlari menerkam Andesz.
Namun sesaat sebelum mereka mencapai Andesz, angin tajam berhembus dan menerbangkan semua serigala ke segala arah. Sang bos Serigala Cakar Besi menggeram menatap Andesz yang berdiri dengan kuda kuda kuat dan dua pedang di kedua tangannya.
Akhirnya Andesz bisa mengaktifkan lagi Space Ring nya (sebelumnya para Elf Suku Dark Elves mengunci sementara cincinnya) dan menggunakan dua pedangnya (meski tidak sebaik pedang sebelumnya)
Dihadapan para kawanan Serigala Cakar Besi, berdiri seorang ahli pedang, jenius pedang dan kesatria pedang Kekaisaran Shinetheria. Dengan mata birunya yang dingin menatap musuhnya seolah mereka telah menghalangi jalannya. Dan memang benar. Mereka semua menghalangi jalannya. Jalan menuju Ellena. Gadis yang selalu membuat khawatir sekaligus gila.
'Andesz, aku akan menjadi raja hutan ini!'
'Tuan Andesz, 200 koin emas setuju?'
'Apa urusanmu, tuan?'
Sial... Gadis itu benar benar menyebalkan, batin Andesz.
Dua pedang terhunus di kedua tangan Andesz "JANGAN MENGHALANGIKU, KALIAN KEPARAT!!"
Dengan begitu Andesz menyerbu kawanan Serigala Cakar Besi seperti maniak gila. Sedikit banyak mengingatkan pada tingkah Ellena selama ini.
.
.
.
__ADS_1