![Rise Of Legend [ LIGHTNING]](https://asset.asean.biz.id/rise-of-legend---lightning-.webp)
"Wahai, El. Apa yang ingin kau katakan?"
Hari itu Ellena meminta Freya untuk menemuinya di Taman Eden. Selain Druk, tidak ada selain keduanya di sana.
"Freya, kau berkata tato aneh di lenganku ada karena aku telah melihat Pohon Kehidupan. Apa... itu juga berlaku di dalam mimpi?"
Ada keheningan sejenak. Baik Ellena maupun ratu para Elf itu tiada yang bersuara. Hembusan angin menerbangkan kedua surai panjang.
"Wahai, aku tidak tahu pasti. Apa kau memimpikannya El?"
"....iya. Sebelum aku bangun dari koma."
"Wahai, itu luar biasa El. Setelah masa Guardian pertama, tidak pernah ada yang melihat Pohon Kehidupan."
Ellena menyentuh lengan kanannya, tempat dimana tato Pohon Kehidupan berada.
"Tapi bukan berarti sisa Pohon Kehidupan sepenuhnya hilang."
Freya menuntun Ellena mendekati Druk yang bergulung dibawah pohon apel emas. Pohon yang tidak seberapa besar ini telah menjadi tempat favorit Druk si naga hitam yang ukurannya jauh lebih besar dari pohon itu sendiri.
"Wahai, El, apa pendapatmu tentang pohon ini?"
Ellena menyerngit. Dia ingin sekali menjawab 'Pohon ya pohon' meski pohon emas sendiri baru kali ini Ellena lihat dan ketahui. Ellena menganggap dirinya yang kurang luas pengetahuannya.
Namun Ellena tahu Freya tidak akan berkata demikian tanpa sebab. Berbicara beberapa kali dengan sanh reyna membuat Ellena hafal dengan selipan teka-teki disetiap pertanyaannya.
Ellena akhirnya memilih mendekati pohon tersebut. Dia mengelus moncong Druk yang tidak terganggu dengan keberadaan Ellena dan nyenyak berbaring.
Semakin dekat dengan pohon itu, Ellena mendapati banyak perasaan familiar. Meski banyak hal aneh familiar baru-baru ini terjadi pada Ellena, tapi yang satu ini dia mengingatnya.
"Ini..."
"Wahai benar, Pohon Apel Emas itu adalah sebagian kecil dari Pohon Kehidupan yang tertinggal sebelum menghilang."
Ya Ellena ingat. Meski terlambat menyadarinya, Ellena ingat sekali energi yang dirasakannya saat menyentuh pohon itu jelas sama dengan mimpinya. Perasaan tenang seolah sedikit membasahi jiwanya dan membuat pikirannya lebih segar.
"Aku... merasa lebih baik."
"Wahai tentu saja. Dikatakan Guardian dilahirkan oleh Pohon Kehidupan, bagimu Pohon Apel Emas media menyambungkan dirimu dengan Pohon Kehidupan yang tidak ada di dunia dan memperkuat energi."
"Hm... "
__ADS_1
Freya mengira Ellena akan menyangkal lagi. Tapi yang mengejutkan gadis remaja itu tidak memprotes sebutan 'Guardian' seperti sebelumnya dan justru mendekatkan diri pada batang Pohon Apel Emas. Tidak hanya menyentuhnya, Ellena menempelkan dahinya pada bayang pohon.
Yang terjadi selanjutnya mengagetkan Freya. Bahkan Druk, Sang Naga Agung ikut terbangun. Mereka menatap pada satu arah. Menatap Pohon Apel Emas yang bergetar dan mengeluarkan bunyi gemuruh kecil. Tak hanya itu, daun-daun pohon yang berwarna emas perlahan bersinar dan berkerlap-kerlip ditimpa cahaya mentari. Dari daun terus terus turun pada dahan dan turun hingga batang pohon. Kemudian seluruh pohon emas telah bersinar terang dan berhenti bergetar.
Freya memandang takjub kejadian itu. Seumur hidupnya tidak pernah dia melihat Pohon Apel Emas yang sudah lama dan turun temurun di jaga kaumnya bergerak dan bersinar indah seperti itu. Pemandangan yang dilihatnya sangat memukau dan membuatnya hampir menangis.
Namun bahkan dengan kejadian itu, Ellena, yang tepat sedang bersentuhan dengan pohon itu, tidak bergerak. Gadis itu khusuk memejamkan matanya seraya menempelkan dahi pada batang pohon.
Freya hendak mendekati Ellena saat tiba-tiba Druk sang Naga Agung menghentikannya. Freya tidak memaksa dan diam melihat Ellena, karena apabila Naga Agung tidak memperbolehkanya menyentuh Ellena, maka sedang terjadi sesuatu pada gadis itu.
Dan benar saja, memang sedang terjadi sesuatu pada Ellena.
.
.
.
Tack Tack
10 kilometer dari Desa Sylfhim, pertarungan tengah berlangsung.
2 manusia dan 1 Elves melawan kawanan beruang berjumlah 10 setinggi 1,5 meter. Meski nampak seperti kawanan beruang yang menang, tapi yang terjadi justru sebaliknya.
"Aku mengerti." Tidak seperti biasanya, Ellena menjadi lebih kooperatif bila berada di medan pertarungan.
Saat Ellena tengah menjatuhkan mangsa keempatnya, mata emerald miliknya melihat sesuatu mendekat kearah mereka dengan cepat.
"Ada yang datang!" seru Ellena.
'KRIIIIIKKKK'
Tepat pada seruan Ellena, sesuatu itu memperlihatkan diri. Tujuh Monster Kelas Langka, berbentuk belalang sembah setinggi 3 meter, mencacah empat beruang yang tersisa seperti tahu dengan tangan mereka yang tajam.
"Tuan Andesz, Nona El, lari! Monster Titanoptera tidak akan menyerang kecuali diserang terlebih dahulu." Zeni, Elf adik Zeno itu bertariak kepada dua rekan berburunya dan cepat cepat mundur saat melihat gerombolan Titanoptera, nama resmi para belalang raksasa.
Andesz hendak mengikuti langkah seribu Zeni saat dia menyadari Ellena yang tidak bergerak dari tempatnya. Gadis itu menatap dari belakang kawanan belalang sembah raksasa sedang mencacah para beruang dan memakannya. Termasuk yang sudah dijatuhkan oleh Ellena.
Saat melihat Ellena menarik belati hitam,yang tak pernah Andesz lihat sebelumnya, di kedua tangannya Andesz tahu apa yang terjadi selanjutnya.
"Beraninya mereka..."
__ADS_1
U-Uh!
"KALIAN BELALANG BODOH! JANGAN MEMANGSA BURUAN ORANG LAIN!"
Dengan itu Ellena menerjang gerombolan Belalang sembah yang tengah asik makan dan memberikan tebasan kuat.
Satu. Dua . Tiga.
Ellena bergerak sangat cepat menebas tubuh Titanoptera yang bisa dijangkau belatinya dan langsung menghabisinya saat jatuh ke tanah. Tiga belalang raksasa mati tanpa tahu apa yang menyerang mereka.
'KRRIIKKKKKK"
Empat. Lima.
Kali ini Ellena melempar empat cakram sekaligus yang mengenai tepat pada mata dan leher Titanoptera. Para monster memekik kesakitan dan melawan. Mereka mengayunkan tangan sabit tapi Ellena terlalu cepat bagi dua monster yang terluka. Segera mereka jatuh ditebas belati sang gadis dengan lengan buntung dan kepala menggelinding.
Dua Titanoptera yang tersisa memekik saat melihat satu persatu koloninya tumbang dan berusaha lari. Mereka mundur dengan cepat.
"Jangan lari! Kesini kalian!"
Satu belalang raksasa tidak beruntung dan ambruk dengan keras saat Ellena dengan kejam melindasnya dengan lompatan tinggi. Sebelum bisa melawan, kepala Titanoptera dipotong dengan mudah dengan dua belati hitam dikedua tangan Ellena.
Titanoptera terakhir sudah berlari agak jauh sebelum dia terkejut saat merasakan tali melilit lehernya dan tarikan amat kuat membuatnya terbang mundur. Dia ditarik kembali kepada manusia yang telah membunuh semua saudaranya. Merasa sia-sia lari, Titanoptera akhirnya memekik kencang dan memutuskan untuk melawan. Dia mengacungkan kedua sabit kebanggaannya kearah Ellena yang menariknya.
'KRIIIIKKKKKK'
Melihat belalang sembah kurang ajar itu berani melawan, Ellena menyeringai seraya mengepalkan tinju di samping badannya, "Bagus. Aku punya jurus baru dan kebetulan kau bisa yang pertama mencoba-NYAA!!"
Seketika suara ledakan terdengar.
Andesz dan Zeni yang melihat pertarungan sepihak Ellena dari awal tidak bisa tidak membulatkan matanya saat keduanya melihat serangan terakhir gadis berambut ungu itu.
Yang benar saja! Tadi itu Ellena menyerang Titanoptera terakhir dengan petir bertegangan tinggi yang muncul dan meledak dari tinjunya. Belalang sembah yang malang langsung ambruk dan mati dengan bau gosong.
"Huah! Jurus ini melelahkan." keluh Ellena mengibaskan tangannya seolah kesemutan. Seolah perbuatannya barusan biasa saja, padahal orang lain yang mencoba sepertinya akan berakhir ikut terpanggang.
Bocah mengerikan, pikir Andesz dan Zeno sepakat.
.
.
__ADS_1
.