Rise Of Legend [ LIGHTNING]

Rise Of Legend [ LIGHTNING]
Bab 20 Anggota Party


__ADS_3

Mereka tidak pergi hari itu juga.


Karena hari sudah menjelang petang, Ellena berkata untuk bertemu di tempat janjian besok pagi. Selain itu dia juga perlu memberitahu bibi nya tentang misi dan kondisinya saat ini. Meminta uang kepada bibi Em memang agak memalukan tapi berhubung ini mendesak, Ellena akan bermelas nantinya.


Sebelum berpisah Andesz sempat menawarkan makan malam. Katanya ingin berdiskusi tentang misi Ellena sekaligus mengakrabkan diri.


Ellena menolak tawaran tersebut—dengan lebih sopan tentunya. Dia mungkin telah bersikap lebih baik kepada Andesz tapi bukan berarti Ellena akan memberi kesempatan pria itu yang terlihat sekali memiliki tujuan terselubung. Tidak, Ellena masih keukeh tidak berminat berhubungan dengan pria menyimpang itu.


Maka besok pagi. Di luar area kota Delos. Dibawah pohon tempat kedua kali Ellena bertemu dengan Andesz. Mereka berjanji bertemu disana.


.


.


.


Malam itu Ellena menceritakan semua yang dilaluinya kepada Emily. Tidak ada rahasia diantara sepasang bibi-keponakan tersebut. Atau lebih tepatnya Ellena terbiasa terbuka kepada bibi nya hingga nyaris tidak ada yang tidak diketahui Emily tentang anak didiknya.


Berbanding terbalik dengan bibinya yang memiliki sejuta rahasia. Tapi sekali lagi, Ellena tidak mempermasalahkannya. Tidak penting selama Emily bersamanya.


Pada bagian Ellena terpaksa membuat party dengan Andesz serta rombongan, Emily sekilas melirik tidak senang pada Nora. Bocah yang sadar diri itu berdiri merapat pada dinding dengan wajah menunduk serta badan agak gemetar. Apalagi dia saat Nyonya besar menatapnya demikian. Nora berdoa pada dewa semoga dirinya tidak dibuang atau lebih buruk di bunuh.


Untungnya Emily mulai lunak kepada Nora jadi mata abunya berhenti menatap sinis lalu kembali kepada Ellena, “Aku mengerti. Jangan pusingkan uang bayaran dan aku juga akan memberi sedikit uang untuk simpananmu.” Ujar sang bibi meski dengan tangan memijat pangkal hidungnya.


Balasan dermawan sang bibi tentu membuat Ellena sontak berseru riang, “Bibi Em, kau yang terbaik!”


Emily tetap berwajah datar meski Ellena tahu sang bibi memiliki senyuman tipis di kedua sudut bibirnya.”Sudah kau siapkan semua yang kau perlukan?” tanya Emily.


Ellena menganggukan kepala, “Hanya kurang pakaian yang cocok untuk misi. Apa aku butuh armor besi, Bi?” tanyanya.


“Tidak perlu. Kau tidak cocok dengan armor besi karena kelincahanmu akan berkurang. Aku akan menyiapkan bajumu.” Ellena semakin berbinar mendengarnya lalu menambahkan, “Kalau boleh buatkan untuk Nora juga, Bi. Yang lebih kuat dari milikku juga tidak apa.” Ujar Ellena mengingat dia membawa Nora pada misinya besok.


Bukan apa, tapi Nora memang diharuskan ikut Ellena oleh bibi Em. Padahal kalau di pikir Nora akan menyusahkan tapi karena tidak berani membantah Ellena setuju dan berjanji menjaga Nora semampunya.


“Iya.”


Setelah itu Ellena dan Nora (yang akhirnya berhenti gemetar) pergi ke kamar untuk istirahat. Keduanya memang satu kamar dengan Ellena di kasur dan Nora tidur di lantai dengan beralas kasur lipat dan selimut tebal. Nora boleh saja pelayan tapi Ellena juga punya hati untuk memberikan kenyamanan untuk bocah itu.


Dan hanya dikamar saja Nora bisa melihat rambut panjang Ellena yang terurai panjang berwarna ungu. Sejenak Nora merasa pipinya sedikit panas saat tak sengaja melirik paha tuannya yang terlihat saat naik ke kasur.


Untungnya pikiran sesat itu langsung tersingkir.


“Selamat malam, Ellena.”

__ADS_1


Dan hanya disaat seperti ini saja tuannya tidak mempermasalahkan panggilan sakral tersebut.


“Hm.”


Dan hanya balasan seperti itu yang akan menjawab Nora dari sosok Ellena—gadis tiga belaw tahun berpribadi dingin dan tertutup.


.


.


.


Paginya, atau tepatnya pukul 3 dini hari, Ellena dan Nora sudah siap dengan pakaian baru mereka. Ellena mengenakan pakaian elastis yang menutup sekujur tubuhnya. Ini belum semua karna masih ada satu set armor dari kulit dan sisik hewan yang kata bibi Em tidak akan tergores bahkan oleh baja paling tajam sekalipun. Armor itu berada di tas nya. Saat bertanya dari bahan apa armor itu dibuat. Bibi Em menjawab singkat, padat dan akurat.


“Hm, dari sisik naga.”


Mata Ellena membulat, “Sungguh? Bibi dari mana—“


“Bukan urusanmu El. Pakai saja Armor itu saat memulai misimu.” Tukas Emily cepat memotong anak didiknya yang ingin tahu darimana asal-usul dia mendapat sisik naga.


Sejauh yang Ellena ketahui, hewan buas dan monster memiliki 10 tingkatan dengan masing-masing ketegori/jenis/kelas. Tingkat 1-3 disebut kelas Tinggi. Berisi monster yang belum lama berevolusi dari jenis Hewan Buas.


Kedua, Tingkat 4-6, Monster berjenis Langka. rata-rata hewan ini telah berusia paling tidak 100 tahun. Jenis ini lebih kuat dari kelas Tinggi tapi tidak sulit untuk menaklukannya. Setidaknya Guild memiliki banyak informasi Monster Langka dan bagaimana mengalahkannya.


Lalu Tingkat 7-9 ialah Kelas Legenda. Monster jenis ini sangat kuat tapi selama tidak diganggu monster ini tidak akan menyerang lebih dulu. Adapun bila sedang sial dan bertemu monster kategori ini setidaknya butuh gabungan kelas B dan A atau seorang Rank S untuk menaklukkannya. Itupun pasti masih menelan korban jiwa.


Naga adalah monster kategori legenda. Kategori yang, kalau bisa, harus dibawa Ellena dalam misi. Tapi Ellena tidak punya pikiran menaklukan naga karena dia belum punya niat mati muda. Naga memiliki kulit keras dan bisa menyemburkan api sesuka hati. Diantara monster kelas Legenda, Naga bisa dikatakan berapa di puncak.


Jika menyampingkan Kelas Mitos yang mungkin saja sudah punah, itu berarti Naga adalah predator alam paling tinggi dialam liar.


Dan juga Naga masih dibedakan beberapa jenis lagi.


Akhirnya Ellena bungkam dan tidak lagi bertanya. Dia sudah beres mempersiapkan diri dengan Nora yang juga telah siap dengan baju yang sama dengannya. Emily yang melihat kedua anak di depannya menarik senyum sekilas—merasa lucu karena seperti melihat sepasang kakak-adik yang menggunakan baju pasangan. Menggemaskan.


Kebetulan juga warna mata mereka sama-sama hijaunya, jadi orang-orang tidak akan menampik bila keduanya mengaku sebagai saudara.


Emily kemudian maju dan mengelus pelan kepala Ellena dan Nora.


“ Jangan melakukan hal bodoh dan berakhir mati sia-sia.” Kalian hati-hati dan pulanglah dengan selamat. Meski cuma Ellena yang tahu arti dari ucapan Emily tapi Nora selaku anak baik dan penurut dia mengangguk kepada Nyonya besar. Ellena tersenyum tipis namun terlihat lembut dan tulus.


“Aku berjanji tidak akan lama Bi. Aku dan Nora akan segera pulang lalu kita segera pergi ke kota lain bersama.” Ujar Ellena semangat kepada sang bibi.


Sebenarnya Ellena tidak senang harus meninggalkan bibi nya sendiri. Seumur hidupnya dia tidak pernah berpisah dari bibi Em lebih dari seminggu jadi misi yang mungkin membutuhkan lebih dari seminggu ini sedikit menyebalkan sekaligus mendebarkan.

__ADS_1


“Hm, aku bukan anak kecil sepertimu.” Jangan khawatir. Lagi-lagi Ellena tersenyum lebar pada sang bibi.


Terakhir Emily, yang tumben sekali, memeluk Ellena dengan erat bahkan mengecup dahinya sepenuh hati .


Sejenak dada Ellena bergemuruh oleh perasaan hangat dari kasih sayang yang sangat jarang bibi Em perlihatkan. Sebagai balasan Ellena mengecup kedua pipi Emily dan tersenyum lebar untuk nya, “Doakan aku bibi.”


“Selalu, Ellena.” Selalu cahaya kecilku...


Lalu keduanya berangkat ke tempat mereka dan rombongan Andesz janjian. Mereka akan bertemu setelah matahari terbit jadi tanpa menghilangkan kebiasan larinya, Ellena berencana berlari santai saja (karena tidak mau membuang tenaga berlebihan) keliling area luar kota lalu sarapan seraya menyaksikan matahari terbit.


Nora baru saja akan mengeluarkan piring dari keranjang kayu yang agak besar. Mirip yang biasa digunakan para wanita yang sudah menikah untuk mengangkut belanjaan banyak atau piknik. Saat itu matahari belum sepenuhnya keluar dari peraduannya saat langkah beberapa kaki terdengar.


Nora mengenali empat orang yang berjalan mendekati lokasinya. Mereka adalah anggota party tuannya.


“Selamat pagi, Nora.” Sapa pria bernama Andesz dengan senyuman tipis.


“Se-selamat pagi, Tuan.” Balas Nora canggung.


Meski tempo hari yang menarik keempat orang ini kepada Ellena adalah dirinya sendiri tapi bukan berarti Nora akrab begitu saja dengan mereka. Orang asing itu menakutkan namun karena kondisi Nora berusaha tidak melakukan kesalahan kali ini.


Lalu tanpa diminta Andesz mendudukan dirinya di atas kain yang digelar oleh Nora. Karena tubuhnya yang terbilang cukup besar (tapi tidak sebesar Max) , Andesz bisa dibilang langsung memenuhi tempat yang harusnya milik Ellena.


Nora sebagai pelayan yang merangkap sebagai adik yang baik merasa harus menegur pria itu sebelum Ellena kembali. Takut tuannya kembali ketus kepada pria di depannya setelah kemarin sepakat bekerja sama Ellena akan bersikap sedikit menghormati Andesz dan rombongannya.


“Tuan Andesz, tolong jangan duduk di sana, itu milik El.”


Andesz menatap dengan alis terangkat bocah bermata dan berambut hijau di depannya (Awalnya dia cukup kaget dengan warna mencolok Nora karena warna rambut seperti itu jarang dimiliki kecuali bukan manusia.)


“Tuan ku bisa duduk dimana saja. Kakakmu harus mengalah nanti.” Sahut satu-satunya wanita dewasa yang selalu berkata ketus pada Ellena.


Dan karena perkataannya tersebut menuai delikan tajam dari Nora. Agak mengejutkan karena sedari mereka bertemu Nora tidak pernah berekspresi selain polos dan takut.


Lalu satu pria lainnya, Kirein, segera membungkam mulut Luxia, si perempuan menyebalkan, dan tersenyum canggung pada Nora, “Abaikan dia. Dia belum sarapan jadi mulutnya tidak terkendali.” Katanya memberi alasan.


Terlanjur tidak senang dengan sikap Luxia, Nora membuang muka dan berkata, “Saya membuat banyak makanan jadi semua boleh meminta kecuali dia!” jari kecil Nora menunjuk ganas kepada Luxia.


Luxia yang merasa tidak adil merengut protes, “Kenapa begitu? Anak kecil sepertimu tidak diajari sopan kepada lebih tua atau—!!!”


" !! "


TING


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2