![Rise Of Legend [ LIGHTNING]](https://asset.asean.biz.id/rise-of-legend---lightning-.webp)
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA"
"AHHHH"
Teriakan kencang Ellena disahut teriakan kaget yang nyaring. Ellena yang baru saja bermimpi jatuh dari ketinggian merasa dadanya berpacu cepat dan nafas terengah.
Nora yang tengah membawa baskom berisi air dan lap menghela nafas lega tapi kemudian secara reflek menegur Ellena.
"El! El mengagetkan ku! Aku baru saja akan mengelap tubuh El karena El tidak kunjung bangun--" mata hijau Nora membulat, "ASTAGA! EL AKHIRNYA BANGUN!!
Nora melempar baskom di tangannya dan melompat kearah El yang tidak siap menerima serangan dadakan. " Nora tunggu----"
krek "Akh! Tulangku Nora, tulangku ada yang patah lagi!"
Nora yang juga mendengar suara pilu itu lekas melepas pelukanya. Dia ikut meringis melihat tuan sekaligus kakak nya yang sekarang menjelma menjadi mumi memegang pinggangnya seperti remaja jompo.
"Ma-Maaf El. Aku hanya terlalu senang. Sebentar , aku akan memanggil Nayla. "
"Siapa Nayla?" tapi Nora sudah terlanjur pergi tanpa mendengar Ellena.
Ellena yang melihat tingkah Nora mendengus sekaligus lega. Di ingat terakhir kali Nora tak sadarkan diri setelah terlempar oleh VRITRA.
Tunggu! Benar, VRITRA!
Apa yang terjadi? Terakhir Ellena ingat dia dan party nya dalam keadaan terpojok dalam pertarungan melawan VRITRA, Mosnter kelas naga yang entah bisa ada di Gunung Talos. Sebelumnya tidak ada informasi ada monster kelas legenda disana. Ellena tergeletak tak berdaya dengan Nora di pelukannya saat VRITRA hendak melancarkan serangan mematikannya.
Lalu cahaya besar datang... hm?...apa itu petir ya? Karena beiringan dengan suara guntur jadi Ellena mengira cahaya itu petir....lalu apa yang terjadi?
Dan dimana ini?
Pertanyaan dikepala Ellena terintrupsi oleh kedatangan Nora bersama dua orang lainnya. Satu wanita berambut hijau lumut panjang dengan pakaian menerawang, mata hijau juga dan telinga runcing. Seorang Elf murni.
Lalu disebelahnya pria berambut putih keperakan dan bermata biru. Yang satu ini jelas manusia tapi Ellena tidak bisa tidak berpikir bahwa dia seperti mengenal pria ini.
Lalu pria itu mengangkat satu sudut bibirnya, "Kau akhirnya memutuskan bangun, El?"
Mata Ellena melebar. Dia jelas tahu suara itu, "Andesz? Apa aku telah tidur puluhan tahun hingga kau sekarang tua dan beruban?" todong Ellena tanpa basa-basi. Pertanyaan jujurnya mendapat respon berbeda ketiga orang itu. Sementara Nora dan si wanita Elf tertawa kecil, muka Andesz langsung cemberut. Jelas kesal pada Ellena yang tidak kehilangan mulut pedasnya meski baru terbangun.
Andesz mengelus puncak kepalanya yang sekarang putih alih-alih hitam, "Kita bahas nanti. Sekarang biarkan Nayla memeriksamu. "
__ADS_1
Wanita Elf itu kemudian mendekati Ellena dan duduk disebelahnya, "Halo Ellena, aku Nayla, senang akhirnya aku bisa berkenalan langsung denganmu setelah lama tak sadarkan diri." kata Nayla dengan senyum rupawan.
Sejenak Ellena terpukau. Dia sudah tahu dari buku-buku serta Bibi Em bahwa Elf adalah ras yang memiliki rupa rupawan. Baik wanita maupun pria Elf sangat cantik hingga dititik semua orang akan jatuh cinta pada mereka. Selain itu Elf adalah salah satu ras yang dekat dengan alam. Mereka juga memiliki kemampuan sihir dan pintar membuat benda sihir. Contoh nya Space Things dibuat oleh manusia dengan meniru barang penyimpanan magis milik bangsa Elf.
"Ha? Oh ya, Nayla, terima kasih telah merawatku... " Tunggu, tadi dia memanggilnya apa?
"Ellena? " Kelopak mata Ellena melebar lalu secara reflek membuang tangan Nayla. Iris emeraldnya yang indah memincing tak bersahabat lalu menyambar garpu di meja dan mengarahkannya pada wanita Elf yang terkejut dengan perubahannya.
[...zzttzz...]
"Dari mana kau tahu nama itu?" Ellena memasang sikap defensif miliknya. Tubuhnya yang tadinya ngilu, seolah mendapat doping kekuatan, Ellena dapat berdiri dengan kuda-kuda yang dilatihnya dengan Xeain.
Nayla jelas terkejut dengan kejadian itu. Pasien yang selama dua minggu dirawatnya dan memiliki beberapa patah tulang, tiba-tiba dapat berdiri siap menyerangnya dengan garpu begitu bangun. Tak lupa Ellena mengeluarkan Aura miliknya sebagai peringatan bahwa dia serius merasa terancam.
"Ah...Anu itu... " Apa yang terjadi? Wajah cantik Nayla jelas tidak nyaman di todong garpu oleh pasiennya yang baru sadar.
Nora mendekati Ellena dengan mata bersalah, " El, tolong tena----!!!"
Nora tidak dapat menyelesaikan ucapannya lantaran Ellena yang menariknya tiba--tiba. Ellena menempatkan Nora dibelakang tubuhnya dengan posesif, seolah sedang melindungi bocah itu.
Andesz yang merasa situasi menjadi tidak terkendali, memutuskan menengahi, "Ellena---"
Andesz pernah merasakan Aura Ellena dan tidak sedikitpun dia terpengaruh, membuktikan kemampuannya lebih tinggi dari Ellena. Jika sebelumnya Aura Ellena seperti api unggun yang hanya cukup menghangatkan satu tenda, maka kini telah berkembang menjadi api unggun besar yang berkobar besar dan dapat menerangi satu perkemahan.
Apa kejadian sebelumnya telah menaikkan tingkat Aura Ellena?
Andesz menganggkat tangannya, menunjukkan dirinya tidak berbahaya bagi Ellena maupun Nora yang dilindunginya, "El, tenanglah, kami akan menjelaskannya, baik?"
Ellena masih tidak menurunkan sikap defensifnya. Dia menatap tajam Andesz dan Nayla dengan mata emeraldnya yang menggelap. "Bicara."
Layaknya kembali ke masa lalu, Andesz lagi lagi harus mendapat kepercayaan Ellena. Sial! Kenapa bocah satu ini sangat sulit di tebak. Sedetik tenang, sedetik kemudian menakutkan layaknya ular.
Dan seperti masa lalu, Nora menyelamatkan keadaan. Bocah kecil itu menarik tangan Ellena hingga kakak angkatnya itu melihat kearahnya.
"El Jangan serang mereka. Nayla dan penduduk Elf sangat baik karena menolong aku, El dan Tuan Andesz yang pingsan di hutan. Mereka bahkan merawat El yang terluka parah dan memberi kami berdua makan enak. Tolong jangan lukai Nayla." Nora memohon dengan wajah paling melas miliknya dan menatap Ellena.
Ellena mendengar itu sedikit mengendurkan diri dan menarik Aura pejuangnya hingga semua orang bisa bernafas dengan tenang tanpa mencium bau ozon.
"Lalu kenapa mereka tahu nama itu?" terlalu lama dipanggil 'El' bahkan oleh bibi Em membuat Ellena tidak nyaman dengan nama aslinya. Ellena selalu merasa orang yang tahu nama aslinya (kecuali bibi Em) adalah orang berbahaya karena tahu informasi paling pribadi miliknya.
__ADS_1
Nora tiba-tiba tertawa gugup. Otak Ellena seolah cepat menangkap sinyal tersebut. Ellena melepas sikap defensifnya dan menghadap Nora dengan berkacak pinggang.
"Nora, apa kau dengan sengaja mengatakan pada mereka nama asliku, hm?" dengan tone paling geramnya, Ellena menatap adik angkatnya dengan mata berapi.
Bocah berambut hijau itu menjawab tergagap saking takutnya, "E-Eh, aku tidak sengaja sungguh, da-dan juga-aaaaaaaaaaaaaa"
Ellena tidak membiarkan Nora berasalan lebih jauh dan menarik kencang kedua pipi Nora ke dua arah berbeda.
" Dasar mulut ember! Sudah berapa kali mulutmu itu membocorkan informasi tidak perlu, hah?" seolah belum puas, Ellena mengapit kepala Nora di ketiaknya dan menonyor kuat-kuat kepala Nora berkali-kali.
Baik Andesz dan Nayla menatap pemadangan itu dalam diam. Tidak ada niatan menghentikan Ellena menghukum Nora karena merasa akan mengganggu reuni 'hangat' dua saudara. Setidaknya keduanya lega Ellena tidak lagi mencurigai mereka.
Nora yang sudah menahan tangis dengan mata berair akhirnya berteriak, "El! Aku hanya reflek memanggil nama El karena rambut El yang berubah panjang."
Kepalan tangan Ellena yang menonyor kepala Nora sontak berhenti, "Apa?"
Kali ini Nora benar-benar menjawab dengan tangisan, "Rambut El berubah panjang karena itu aku tidak sadar memanggil El 'Ellena' lalu Tuan Andesz mendesak ku menjelaskan dan mengancam akan memeriksa tubuh El sendiri kalau aku menolak. HUWAAAAA!!"
Semua orang terkejut. Nayla dengan anggun menutup mulutnya yang menganga lalu menatap Andesz dengan pandangan mencela.
Andesz jangan tanya. Pria itu yang tadinya bersedekap menonton reuni duo Ellena-Nora hampir terjatuh konyol. Dia jelas tidak menyangka dia akan menjadi kambing hitam oleh Nora meski benar dia mengancam Nora tapi sungguh dia cuma bercanda dan hanya berniat menakuti Nora yang polos.
Sedang Ellena?
Mata emerald nya baru menyadari helaian surai miliknya yang mencapai punggung dan... berwarna UNGU.
Sial!
Ellena lalu menatap Andesz dengan mata buas yang sontak membuat pria berambut putih keperakan itu menelan ludah.
"El, aku bisa jelas----"
Tapi seperti yang dialami Nora dulu, Ellena versi Nona tidak membiarkan pria itu bersuara lebih jauh dan meraung kencang.
"KELUAR!1!1!"
.
.
__ADS_1
.