![Rise Of Legend [ LIGHTNING]](https://asset.asean.biz.id/rise-of-legend---lightning-.webp)
Druk menyesal tidak memusnahkan naga kecil itu dari dulu.
Tidak tahu apa yang dipikirkan Druk, Ellena justru mengalihkan fokus pada kondisinya yang masih menempel seperti cicak.
Ellena kemudian menengok pada Nora, yang masih sesunggukan. Wajah imut bocah itu basah air mata dan Ellena yakin lebih lama lagi Nora seperti itu matanya akan bengkak, jelek!
"No-ra... " Haduh kok suara masih serak? Butuh minum pasti.
Untungnya Nora kali ini sudi membuka matanya dengan sipit dan menatap kakak angkatnya dengan sesunggukan.
"E-El... Ma-u ap-pa?" Jika orang lain mendengar, pasti mengira Ellena sedang membully Nora. Yah biasanya juga begitu sih.
Tahu suaranya akan terdengar menyedihkan, dengan mata emeraldnya Ellena melirik kebawah, menunjuk pada akar akar kecil yang memperangkat tubuhnya dari ujung kaki hingga leher seperti kepompong. Memberi kode Nora untuk mengeluarkannya karena setelah Ellena sadar lama lama tubuhnya menjadi gerah.
"O-Oh... " syukurnya bocah berambut hijau dan beriris serupa itu mengerti dan mulai membantu Ellena. Agak lucu juga karena Nora merobek akar akar putih yang telah padam cahaya dengan sesakali menyeka air mata atau mengelap ingus.
Lima menit kemudian Nora berhasil mengeluarkan Ellena dari kepompong. Itu bertepatan dengan bunyi benda jatuh lain lainnya. Baik Ellena dan Nora mendongak siapa gerangan yang datang, sedang Naga Druk cuma menonton diam.
Disana berdiri seorang pria dengan celana hitam dan kaos abu abu tanpa lengan serta jubah biasa dipunggungnya, dengan keranjang buah telah jatuh berserakan di dekat kakinya. Rambut putih keperakannya nampak berkelap kerlip tertimpa cahaya mentari dan mata birunya terbuka lebar, menatap tak percaya pada Ellena.
__ADS_1
Sedang di sisi lain, Ellena yang sadar akan kondisi tubuhnya polos, iya dia telanjang, tidak berteriak karena sia sia, jadi Ellena menutup dadanya yang masih kecil dengan lengan dan menutup rapat kakinya.
"Tu-an Andesz... El, dia... dia..."
Srett
Belum selesai Nora berbicara, Andesz, sang pendatang kedua, dengan cepat menghampiri mereka dan tanpa pikir panjang langsung menutup tubuh telanjang Ellena dengan jubah mililnya. Jubah Andesz cukup besar hingga dapat menutup tubuh Ellena yang kurus.
Tapi belum sempat berterima kasih, Ellena kembali dikejutkan dengan tarikan kencang dan tahu tahu dia sudah dalam dekapan Andesz. Dekapan itu terasa erat hingga menyesakkan.
'Kenapa...' batin Ellena tidak mengerti di bahu Andesz. Punggungnya di tekan dan kepala belangkangnya di cengkram lembut namun juga terasa enggan melepas.
Selanjutnya yang Ellena rasakan adalah tubuh Andesz bergetar lalu diiringi dengan suara isakan.
Ellena tidak membalas, dia diam sembari mendengarkan semua rancauan dan isakan tangis Andesz yang terus berkata dia bersyukur Ellena masih hidup.
Orang lain yang melihat pasti menyangkanya Ellena baru saja sekarat dan berhasil bertahan hidup.
Atau... memang begitu kenyataannya.
__ADS_1
"Ellena ... " hic "Aku akan menjagamu. Aku akan menjagamu dengan benar kali ini." hic "Apapun...aku benci melihatmu begitu lagi... " hic
Ahh... Andesz. Apa pria itu merasa bersalah karena kesepakatan mereka yang merujuk pada Ellena membayar Andesz dan kawan kawannya untuk menjaganya berburu demi syarat Ujian Kenaikan Rank? Tapi Ellena pikir perjanjian itu batal, berhubung tas kuning berisi uangnya telah hilang kemana.
Apakah hari hari mereka terdampar bersama di Pulau Sylfy telah membuat Andesz memandangnya dengan cara berbeda? Bukan lagi rekan tapi... teman?
Kalau begitu, Ellena akan menganggap wajar perlakuan ini. Menurut bibi eem, bagi orang lain , bisa jadi seorang teman adalah segalanya yang dia punya. Mungkin Andesz menganggap Ellena cukup berharga hingga dia menangis dan berjanji menjaga Ellena dengan baik.
Atau Andesz bisa saja memiliki trauma akan kehilangan seseorang. Kondisi Ellena sebelumnya memang sangat mengkhawatirkan jadi dia juga paham kalau Andesz jadi ngeri melihatnya.
Apapun itu, Ellena akan membiarkannya kali ini. (Ellena tidak tahu bahwa tidak ada satupun dari dugaannya yang benar dan lihat wajah Ellena saat tahu alasan Andesz dimasa depan)
Meski dia tidak bisa berbicara dan meminta Andesz untuk tidak lagi menangis, Ellena dengan pelan menepuk nepuk punggung lebar Andesz dengan tepukan pelan. Meski Andesz belum juga reda, apalagi pelukannl kuatnya tidak terlepas juga, Ellena terus menepuk punggungnya.
Lalu tak lama Nora yang tadinya sudah berhenti terisak, jadi terbawa suasana dan ikut bergabung dalam pelukan itu. Pada akhirnya Ellena juga menepuk kepala Nora dengan pelan.
'Ya ya ya...terimakasih sudah mengkhawatirkanku.' kata Ellena mendesah dalam hati tapi senyuman kecil terbit pada bibirnya. Ada perasaan hangat yang menyeruak dalam dadanya.
.
__ADS_1
.
.