Rise Of Legend [ LIGHTNING]

Rise Of Legend [ LIGHTNING]
Bab 70 Bangun 1


__ADS_3

Saat mencapai kesadarannya, yang pertama kali Ellena lihat adalah cahaya silau dari mentari pagi. Kelopaknya yang lengket jadi agak susah dibuka saat mendapat serangan fajar. Saat Ellena berhasil membuka mata, setelah berkedip puluhan kali, yang pertama dia dengar adalah suara ember air jatuh dan pecah ditanah.


"EL!! KAMU BANGUN!"


Itu suara kedua. Suara cempreng seorang bocah. Ellena bahkan tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa pemilik suara barusan. Jelas itu adalah suara milik Nora.


Dia melihat Nora berlari kearahnya dengan matahari terbit dibelakangnya. Saat berada di depannya Nora dengan penuh air mata merentangkan tangannya dan memeluknya.


"Huhuhu El bangun. Syukurlah El bangun. Ya Dewa terima kasih El bangun lagi... huhuhuhu." Nora tersedu-sedu. Memanjatnya terima kasih pada dzat diatas berkali kali. Wajahnya tumpah air mata dengan pipi memerah.


Ellena butuh beberapa saat memproses apa yang terjadi. Otaknya belum sepenuhnya berfungsi seperti tidak digunakan lama. Tapi yang menarik perhatian Ellena jelas pada Nora yang memeluknya tapi dia tidak merasakan sentuhan apapun.


Pada saat itulah Ellena baru menyadari keadannya.

__ADS_1


"No...Ra... ap.. pa...ini... "


Ellena tidak tahu tepatnya tapi saat ini tubuhnya tidak bisa bergerak karena sekujur tubuhnya terlilit sulur sulur kecil seperti akar putih yang mengeluarkan cahaya keemasan yang samar. Dari ujung kaki hingga lehernya, semuanya tertutup seperti kepompom. Apalagi Ellena juga baru sadar bahwa dia tidak tiduran tapi tertempel dibatang pohon. Persis seperti tokek.


Ellena ingin sekali bertanya apa yang dilakukan orang orang ini padanya tapi satu satunya orang yang bisa diajak bicara tidak bisa bekerjasama karena sibuk menangis dan tersedu.


Kemudian Ellena menyadari eksistensi lain di sekitarnya. Naga Druk yang berbaring, melingkupi sekitar pohon tempatnya tertempel, mengeluarkan dengkuran seolah monster besar itu bertanya apa Ellena baik baik saja.


Karena tenggorokannya yang terasa mengerikan, Ellena menggerakkan kepalanya, mengkode Naga Druk untuk menunduk. Untungnya sang naga mengerti dan secara hati hati serta saaaaaangat lembut menyentuh kening Ellena. Sengatan kecil langsung pada otaknya seolah membuka saluran komunikasinya dengan Naga Druk.


"Tuan, saya senang anda akhirnya bangun."


Ingatan tentang dia yang dicabik oleh Naga Orochi membayang sekilas, "Aku juga senang aku masih bisa hidup. Apa kau yang menolongku, Druk?"

__ADS_1


Druk menjawab dengkuran sebal, "Saya sudah bilang untuk pergi dengan saya. Saya bahkan bisa membawa Tuan El langsung ke bibir pantai. Tuan sangat keras kepala."


Oh? Terakhir dia ingat Druk baru memperbaiki cara bicara supaya baik dan benar. Tapi lihat, sekarang naga itu sudah bisa mengomelinya.


"Ya kan aku mana tahu bakal diculik suku jahanam itu. Tidak ada yang memberitahuku. Dan kau pun tidak mengatakan ada naga lain selain kau di pulau ini, Druk." mana mungkin Ellena terima saja di salahkan. Tentu saja dia juga harus menyalahkan yang lain. Biar seru.


Druk mendengus lagi, tidak bisa membalas pertanyaan satu itu. "Dulu dia cuma anak naga, Tuan." katanya beralasan. Sekitar seribu tahun yang lalu Druk pertama kali merasakan keberadaan spesies naga lain. Saat Druk pergi mencari tahu, yang ditemukannya ialah Naga Orochi kecil yang baru berusia 100 tahun. Jika monster lain sudah menjadi monster tingkat Langka, maka bagi seekor naga seratus tahun hanya usia anak. Makanya dimata Druk yang telah menjalani hidup 4000 tahun lebih, tentu menganggap Naga Orochi cuma anak kecil yang tidak penting.


Kalau tahu naga kecil itu akan menyakiti tuannya hingga hampir mati, lebih baik Druk melenyapkannya saja dari dulu.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2