![Rise Of Legend [ LIGHTNING]](https://asset.asean.biz.id/rise-of-legend---lightning-.webp)
Perjalanan menuju Gunung Talos tidak berhenti hingga petang datang. Di dalam hutan dengan kanopi hutan rapat menutup langit malam.
Selama mereka berjalan, berbagai hewan buas terus mereka temui. Posisi tidak terlalu berbeda dengan pada saat mereka pertama berjalan, namun siapapun bukannya tidak peka dengan suasana tegang yang terjadi pada El dan Luxia.
Ellena yang dari awal semangat membunuh setiap hewan buas yang mereka temui, menjadi semakin ganas. Gadis yang menyamar itu membantai semuanya dengan cepat serta ganas dan tidak meloloskan satu pun mangsa. Akibatnya anggota Party yang lain benar-benar menganggur dan cuman melihat aksi bocah yang terlihat sedang melakukan aksi bar-bar.
BUK!
Kirein menatap seonggok jasad Kambing Gunung Tanduk Perak yang terlempar asal dan mendarat di depannya. Minilik dari besar ukuran tubuh dan tanduknya, Kirein menilai hewan ini selangkah lagi menjadi Monster Tinggi. Sungguh sial hewan ini harus bertemu dengan El sebelum berhasil berevolusi.
"Tuan, aku yakin Kambing Gunung Tanduk Perak bukan hewan lemah. Tapi... " Kirein menatap pemandangan di depan sana sembari menelan ludah.
Andesz yang paham mengangguk dengan menghela nafas. Pemandangan El, si bocah tiga belas tahun membantai sekumpulan Kambing Gunung Tanduk Perak yang hampir mencapai tahap Monster tentu menakjubkan sekaligus membuat ngeri.
Maksudnya Lihat Itu!
"Heeii! Jangan lari kalian! Aku akan menghadapi kalian semua dan menyimpan kalian untuk perutku dan menjual tanduk kalian!" Seru Ellena yang berlari mengejar beberapa mangsa nya kabur setelah melihat kawanan mereka di bantai dengan brutal.
Tolong jangan salah sangka, Ellena bukan lah bocah psikopat doyan membunuh, kelakuannya itu murni karena kepolosannya. Macam anak kecil yang sedang mengejar kelinci untuk dibawa pulang.
......Ya semacam itu.
"Anak-anak kebanyakan memiliki lebih banyak ruang di perut mereka, lagi pula aku juga memberitahu El bahwa daging Kambing Gunung disini enak dan Tanduk nya mahal." kata Max yang terlihat bangga melihat Ellena yang berlumuran darah mangsanya.
Andesz dan Kirein saling berpandangan, "Apa-apaan ekspresi mu itu? Memangnya kau ini Ayah nya?" wajah datar Max bergetar mendengar hal itu meski siapa pun bisa melihat kedua telinganya memerah.
"Dua hal yang paling dicintai El di dunia ini setelah Nyonya Em adalah Makanan Lezat dan Uang. Jadi jangan heran melihat tingkah El. Dia akan terus mengumpulkan buruan dan uang untuk naik Rank dan foya-foya. " kali ini Nora ikut menyahuti obrolan kecil pria dewasa yang menunggu di sebelahnya. Meski mata hijaunya tidak pernah lepas dari Tuannya yang sedang menarik usus Kambing hingga membuat hewan itu sangat menderita lalu mati.
Kirein menutup mulutnya, menahan mual, "Aku bisa lihat itu. "
Bila El berhasil naik menjadi Rank B, anak tiga belas tahun itu akan menjadi salah satu bibit orang kaya dan Petualang hebat di masa depan. Kirein seolah bisa melihat itu dari sekarang.
"Lalu kau di urutan ke berapa dalam daftar kesukaan Kakak mu, Nora?" tanya Andezs tiba-tiba.
Namun Nora tidak mendengar nya hingga tidak membalas pertanyaan Andezs.
__ADS_1
BUGH!!
Tumpukan jasad Kambing Gunung Tanduk Perak menggunung dengan seorang remaja berambut hitam pendek dan mata emerald berdiri dengan senyum puas dan dua belati di kedua tangannya.
Sejenak baik Andezs, Max dan Kirein terpana dengan senyum lebar milik El. Mereka baru sadar bahwa petualang muda yang membayar mereka itu memiliki senyum yang mempesona.
Sementara Luxia bersilang dada seraya mendecih lalu membuang muka. Dan Nora dan bertepuk tangan heboh untuk tuannya.
"El!! Kamu sangat hebat!" sorak Nora memuji Ellena yang juga senang mendengarnya.
Pembantaian sepihak pada kawanan Kambing Gunung Tanduk Perak mengakhiri perjalanan dan perburuan mereka hari ini dan beralih untuk beristiharat serta tidur.
Makan malam kembali dibuat oleh Nora dan Max dengan bahan utama daging Kambing Gunung Tanduk Perak yang sangat lezat. Max tidak berbohong saat mengatakan daging itu sangat enak hingga Ellena hampir tergoda untuk memburu Hewan Buas ini lagi.
Oh tentu saja, saat semua orang daging dengan baluran bumbu gurih dan mantap, Luxia dengan datar memakan daging bakar hasil tangkapannya sendiri. Terbatasnya bumbu, Luxia hanya menggunakan garam untuk memberi cita rasa pada daging kambing.
Nora benar-benar mematuhi perintah Ellena untuk tidak memberi bagian kepada Luxia. Tentu saja masih ada Max berbaik hati membagi jatah daging berbumbu nya yang lezat namun Luxia menolaknya.
Selesai makan malam, party mereka mengadakan giliran berjaga. Dengan api unggun di tengah, semua orang mengambil posisi tidur masing-masing kecuali Max yang berjaga dan... Ellena dan Nora.
Bahkan Emily tidak secerewet Kirein.
"Kirein... " si pemilik nama mengangkat alisnya pada El. Bocah bermata emerald itu mengangkat jari telunjuk ke arahnya lalu menyeringai menyebalkan, "Kamu cerewet. " lalu dia dan Nora berjalan memasuki hutan.
Sejenak tidak ada yang bergerak. Hingga Kirein kemudian melempar kerikil di samping kaki nya dengan ganas ke arah Max tertawa tertahan dan Luxia yang menyeringai.
Andezs? Pria itu mengangkat satu alisnya dengan tampan seraya menyeringai, menandang tangan kanan nya itu melemparnya dengan batu.
Sangat di sayangkan Andesz adalah tuannya. Amunisi kerikil nya jadi sia-sia.
"Yang Mulia, kita akan membiarkan mereka berdua?" tanya Max seraya melempar ranting kayu pada api unggun.
Andezs menggeleng kemudian bangkit berdiri, "Aku akan menyusul mereka. " katanya sembari menebuk pantatnya.
"Saya--" Luxia, sebagai anak buah teladan serta cekatan tentu tidak ingin berjauhan dengan Tuannya tapi, "Kalian bertiga disini saja. Istirahatkan tubuh kalian. " Andezs mendorong pundak Luxia kembali ke tempat duduknya.
__ADS_1
Luxia hendak membantah saat Andesz dengan tegas menyela, "Ini perintah Luxia. Seharian ini kalian yang bekerja dan aku belum menggerakkan tubuh ku."
Sudah seharusnya pelayan melayani tuannya. Tapi Andesz bukan setidakberguna itu hingga membiarkan ketiga bawahan serta rekannya itu melakukan segala hal.
Lagi pula Andesz juga sudah memastikan dengan Auranya tidak ada hewan buas dan Monster Tinggi di sekitar sini.
"Aku akan melihat dan menjaga dua bocah. Kalian pulihkan tenaga tapi tetap waspada. " Tidak pernah salah untuk selalu awas.
Meski Luxia tampak enggan, pada akhirnya ketiga nya membiarkan tuan mereka menyusul jejak El dan Nora.
.
Baru kali ini Ellena merasakan kagum kepada Nora.
Awal dia menemukan Nora, dia pikir bocah itu cuma beban meski memang Nora memiliki telad sebagai babu profesional dan wajah enak di pandang.
Ellena memang sudah dengar cerita bahwa Nora memiliki darah Elf tapi ketimbang semua faktor itu, Ellena hampir gila dengan kemampuan Nora yang baru di lihatnya pertama kali.
"Emmm...Apa ini cukup El?"
Nora memandang ragu Tuan merangkap kakak palsunya. Laki-laki jadi jadian itu tidak bergerak maupun bersuara sejak Nora selesai menumbuhkan tanaman Bunga Bintang pada lahan kosong sepanjang 50 meter. Hutan yang tadinya gelap, tidak lagi terasa menyeramkan tatkala dari tanah, rerumputan dan Bunga Bintang yang mengeluarkan cahaya kerlap kerlip.
Dan itu adalah hasil perbuatan Nora.
"K-K-Ka au!"
Nora merasa konyol karena ketakutan saat melihat wajah Ellena yang menatapnya dengan mata berbinar dan air liur menetes layaknya maniak gila.
Dan saat Ellena mendekat dan saat itu Nora sungguh akan berteriak.
.
.
.
__ADS_1