Rise Of Legend [ LIGHTNING]

Rise Of Legend [ LIGHTNING]
Bab 22 Anggota Party 3


__ADS_3

Selama mengenal Ellena sebagai tuannya merangkap kakak, Nora nyaris tidak pernah melihat dia marah hingga mengeluarkan nada tinggi. Mengutuk atau sarkas orang lain? Tentu. Tapi itu biasa karena Nora percaya itu memang karakteristik Ellena dan juga sisi menarik gadis berpenampilan laki-laki tersebut.


Jadi saat melihat bagaimana Ellena berdiri seraya mengeluarkan raungan yang memecah suasana syahdu matahari terbit, ditambah panggilan tak sopan itu, Nora hampir saja terjengkang ke belakang. Tapi setelah itu, bocah itu justru menatap takjub Andesz karena bisa mendorong kesabaran tuannya hingga ke titik ini.


Baru sekali ini Ellena dibuat sejengkel itu!


Dan ini masih pertemuan awal saja.


“Kurang ajar! Kali ini aku akan benar-benar—!!” dan lagi-lagi yang pertama bereaksi adalah Luxia yang berniat menarik busur dan panah miliknya. Serta sekali lagi terima kasih kepada Kirein dan juga Max, menghentikan aksi teman mereka itu.


Ellena merasa kepalanya panas dan jengkel bercokol dalam dada. Baru kali ini dia dibuat murka bukan sebaliknya. Benar-benar!


“Aku bisa bicara sekarang? Atau masih ada yang ingin dikatakan daripada menyelaku terus? Kalau ada katakan saja sekarang!” Todong Ellena dengan sorot benar-benar kesal kepada Andesz.


Untuk kali ini Andesz menggelengkan kepalanya cepat. Wajah pria itu nampak tercengang seperti baru pertama kali di sembur semacam itu, selain itu wajah kesal remaja di depannya juga sedikit membuat nya ngeri.


Ellena sempat berguman ‘menyebalkan’ dengan lirih kemudian menarik nafas terlebih dahulu untuk mendinginkan emosi yang sempat memuncak, “Kau yakin dengan bayaran 200 koin emas?” tanya Ellena pada akhirnya. Dalam hati tiada henti gadis itu mengumpat karena disela terus menerus padahal dia cuma mau mengatakan itu. Sialan memang.


Mungkin karena masih ada efek terkejut barusan, respon Andesz adalah anggukan kaku.


Tapi kemudian Andesz berkata lagi saat melihat Ellena tak berucap seraya menatap dirinya, “Terlalu mahal? Kata adikmu kau sudah lama terjebak di Rank C jadi aku mengerti kau tidak memiliki banyak uang. “ Ellena kembali melotot kepada Nora yang langsung membuang muka takut darinya. Benar-benar ember bocor!


“150 koin emas dan satu permintaan.” Kepala berambut hitam Ellena—El berputar cepat kembali pada Andesz yang bertanya, “Masih terlalu mahal?”


Sejujurnya Ellena malah ingin bertanya apa nominal itu tidak terlalu rendah? Bayaran petualang Rank B per orang minimal 100 koin emas, belum termasuk bonus nya. Bayaran untuk Party berisi Rank B ke atas bisa mencapai 800-1000 koin emas. Bahkan bayaran misi untuk Petualang Rank S paling sedikit 1500 koin emas.


Tadinya Ellena ingin setuju dengan tawaran 200 koin Emas karena yaaahhh…bibi Em sedang berbaik hati dengan memberinya 1000 koin emas. Malah Ellena pikir Andesz akan meminta setidaknya 500 koin emas.


Tapi kalau di kasih murah begini ya…


“Setuju! 150 koin emas dan satu permintaan.” Ellena menyambut tangan Andesz, menerima dengan senang hati kesepakatan yang dilihat dari manapun menguntungkan dirinya.


Andesz, yang jelas-jelas merugi, menyunggingkan senyum puas. Berbeda sekali dengan keadaan ketiga temannya. Bila tadi Max dan Kirein menahan Luxia sekarang berbalik. Ellena hampir tidak bisa menahan tawa saat melihat Max susah payah menahan Kirein yang seolah ingin mencekik Andesz serta Luxia yang kembali melotot kepadanya.

__ADS_1


***


“Jadi…Gunung Talos?” tanya Ellena membuka suara.


Setelah sarapan yang untungnya tidak berakhir adanya korban (Ellena maupun Andesz), Andesz berkata untuk segera pergi. Menilik ini pertama kali Ellena berpergian tanpa bibinya, Ellena menyerahkan keputusan kepada Andesz (Yang tahu-tahu di daulat sebagai pemimpin Party, yahh bukan Ellena menolak juga sih).


“Kau pernah kesana, El?” yang ditanya menggeleng spontan. Ellena suka menjelajah hutan Outer tapi Delos bukan wilayahnya. Ini benar-benar pertama kali perjalanan Ellena dan dia bersyukur ada orang lain yang membimbingnya. Di samping Ellena, Nora juga ikut menggelengkan kepala kepada Kirein meski tidak ditanya.


Pemuda paling tinggi di kelompok itu terkekeh kecil melihat bagaimana kompaknya Ellena-El dan Nora. Ditambah sepasang mata hijau polos mereka. Benar-benar masih bocah rupanya.


“Yang ku tahu gunung itu selalu diselimuti awan mendung sepanjang tahun. Apa kau pernah kesana, Kirein?”


Kirein menggaruk belakang kepalanya seraya tersenyum kikuk yang artinya tidak pernah, “Seperti katamu, Gunung Talos mendung sepanjang tahun hingga suhu disana basah dan dingin. Jarang ada yang nekat naik sampai ke puncak dan kebanyakan petualang hanya pergi ke kaki gunungnya saja.” Jelas Kirein yang dengan seksama di dengar oleh kedua orang termuda dalam kelompok tersebut.


Dari sana Nora mengambil kesimpulan sederhana. “ Itu artinya kita sedang menyonsong kematian ke Gunung Talos?” polos sekali saat Nora bertanya demikian.


Empat orang dewasa spontan terbatuk mendengar pertanyaan Nora yang teramat polos. Terlebih Ellena-El juga mengangguk seolah dia menyimpulkan hal serupa.


Luxia yang gemas bercampur sebal menyahut, “Kau saja yang mati! Bukan itu maksudku! Karena suhu dingin disana, di sekitar Gunung Talos di tinggali banyak monster Tinggi dan beberapa Monster Langka berharga.”


Ellena mengangguk-angguk mengerti meski bibirnya sedikit mencibir Luxia yang menjelaskan nada kurang enak di dengar. Gadis berpenampilan laki-laki itu sudah memutuskan akan memperlakukan anggota party nya dengan baik, setidaknya sampai misinya selesai. Sebisa mungkin Ellena menahan diri tidak mencibir balik Luxia.


“Kalau tidak ada, hewan buas disana kurasa cukup sebagai syarat Ujianmu.” Tambah Max yang kalau Ellena hitung baru dua kali bersuara.


Lalu diputuskan tujuan mereka ke Gunung Talos. Perjalanan dua hari dengan berjalan kaki karena Ellena meminta untuk lewat di rute paling cepat, yang rupanya jalur di tengah hutan lebat dengan kanopi pepohonan yang rapat dan juga cukup berbahaya karena banyak hewan buas disana.


“Lebih cepat aku menyelesaikan misi merepotkan ini, lebih cepat aku kembali ke Delos dan kalian juga bisa bebas juga.” Kata Ellena saat ditanya dia terlihat begitu niat melewati jalur yang lebih sulit.


“Kau nampak sibuk.”


“Memang.”


Kirein sudah berkata perjalanan menuju Gunung Talos melewati jalan pintas tidak akan mulus, karena itu Ellena tidak segan memakai armor full-set miliknya. Dia mengabaikan tatapan penuh tanya dan ingin tahu anggota party-nya.

__ADS_1


Kali ini Ellena memastikan Nora menutup mulutnya rapat-rapat saat beberapa kali mendapati Kirein merapat pada Nora yang juga memakai armor seperti miliknya. Ellena benar-benar akan menghukum Nora jika membocorkan informasi lebih jauh kepada Kirein atau yang lainnya.


Berjalan selama dua jam kelompok itu akhirnya menemukan batu kerikil pertama perjalanan ini. Kawanan serigala bulu biru berjumlah 13 ekor. Terlalu kecil untuk disebut pack jadi bisa di asumsikan mereka adalah unit pemburu kawanan sementara betina dan anak-anak serigala berada di sarang mereka.


Ellena bersiap mengeluarkan belati-belati nya miliknya saat Andesz memanggil namanya, “El, tetap berada dekat adikmu. Biar kami yang mengurus ini.” Tanpa memandang barang sejenak pada Ellena, keempat orang itu bergerak secara harmoni menghadapi gerombolan serigala.


“Max, pukul mundur mereka!” “Luxia habisi serigala yang tidak ku jangkau!” “Kirein! Seperti biasa.” Seruan demi seruan Andesz lantang terdengar. Pria awal dua puluhan itu sigap menghunuskan pedang ke arah binatang buas dan hendak menyerang bersama Kirein, jika saja langkahnya tidak terdahului oleh sosok lain.


El—Ellena, menghiraukan instruksi Andesz untuk diam menjaga Nora, berlari menerjang serigala terdekat lalu dengan kecepatan luar biasa menendang keras kepalanya dan memutus kepala binatang buas itu.


“Satu.” El kemudian beralih ke target lainnya.


Sejenak para orang dewasa tidak bergerak dari keterdiaman. Mereka menatap takjub sekaligus ngeri pertarungan—ah! tidak salah, tepatnya pembantaian kawanan serigala setinggi satu setengah meter oleh bocah tiga belas tahun. Dengan belati di kedua tangannya, El mengiris dan memotong daging hewan hewan malang tersebut dengan akurasi yang mampu membuat ahli jagal iri.


9, 10, 11, 12…dan terakhir SHUUT—serigala terakhir tumbang dengan anak panah menembus lehernya, tepat sebelum yang satu itu menerkam El dari belakang.


“Terima kasih…meski aku bisa menanganinya sendiri.” Tukas El ringan kepada Luxia yang menembakan panah.


“Dasar bocah sombong.” Untungnya Luxia cuma membalas demikian dan beralih memeriksa sekitar, berjaga bila ada sisa kawanan serigala.


Ellena melakukan gerakan membelah udara cepat guna menghilangkan darah segar dari belati nya kemudian menyampirkan kedua senjata itu pada sarung yang dia ikat di panggulnya. Gadis berpenampilan laki-laki itu kemudian menghampiri Andesz yang telah tersadar dari keterkejutannya bersama Kirein yang selesai menganga.


“Aku akan mengatakan nya sekarang agar hal ini tidak terjadi lagi, “ sepasang emerald itu menatap langsung pada manik kelam Andesz, “Aku tidak lemah—setidaknya pada tingkat binatang buas aku bisa menghabisinya sendiri. Aku belum mencoba pada monster manapun tapi jangan melindungi ku jika aku belum babak belur,” Ellena mengeratkan rahang kala mengingat kembali Andesz yang memerintahkan untuk diam bersama Nora yang lemah, “Misi ini kesempatanku untuk lebih kuat jadi jangan menghalangiku, Andesz.” Dengan sengaja Ellena-El menubruk kecil bahu Andesz dan berlalu mendekati Nora.


Meninggalkan Andesz yang terpaku sesaat lagi, “Apa aku nampak seperti menghalanginya, Ki? Aku bersumpah tidak bermaksud begitu.” Keluhnya menggaruk kepalanya kikuk. Agak malu dan sedikit kesal di omeli bocah padahal maksudnya baik.


Kirein mengangkat bahu kecil meski kedua sudut bibirnya terangkat, “Cara berpikir anak kecil kadang sulit ditebak.”


Mata biru Kirein kemudian beralih menatap Ellena yang pasrah wajahnya di bersihkan dari darah dengan brutal oleh Nora.


“Tapi si kecil El memang agak menarik.”


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2