Rise Of Legend [ LIGHTNING]

Rise Of Legend [ LIGHTNING]
Bab 51 Cahaya Kecil


__ADS_3

Kalau ditanya Ellena merindukan Emily atau tidak, jawabannya jelas. Tentu saja Ellena rindu bibi nya itu.


Meski sifatnya agak keras dan tegas, tanpa bisa dibantah Emily adalah orang yang bertanggung jawab atas tumbuhnya Ellena. hingga sebesar itu. Cara berpikirnya, cara mengambil keputusan, cara menilai orang lain, dan meski mulut sarkasnya bukan Emily yang mengajari, tapi mulut pedas dan kejam Ellena jelas siapa yang dicontoh. Bahkan cara Ellena mengintimidasi orang lain pum meniru bibinya.


Emily itu ibarat Ayah, Ibu, Kakak dan Guru dalam hidup Ellena. Keluarganya yang berharga.


Dan jangan salah. Seperti Ellena pada Nora, Bibi yang masih seksi itu punya sisi lembut untuk Ellena seorang.


Waktu itu mungkin sekitar Ellena berumur 3 tahun. Masa dimana Ellena kecil sangat aktif berlarian kesana kemari. Seolah sudah menunjukkan keistimewaannya sejak dini, Ellena kecil seolah tidak pernah lelah bermain lari-larian di dalam mansion. Emily bahkan hampir tidak memiliki cukup waktu untuk bekerja sejak Ellena mulai bisa merangkak.


Hari itu hujan membasahi seluruh tanah hutan Shinee termasuk Outer. Mansion Del Selto mereka yang menotabene berada di tepi tebing jelas membuat penghuninya tidak bisa keluar untuk berlarian. Dalam hal ini tentu saja merujuk pada si kecil Ellena.


"El? Dimana lagi kau?" Emily memanggil anak didiknya yang masih balita.


Terakhir kali dia meninggalkan Ellena di ruang tengah dengan mainan-mainan yang Emily beli di Delos, untuk memeriksa sebentar pekerjaannya.


Emily mencari di sekitar lantai satu namun menit demi menit sang bibi tidak bisa menemukan bocah yang dia cari.


"Astaga anak itu." Emily berkacak pinggang, "El! Aku tahu kau bisa mendengarku. Keluarlah atau tidak ada susu coklat sebulan kedepan!" Ellena kecil suka sekali manis-manis, termasuk susu kambing murni yang dia berikan bubuk cocoa. Itu adalah minuman favorit Ellena pada masa ini.


Hening


Kening Emily berkerut, tidak menyangka ancaman susu coklat tidak memberi efek yang seperti dia duga. Biasanya jika Ellena bersembunyi maka saat Emily mengancam demikian Ellena kecil langsung kocar kacir menghampiri bibinya.


"Hahh... baiklah." Emily mengangkat jari telunjuk dan tengah sebelah kanan dan mendekatkan pada mulutnya kemudian berbisik, "Temukan cahaya kecilku."


Cahaya hijau muncul pada ujung kedua jari Emily dan saat empunya mengibaskan tangannya, cahaya itu mengudara lalu terbang menuju lantai dua. Dahi Emily mengerut lagi seraya menaiki tangga di lantai atas, "Astaga, bocah itu sudah bisa naik ke lantai dua." gumannya dengan nada sedikit frustasi. Membayangkan semakin repot harinya Saat Ellena semakin lincah.


Emily mengikuti cahaya hijau hasil sihir pelacaknya yang terus terbang lambat menuju ruangan degan pintu paling lorong. Saat cahaya hijau berhenti dan mengambang di depan perpustakaan miliknya, Emily menjentikkan jarinya dan 'PUFF' cahaya hijau kecil menghilang.

__ADS_1


"El?" panggil Emily sekali lagi ke dalam ruangan dengan tiga rak buku tinggi.


"Bibiiiiiiiiii~" dari sisi salah satu rak muncul seorang balita berumur 3 tahun, berambut ungu pendek dan bermata emerald. Balita cantik itu berlari, sebagaimana balita bisa berlari, kearah Emily yang sigap menangkap dan menggendong sang balita.


"El! Tadi aku bilang apa?" Ellena kecil yang tadinya tersenyum gembira berganti melengkungkan mulutnya kebawah saat merasa dia akan diomeli.


"Bibi ama. El ngin main lual api bacah. El naik cini, baca buku El... " Dengan kata yang belum utuh benar El berusaha menjelaskan agar tidak dihukum. Jangan sampai susu coklatnya raib.


Sampai sekarang Emily masih suka takjub bila mendengar Ellena kecil yang berbicara terbata dan cedel itu. Setahunya balita tiga tahun memang bisa bicara namun untuk bisa merangkai kata dan berpikir seperti Ellena, Emily tahu anak digendongannya bukan anak biasa.


Baik. Karena kesalahannya meninggalkan Ellena tadi, Emily membiarkan satu ini, "El baca apa?"


Oh jangan heran. Ellena sudah bisa membaca buku anak-anak sendiri setelah dia sendiri mengajari Ellena. Anak ini belajar sungguh cepat.


"Oh cebental Bibi." Ellena kecil meminta diturunkan dari gendongan lalu berlari kearah sisi rak dia muncul tadi. Tak lama Ellena kecil muncul lagi dengan memeluk buku yang kelihatan berat untuk bocah itu. Alis Emily terangkat saat melihat buku apa yang dibawa Ellena.


"El, kau bisa membaca ini?" tanya Emily terkejut. Apa anak didiknya memang sehebat ini hingga bisa membaca buku "Hidup dan Tak Hidup" yang berisi tentang Jiwa dan Raga manusia. Setebal 8 senti yang penuh tulisan rapat dan sedikit sekali ilustrasi.


"Lalu kenapa kau membacanya kalau cuma mengerti sedikit. Buku yang kuberikan kemarin, mana? " Emily ingat dia membeli lima buku anak-anak untuk Ellena tiga hari lalu.


Ellena kembali berdiri dan berlari ke arah meja kecil yang merupakan milik Ellena, hasil merengek ingin memiliki meja sendiri karena merasa bibinya sangat keren duduk tegap membaca di meja besarnya.


Ellena mengambil 7 buku sekaligus dan membawanya ke hadapan sang bibi, "El cudah bocan baca ini Bi. Mau baca buku ayak bibi baca... " Jawab Ellena kecil lagi-lagi dengan cengiran lucu.


Emily yang juga mendengar alasan yang sama saat Ellena meminta meja, mau tidak mau tersenyum tipis. Bocah yang dirawatnya ini sangat suka meniru dirinya yang katanya terlihat keren. Dan tentu saja, Emily yang diluar sana dingin dan acuh, menjadi hangat hatinya dan tidak bisa membenci afeksi Ellena kepadanya.


Emily lalu berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan anak didiknya, "Jadi El mau diajari baca buku ini?" Emily mengangkat buku tebal tadi.


Mata emerald Ellena berbinar terang, "Mau bibi. Bibi ajalin El baca buku iniii. Bial El bica kelen ayak Bibi." Nah lagi-lagi ingin sepertinya. Kali ini Emily tertawa kecil. Jenis tawa tulus yang hanya terjadi apabila Emily dirumah. Bersama Ellena.

__ADS_1


"Kemarilah El."


Dengan gembira Ellena kecil datang ke pelukan Emily dan duduk di dipangkuannya. Emily membuka buku "Hidup dan Tak Hidup", "Dengar El, jadi cara membaca ini... "


Sepanjang hari yang terus diguyur hujan, sepasang perempuan beda umur itu menghabiskan hari dengan berdekatan satu sama lain. Menghangatkan yang lain dengan hangat tubuh masing-masing.


Di sela sesi pelajaran membaca tersebut, Ellena kecil mendengar bibinya yang berbisik lirih ditelinganya, "Cahaya kecilku... " dan kecupan lembut mendarat di pelipisnya.


...


"Nona El? Anda baik-baik saja?"


Mata emerald ini mengerjab cepat.Merasa kaget lantaran mendapati dirinya melamun sembari menatap langit malam yang bertabur bintang.


"Oh, aku baik kok. Cuma teringat sesuatu saja." jawab Ellena pada Zeni.


"Luka anda?"


Ellena melirik pada luka luka pada tubuhnya, hasil bertarung dengan King Kong. Tanpa diduga sudut bibir Ellena terangkat miring, "Aman. Lukanya tidak terasa lagi setelah aku minum potion. "


Zeni mengangguk mengerti. Elf itu kemudian menoleh pada Monster besar berbulu hitam yang terengah lemah tak jauh dari mereka.


"Anda juga akan menaklukkan King Kong?"


" Oh ya jelas." Alasan apa lagi kalau bukan itu hingga Ellena mau repot-repot tidak langsung membunuh monster kera itu? Dari Galaxy Ring, Ellena mengeluarkan Buah Apel Emas, "Mari jadikan King Kong 'teman' baru."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2