Rise Of Legend [ LIGHTNING]

Rise Of Legend [ LIGHTNING]
Bab 8 Kota Delos


__ADS_3

Kota Delos adalah kota terbesar di bagian selatan Kekaisaran Shinetheria. Tidak bisa disandingkan dengan Ibu kota, Athena—Kota yang tidak pernah tidur, kota Delos cuma memiliki penduduk sekitar dua ribu hingga tiga ribu jiwa.


Bangunan di sini cukup baik. Orang-orang tidak bisa dikatakan hidup damai karena beberapa kesenjangan sosial masih terlihat. Namun hal semacam itu adalah wajar dalam lingkungan kota. Kota Delos di pimpim oleh seorang wali kota yang memiliki gelar bangsawan Baron. Baron Helios menguasai Kota Delos sejak sepuluh tahun yang lalu.


Bagi Ellena sendiri, kota Delos adalah kota terbesar yang pernah dikunjunginya. Untuk alasan yang tidak dia ketahui, bibi Em tidak pernah membawa Ellena ke kota lain. Meski Ellena pernah dengar kota Lathe, kota terdekat, cuma butuh perjalanan seminggu dari Kota Delos dengan kereta kuda.


Menjelang sore di hari pertama di Kota Delos, Ellena benar-benar melaksanakan rencana foya-foya nya. Yang disukai Ellena dari kota ini adalah adanya pasar makanan yang buka dari subuh hingga malam. Bahkan ada beberapa toko yang sengaja buka dari sore dan tutup tengah malam. Tempat itu adalah surga bagi pecinta makanan seperti Ellena.


Saat ini Ellena berada di sebuah kedai yang menyediakan menu dingin serta makanan pencuci mulut. Sudah lama Ellena menyenangi toko tersebut hingga setiap datang ke Delos pasti menyempatkan diri ke sana, bahkan pemilik toko mengenalnya.


“Dua waffle keju panas, satu Ice cream cake dan satu jus melon.” Ellena menyambut pesanannya dengan wajah bahagia. Tidak peduli Nora memandangnya canggung dan…agak tersipu.


Apa Ellena baru saja membuat kagum anak orang? Yah bukan salah nya juga sih, batin Ellena tak acuh dan terlalu percaya diri. Berani sekantung emas Emily akan memukul Ellena jika mendengar isi kepala anak didiknya itu.


“El, apa dia adik perempuanmu? Aku baru pertama kali melihatnya.” Sapa pemilik kedai baik hati bernama Lize, wanita baya keibuan yang sangat ramah. Ellena mengenalnya pada kedatangan ketiga di kedai ini. Agaknya Lize tertarik mengenal Ellena yang dilihat makan dengan bahagia tapi selalu sendirian. Pada akhirnya Lize yang jadi teman bicara Ellena saat berkunjung.


Nora yang disangka perempuan kembali merona malu. Dia menudukkan wajahnya pada bawah meja hingga terlihat menyedihkan. Ellena yang kasihan kemudian menolong si bocah malang.


“Bukan Lize, dia…anak tetanggaku yang ngotot ikut denganku ke kota.” Arangnya pintar. Bukan kebohongan sepenuhnya. Setidaknya Nora memang ngotot ikut ke kota hingga nekat menyeludup ke rombongannya.


“Aih jangan malu-malu El. Adikmu sangat cantik makanya kau jarang membawanya kemari kan? Yah dengan wajah secantik ini aku juga akan sangat protektif padanya.” Ellena mengulum senyum, memilih tidak membantah apapun perkataan Lize. Biarkan wanita itu berspekulasi sesukanya.


“Jadi siapa namamu anak manis?” tanya Lize ramah. Wanita itu dengan santai duduk bergabung dengan meja Ellena dan Nora.


Nora melirik pada Ellena, meminta pertolongan tentang salah paham jenis kelaminnya, tapi Ellena mengangkat bahu acuh dan memakan Ice Cream Cake nya dengan khusuk.


Tidak punya pilihan Nora menjawab,

__ADS_1


“Sa-Saya Nora, bibi.”


Mendengar suara Nora yang kecil khas bocah belum balig, menambah keyakinan Lize bahwa Nora adalah perempuan. Apalagi namanya juga terdengar sangat perempuan.


“Nora yang manis. Aku Lize, pemilik kedai ini. Sering-seringlah ikut kakak mu kesini dan aku akan membuatkan menu istimewa untuk kalian berdua.” Ujar Lize yang disambut anggukan antusias Ellena.


“Terima kasih Lize.” Cicit Nora malu-malu.


Membuat Lize yang gemas lantas mencubit pipinya hingga kemerahan. Ellena tertawa diam-diam melihat Nora kuwalahan dengan semburan kasih sayang Lize.


Tak lama Ellena pamit pergi setelah memakan seluruh pesanannya. Dia mengatakan akan kembali lain waktu. Lize memaksa Ellena untuk membawa adiknya—Nora, pada kunjungan berikutnya hingga Ellena terpaksa berjanji pada wanita baik hati di depannya.


Sedang Nora tidak berkata banyak. Dia mengikuti Ellena setelah menunduk singkat dan berterima kasih pada Lize.


Berkat menyelesaikan misi Belut kemarin, Ellena punya cukup uang untuk membeli aneka jajanan sepuasnya, bahkan masih banyak sisa uang. Nora juga tidak lupa di berikan porsi kecil dari setiap jajanan yang Ellena beli hingga akhirnya menolak makan lagi karena kekeyangan.


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam saat Ellena memutuskan cukup berkuliner dengan perut sedikit membuncit. Mereka berdua kembali ke penginapan sebelumnya dan ingin langsung tidur jika bukan karena sosok di dalam kamar telah menunggu kedatangan mereka.


“Apa kau bersenang-senang hari ini?” tanya sang bibi tiba-tiba.


Ellena yang sebelumnya menunduk layaknya anak kecil yang ketahuan berbuat nakal, mendongak balas menatap sang bibi.


“I-Iya bibi.” Jawabnya.


Disampingnya Nora juga ikut mengkerut. Dibawah tatapan mata tajam Emily Ellyzzia, Nora jadi teringat kejadian tadi pagi dan tanpa bisa dicegah bergetar ketakutan.


Mempertimbangkan hari ini Ellena jajan sepuasnya hingga perutnya ingin meledak, kelaparan selama 3 hari ke depan mungkin masih aman. Selama bukan seminggu saja...

__ADS_1


Mata Emily memandang anak didiknya dan pernyusup kecil bergantian. Bermenit-menit yang laksana puluhan tahun bagi dua anak kecil, Emily akhirnya berkata kembali.


“Baguslah jika kau bersenang-senang El.”


Mata emerald Ellana berkedip cepat. Meski dipuji dia tidak merasa demikian, justru firasat buruk tiba-tiba menderanya.


“Karena mulai besok hingga hari terakhir di Delos, kau akan menjalani pelatihan.” Vonis satu dijatuhkan, “ Aku sudah mendapatkan guru untukmu berlatih disini,” Vonis kedua dijatuhkan, “…dan kau dilarang memakan makanan manis, pedas, asam dan berminyak—mudahnya semua makanan yang kau sukai. Anggap hari ini terakhir kali aku membiarkanmu bebas memakannya.” Vonis ketiga—vonis mati!


“T-Tunggu! Bibi pasti bercanda!” seru Ellena tidak mau percaya.


Sementara Emily menanggapi santai Sudah tahu keponakan kesayangannya pasti bereaksi demikian. Pandangan nya justru jatuh pada Nora, si penyusup kecil keretanya.


“Kau bocah kecil, namamu Nora bukan?” Si pemilik nama mengangguk tidak berdaya, pasrah jika dia juga terkena hukuman, “…aku bisa menampungmu jika kau bersedia melayani keponakanku. Selama latihan kau yang bertugas memenuhi kebutuhan El seperti makanan dan baju bersih. Kau bersedia?” tawar—bukan, itu lebih tepat sebagai ancaman bagi Nora yang berarti ‘Jadi pelayan atau mati’.


Nora yang pintar mengangguk cepat. Dia tidak keberatan bekerja sebagai pelayan karena tidak tahu harus apa jika terpisah dengan Emily dan Ellena. Nora merasa sangat jauh dari rumah—yang pasti sudah habis terbakar—dan takut kembali dijual sebagai budak atau ke rumah bordil jika berkeliaran sendirian. Melayani atau membantu Ellena nampak jauh lebih baik dan terjamin kesejahteraannya.


Ellena menganga melihat kejadian itu. Dia sekarang benar-benar yakin bibi nya telah merencanakan ini semua. Sedari awal dia sudah berkeinginan membuat latihan neraka di Delos dan mencari pembantu sementara. Siapa yang tahu takdir begitu baik mengirim Nora yang punya keahlian kacung professional saat di butuhkan.


Pada akhirnya Nora benar-benar menjadi budak.


Merasa urusannya sudah selesai, Emily kemudian keluar dari kamar penginapan dan hendak kembali ke toko nya yang cuma berjarak dua rumah. Saat mencapai pintu Emily menoleh dan berkata pada Ellena yang masih tidak bergerak dari tempatnya.


“Tidur El. Besok akan jadi hari yang melelahkan.” Sesudah itu Emily menutup pintu penginapan. Meninggalkan Ellena yang terpaku pada lantai.


Kadang Ellena berpikir kalau tidak sayang sekali pada Emily, sudah dia—Ah sudahlah.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2