Rise Of Legend [ LIGHTNING]

Rise Of Legend [ LIGHTNING]
Bab 53 Dibawa Tanpa Perlawanan


__ADS_3

Seharian itu berjalan agak damai dari kemarin-kemarin.


Setelah para Kong pergi berburu sesuai permintaan Ellena, gadis itu sibuk dengan kegiatan lain.


Hari ini Ellena memutuskan untuk tidak berburu monstar dan memilih mengumpulkan tanaman berharga yang ada di hutan dan benda-benda lain.


Tanaman berharga seperti tanaman obat, tanaman yang bisa dimakan, serta tanaman beracun, semua di petik Ellena. Dengan bantuan Zeni yang mengetahuu sedikit tentang bercocok tanam, Ellena juga mengambil tanaman beserta tanahnya. Itu permintaan Nayla jadi meski aneh mengingat Nora bisa menumbuhkan tanaman yang diketahuinya, Ellena menurut saja. Toh dia cuma memenuhi janji oleh oleh kok.


Yang membuat Andesz dan Zeni menatap aneh Ellena ialah saat remaja itu mengambil 'benda-benda lain'. Benda-benda ini maksudnya adalah batu-batu besar yang ditemuinya dan batang-batang pohon yang ambruk akibat pertarungan sebelumnya. Tidak ada yang tertinggal, apalagi pohon yang batangnya besar. Semua itu di simpan di Galaxy Ring.


Entah apa maksud Ellena dan saat Andesz bertanya, jawaban gadis itu sangat singkat, "Kujual."


Bahkan setelah berburu tiada henti selama 13 hari Ellena masih punya pikiran untuk berdagang. Keinginannya untuk kaya dan foya-foya memang tidak main-main.


Jika di tanya siapa yang bakal membeli batu dan pohon, Andesz tidak tahu. Dia hanya membiarkan Ellena selama tidak membahayakan.


Beranjak sore Zeni dan Andesz selesai mengamankan daerah sekitar mereka beristirahat sedang Ellena juga selesai membuat api dan mengeluarkan makan malam.


Selama mereka berburu, kebanyakan mereka menyantap bekal dari Desa Sylfy dan sesekali makan daging buruan. Alasannya masih seperti dulu. Karena Ellena, Andesz serta Zeni kurang ahli memasak kecuali seadanya dan Ellena menolak hidup merana di hutan sekalipun, jadilah gadis itu membawa banyak bekal.


Kebanyakan buatan Nora. Bocah poloa itu menyempatkan diri bangun pagi sekali demi membuat dan menyiapkan bekal yang cukup dimakan Ellena sendiri selama sebulan. Seolah tak mau kalah Freya dan beberapa Elf perempuan lain juga memberikan ketiganya bekal perjalanan secukupnya.


Ketiganya makan malam dengan hikmat. Ellena juga memberi Ganesh satu porsi bekal buatan Nora dan monster empat wajah itu langsung jatuh cinta. Ellena tertawa saat Ganesh merengek meminta lagi dengan belalainya sebelum memberinya lagi.


"Andesz, Zeni, kita kembali ke Desa besok." ujar Ellena saat matahari telah terbenam sepenuhnya.


Zeni tidak bertanya dan mengangguk, patuh saja dengan keinginan sang guardian. Berbeda dengan pria tampan berambut putih disampingnya, Andesz kembali menanyakan alasan, pun dia tidak keberatan kembali ke desa, "Besok tepat 14 hari. Energi tiada batas dari Pohon Emas hampir habis."

__ADS_1


Alis Andesz terangkat, sekarang paham kenapa Ellena bisa begitu energik disaat sangat sedikit istirahat. Manusia biasa pasti gila bila kurang tidur. Andesz saja yang tidur kurang dari tiga jam saja sering marah marah dan pusing, tapi Ellena tidak lebih satu jam dan masih bugar.


"Jadi pohon itu memberimu semacam doping hingga staminamu meningkat drastis?"


"Iya. Kau pikir bagaimana?"


Andesz pikir itu karena Ellena seorang Guardian. Sejarah mengatakan para Gaurdian setengah dewa kan. Mungkin saja aturan manusiawi tidak berlaku pada mereka.


"Jadi doping itu habis besok? Kenapa 14 hari?" Bukannya Andesz berharap lebih lama berburu, sumpah dia rindu bantalnya di Desa Sylfy, tapi pria itu tidak bisa melepas rasa penasarannya begitu saja.


Matahari belum lama terbenam tapi Ellena telah berbaring nyaman di antara kaki Ganesh yang juga berbaring menyamping, "Karena aku hanya segitu yang diizinkan Pohon Emas. Doping berlebihan tidak baik untukku yang belum dewasa." jawab Ellena yang terasa agak mengambang. Efek ngantuk mungkin.


Sesuatu yang berlebihan tidak pernah baik. Bahkan jika seseorang terlalu kuat juga bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain. Andesz mengangguk mengerti.


"Nona El, apa yang akan lakukan setelah kembali ke desa?" kali ini Zeni yang bertanya.


Ada jeda sedikit sebelum Ellena menyahut dengan mata terpejam, "Hmmmm...makan dan tidur sepuasnya." setelah itu Ellena jatuh tertidur.


Tanpa di duga tangan besar Andesz mengelus lembut pipi Ellena dan menyingsingkan poninya ke samping.


"Hmm...Bila seperti ini kau benar-benar mirip adikku ya." guman Andesz, tidak sadar senyum tampan terbit di bibirnya yang akhir-akhir ini sering marah-marah. Apalagi penyebabnya kalau bukan Ellena.


"Tuan Andesz."


Mendadak suara Zeni mengintrupsi kegiatan Andesz yang asik mengamati Ellena yang sedang tidur dengan Ganesh. Pria dua puluhan itu menoleh dan mendapati Zeni menatapnya lekat. Ada sedikit pancaran ketidaksuakaan di mata Elf itu. Seolah dia keberatan dengan apapun yang dilakukan Andesz barusan.


Sebagai balasan, Andesz juga tidak suka. Dia jadi ingat bahwa beberapa waktu Zeni semakin aneh. Aneh dalam artian seperti pria dari bangsa Elves itu berusaha mendapat sedikit perhatian Ellena.

__ADS_1


Mengingat itu, mata biru Andesz memincing pada sang Elf.


Namun tidak ada yang bersuara diantara kedua pria itu. Mereka tahu jika ada yang membuka suara dulu, maka yang lain tak akan segan membalas. Dan bila mereka sudah saling membalas, tidak menjamin suara keduanya tidak akan mengganggu Ellena tidur. Belum lagi Ganesh, monster yang menjelma menjadi penjaga Ellena itu galak pada orang-orang yang mengganggu 'temannya'.


Apapun yang mengganjal mereka saat ini, keduanya akan membicarakan lain kali.


Melupakan perkara ini sesaat, dua pria beda ras itu tetap menutup mereka dan duduk bersebrangan api unggung.


Malam semakin larut. Api unggun terus menyala seiring Zeni dan Andesz bergiliran berjaga dan melempar kayu pada api. Suara derak kayu terbakar bersahutan dengan suara hewan-hewan malam.


Karena keberadaan Ganesh, Monster kelas Legenda tingkat 7 (bawah) membuat Hewan Buas dan Monster dibawah kelasnya tidak berani mendekati camp mereka, kecuali Monster yang lebih kuat dari Ganesh.


Beranjak tengah malam, tepat saat bulan dilangit bersinar lembut tanpa awan, angin sepoi berhembus. Ellena yang tertidur, Andesz yang selesai berjaga, Ganesh yang nyaman bergelung dan Zeni yang bermata sayu, tidak ada satupun dari mereka yang menurunkan kewaspadaan menyadari ada yang berbeda. Zeni yang mulanya berusaha terjaga menjadi ngantuk luar biasa. Tak kuasa menahan kantuk, Elf itu akhirnya jatuh berbaring pada tanah. Dengkuran halus terdengar tak lama kemudian.


"Apa dia sudah tertidur?" bisik suatu suara.


"Ya. Dia dan yang lain sudah tertidur pulas." jawab suara yang lainnya.


"Apa kau yakin Monster itu tidak akan terbangun?"


"Serbuk mimpi yang kutabur berdosis tinggi. Tiga orang itu setidaknya akan tidur hingga siang besok sedang gajah itu paling cepat besok pagi."


"Kalau begitu cepat!"


Banyak langkah. Berpasang pasang kaki mendekati camp dimana Ellena, Andesz dan Zeni kini terbaring tidur. Tanpa perlawanan ketiga dibawa oleh mereka dalam kondisi tak sadarkan diri.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2