Rise Of Legend [ LIGHTNING]

Rise Of Legend [ LIGHTNING]
Bab 19 Nora Berulah


__ADS_3

Ellena tidak berusaha menutupi keadaan jadi dia menganggukan kepala.


“Aku kira pihak Guild akan menyediakan orang-orang mereka untuk Ujian Praktik tapi ternyata aku harus mencari sendiri anggota Party minimal 3 orang Rank B.” jelasnya menghela nafas. Otaknya berpikir lebih keras mencari cara menyelesaikan misi ini dengan syarat lengkap.


Misi ini memang tidak memiliki batas waktu tapi bukan berarti Ellena bisa menundanya hingga bertahun-tahun. Bibi Em melarangnya menunda Ujian Ranker ini agar Ellena bisa cepat-cepat mengambil misi dengan upah lebih besar. Selain itu dia dilarang pergi lebih jauh dari Delos bila belum naik ke Rank B. Ellena tentu mengeluh karena sangat ingin pergi ke kota lain bersama bibinya dan Nora untuk suasana baru. Ini juga sekaligus untuk menguji hasil latihan neraka dibawah bimbingan Xeain.


Pak tua itu akan menendang pantat Ellena bila hasilnya tidak memuaskan. Malu katanya.


Nora tiba-tiba berkata kepada Ellena, “El, aku ingin pergi sebentar.”


Alis Ellena terangkat, “Kemana? Aku antar.” Namun Nora menolaknya dengan gelengan kepala.


“Cuma sebentar, aku janji tidak akan lama.” Ucap Nora mantap. Ellena sedikit heran dengan kelakuan bocah itu yang tiba-tiba ingin pergi sendiri padahal sedari tadi lengket dengannya seperti bayi koala.


“Sepuluh menit kau tidak kembali, aku tinggal.” Ancam Ellena pada Nora yang disambut senyum kecut tapi juga senang. Bocah itu segera memisahkan diri dari tuannya dan berlalu pergi ke kurumunan gedung Guild.


Ellena kembali berkutat pada gulungan misinya. Agak menjauh dari tempatnya berdiri dan duduk di meja kecil dua orang yang kosong disamping jendela. Mata emeraldnya menatap sekilas orang-orang yang berlalu lalang. Ada banyak orang disini dan kebanyakan laki-laki.


Menjadi Petualang adalah profesi yang sangat diminati banyak orang karena mudahnya uang yang dihasilkan. Selain itu Shinetheria dikelilingi hutan-hutan yang kebanyakan belum terjamah hingga para petualang inilah yang bertugas untuk menjelajah dan mengeksploitasi nya sebelum pihak Kekaisaran mengolah wilayah lebih lanjut.


Tentu saja pekerjaan ini juga beresiko. Angka kematian para petualang sangat tinggi. Banyak yang mati tanpa dikenal khalayak. Banyak juga yang hilang saat melakukan misi. Terkena wabah tak dikenal, diserang monters kuat atau dikepung hewan buas. Hal-hal semacam itu adalah resiko menjadi petualang. Tapi tetap saja orang-orang ini tetap bertaruh untuk menjadi yang terkuat.


Karena menjadi terkuat artinya kau hampir bisa melakukan apa saja dan tentu saja—kehormatan dan hidup enak. Sekalipun tidak mudah mencapai semua itu.


Tak lama kemudian bunyi derit kursi kayu terdengar dari depan. Ellena yang sedari Nora pergi menanggalkan kewaspadaan dan aura pejuang miliknya, tidak menyadari ada beberapa orang mendekat. Kini mata emerald Ellena beradu dengan manik hitam kelam layaknya langit tanpa surya.


Mulut Ellena hampir menyemburkan serapah kotor untuk laki-laki di depannya jika tidak mendengar Nora memanggil, “El! Aku kembali. Sekarang El bisa melakukan misi.” Tukas bocah itu riang dan tersenyum amat lebar. Seolah dia baru saja memecahkan masalah, padahal yang dia lakukan malah menambah masalah. Masalah untuk Ellena.

__ADS_1


Mata emerald Ellena memincing tajam pada Nora, “Apa yang kau lakukan?” suaranya berubah pelan namun menusuk. Nora sedikit terkejut dan sempat mundur selangkah hingga menabrak seseorang dibelakangnya. Pria tinggi bernama Kirein. Tapi Ellena tidak meliriknya sedikitpun.


Dibawah pandangan mata Ellena yang menusuk, Nora menjadi bergetar dan kikuk. Mereka seolah kembali pada masa pertemuan pertama mereka, “A-Aku c-cu-cuma ingin mem-membantu El…” tukasnya lengkap dengan gagap. Mata hijau itu telah berkaca namun sekuat mungkin bocah itu menahan untuk tidak menangis.


“Tanpa bertanya padaku?” Nora semakin diam menerima serangan lain.


Bocah itu cuma ingin membantu dan tanpa pikir panjang melakukan apa yang terlintas dalam otaknya yang belum tumbuh besar. Saat mendengar Ellena kesulitan karena tidak punya teman ber-Rank tinggi untuk diajak ber-Party, pikiran Nora langsung melayang pada Andesz beserta rombongan. Dia tahu mereka pasti bisa membantu Tuannya karena mereka berempat nampak kuat.


Nora sama sekali tidak mempertimbangkan Ellena akan marah saat dia berusaha mencari solusi untuknya.


Andesz, laki-laki yang seenaknya duduk di depan Ellena lantas menyela, “Sudahlah. Jangan marahi adikmu, kau tidak lihat dia ingin menangis? Baru saja aku menilaimu sebagai kakak yang baik.” Atas ucapannya ini Andesz menuai delikan ganas dari remaja di depannya. Tapi sekali lagi, bukannya merasa terancam Andesz malah menganggapnya lucu.


Ellena tidak pernah bisa sepenuhnya sopan pada orang lain—kecuali bibinya—tapi di saat yang sama dia juga tidak bisa berlaku terus menyebalkan, terlebih saat yang salah adalah Nora yang menarik mereka kemari.


Maka dengan perasaan agak dongkol tapi berusaha dia tahan, Ellena berkata, dengan intonasi lebih baik tentunya, “Maafkan Nora Tuan. Dia berlaku seenaknya kepada anda.”


Sudut bibir Andesz sedikit terangkat, entah senang karena apa, “Tidak masalah. Selain itu aku mendengar dari adikmu kau butuh tiga orang Rank B sebagai rekan Party bukan?”


Tak lama Ellena menghela nafas dan mengangguk kecil, “Benar. Saya membutuhkan anggota party sebagai syarat Ujian Praktik Kenaikan Ranker. Minimal tiga orang ber-Ranking B.” jelas Ellena tentang kondisinya.


Andesz mengangguk mengerti, “Kalau begitu kau beruntung kami bisa membantumu.”


Sungguh, jika ada lubang disekitarnya Ellena akan masuk dan mengubur dirinya sendiri.


Ini sangat memalukan!


Belum ada dua jam yang lalu dia menghina—katakanlah begitu—orang orang didepannya dan sekarang Ellena terlihat sedang memelas minta bantuan mereka.

__ADS_1


PADAHAL BUKAN MAUNYA! SALAHKAN SAJA NORA!1!1


Ellena meringis pada kalimat Andesz. Tidak tahu harus berbuat. Baru pertama kali ini Ellena dibuat dilemma. Di satu sisi dia tidak begitu kenal dengan Andesz dan kecurigaannya pada penyimpangan lelaki itu juga meresahkan. Tapi kesempatan mendapat anggota party sudah di depan mata, bagi Ellena yang tidak memilki kenalan lain , menolak berarti bodoh.


Orang bodoh tidak akan hidup lama tapi ceroboh juga akan membunuhmu. Duh!


Tapi sayang sekali Ellena punya gengsi yang tinggi jadi— “Emh…saya akan menolaknya. Terima kasih tawaran anda—“


“Kau yakin?” tanya Andesz memotong kalimat penolakan Ellena.


Remaja itu cepat mengulum bibirnya. Kembali meragu.


“Bantuan kami tidak gratis kok, aku akan meminta bayaran setelah misi ini selesai.” Andesz seolah mengerti harga diri remaja bernama El di depannya agak tinggi. Sekilas memang terlihat sombong tapi Andesz menganggap itu adalah salah satu sifat wajar seorang petualang. Apalagi dari yang dia dengar El ini memecahkan rekor nilai Ujian Tertulis Rank B. Orang pintar rata-rata memang seringnya arrogant. Seperti dirinya ini.


Emerald dan manik kelam itu kembali beradu. Yang satu berusaha tenang tidak gelisah, yang satu berusaha tenang agar tidak terlalu kentara senang.


Sekali lagi Ellena menatap ke samping. Kepada teman-teman Andesz yang diam tapi berekpresi beragam, Kirein yang tersenyum simpul, Max yang datar tapi terlihat tertarik, dan Luxia yang menatapnya dengan mata berkobar.


Lalu kepada Nora yang berdiri cemas. Bocah itu sedari tadi menatapnya khawatir dan bersalah. Agaknya dia sudah sadar tindakan lancangnya membawa orang-orang asing tanpa izin atau bertanya pada tuannya. Apalagi orang yang dijauhi Ellena terang-terangan.


Ellena akhirnya membuat keputusan.


“Baiklah Tuan Andesz. Mohon kerjasama nya.” Ellena mengulurkan tangan yang kemudian disambut oleh pria di depannya dengan senyuman main-main.


Dalam hati Ellena membatin, dia akan butuh uang banyak dari bibi Em.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2