![Rise Of Legend [ LIGHTNING]](https://asset.asean.biz.id/rise-of-legend---lightning-.webp)
7 Hari telah berlalu. Hari dimana Ellena memulai langkah pertamanya sebagai raja hutan Sylfy. Gadis telah mengenakan armor sisik naga miliknya yang telah di daur ulang dan diperbaruhi.
Armor itu kini bisa berubah warna sesuai yang diinginkan pemakai dan bahkan memiliki sihir penghilang. Dimana sihir ini bisa membuat pemakainya tidak terlihat selama 15 menit dalam jangka 1 jam. Artinya setelah 15 menit digunakan butuh 1 jam lagi untuk bisa digunakan kembali. Selain itu armor ini juga buat agar menyesuaikan bentuk tubuh pemakai.
Selain itu Medea, Pemimpin Devisi Pengrajin yang senang membuat macam-macam barang untuk tamu-tamu istimewanya juga membuat baju-baju pesanan Ellena tepat waktu. Salah satunya adalah pakaian yang dipakai Ellena di bawah armornya. Baju elastis yang juga memiliki sihir yang dapat menyesuaikan ukuran tubuh pemakai. Selain itu pakaian itu juga memiliki sihir pembersih dan sihit tahan api serta dingin.
Singkatnya Ellena tidak perlu khawatir tidak mandi atau baju sobek selama berburu.
"Aku menamakannya 'Elfhim Fashion' ." kata Medea, Elf wanita yang senang sekali menyeret Ellena untuk dimintai saran.
Medea tidak jadi membuat banyak untuk pakaian Ellena. Elf perempuan itu hanya membuat beberapa setel pakaian Elfhim Fashion karena keefisienan pakaian itu tak hanya tahan lama juga bisa berubah bentuk sesuai keinginan pemakai. Tapi ini hanya berlaku untuk Ellena karena Medea membuat pakaian itu merespon sihir perubah. Mantranya singkat jadi Ellena mudah mengingatnya dan mengusainya saat itu juga.
"Aku juga membuat bando, choker, kaos kaki, masker wajah, selimut, sepatu dan---EL TUNGGU!" Ellena buru-buru kabur sembari membawa lari sepatu pesanannya. Gadis ngeri pada benda-benda sihir yang dibuat Medea. Bagus sih jika dilihat dari fungsinya tapi Ellena ngeri membayangkan dirinya memakai benda semacam itu. Ingat kan Ellena besar diperlakukan sebagai laki-laki? Mau memakai cincin saja sudah bagus.
Ellena beralih pada Nayla dan mengambil potion pesanannya, "Karena tidak banyak kau harus menghematnya, El. Buru saja hewan buas dan monster rendah. Jika bertemu Monster yang tidak bisa kau kalahkan, larilah atau bersembunyi, mengerti?" petuah Nayla. Sebagai dokter yang merawat Ellena selama 2 minggu pertama, tentu saja wajar Nayla merasa khawatir pada mantan pasiennya yang masih muda yang hendak keluar zona aman Desa Sylfhim.
"Nayla, aku tidak lemah ya. Tapi terima kasih." Bukannya sombong tapi Ellena selalu mengatakan bahwa dia tidak lemah kepada orang lain selain bibi Em. Luxia saja yang dulu lebih kuat darinya dia tantang kok. Sebegitu tidak maunya dia dibilang lemah.
Nayla menghela nafas pasrah, "Berhati-hatilah."
"Baiklah. Jangan lupa pesananku ya. Hehe." diingatkan begitu oleh Ellena, wajah Nayla berubah sedikit jengkel, tapi Elf baik hati itu tetap tersenyum dan melambai pada Ellena, " Tentu El."
Terakhir Ellena mengambil seluruh pesanan senjatanya dibengkel Zeno.
"500 pisau kecil, 300 belati sedang, 150 tombak, 100 pedang panjang dan sedang, serta banyak tali dan kawat." Zeno menyebut pesanan Ellena yang telah dia siapkan, "Juga 100 ambahan tombak, 50 cakram dan satu busur dan 300 anak panahnya."
"Eh? Aku tidak memintanya kan?" Ellena menunjuk bingung pada tumpukan cakram dan busur.
Zeno mengangguk membenarkan, "Memang. Saya menambahkannya sendiri setelah mendengar Nona El tidak memiliki senjata utama. Jadi saya menambah beberapa jenis senjata untuk anda. Siapa tahu mereka berguna."
Diantara para pemimpin Devisi Elf yang Ellena recoki, cuma Zeno yang masih ngotot bersikap formal padanya dan memanggilnya 'Nona'. Ellena juga sudah malas membenarkan pria Elf satu itu.
"Hm... siapa bilang aku tidak punya senjata utama? Aku meminta pedang kan?"
"Nora berkata Nona El tidak menggunakan pedang seperti Tuan Andesz."
Oh? Nora ember lagi?
Ellena tersenyum, dalam hati dia akan memberi beberapa jitakan sayang pada adiknya itu, "Terima kasih, Zeno."
Tanpa basa basi Ellena mengibaskan tangan kanannya kedepan dan seketika seluruh senjata pesanan itu menghilang dan tersimpan aman di dalam Galaxy Ring.
__ADS_1
Zeno tidak heran melihat itu dan menganggap biasa saja. Dia mengira cincin Ellena pastilah Space Things yang mana mudah didapat di Desa Sylfhim. Yang luput ialah Zeno tidak tahu cincin Ellena adalah salah satu harta pusaka kaumnya yang diberi langsung oleh ratunya.
Ellena hendak pergi dari bengkel saat Zeno menahannya, "Nona El, anda melupakan ini."
Mata emerald Ellena menatap datar pada busur serta anak panah yang tertinggal kini berada ditangan Zeno. "Aku mungkin tidak membutuhkannya." katanya.
Zeno sejenak merasa bulu kuduknya merinding karena suatu alasan yang tidak jelas. Tapi karena tidak ada yang aneh Zeno mengabaikannya, "Busur adalah senjata jarak jauh terbaik. Ditambah dengan mata anda yang istimewa, senjata ini mungkin yang paling cocok dengan anda."
"Cocok ya... "
Ada beberapa keheningan canggung dan tidak mengenakkan yang hanya dirasakan Zeno. Elf yang telah hidup lebih dari 400 tahun itu mendadak menegang saat selintas mencium bau ozon.
Dan...mata emerald Ellena yang mendadak berkilat singkat.
"Apa yang---"
"Aku pergi. Terima kasih, Zeno. " Ellena menyela cepat.Gadis itu menyambar busur dan anak panah itu lalu langsung menyimpannya dalam Galaxy Ring. Tanpa kata lebih jauh Ellena pergi meninggalkan Zeno.
"Ah... sama-sama... nona... "
Zeno tidak sadar dia melamun hingga dikejutkan oleh satu anak buahnya.
"Siapa?" tanya anak buah Zeno.
"Bukan siapapun."
.
.
.
Nora menangis sambil memegangi kaki Ellena yang hendak pergi.
Bukan tanpa alasan dia begitu. Itu karena Nora tidak ikut Ellena pergi berburu monster. Ellena hanya ditemani Andesz dan satu Elf pria bernama Zeni. Adalah salah satu Elf penjaga terkuat Desa Sylfhim. Lucunya Zeni adalah adiknya Zeno sang pemimpin Devisi Senjata para Tinker.
"Nora... " Ellena memandang adik angkat setengah manusianya tidak berdaya. Kalau bukan karena pikiran bahwa perburuan ini berbahaya dia akan membawa Nora ikut serta. Tapi belajar dari pengalaman lalu saat melawan VRITRA, Ellena tidak (belum) mampu bertarung sekaligus melindungi Nora. Waktu itu dia benar-benar putus asa tidak ingin Nora terluka dan membiarkan dirinya sendiri babak belur.
Kali ini Ellena ingin bertarung habis-habisan dan mengerahkan seluruh kemampuannya tanpa merasa perlu melindungi orang lain.
"T-Tapi.... Tapi El... Aku... Huhu... " Nora menangis lagi. Melihat wajah imut itu bersimbah air mata tentu membuat semua orang ingin menghapus air matanya dan menghajar pelaku yang membuatnya menangis. Tapi pelaku tersebut tidak lain adalah gadis berambut ungu yang bisa mendatangkan petir (meski yang bersangkutan masih menyangkal), membuat orang-orang jadi berpikir dua kali.
__ADS_1
"Wahai, Nora jangan buat ini sulit untuk El." ujar Reyna Freya yang ikut mengantar 2 tamu dan satu rakyatnya di gerbang desa (sebenarnya dua pohon besar tidak bisa disebut gerbang juga tapi ya sudahlah)
"Hiks... apa aku... menyulitkan...hiks... El?"
"Sangat. Sudah aku tidak bisa membawamu karena kau akan menyusahkanku, lalu kau menangis jelek begini aku jadi kasihan." balas Ellena blak-blakkan.
Nora yang sedih menaikkan volume tangisnya mendengar ucapan Ellena yang seolah menabur garam diatas luka hatinya yang rapuh dan terlalu lembut untuk menanggung kekejaman verbal kakaknya.
"Kejamnya." Andesz berkomentar datar.
Pria itu menonton drama keluarga itu dalam diam dan bosan karena mulai terbiasa dengan polah ajaib kedua kakak adik angkat di depannya. Kakak bermulut pedas tapi penyayang serta protektif, sedang sang adik terlalu polos dan baik hati yang selalu tersakiti tapi sangat lengket dan penurut. Lihat saja! Meski tersakiti Nora justru makin erat memeluk pinggang Ellena.
Ellena jelas mengabaikan komentar Andesz dan fokus menenangkan Nora.
Menyerah bersikap kejam, Ellena meraih kepala Nora dan menepuknya pelan, "Sudahlah. Salahku yang belum sempat melatihmu. Aku juga sedih tidak bisa membawa koki terbaikku."
Perlahan Nora berhenti menangis, "Kau ingat tugas yang kukatakan padamu?" atas ucapan Ellena ini Nora mengangguk sembari berusaha menghapus air matanya.
"Lakukan itu untukku, ya?"
"El... meminta terlalu banyak... aku mau El melihatnya juga... " suara Nora yang serak terdengar lucu bagi Ellena hingga membuatnya tertawa.
"Kau bisa pamer padaku saat aku kembali. Jadi berusahalah ya? Aku akan membawamu terbang lagi dengan Druk lain kali." berhubung Druk cuma mau ditunggangi Ellena, maka Nora sekalipun tidak bisa seenaknya meminta tumpangan pada sang Naga Hitam yang sedang tidur ditempat favoritnya. Sebenarnya Druk sudah berencana menemaninya taoi dengan tegas Ellena menyuruhnya tidur saja sampai dia kembali.
"Janji?"
"Tidak."
"ELLLL!"
"Wahai, kalian berdua menggemaskan."
"Kapan kita berangkat?!?!"
Yang terakhir itu Andesz yang lelah bahkan sebelum perburuan dimulai.
.
.
.
__ADS_1