Rise Of Legend [ LIGHTNING]

Rise Of Legend [ LIGHTNING]
Bab 77 Lebih Kuat Dari Siapa Pun


__ADS_3

Ellena mengambil banyak kelas sejak saat itu.


Dari para Elf, dia meminta masing masing dari mereka mengajarkannya skill terbaik mereka. Dan karena semua Elf Desa Sylfhim sangat menghormati dan menyukai Ellena maka dengan senang hati mereka menurunkan keahlian terbaik mereka.


Hal ini tidak terlewat oleh Freya, sang Reyna. Wanita Elf yang sangat cantik itu melihat betapa sibuknya Ellena belajar dari penduduk desa hingga pada tahap kelewat batas, menurutnya. Setiap hari Ellena akan belajar pada satu Devisi dan kelas akan berlangsung tergantung seberapa cepat Ellena mengusainya.


Freya melihat Ellena cepat belajar. Meski di Devisi kerajinan dan Ramuan serta Obat gadis itu agak lamban, karena keduanya memang membutuhkan lebih banyak ketekunan dan kesabaran, Ellena sangat cepat mengusasi keahlian dari para Elf Warrior.


Berburu, mencari dan menghapus jejak, mengintai hingga kelas pertarungan jarak dekat Ellena mampu mengimbangi para Elf warrior yang aslinya memiliki kekuatan lebih dari manusia biasa. Ellena yang dasarnya sudah memiliki keahlian bertarung, hanya mengasahnya menjadi lebih tajam dengan gaya pertarungan Elf yang lebih kuat, akurat dan cepat. Tentu saja Ellena juga diajari menggunakan senjata lebih efisien. Dan Ya, bisa dikatakan Ellena melakukannya dengan baik.


Sedangkan Nora, bocah itu seperti tertular semangatnya Ellena hingga dia tambah giat belajar di Devisi Ramuan dan Obat serta melatih kemampuan sihir alamnya. Memikirkan Ellena yang sangat suka uang untuk makan enak, Nora juga termotivasi untuk membaca buku tumbuhan berharga demi bisa menumbuhkannya untuk Ellena. Sudah pasti Kakak angkatnya itu akan tambah sayang pada Nora.


Dan jangan lupa, Nora juga menaikkan level skill memasaknya.


"NORA KAU YANG TERBAIK! DEMI DEWA INI SANGAT-SANGAT ENAK!!" seru Ellena suatu malam setelah belajar skill menempa dan membuat senjata di bengkel Zeno. Salah satu Pemimpin Devisi Elf itu benar-benar mengajari Ellena dengan keras.


Kedua pipi Nora memerah dengan senyum lebar pada bibirnya. Tangan tangan kecilnya dengan cekatan mengambil lauk lezat ke piring Ellena yang sangat cepat habis.


Sementara Andesz, pria tampan itu kini menekuni latihan berpedang setiap hari dengan Elf Warrior. Freya menyadari bahwa Andesz akan menjadi rekan perjalanan Ellena kembali ke Shintheria, maka dari itu Freya memerintahkan Pemimpin Devisi Warrior, Licole, untuk secara khusus menghabisi Andesz. Freya ingin laki-laki manusia itu menjadi rekan kuat yang saat dibutuhkan. Andesz pun setuju meski dia tidak tahu bahwa pelatihan para Elf Warrior yang brutal itu berkat perintah sang ratu Elves.


"Wahai El. Akhirnya kamu berkenan memberikanku sedikit waktumu." Jika itu sarkarme, Ellena harus memuji Freya karena kalimat barusan terdengar sangat jujur.


"Maafkan aku Reyna Freya. Aku agak sibuk." balas Ellena basa basi. Iya basa basi karena dia tahu Freya sudah mengetahui kegiatannya tiga bulan ini.


Reyna Freya tersenyum lembut, "Wahai, kamu berlatih sangat keras, El."


Ellena menatap ke depan alih alih wajah sang ratu Elf, "Bibi Em berkata latihan baru disebut latihan jika melakaukannya seperti akan mati. Karena ini hanya latihan, aku tahu tidak akan mati."


Dua kali bertemu hewan hewan kelas Legenda dan nyaris mati karenanya membuat Ellena sadar bahwa dia masih lemah. Latihannya dengan Emily ataupun Pak Tua Xeain masih sangat kurang. Selama ini Ellena diprioritasnya untuk bertarung dan menang menghadapi manusia serta hewan-hewan kelas Langka. Keduanya masih berpikir tidak usah bagi Ellena yang masih muda mempelajari kemampuan tingkat tinggi guna bertarung dengan monster monster besar.


Celakanya sejak berangkat misi, Ellena justru lebih banyak bertemu monster berbahaya dan hampit kehilangan nyawa. Kesalahan fatal bagi semua pihak.


"Wahai El, aku pikir kamu cukup kuat sekarang." kata Freya menatap Ellena.


Lalu Ellena yang tadinya menatap ke depan tiba tiba menoleh dan memandang kedua mata indah sang Reyna, "Benarkah? Apa Reyna benar-benar berpikir aku cukup kuat?"


"...."


"Apa 'cukup kuat' cukup bagiku, Reyna?"


"......"

__ADS_1


"Yang kurasakan adalah kekosongan, Reyna. Aku merasa ada bagian diriku yang hilang, bagian yang membuatku lemah." suara Ellena mengalun pelan dengan suara mengambang.


"Ada sesuatu yang kurang dariku tapi aku tidak tahu. Mimpi-mimpi aneh saat aku pingsan juga tidak terlalu berguna. Aku hanya merasa seribu kali lebih lemah dari seharusnya meski aku berlatih sekeras apapun."


"....."


"Ini menyebalkan, Reyna. Aku tidak menyukai perasaan hampa ini." pada akhir kalimatnya Ellena mengeluh seperti remaja galau.


Freya yang mendengarkan keluhan Ellena terdiam sejenak. Wanita itu menatap lekat lekat sang gadis manusia berambut ungu di sampingnya.


"Wahai, itu perasaan yang sulit." Freya terkekeh, "Apa arti semua latihan dan belajar yang kamu lakukan demi ingin mengisi kekosongan dihatimu ,El?"


Kepala ungu Ellena mengangguk, "Kupikir itu karena aku ingin lebih kuat lagi."


"Wahai, lebih kuat lagi? Seberapa kuat, El?"


Atas pertanyaan itu Ellena memiringkan kepalanya dan menatap Freya dengan sepasang emerald yang berkilat aneh.


"Apa ada batasan harus seberapa kuat aku, Reyna?"


Deg!


"Jika ingin lebih kuat dari siapapun, sangat kuat untuk menyingkirkan siapapun demi melindungi orang-orangku."


"....."


"Reyna, apa kau pikirkan?"


Deg!


Freya mengerjab cepat. Wanita Elf itu kembali memasang senyum lembut di wajahnya meski nyatanya tangan Freya tanpa disadari berkeringat dalam kepalannya.


"Wahai, maafkan aku. Untuk sejenak aku terkejut melihatmu sangat berambisi, El."


"...Apa itu salah?" Ellena tidak tahu tapi respon Freya seolah mengungkapkan bahwa dia telah melakukan hal yang salah. Ellena selalu peka terhadap respon lawan bicaranya berkat matanya.


Freya menggelengkan kepalanya, "Wahai, untuk melindungi orang yang kamu sayangi, ambisi untuk lebih kuat sangat bagus." Ellena menunggu karena tahu Freya belum selesai.


"Tapi El, kamu masih muda. Takdirmu menyelamatkan daratan Divernia mungkin masih jauh dimasa depan. Selama proses itu akan banyak yang terjadi padamu. Yang aku takutkan ialah ambisi mu untuk lebih kuat guna melindungi milikmu mungkin akan berbalik padamu." ucap Freya.


"...Aku tidak mengerti." tukas Ellena. Sedikit sebal karena lagi lagi Freya mengatakan sesuatu yang rumit tapi pasti makna pendek. Ck.

__ADS_1


Tersenyum tipis, Freya mengangkat tangannya lalu mengelus surai ungu Ellena yang agak terkejut namun tidak menolak sentuhannya, "El, siapa orang-orangmu."


Ellena menjawab tanpa pikir panjang, "Ada Bibi Em, pak tua Xeain, beberapa kenalan di Guild Desa Lily, Nora, (meski aku tidak akan mengatakannya keras-keras) Andesz...kemudian Reyna dan semua orang desa ini. Oh, Drein, Wukong dan Ganesh juga termasuk."


Freya terkekeh kecil mendengar jawaban Ellena yang menghitung dengan jari jarinya, "Iti cukup banyak. Dan kami para Elf juga termasuk?"


Kepala Ellena mengangguk, "Sejak aku mendarat disini aku langsung merasa nyaman seolah berada di rumahku sendiri. Kalian semua juga baik padaku, bahkan mau direpotkan olehku. Aku berpikir kita mungkin memiliki hubungan di masa lalu meski aku tidak yakin juga. Tapi demi membalas semua kebaikan kalian dan Zeni, aku akan melindungi kalian. Kalian orang-orang ku yang berharga."


Sekali lagi Freya tersenyum, lebih tulus dan terharu, "Wahai, senang mendengar kami termasuk orang berharga bagimu El. Itu sangat berarti banyak untuk kami."


Ellena mengangguk, sedikit malu karena tidak biasa mengungkapkan isi hatinya.


"Tapi El, seandainya, ini benar-benar pengandaian belaka, seandainya Desa ini di serang dan kami semua terbunuh, apa yang akan kau lakukan?" pertanyaan yang dilontarkan dengan pelan dan hati-hati oleh Freya dalam sekejab membuat Ellena terdiam.


Tiba tiba Freya merasakan udara menjadi lebih dingin dan mencekik.


"Bila itu terjadi... " Freya menatap Ellena yang menatapnya dengan mata emerald yang berkilat berbahaya, " Maka aku akan memburu semua orang pihak yang terlibat dan membuat mereka membayarnya seribu kali lipat."


DEG!


"Tidak ada yang boleh hidup dengan damai setelah menyakiti apalagi merenggut milikku."


"...."


"Cukup Zeni, Reyna."


"..."


"...."


"Wahai, aku akan selalu berdoa untuk kebahagianmu El. Jalanmu untuk melindungi milikmu terlihat gelap dan kejam tapi aku tahu hatimu hanya tidak ingin kehilangan hal berharga bagimu lagi."


"..."


"El... tetaplah seperti ini. Apapun yang terjadi di masa depan , aku berharap kamu tidak akan kehilangan senyum dan juga hatimu."


"...Baik Reyna."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2