![Rise Of Legend [ LIGHTNING]](https://asset.asean.biz.id/rise-of-legend---lightning-.webp)
Ellena hampir melotot kalau bukan karena suara batuk yang sengaja di buat oleh pria besar, Max. Sekarang saat dia menoleh ke samping, dia melihat dua rekan pria Andesz, Max dan Kirein sedang menahan tawa hingga bahu bergetar sementara Luxia terlihat sangat bernafsu ingin menebasnya.
Sementara Andesz nampak acuh dengan tingkah teman-temannya dan asik menatap Ellena.
Ellena benar-benar tidak tahan ditatap sedalam itu oleh pria di depannya. Lalu teringat edukasi sexual yang diajarkan bibi Em dulu di mansion. Bahwa di dunia ini laki-laki dan wanita berpasangan lalu menikah adalah suatu kewajaran serta sudah menjadi kodrat alam, karena hanya pasangan pria dan wanita yang bisa menghasilkan generasi selanjutnya. Tapi ada anomali di setiap aspek kehidupan ini. Termasuk ada beberapa orang yang tidak menyukai lawan jenis dan memilih mengencani sesama jenis mereka meski tidak bisa menghasilkan anak.
Dalam pikirannya Andesz pastilah seorang mesum atau berorientasi menyimpang. Karena apalagi alasannya mendekati dan menatap Ellena yang menyamar sebagai lelaki kecuali dia seorang penyuka sesama jenis.
Ternyata benar. Perasaan yang menyuruhnya untuk menjauhi pria ini kemarin sangatlah tepat. Ellena tidak tertarik menjadi pasangan siapapun. Meski wajah Andesz tidak jelek tapi akan jadi masalah rumit jika dia menemukan jenis gender Ellena sebenarnya.
Terkutuklah wajah cantik miliknya ini.
“Tuan—“
“Tidak perlu seformal itu. Kau bisa memanggil namaku dan aku akan memanggilmu El.” Mata Ellena berkedut karena ucapannya dipotong begitu saja.
“TUAN Andesz. Saya bukan orang yang akan mengomentari hidup seseorang tanpa sengaja. Anda menyimpang adalah pilihan anda. Tapi maaf, saya tidak tertarik dengan anda jadi tolong jangan mendekati saya lagi. Permisi.” Setelah berucap tegas di depan wajah Andesz, Ellena menarik tangan Nora dan berlalu secepat mungkin menjauh dari rombongan mereka.
Meninggalkan Andesz yang diam tak dan kaku bak sebuah patung. Pria itu bahkan tidak berkedip atau bernafas sejak remaja bernama El berkata layaknya menjatuhinya sebuah bom.
Saat dia menyadari arti ucapan El, Andesz tercekat dengan wajah memerah.
Kemudian suara tawa menggelegar.
“HA HA HA! Demi Dewa! Anak itu berpikir anda menyimpang lalu menolak anda. Astaga! Wajah anda, Tuan, anda harus bercermin dan lihat wajah anda.” Tawa Kirein pecah hingga beberapa orang menatap mereka sebelum kembali acuh.
__ADS_1
Max disampingnya berusaha sekuat tenaga tenang namun karena tidak tahan akhirnya pria besar itu beralih mati-matian tidak mengeluarkan suara tawa yang akan menyinggung tuannya, meski percuma karena Andesz bisa melihat bahunya yang bergetar menahan tawa. Sementara satu-satunya perempuan, Luxia, sekarang berubah merah karena marah.
“Yang mulia! Anda harus membiarkan saya menebas kepalanya. Ini sudah kelewatan.” Ujar Luxia geram dan bersiap menyusul Ellena kalau bukan Kirein menahan nya seraya masih tertawa hingga perutnya sakit.
Setelah lelah tertawa Kirein menghapus jejak air mata di sudut matanya dan melihat tuannya yang bersedap dada dan menatapnya datar.
Kirein tersenyum kecil, “Maaf kan saya tuan. Saya tidak bisa menahannya.” Ujarnya disusul Max yang juga menundukkan kepala kepada Andesz. Meski begitu dua bawahannya itu tidak terlihat menyesal telah menertawakanya.
Dasar bawahan durhaka.
“Katakan…apa wajahku seperti penyuka sesama jenis?” tanya Andesz pada ketiga bawahan terpercayanya. Kali ini dia sangat tersinggung dengan ucapan El.
Dan yang membuat nya tambah sebal karena El tidak terdengar sedang berbohong atau berkata sarkas semata. Itu pernyataan paling jujur sejauh pertemuan singkat mereka.
“Saya rasa tidak, Tuan. Wajah anda sangat tampan dari laki-laki kebanyakan.” Jawab Max berusaha tidak bias seperti Luxia namun tetap gagal.
Terakhir Kirein, si tangan kanan yang sudah dari kecil bersamanya, “Begini, Tuan Andesz yang terhormat. Bukan apa tapi kalau saya jadi bocah tadi, saya juga akan takut dan berpikir tidak-tidak.” Kirein terkekeh kecil.
“Anda bilang juga bertemu dengannya kemarin kan? Dari yang saya lihat dia tidak menyukai anda dan sudah berusaha menolak kehadiran anda. Tapi anda, Tuan Andesz yang tidak mau ditolak, sangat bersemangat mengenal dan mendekatinya. Apalagi anda memandang nya seperti itu. Meski wajahnya cantik dan manis, anda sadar dia laki-laki bukan?” jelas Kirein sejujur-jujurnya masih dengan sisa tawa nya saat mengingat cara El menolak tuannya.
Bocah bernama El itu unik dan lucu. Pantas tuannya tertarik. Kalau itu Kirein, dia akan mendekati dengan cara yang lebih elit dan bersahabat.
Mendengar penjelasan Kirein, Andesz mendengus dan menahan diri untuk tidak mencekik Kirein di tempat. Dalam hati setuju dengan perkataan tangan kanannya itu tapi juga kesal. Kesal dengan dirinya sendiri yang sudah bertindak bodoh hingga disangka penyuka sesama jenis oleh bocah.
“Jangan salah kan aku tapi wajahnya. Sudah ku bilang wajahnya mirip adikku bukan?” balas Andesz berusaha memberi alasan logis sikapnya sebelumnya.
__ADS_1
Kirein mengangguk-angguk kecil, “Setelah anda bilang begitu, saya juga merasa demikian” dia lalu mengingat-ingat perawakan adik tuannya, “Jika rambutnya pirang panjang dan matanya sebiru langit maka pasti saya akan menyangka dia Tuan Putri yang kabur ke sini atau kembarannya.”
Luxia menatap Kirein tidak setuju, “Tidak mungkin dia kembaran tuan putri. Dia laki-laki dan lebih tua darinya,Kirein.” Sanggahnya masih ingin mencincang El karena berani menghina tuannya yang berharga.
“Ya, andai dia perempuan dan belum terlalu tua, semua orang pasti tidak bisa membedakan mereka.” ralat Kirein santai tidak peduli dengan seruan tidak terima dari Luxia.
Sementara Max memperhatikan hal tersebut dari sudut pandang lain, “Remaja bernama El tadi terlihat sudah lima belas tahun atau lebih, Tuan. Meski wajahnya mirip tapi mungkin saja El ini bukan orang yang kita cari.” Katanya kepada Andesz.
Andesz menghembuskan nafas panjang, “Aku masih berharap dia yang kita cari. Dua tahun kita memulai perjalanan ini tapi tidak mendapatkan apa-apa.” Ucapnya yang membuat ketiga bawahannya menunduk. Mereka bisa merasakan nada putus asa sang junjungan.
Tidak ada yang bicara beberapa saat hingga Andesz kembali membuka suara, “Max mungkin benar. El bukan orang yang kita cari. Lagi pula aku tidak punya muka lagi untuk mendekatinya.” Pada akhir kalimatnya Andesz menatap tajam Kiren dan Max yang ujung bibirnya berkedut tapi berhasil di tahan dengan baik.
“Karena kita sudah disini, kita ambil beberapa misi. Max, kau pilih misi untuk kita. Luxia kau berkeliling lah dan dengarkan bila ada informasi penting. Kirein…” pria itu duduk dengan tegak—menanti perintah sang tuan, “…disini saja. Tugasmu menghitung ada berapa orang berkepala botak yang lewat.” Kirein hampir jatuh tatkala mendengar perintah Andesz.
Apa ini balasan atas tawa nya tadi? Benar-benar atasan pendendam!
Wajah Kirein jelek seketika, “Apa setelah ditolak seorang bocah, anda jadi beralih ke pria botak, Tuan?” cibirnya.
“Sudah diam kau, bawahan kurang ajar!”
.
.
.
__ADS_1