![Rise Of Legend [ LIGHTNING]](https://asset.asean.biz.id/rise-of-legend---lightning-.webp)
Denting gesekan besi terdengar nyaring di udara matahari terbit.
Luxia yang tidak waspada dengan sekitar memutar lehernya dan terkejut dengan pemandangan Kirein yang berdiri melindunginya dari sebuah belati panjang yang hendak menusuk nya. Dan dalang penyerangnya adalah El—remaja sombong nan bermulut kotor yang entah bagaimana menarik perhatian tuannya.
Pegangan Ellena pada gagang pisaunya semakin menguat. Dia memberi tekanan lebih untuk mendorong lawannya yang menghalau belatinya dengan pedang panjang. Kirein, pria paling tinggi, sedikit mundur dari tempatnya tapi berhasil bertahan.
“Selama pagi El. Pagi yang cerah ya. Kau habis berolahraga? Bagus sekali. Apa barusan kau mendengar ucapan temanku? Maafkan dia, dia memang menyebalkan. Ditambah dia juga kelaparan karena Max sengaja menyimpan sarapan agar kami bisa makan dengan mu dan Nora. Keberatan kami bergabung?” rentetan kalimat Kirein berhasil membuat Ellena menarik senjatanya kembali.
Dia mundur beberapa langkah lalu melihat sekeliling. Ellena juga melihat Andesz yang duduk di tempatnya kemudian menghela nafas.
“Maafkan saya. Saya mendengar nona Luxia menindas adik saya jadi saya sedikit kelepasan.” Kata Ellena memberi alasan dengan sesopan mungkin meski matanya tak lepas menatap sinis Luxia yang balik sinis padanya.
“Menindas katamu?”
Ellena berusaha tidak terpancing dengan seruan Luxia dan berjalan mendekati Nora. Dia mendudukkan diri di sisi lain Andesz dan duduk bersisihan dengan Nora, “Aku lapar.”
Katanya yang dimengerti oleh pelayannya itu.
Nora dengan cekatan mengambil piring dan mengeluarkan menu sarapan kali ini. Roti isi daging, beberapa lalapan, Saos pedas dan setengah porsi daging ayam rebus serta susu kambing yang baru di perah.
Ellena sudah menduga orang lain akan mengomentari porsi makannya yang tidak sesuai dengan tubuh kurusnya, jadi dia tidak heran lagi dengan tatapan takjub Andesz dan tiga orang lainnya saat melihat piringnya.
“Kau bisa menghabiskannya?” Andesz tidak bermaksud mengolok namun murni bertanya.
Ellena yang malas bicara sepagi ini dengan Andesz hanya memberi jawaban dengan angukan kepalanya.
Sambil menerima makanan dari Max, juru masak kelompoknya, Andesz kembali bertanya, “Semuanya di siapkan oleh adikmu?” pria itu melirik pada porsi makanan Nora yang jauuuuuh lebih sedikit dari Ellena.
Ellena kembali mengangguk seraya menyuap paha ayam ke dalam mulutnya.
“Kau tidak kasihan?”
Dalam kelompoknya, mereka berempat selain Max tidak terlalu pandai memasak dengan bumbu selain menggunakan garam untuk daging. Hanya Max yang memiliki skill memasak yang cukup enak dan berhubung dia laki-laki, Andesz merasa Max tidak butuh bantuan mengolah bahan dalam jumlah besar untuk empat orang.
Tapi berbeda dengan Nora. Dia perempuan, juga kecil mungil. Dia sedikit kasihan pada bocah malang itu harus bertugas memenuhi perut kakaknya yang bisa menghabiskan jatah makan tiga orang. Selain itu makanan yang disiapkan Nora nampak lebih lezat dari mereka berempat.
“Cuma aku yang boleh menindas Nora, lainnya harus tahu diri.” Ellena berkata demikian tanpa maksud menyinggung siapapun. Dia sungguh-sungguh dengan ucapanya.
__ADS_1
Tapi sekali lagi ada perempuan tidak punya selera humor atau memang sudah dari lahir tempramennya jelek, “Kau—!!!!” Sayang sekali apapun yang ingin dikatakan Luxia harus tertelan kembali bersamaan dengan buah apel yang membungkam mulutnya.
“Sudah diam dan makan saja.” Itu adalah Kirein yang menyuruh Luxia untuk makan dengan tenang. Ellena dalam hati berterima kasih padanya.
Mereka berenam lalu memakan sarapan masing-masing tanpa berbicara. Ellena sempat melirik pada Andesz dan menemukan bahwa cara pria itu memakan makanannya berbeda dengan ketiga temannya. Meski hampir tidak terlihat, gerakan Andesz mirip cara makan para bangsawan yang sesekali Ellena lihat saat lewat di restoran mahal di Delos.
Bagaimana mengatakannya? Bahkan meski hanya dengan sendok, Andesz nampak elegan dan bermatabat.
Ellena segera mengeyahkan pikiran tersebut.
“Jadi…”Andesz membuka suara setelah meletakkan sendoknya, “…Mari bahas bayaranku dan teman-temanku?”
Ellena juga sudah selesai dengan sarapannya, “Berapa tarif yang anda tawarkan,Tuan?”
Bukannya menjawab Andesz malah mengatakan hal lain, “Sebelum itu bukankah bagus kita menggunakan panggilan yang tidak formal. Panggilan ‘Tuan’ kurang pas karena kau akan membayarku.”
Sejujurnya Ellena juga tidak nyaman tapi berhubung empat orang di depannya itu hendak membantunya dan tentu saja lebih tua serta ber-Rank lebih tinggi darinya, maka Ellena mau tidak mau harus menaruh sedikit hormat. Sedikit saja.
Ellena tidak langsung menanggapi pernyataan tersebut dan berpikir sejenak saat Andesz kembali berkata, “Dan umur mu tidak terlalu jauh dengan kami kan? Tujuh atau delapan belas mungkin? Aku mengizinkanmu memanggil namaku atau paling tidak pakai ‘kakak’ juga boleh.”
“Bruuutttthh!—Ohok—ohokk—!”
Tiba-tiba Max, si pria besar yang sedari tadi tidak mengatakan sepatah katapun, tersedak air yang tengah di minumnya. Bukan hanya itu Kirein sekarang tengah berjuang mengeluarkan tulang ayam yang tersangkut di tenggorokannya. Pria malang itu sudah menarik-narik lengan Luxia untuk diberi air tapi temannya itu justru bengong dengan tubuh bak batu serta mata melotot. Akhirnya Max yang berbaik hati membantu memukul kencang punggung Kirein hingga pria itu mengeluarkan tulang ayam tersebut.
Ellena tidak mengerti respon berlebihan ketiga orang itu. Tapi saat memandang ke depan, dia menemukan Andesz tidak berbeda dengan ketiga temannya. Laki-laki itu menegang kaku dan sorot mata yang membuat Ellena merasa tidak nyaman. Lagi-lagi Andesz memandangnya seolah dia adalah benda antik yang telah lama hilang.
“Tiga belas? Tapi kau sudah setinggi itu?” seru Kirein tidak percaya.
Ellena melotot pada Nora. Mulut bocah itu seperti ember bocor! Ingatkan dia untuk menghukum Nora untuk kelalaian mulutnya itu. Yang bersangkutan meringis saat menyadari dia bertindak atau berkata sesukanya lagi.
Sepasang tuan dan pelayan itu kemudian di kagetkan dengan gerakan Andesz yang tiba-tiba yang mencengkram kedua bahu Ellena, “Tiga belas? Kau benar masih tiga belas tahun? Sungguh?” tanya nya dengan nafas yang terengah. Manik hitamnya menyorot emosi harapan dan kesenangan.
Ellena melepas paksa cengkraman Andesz, “Kita sedang membahas tentang bayaran untuk anda jadi kenapa—“
“JAWAB SAJA!”
Jantung Ellena serasa jatuh saat pria di depannya berteriak tepat di depan wajahnya. Nafasnya yang tadi terengah kini memburu dengan sorot mata yang menuntut jawaban darinya.
__ADS_1
Maka dengan berat hati Ellena mengangguk, “Aku memang masih tiga belas terlepas tinggiku yang hampir menyamaimu, Tuan.” Dan bukan Ellena jika lepas dari sarkasnya, mengolok pria di depannya.
Tapi bukannya tersinggung, Andesz justru menyeringai lalu tertawa lepas. Benar-benar lepas hingga Ellena bisa melihat air disudut matanya.
Baiklah! Sekarang Ellena sedikit tersinggung sekarang. Ada apa dengan orang ini? Bukan hanya menyimpang tapi juga gila?
“Aku tidak mengerti apa maksud nya ini. Tapi Tuan, anda sepertinya kurang waras jadi mari batalkan saj—“
“Sembarang! Aku cuma senang bukan gila.” Sentak Andesz kemudian tanpa aba-aba menoyor kepala Ellena.
Yang memiliki kepala ganti membulatkan mata. Tidak memprediksi tingkah pria di depannya yang berubah menyebalkan menjadi kurang ajar. Seumur-umur yang menoyor dirinya cuma bibi Em dan Xeain (itu pun karena dia gurunya).
“Jangan melihatku begitu. Aku begini karena takjub dengan mu yang sudah akan naik Rank B di usia semuda ini. Sejauh yang ku tahu petualang termuda yang naik Rank B berusia 15 tahun.” Kata Andesz seraya menampilkan senyum lebar. Tapi bukannya merasa bangga tapi Ellena merasakan ada alasan lain lelaki itu senang.
Ellena sama sekali belum menyahut saat Andesz kembali berkata, “Baiklah, aku akan memberimu diskon besar-besaran atas misi menemanimu Ujian Praktik, anggap juga tanda perkenalan kita sebagai rekan masa depan. Nah El, bagaimana 200 koin emas?”
Mata emerald Ellena melebar sekian inci saat mendengar tawaran Andesz, “Tuan—“
pria itu menyela lagi, “Panggil aku Andesz atau tawarannya batal."
Ellena mendengus kesal tapi menurut, “Andesz, anda sung—“
Sekali lagi pria itu menyela, “Jangan terlalu formal juga. Santai saja.”
“Tentang bayaran kamu,”
“Eh jangan terlalu akrab juga, sedikit aneh mengingat umur mu--.”
Dan disanalah puncak kesabaran seorang Ellena Ellyzzia.
“APA KAU AKAN MEMBIARKU BICARA ATAU MENYELA TERUS, BAJINGAN?!”
.
.
.
__ADS_1