![Rise Of Legend [ LIGHTNING]](https://asset.asean.biz.id/rise-of-legend---lightning-.webp)
Untung saja Emily dan Ellena bisa lanjutkan perjalanan sesuai jadwal. Kejadian kemarin memang menghebohkan tapi sekali lagi, saat Emily menunjukkan kekuatannya, semua masalah selesai. Atau setidaknya begitu…
Ellena selalu percaya bibinya memiliki kekuatan yang tak dimiliki sembarang orang. Lalu kemarin saat dia berhasil mengendap-endap untuk bertemu dengan Linda, Ellena jadi mengetahui bahwa bibi nya adalah seorang kaya raya.
Bagaimana bibi Em bisa membawa hampir seluruh petualang veteran rank C dan B untuk nekat ke hutan mencari Ellena saat hujan badai dan petir? Kekuatan uang ternyata mengerikan. Bibinya juga lebih mengerikan karena dengan gampangnya mengeluarkan lima ribu koin emas sebagai bayaran misi.
Lima ribu koin emas sebenarnya bukan jumlah yang fantastis untuk para bangsawan ataupun petualang Rangker atas. Tapi yang namanya manusia, mereka tetap tidak bisa memalingkan muka pada uang yang bisa didapat dengan mudah—lebih-lebih hanya untuk mencari bocah hilang di hutan kecil. Padahal Ellena juga Petualang. Dia merasa bibi nya telah rugi tapi ya sudahlah.
Kalau tahu bibi Em memiliki banyak uang, Ellena harusnya dari dulu tidak ragu minta di belikan ini itu di kota. Selama ini dia berlagak menjadi keponakan pengertian yang tidak neko-neko tapi sekarang Ellena merasa rugi sendiri.
“El, kereta ini tidak akan berhenti hanya untuk menunggumu!” seruan tegas sang bibi terdengar lantang di penjuru hutan yang mereka lewati.
Langit gelap. Udara dingin. Matahari bahkan belum menampakkan selambu cahaya di timur tapi Ellena sudah berkeringat deras. Tubuhnya membungkuk bertopang pada lutut dengan kedua tangannya. Nafasnya terengah-engah. Wajahnya pun merah tidak enak dipandang.
“Bi—hah—bi—hahh—ca…pek—hah…hah!” Ellena bicara tersengal-sengal.
Sungguh sial. Sebagai hukuman atas tindakan sembrono dan merepotkannya kemarin, Ellena menerima hukuman. Bukannya di suruh tidur dikandang kuda tapi Ellena tidak diperbolehkan naik kereta dan harus berlari selama sisa perjalanan ke kota. Yang artinya Ellena harus berlari mengikuti kereta kuda selama SETENGAH HARI bahkan lebih. Sialnya lagi bibinya dengan kejam sengaja tidak memberi sarapan dan istirahat sama sekali.
“EL!”
“IYA BIBI!” Seru Ellena. Meski dalam hati selalu merutuki bibinya yang kejam, diluar dia tetaplah bocah yang patuh.
Emily sama sekali tidak merasa kasihan dengan anak didiknya sekaligus keponakan nya itu. Mata abu-abunya kini memandang dalam Ellena yang susah payah mengikuti laju kereta.
“Ellena…aku bersumpah…”
.
.
.
Ellena berjanji tidak akan mengulangi tindakan nya kemarin—setidaknya selama minggu-minggu ke depan. Sudah cukup latihan neraka bibi Em di rumah, jangan sampai di kota Ellena juga disuruh menjalani latihan dan menderita seperti sekarang.
CAPEK!!
Bahkan dengan stamina Ellena yang bisa dibilang lebih kuat dari anak seumurannya, dia menjatuhkan tubuhnya di jalan samping kereta begitu saja. Tidak peduli dengan pandangan orang-orang yang sedang mengantri di gerbang, Ellena sibuk terengah-engah dibawah terik matahari.
__ADS_1
Lalu tiba-tiba perutnya di dera rasa tidak nyaman hingga tanpa pikir panjang bangkit dan berlari menjauh. Bibi Em sangat kejam tidak memberinya apapun dari bangun tidur hingga yang di muntahkan Ellena cuma cairan asam nan pahit. Gadis itu meringis menekan perutnya.
“EL! BERGEGAS!”
Kepala Ellena menjadi berat saat suara tinggi bibinya menyapa. Mata emeraldnya memandang sayu sang Bibi yang berkacak pinggang di depan dua petugas gerbang yang memandangnya prihatin.
“EL!”
Telinga Ellena pasti bermasalah karena dia mendengar seruan bibi Em yang khawatir. Hmm? Kepala yang tidak henti berdenyut layaknya dihantam palu, akhirnya mencapai batasnya. Pandangannya hitam saat itu juga.
.
.
.
Saat kesadaran kembali padanya, Ellena terbangun di dalam sebuah ruangan asing. Nampaknya itu adalah sebuah kamar penginapan. Tepat saat ia akan turun dari ranjang kayu, pintu terbuka dan sosok kecil masuk dengan nampan berisi banyak makanan.
Anak kecil berambut hijau yang familiar itu kesusahan membawa nampan yang lebih besar darinya. Tapi Ellena tidak berniat untuk membantu dan justru menonton hingga anak kecil itu akhirnya menaruh nampan di atas meja lalu mendesah senang. Baru kemudian dia menoleh, menyadari penghuni kamar sudah bangun dan melihatnya.
Masih menatap sosok asing di depannya, Ellena duduk di kursi menghadap makanan yang dibawa tanpa kata. Duduk tenang sembari terus menatap si anak kecil yang berdiri kikuk merapat pada dinding.
Akhirnya karena tidak tahan di tatap sedemikian rupa, dengan wajah merona malu, si anak berkata, “A-ada ya-ng bi-bisa saya ba-antu untuk a-anda?” tentu saja dengan suara yang gagap.
Sekali lagi mata emerald indah itu melihat nya lamat-lamat sebelum berkata, “Aku pernah melihatmu,” Ellena memutar ingatannya lebih dalam, “…tapi dimana?”
Sungguh jarang Ellena melupakan sesuatu tapi memang bila pada dasarnya jika Ellena tidak menganggap sesuatu penting, dia cenderung melupakannya dengan cepat. Pun karena hukuman kejam bibi Em yang membuatnya berlari dan kelaparan memperparah otak Ellena hingga berjalan lebih lambat.
Atas pertanyaan tersebut, si anak hampir terjatuh mendengarnya. Dia menatap Ellena dengan mata melebar dan sinar kecewa teramat mendalam. Layaknya anak yang terlupakan ibunya. Menyedihkan.
Tapi Ellena yakin dia tidak punya anak jadi dia hanya berkedip polos saja.
“A-anda tidak mengigat sa-saya?” suara anak itu bahkan bergetar menahan tangis.
Melihat tubuh kecil itu lambat laun terisak pelan. Bukannya simpati, Ellena justru berdecak, “Sebagai informasi aku tidak terlalu suka anak kecil cengeng. Lakukan itu diluar.” Tukasnya ketus kemudian meraih sendok dan mulai melahap makanannya.
Aah! Surga dunia. Setelah berlari tanpa henti selama perjalanan dengan perut kosong akhirnya Ellena merasa hidup kembali.
__ADS_1
Dugh—“Ada apa denganmu heh?”
Ellena sama sekali tidak mengerti kelakuan bocah tidak kenalnya yang tiba-tiba menjatuhkan diri dan bersujud di kakinya.
“Nona! Atas pertolongan anda saya bisa terbebas dari para penjahat itu. Atas kebaikan Nona menyelamatkan saya, saya bisa hidup bukan sebagai budak atau mati di tangan orang-orang jahat itu. Atas semua pertolongan Nona saya sangat berterima kasih. Mohon jika ada yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan Nona saya—“
“Tunggu-tunggu! Berhenti—duh! Kau, bocah kecil, kau memanggilku apa tadi? Nona?”
Bocah itu mengangkat kepalanya ragu. Dia susah payah mengumpulkan keberanian mengungkapkan seluruh perasaannya tapi gadis yang telah menolongnya tempo hari ini dengan tega-teganya memotong begitu saja dan bertanya hal yang kurang dia mengerti.
“E-Eh? Iya—Nona…atau harus kah saya memanggil anda Tuan?” tanyanya kembali meragu. Dia takut melakukan kesalahan meski sejauh yang dia ingat dia sama sekali tidak berbuat aneh.
Yang aneh juga gadis depannya.
“Kau buta? Aku bukan perempuan.” Ujar Ellena galak.
Si anak benar-benar tidak tahu apa yang salah tapi dia menduga ada yang aneh dengan kepala gadis penolongnya itu. Bukan perempuan? Lalu gundukan menonjol di depan tubuhnya dan rambut panjang itu apa?
Seolah bisa membaca pikirannya, mata Ellena jatuh pada bagian tubuh depannya. Sepasang bulatan yang tidak terlalu besar namun terlihat jelas karena pakaian tipis miliknya. Lalu dia juga menangkap helaian rambut panjang berwarna ungu menjuntai sampai ke pinggangnya.
“Em…Nona, apa perlu aku memanggil dokter untukmu?” tanya bocah itu lagi. Agaknya dia takut ada beberapa engsel yang lepas dari otak sang gadis akibat berlari tiada henti.
Ellena jarang sekali kesal karena selama ini dia selalu bermain peran sebagai anak laki-laki ceria dan energik. Tapi di hadapan bocah asing yang tanpa sengaja melihat bentuknya yang sebenarnya, mendadak Ellena merasa kesal hingga ke ubun-ubun.
“Tidak perlu! Aku tidak butuh dokter atau siapapun. Aku ingin kau keluar!"
“Keluar?”
“SEKARANG!!!”
“B-BAIK!” segera anak itu kocar-kacir keluar dari ruangan.
.
.
.
__ADS_1