![Rise Of Legend [ LIGHTNING]](https://asset.asean.biz.id/rise-of-legend---lightning-.webp)
Ellena akhirnya tenang setelah rasa sakit dan ngilu di tubuhnya kembali lagi. Seakan doping kekuatan menghilang, Ellena kembali menjelma menjadi remaja jompo.
Untungnya Nayla sangat baik dan tidak sakit hati menolong Ellena kembali ke ranjang kemudian memeriksa kondisinya.
"Kau telah lama berbaring jadi wajar merasakan ngilu di sekujur tubuh. Lebam di tubuhmu juga telah hilang, hanya menunggu sisa sakitnya hilang saja. Dan tulang-tulang mu yang sebelumnya patah...hebat sekali, mereka memperbaiki diri sendiri dengan sangat cepat." Nayla mengoceh panjang yang cuma di dengar saja oleh Ellena.
Gadis yang baru saja mengamuk itu tersenyum kikuk, " Yah Bibi ku selalu bilang aku ini tahan banting. Jarang sakit pula jadi mungkin karena tubuhku sangat kuat. " canda Ellena.
Nayla tersenyum lembut, "Tidak heran. Tubuh milik mu memang dirancang bertahan pada situasi sesulit apapun. Dan bila suatu kemalangan tidak berhasil membunuh mu maka kau akan bangkit menjadi lebih kuat lagi."
Mata emerald Ellena mengerjab. Dia memandang Nayla tidak mengerti, "Apa semua dokter sehebat dirimu? Dua minggu cukup membuatmu tahu semua tentang tubuhku?"
Ellena diberitahu bahwa dia telah pingsan selama 2 minggu. Tepatnya setelah dia, Nora dan Andesz terdampar di hutan. Tepatnya di pinggir hutan, di tebing salah satu pegunungan paling tinggi tempat ini. Mereka bertiga di temukan oleh anak-anak Elf yang bermain disana dan dibawa ke desa Sylfhim, tempat para Elf ini bermukim.
Andesz bangun di hari mereka ditemukan sedang Nora keesokan harinya. Sedang Ellena tidak ada tanda-tanda akan bangun bahkan setelah seminggu.
Nayla lagi lagi tersenyum jumawa, "Aku hanya tahu luka-luka mu saja, selebihnya mungkin hanya...tebakan beruntung?" dahi Ellena mengerut pada akhir kalimat Nayla yang seolah sedang menggodanya.
"Nayla, meski kuakui kau sangat cantik, tapi aku tidak sebodoh itu. Kalimatmu sebelumnya terdengar seperti pepatah bahkan wejangan tetua yang terlalu lama menunda masuk ke liang kubur dan membuat petuah penuh misteri menyebalkan kepada anak-anak muda."
Senyum cantik Nayla masih bertahan, hanya saja di keningnya terdapat perempatan otot yang tiba-tiba muncul tanpa diminta sang Elf.
Nayla berusaha tersenyum senatural mungkin, "Ha ha... Ellena, kau ini anak yang unik ya. Dan aku belum setua itu, aku baru 200 tahun."
Ellena mengibaskan tangannya, tidak terkejut dengan usia Nayla karena dia sudah tahu sebelumnya ras Elf memiliki usia yang panjang.
"Tak perlu sungkan, aku tahu aku menyebalkan bagi orang dewaaa dan aku akan terus begitu padamu bila kau tidak berhenti memanggil dengan nama itu." Ellena bersedekap dada. Memandang Nayla yang menghela nafas, sabar.
"Baiklah, El, tolong baik lah padaku." kata Nayla pasrah.
Sejujurnya baru kali ini Nayla merasa kesal dan dipermainkan di 200 tahun hidupnya. Suku elf disini sangat tenang dan saling menghormati satu sama lain hingga menghadapai Ellena yang menyebalkan agak mengagetkannya.
Ya dewa, bahkan Andesz dan Nora tidak sekurang ajar Ellena.
__ADS_1
"Baik. Terima kasih juga telah merawatku, Nayla. Kau sangat cantik." dengan senyum ala pegawai nya, mulut licik Ellena memuji Nayla.
Bukannya senang, si wanita Elf kembali terkejut dengan sikap tiba-tiba Ellena. Saat menyadari bocah yang dirawatnya sedang menjilatnya, Nayla tidak bisa tidak tersenyum lelah.
Manusia benar-benar bisa merubah sikap dalam sekejab. Nayla hampir pusing menghadapi Ellena.
"Nora, seberapa lama pun kau berdiri disana, kau tidak akan bisa menyatuh dengan tiang itu kecuali kau mau aku mengikatmu di tiang itu, hm?"
Nora langsung merinding di tempatnya dan mendekati Ellena dengan perlahan. Beberapa hari diperlukan sangat baik oleh orang-orang satu ras dengan ibunya membuat Nora lupa bahwa tuan sekaligus kakak angkatnya itu kejam dan suka membuat mentalnya menderita.
"E-El... aku benar-benar tidak sengaja... huu... " air mata kembali jatuh di pipi Nora yang memerah. Siapapun yang melihatnya pasti tidak tega dan ingin melindungi bocah itu.
Tidak terkecuali Ellena. Dia itu sebenarnya juga lemah terhadap Nora hanya saja dia gengsi menunjukkan nya.
"Sudah lah. Sudah terlanjur. Apa boleh buat juga karena disini sihir perubahku juga tidak bisa digunakan. " kata Ellena agak cemberut.
Setelah mengusir Andesz, sembari mengganti perban Nayla menjelaskan bahwa rambut Ellena sudah panjang sejak di temukan. Hutan Sylfy sengaja dibuat otomatis menetralkan atau menghapus seluruh sihir luar. Hal ini dibuat para tetua suku Elf ini dengan tujuan apabila ada ancaman dari luar, pihak luar tidak bisa menyerang mereka dengan sihir sedang penduduk Sylfhim bisa bebas menggunakan sihir.
Nora yang mendengar itu merasa sedikit tenang. "Jadi aku---"
Dia bersimpuh dan tertunduk di samping ranjang Ellena. Lupakan soal takut, Nora sangat paham bila mulutnya sangat lemas dan gampang membocorkan informasi terkait Ellena. Nora bahkan takut membayangkan kelak dia dengan mudah menumbalkan Ellena bila sedang terdesak.
Sedikit banyak Nora mulai mengenal dibalik sifat Ellena yang seenaknya dan kejam namun sangat protektif pada orang-orang nya. Ellena yang begitu saja sangat jinak dan menuruti semua kemauan Emily meski menyakitkan (pelatihan neraka harian dan Xeain). Dan belakangan Nora merasa Ellena mulai peduli padanya.
Memastikan Nora mendapat armor terbaik. Memenuhi kebutuhannya. Memastikan dia sudah makan dan tidak terluka. Bahkan tadi, Ellena menarik Nora seolah menjauhkan mara bahaya darinya. Bahkan yang dia dengar dari Andesz, Ellena melindunginya saat kedua kali VRITRA menyerang keduanya. Berkat Ellena lah Nora tidak memiliki luka parah.
Ikatan... Nora tahu ikatan nya dengan Ellena mulai terjalin kuat. Dan bukannya tidak mungkin dengan sifat protektif Ellena, tuan sekaligus kakak angkatnya itu akan melakukan segala cara agar dia aman. Nora bisa merasakannya.
Suatu saat Nora mungkin akan berada di posisi berbahaya dan Ellena pasti datang menyelamatkan. Terluka sekalipun.
Karena dia keluarga. Dia keluarga Ellena sekarang. Dan... Kelemahan Ellena.
"El... aku tidak suka El terluka... " guman Nora lirih.
__ADS_1
Ellena dan Nayla bisa mendengar gumanan lirih itu. Gadis berambut ungu itu memandang Nora yang tertunduk dan terdengar sedih.
Dia meraih wajah Nora mendongak lalu menyentil dahi bocah itu sekuat tenaga. Bahkan bila itu cuma sentilan, Nora merasa kepalanya akan pecah.
"Dasar bodoh. Siapa yang mau dan suka terluka?" meski Ellena pernah dengar jenis manusia masokis dari bibi Em, Ellena jelas bukan jenis orang menikmati rasa sakit, "Tidak perlu dipikirkan. Aku melindungi mu karena kau tanggung jawabku sampai kau bisa melindungi dirimu sendiri. Selain itu aku tak ingin koki milikku terluka dan tidak bisa memasak lagi." Juga karena Nora adalah tambang emas pribadi Ellena dengan kemampuamnya menumbuhkan tumbuhan langka.
Tapi Ellena tidak sebodoh itu dan blak-blakkan tentang alasan terakhir.
Mata Nora seketika berbinar terharu, "El~ Terima kasih." luka Ellena bertambah parah karena melindunginya jadi tentu Nora terharu saat mendengar alasan Ellena. Sungguh naif.
Ellena mengangguk kecil, "Ya. Tapi sekarang aku lapar."
Mendengar kata lapar, jiwa babu milik Nora langsung meronta, "El lapar? Aku akan membuatkan makanan yang lezat untukmu, El." sahut Nora dengan bahagia.
"Buat saja dengan daging Kambing waktu itu yang ada di tasku." Ellena menatap Nayla, "Disini ada bumbu dapur kan?"
"Tentu saja."
Ellena tersenyum puas, "Baguslah. Nora bawa kemari tas ku. " Space bag kuning Ellena hanya bisa digunakan oleh nya. Sama halnya Space Things lainnya yang cuma bisa aktif dan digunakan oleh pemilik dengan memberikan darahnya. Hal ini juga menyebabkan Space Things diminati bayak orang karena keamanannya.
"Eh? Tas kuning El? Aku tidak tahu."
Mata Ellena sontak melebar, " Nora, jangan bercanda!"
Namun Nora menggeleng lebih kuat, "Aku tidak melihat tas kuning El sejak disini." tegasnya.
Jantung Ellena lantas berdetak lebih cepat. Tas kuningnya. Berisi seluruh pakaian, pisau dan belati, buku-buku bacaannya, peralatan masak Nora, dan SELURUH HASIL BURUAN UNTUK UJIANNYA SEMUA ADA DISANA!
"Hidup ku sangat sial!"
.
.
__ADS_1
.