![Rise Of Legend [ LIGHTNING]](https://asset.asean.biz.id/rise-of-legend---lightning-.webp)
Tak lama berselang Ellena menutup bukunya dan mengambil buku kedua. Melihat hal itu Nora tak kuasa tidak bertanya—hampir menjerit, “Tuan—bukan…El, itu…itu...apa El benar-benar sudah selesai membaca buku itu?”
Ellena mengangguk meski matanya menatap tidak mengerti dengan tingkah Nora yang seperti melihatnya menumbuhkan ekor dipantat.
“El sungguh-sungguh telah membacanya? Cepat sekali.”
Ellena mendengus kecil. Dia lupa kalau selama ini Nora tidak pernah melihatnya membaca buku. Dan sebenarnya Ellena juga tidak berniat memperlihatkan kemampuannya ini jika dia tidak terburu waktu.
Bibi Em selalu bilang Ellena adalah anak yang istimewa. Salah satu keistimewaannya ialah kemampuannya yang dapat membaca dengan sangat cepat. Kemampuan ini ada setelah Emily mengajari Ellena membaca dan menulis di umur tiga tahun. Kecepatan membaca inilah juga yang jadi masalah saat kecil karena Ellena kecil akan menangis kencang lantaran kehabisan bacaan yang bisa dibaca anak seumurannya. Alhasil Emily terpaksa mengajari Ellena kata yang lebih sulit agar anak itu bisa membaca sendiri bacaan buku-buku tebal di perpustakaannya.
“Kapan-kapan ku jelaskan. Sekarang mundur sepuluh langkah. Suara nafasmu mengganggu konsentrasiku.” Titahnya yang segera dipatuhi Nora yang sebelumnya terlebih dahulu meminta maaf. Karena tidak mau kembali ke toko bibi Em sendirian, Nora akhirnya memilih duduk dilantai toko dan membaca buku resep yang telah di belinya.
Beruntung Isaac—yang ternyata pemilik toko Tori Book ini—tidak keberatan dengan kehadiran keduanya. Isaac pun sempat kaget dengan kecepatan membaca Ellena. Alih-alih histeris macam Nora, pria yang sudah sepuh itu justru kagum dengan kemampuan Ellena.
“Tujuh puluh tiga hidupku dan aku baru menemui bakat seperti mu. Nak El, aku berani menjamin tidak sampai sebulan kau akan menghabiskan seluruh buku di toko ini.” Ujar Isaac yang membuat Ellena sedikit malu. Kesannya Ellena tidak tahu diri sekali membaca semua buku namun enggan membeli. Dan hei, Ellena tidak semenganggur itu.
Isaac kemudian meninggalkan Ellena dan Nora yang tenggelam dalam bacaan masing-masing. Jika dilihat dari jauh akan terlihat perbedaan mencolok suasana sepasang Tuan-Pelayan tersebut. Si pelayan kecil nan cantik sangat tenang membaca dan memahami kata demi kata buku di pangkuannya. Sedangkan di sisi lain, si tuan yang tidak besar-besar amat membolak-balik buku dengan kecepatan tidak manusiawi lalu berganti ke buku lainnya dengan cepat.
Dua jam kemudian Nora di kejutkan dengan suara buku yang ditutup dengan keras. Bocah itu mendongak dan melihat tuannya sudah tidak terlihat lagi lantaran tenggelam dalam gunungan buku yang paling tipis dua sentimeter.
Tak lama Ellena beranjak dari duduknya seraya meluruskan tulang-tulangnya yang agak kaku kemudian menoleh pada Nora, “Mari pergi mencari makan siang setelah mengembalikan semua buku ini.” Nora melaksanakan perintah Ellena tanpa bantahan.
Kemudian keduanya berpamitan kepada Isaac sekaligus berterima kasih. Ellena tidak pulang dengan tangan kosong dan membeli tiga buku paling tebal yang belum sempat dia baca.
“Nak El, tunggu!”
Belum jauh Ellena dan Nora meninggalkan toko Tori Book,terdengar suara Isaac memanggil. Ellena segera menghampiri pria sepuh tersebut yang susah payah mengejarnya, hingga nafasnya tersengal.
__ADS_1
“Tuan Isaac, ada apa? Anda seharusnya menyuruh pegawai anda bila ada barang yang tertinggal.” Ujar Ellena pada sang pria sepuh. Dia sedikit khawatir melihat orang tua itu agak susah mengatur nafasnya.
Isaac justru tersenyum kecil, “Maaf aku terlalu bersemangat. Tapi nak El, aku ingin memberimu ini sendiri. Terimalah, anggap hadiah dariku.” Isaac menyerahkan sebuah buku yang di ikat dengan sabuk kulit hewan. Buku tersebut nampak sudah tua.
“Buku apa ini, Tuan Isaac?”
Isaac terkekeh kecil, “Sebuah cerita dongeng setempat. Itu adalah buku pertama yang ku beli sendiri dengan uang gaji pertamaku juga.”
Ellena mengerutkan dahi, tidak mengerti maksud Isaac memberikan buku dongeng yang sudah lusuh padanya.
“Aku tidak berniat menyinggungmu nak El, tapi aku ingat orang yang menjual buku dongeng ini pernah berkata untuk memberikan buku ini kepada anak muda istimewa.” Penjelasan Isaac semakin aneh tapi karena pria sepuh ini sudah baik kepadanya maka Ellena menerima buku tersebut dan berjanji akan membacanya di sela waktu.
“Selamat jalan nak El. Semoga kita masih bisa bertemu lagi di masa depan.” Ellena tersenyum manis kepada pria sepuh itu, ikut berdoa semoga dewa berbaik hati mempertemukan mereka di masa depan meski cuma sebentar.
Ellena dan Nora kemudian meneruskan jalan mencari kedai yang cocok untuk makan siang mereka.
Ellena mengangguk santai, “Iya. Cuma hadiah kecil kok.”
“Apa isinya?”
“Sebuah mantel bulu dari kulit serigala bulu hitam yang ku dapat di perjalanan menuju desa Lily.” Ungkap Ellena tidak berusaha menyembunyikan soal hadiahnya untuk bibi Em. Masih ingat dengan Ellena yang meminta kulit serigala buruannya dari Linda? Sebulan yang lalu Ellena membawa kulit mentah itu ke pengrajin dan meminta untuk dijadikan sebuah mantel khusus wanita dewasa.
Hasilnya cukup bagus. Model mantel sederhana namun elegan bila dikenakan bibinya yang cantik dan bertubuh ramping. Bewarna hitam dengan aksen dedaunan yang diukir estetik.
Nora agak diam setelah Ellena menceritakan rincian mantel yang dia berikan kepada bibi Em. Dan Ellena yang makin ke sini semakin peka dengan Nora pun menyadari eksprei wajah bocah di depannya.
“Lain kali aku akan memberimu hadiah, khusus untukmu jadi jangan iri dan cepat makan. Kita ke Guild setelah ini.” Tukas Ellena bernada macam kakak yang malas membujuk adiknya yang merajuk. Nora meringis tidak enak hati tapi tidak dipunkiri ada senyuman manis kala bocah itu menghabiskan makanannya.
__ADS_1
Ellena memimpin jalan menuju gedung Guild Petualangan. Gedung itu berada di tengah kota Delos yang tidak jauh dari kediaman wali kota. Tempat itu adalah tempat paling ramai setelah pasar di Delos. Namun bukannya berisi warga sipil tapi kebanyakan yang mengisi tempat itu ialah para petualang yang semuanya berpakai armor dan membawa senjata.
Di dalam gedung sangat ramai, jumlah pengunjung tiga kali lipat dari Guild di desa Lily. Jelas karena jumlah penduduk Delos lebih banyak. Bermacam aktifitas seperti diskusi misi, rekrutmen anggota party misi, pendaftaran anggota hingga jual beli hewan buruan. Karena tidak sebandingnya jumlah pria daripada perempuan, tempat itu lebih mirip dengan sarang para penyamun.
Sebagai seorang petualang, Ellena sudah biasa dengan pemandangan semacam ini. Berbeda dengan Nora yang langsung merapatkan diri padanya seraya menyembunyikan wajahnya dengan jubah tudung yang sengaja Ellena beli. Dia juga memakai jubah serupa dengan Nora—bewarna kehijauan.
“Selamat datang. Ingin mendaftar sebagai anggota Guild Petualang?” sapa seorang Admin yang merupakan gadis muda. Ellena menebak gadis di depannya cuma beberapa tahun di atasnya—tujuh belas mungkin.
“Tidak. Aku ingin mendaftar untuk Ujian Ranker.” Jawab Ellena.
“Oh, di Rank apakah anda sekarang?” tanya Admin yang memperkenalkan diri sebagai Amel dan menulis sesuatu di salah satu kertas di papan alas.
“ Rank C.” Admin Amel menulis lagi.
“Bisa saya lihat kartu anggota anda?” tanpa banyak bertanya Ellena menyerahkan kartu anggota Guild miliknya.
Menit selanjutnya Ellena mengisi waktu dengan membaca salah satu buku yang tadi di belinya seraya menunggu Admin Amel menyelesaikan pendaftarannya. Sementara Nora masih berusaha menyatukan diri nya dengan Ellena berharap dengan begitu tidak akan ada yang menyadari keberadaannya. Bocah itu ketakutan melihat tampang-tampang sangar para pria yang terlihat sama dengan wajah para penculiknya, meski sebenarnya tidak yang benar-benar memperhatikan bocah kecil seperti Nora yang wajahnya saja tidak terlihat. Oh jangan lupakan dengan kehadiran Ellena yang meski kecil tapi mengeluarkan aura ganjil yang membuat orang lain tidak mau mencari masalah dengannya.
Saat berada dalam bimbingan Xeain, salah satu yang diajarkan pak tua itu ialah mengeluarkan aura Pejuang. Aura Pejuang merupakan aura yang hanya bisa dikeluarkan oleh orang-orang berbakat saja. Menjadi kuat bukan berarti orang itu berbakat karena ada batasan yang bisa dicapai. Sebaliknya orang yang bisa mengeluarkan aura Pejuang bisa dikatakan akan menjadi lebih kuat dari standar kuat pada umumnya dan biasanya orang-orang ini memiliki peran penting dalam masyarakat bahkan di kekaisaran.
Aura ini memberikan pengaruh kepada orang lain bahwa pemilik aura adalah orang tak tersentuh. Aura Pejuang menjadi alarm bagi orang lain untuk tidak mencoba mencari masalah dengan pemilik. Untuk Ellena, karena dirinya masih sangat baru, aura Pejuang miliknya belum terlalu sempurna ataupun kuat untuk membuat orang lain pingsan tapi setidaknya cukup memberitahu bahwa Ellena bukan orang sembarangan.
.
.
.
__ADS_1