![Rise Of Legend [ LIGHTNING]](https://asset.asean.biz.id/rise-of-legend---lightning-.webp)
Ha?
Bicara apa pria ini?
"El, tato di lenganmu adalah bukti nyata siapa dirimu sebenarnya. Kau seorang Guardian Divernia." Sekali lagi Andesz mengulangi kalimatnya seolah omong kosong yang baru saja dia muntahkan sangat keren.
Ellena memijat keningnya karena pusing yang tiba-tiba mendera. Bukan hanya itu, kupingnya juga terasa berdengung. Ellena cukup baik tidak menunjukkan wajah jelek dengan dahi berkerutnya.
Tangan Ellena yang terangkat seketika menutup mulut Andesz yang tidak berhenti bicara seolah ingin mendoktrin kepala Ellena.
"Aku ingin keluar, Nora." kata Ellena menatap adik nya. Nora melihat wajah Ellena yang entah kenapa memucat. Bocah setengah manusia itu berdiri dan memegang lengan Ellena.
"El pucat." dengan lengan bajunya Nora mengelap keringat di dahi Ellena.
"El? Kau merasa tak baik?" Andesz meraih lengan Ellena dan menyentuh lembut pipinya. Namun tangan yang lebih kecil menepisnya.
"Aku baik tapi cobalah untuk tidak mengatakan omong kosong di telinga ku, aku pusing mendengarmu." untuk alasan yang aneh, Ellena tidak tahan mendengar segala ungkapan Andesz mengenai dirinya yang seorang... Guardian Divernia?
Gelar macam apa itu?
Ellena tidak pernah mendengar hal semacam itu dan itu berarti suatu hal, mengingat betapa senangnya Ellena membaca buku dan cerewetnya Emily menjejali otaknya dengan pengetahuan dunia.
Jika ada eksistensi luar biasa semacam itu di daratan Divernia, tidak mungkin bibi Em tidak memberitahunya.
"Tapi--"
"Tuan Andesz!" kali ini Nora yang mengintrupsi si lelaki tampan keras kepala. Andesz sedikit terkejut mendapati iris hijau Nora yang biasa sungkan terhadapnya kini memandang sarat peringatan.
Andesz berdecak kecil. Dia benar-benar ingin membahas ini sampai tuntas dan tidak puas dihentikan. Lihat! Bahkan bocah bersangkutan sudah memperlihatkan tanda tidak percaya dan kesal lagi padanya.
"Aku akan menggendongmu keluar." Apa boleh buat, Andesz harus mengalah lagi.
Saat kedua tangannya akan meraih Ellena, lagi-lagi tangannya di tepis, "Tidak mau."
Astaga! Kenapa lagi? "Kenapa tidak?"
"Aku tidak mau bau nafasmu diwajahku."
Kenapa Andesz selalu salah?! "Darimana kau tahu nafasku bau?"
"Kirein memberitahuku!" Apa?! Dasar bawahan kurang ajar! Sekarang Andesz ingin Kirein disini agar dia bisa mencekiknya karena menyebar gosip tidak benar.
Ellena mencoba berdiri dengan bantuan Nora, pikirnya jika dia menekatkan niat tubuhnya akan mendukungnya seperti tadi ia bangun. Namun baru dia berdiri tegak suara berderak dari pinggangnya terdengar memilukan telinga terdengar.
Krek! "El! Bertahanlah!" dengan panik Nora menangkap tubuh Ellena yang oleng seperti orang tua yang encok.
Grep
"Tidak usah banyak bergerak, El." tanpa permisi Andesz mengabaikan pelototan Ellena dan membawa gadis itu keluar ruangan dalam gendongannya. Ellena tidak sempat protes saat mulutnya bungkam tatkala menyapa matahari dan pemandangan diluar ruangannya.
Ellena baru menyadari bahwa tempat yang ditempati adalah ruang didalam pohon besar. Batang pohon yang besar di lubangin dan dibuat rumah minimalis.
__ADS_1
Belum cukup itu, Ellena memandang takjub Desa Sylfhim. Pohon-pohon besar dan menjulang tinggi di sulap menjadi rumah mereka. Tak cukup batangnya, bahkan didahan-dahan nya di bangun rumah kecil yang saling menyambung dengan jembatan gantung.
Ellena selalu tahu Ras Elf dekat dengan alam namun melihat langsung bagaimana mereka hidup di dalam alam itu sendiri sangat berbeda.
"Woah..."
Andesz menyungingkan senyum kecil, lucu melihat Ellena membuat wajah seperti anak kecil polos setelah kebanyakan dia bersikap seperti setan kecil.
"Oh Dewa, Andesz, kamu disini..."
"Andesz, kemarilah bermain musik dengan kami..."
"Andesz, puisi kemarin sangat indah, terima kasih..."
"Andesz... "
Si pria pemilik nama menanggapi sapaan dari penduduk yang kebanyakan adalah para Elf wanita cantik dan berbadan aduhai, dengan senyum sopan yang terlihat sangat tampan. Beberapa Elf wanita yang Ellena tebak masih muda (100 tahun tapi itu termasuk muda) merona malu melihat senyum Andesz.
Ellena memandang Andesz yang terkadang menundukan kepala singkat atau berdadah kecil dengan alis terangkat. "Kau nampak populer."
Andesz menjawab tanpa melihat Ellena dan terus menebar senyum dan berdadah kecil, "Mereka para Elf yang banyak membantuku disini. Mereka sangat baik."
"Berencana tinggal disini?"
"Tidak. Disini nyaman tapi tidak senyaman rumahku. Rumahku adalah istanaku 'kan?"
Ellena mengangguk, "Sayang sekali, kudengar para lelaki manusia suka dengan wanita cantik dengan dada besar." katanya sembari mengamati dengan seksama para Elf perempuan yang melihat mereka bertiga. Gadis itu mengabaikan Andesz yang terbatuk dengan wajah memerah dan kesal padanya.
Bibi Em memang tidak membual saat bilang budak dari ras Elf menjadi incaran karena berharga tinggi lantaran keindahan mereka. Hek! Nora yang cuma setengah Elf dan masih bocah saja sampai di culik dari rumahnya lalu dijual.
Ellena terlalu fokus menggunakan matanya untuk mengamati target hingga tidak menyadari langkah Andesz telah berhenti. Para Elf yang telah memiliki pasangan, yang menggendong anak atau tengah hamil, menghadang ketiganya berjalan.
"El!" tarikan Nora pada tanganya membuat Ellena sadar akan sekitarnya. Gadis berambut ungu dengan perban di kepala itu terkejut bukan main saat dikerubungi oleh penduduk Desa Sylfhim.
"Aaah Guardian... Benar-benar Guardian Divernia yang asli... "
He?
"Rambut anda sangat halus dan indah... "
Hei! Jangan tarik rambutku!
"Mata anda yang seindah emerald memancarkan kekuatan surgawi. Luar biasa!"
Dari segi mana kau melihatnya, bodoh?!
"Kekuatan suci! Utusan dewa telah kembali ke tanah ini."
Siapa yang orang ini bicarakan?!
"Ya Dewa, Guardian of Divernia sungguhan. Aku bahagia meski mati hari ini..."
__ADS_1
MATI SANA!
Seumur hidupnya, tak pernah Ellena merasa begitu dilecehkan. Bukan dalam artian bejat tapi dengan tubuhnya yang masih ngilu, Ellena tidak tahu harus bagaimana saat para Elf dewasa menunjukkan pemujaan pada nya dengan tatapan haru dan hormat seolah dia ini makhluk suci. Terlebih mereka seolah berebutan menyentuh kulit dan rambutnya.
Bukan sifat Ellena untuk mudah menerima pujian berlebihan. Biasanya dia akan lari untuk menghindari perhatian tidak sehat semacam ini, tapi karena dia terjebak di tengah maka Ellena melakukan satu-satunya pelarian. Dia memaksa Andesz mengangkat tubuhnya lebih tinggi lalu memeluk leher pria itu dan menyembunyikan wajahnya.
"Pergi dari sini, Andesz. " bisik Ellena tepat di telinga Andesz karena takut suara tidak terdengar karena tertimbun suara berisik massa.
Andesz memegang punggung Ellena lebih tinggi, sedikit merasa sesak karena Ellena seperti sedang berusaha mencekiknya dengan tubuh kurusnya, "Sekarang percaya? Daripada aku, kau lebih terkenal disini. Soal kau adalah Guardian Divernia sudah diketahui seluruh warga Sylfhim."
"Nona Lightning, biarkan saya menyentuh anda."
"Nona, tolong berkati bayiku."
"Aku juga, mohon sentuh anakku dengan berkah mu."
Tubuh Ellena merinding mendengar permintaan aneh orang-orang Elf ini. Ellena bukan orang suc! Dia mendesak Andesz untuk bergerak, namun seolah menikmati ketidakberdayaan Ellena dan berniat balas dendam, Andesz dengan sengaja diam dan menanggapi penduduk.
Tanpa mereka sadari, remaja tiga belas tahun yang mereka kerubungi gemetar menahan geram karena bising yang menimbulkan perasaan tidak enak. Dibahu Andesz, mata Ellena yang sayu berkilat.
CETAR! BLARRR!
Suara menggelegar guntur mengagetkan seisi desa. Semua orang mendongak menatap langit cerah yang baru saja memuntahkan petir. Terdapat bau ozon tertinggal di udara. Sementara pelindung transparan berkilat dipuncak pepohonan tinggi.
Andesz dan para penduduk tentu terkejut dengan kejadian itu. Tidak ada hujan, tiada angin, tiba-tiba petir menyambar turun tepat diatas mereka. Kalau bukan karena pelindung sihir yang mengelilingi seluruh kawasan desa, mungkin saja saat ini ada yang terluka.
Semua mata sontak jatuh kepada sosok remaja yang nampak terengah dileher Andesz. Si pria yang menggendong pun nampak khawatir dengan Ellena yang sedikit bergetar. Sebelum ada yang membuka suara tentang kejadian barusan, suara lantang nan nyaring mendahului mereka.
"BERGERAK MENJAUH! EL TIDAK SUKA KALIAN BERDESAKAN! JANGAN BUAT EL KU KESAKITAN LAGI!"
Itu adalah Nora, si kecil setengah manusia dan setengah Elf yang disambut baik penduduk Sylfhim. Rupanya yang manis dan baik membuatnya diterima dan diperlakukan layaknya jenis mereka sendiri. Nora pun senang bertemu dengan ras ibunya yang semuanya baik padanya. Bahkan para Elf tidak sungkan mengajari Nora cara mengendalikan sihir alam miliknya saat tahu Nora memiliki bakat sihir.
Dan bocah itu sekarang sedang menunjukkan wajah tidak senang. Matanya yang harusnya hijau bening. kini menjadi gelap. Nora memaksa orang-orang memberikan jarak dan menepis tangan-tangan yang menyentuh Ellena tanpa izin.
"Nora, kami hanya... " salah satu Elf perempuan dengan balita mencoba berbicara dengan Nora. Tapi dengan keras kepala Nora mendahuluinya, "Kakak-kakak cantik dan baik, El baru saja bangun tapi kalian membuat El sakit lagi." Kata Nora dengan sedih membuat sebagian besar. Elf merasa bersalah.
"Tapi kami..."
"Wahai, apa yang kalian lakukan kepada tamu kita?"
Dari belakang muncul seorang Elf perempuan yang tidak hanya cantik tapi juga memancarkan kemuliaan dan kebijaksanaan. Elf tersebut dengan mudah menembus kerumunan dan mendekati ketiga tamunya.Para Elf yang lain langsung menunduk menunjukkan hormat mereka.
" Reyna Freya... "
Seorang yang menjadi Ratu para Elf telah muncul.
(*Reyna \= Ratu)
.
.
__ADS_1
.