![Rise Of Legend [ LIGHTNING]](https://asset.asean.biz.id/rise-of-legend---lightning-.webp)
Nayla pamit undur diri setelah selesai pada pemeriksaan hari ini. Wanita Elf itu harus pergi bergabung dengan teman-temannya melakukan kegiatan hariannya.
Ellena telah berganti perban pada tubuh dan kepalanya serta memakai baju longgar bewarna hijau polos. Semua proses itu dibantu Nora yang kemudian berlalu untuk membuat makanan.
Hari beranjak siang saat Ellena melihat Andezs masuk ke ruangan nya lagi. Pria itu berkata ikut makan siang dengannya dan Nora karena Elf lain tidak memakan makanan yang sama dengan manusia.
"Ehem. El, tentang yang dikatakan Nora tadi aku bisa jelaskan." kata Andesz membuka pembicaraan setelah dalam diam sejak makan siang sederhana dimulai.
Ellena melirik sebentar, "Hm."
Apa maksudnya dua huruf itu? Kenapa Andesz merasa Ellena menjadi lebih menyebalkan dan labil daripada sebelumnya? Apa rambut panjang mempengaruhi tempramen Ellena hingga mirip dengan Luxia? Perempuan benar-benar rumit.
Andesz menjelaskan sebaik-baiknya bahwa dia tidak bermaksud melecehkan Ellena dan murni hanya sedikit menggertak Nora yang tidak mau buka mulut soal rambut panjang Ellena.
Ellena mengangguk malas, "Lain kali aku akan memukulmu jika sekali lagi menggertak Nora." kata-katanya yang harusnya membuat takut justru terdengar aneh karena menggunakan nada malas. Gadis ini masih belum menerima space bag nya hilang.
Andesz diam-diam menghela nafas lega. Setidaknya dia sudah memastikan Ellena tidak marah padanya lagi.
"Tapi El kenapa kau berpenampilan seperti lelaki?"
"Kenapa kau jadi banyak tanya?"
Andesz langsung melipat mulutnya. Dalam hati dia terus berucap 'sabar sabar sabar' seraya memikirkan bahwa bocah kurang ajar di depannya ini adalah kunci keberhasilan misinya.
"Jika kau tak ingin menjawab, tidak apa." Benar, sebagai yang lebih dewasa dan lebih waras Andesz sudah sangat benar mengalah.
Tapi seolah tidak mau topik itu surut, Ellena merongrong Andesz dengan serangan balik, "Jika kau katakan alasanmu menggunakan sihir pengubah, aku akan memikirkannya."
Andesz menghela nafas. Agak gemas sebenarnya, tapi sekali dia terus merapalkan mantra 'sabar' dalam hati, "Penampilan asliku terlalu mencolok. Sulit bergerak dengan penampilan ini."
Cara Andesz mengatakan secara tersirat bahwa dia terlalu rupawan hingga siapapun akan menoleh dua kali saat melewatinya, Ellena sangat ingin mencibirnya tapi mulutnya tetap bekerja menggiling makanan.
"Tuan Andesz memang terlihat berbeda. Seperti bangsawan di koran."
Baik Ellena maupun Nora tidak menampik bahwa wujud asli Andesz sangat luar biasa. Sihir pengubah sebelumnya benar-benar mengurai kerupawanan Andesz ketitik tampan biasa saja, tubuh lebih pendek dan kurus.
Sekarang Ellena harus mengakui bahwa Andesz adalah pria tertampan yang pernah ditemuinya (yah sebenarnya Ellena juga tidak pernah bertemu pria tampan, cuma cukup dipandang saja). Tinggi nya sekarang hanya sebatas dada Andesz. Dan tubuh itu, lebih banyak otot bermunculan di lengan juga dadanya lebih bidang.
Terakhir, rambut putih keperakan pria itu jelas tidak biasa. Kebanyakan orang yang ditemui Ellena berambut hitam, coklat dan pirang pasir. Ellena sendiri akan menatap Andesz lama bila bersitemu di jalanan kota.
"Biar kutebak, kau seorang putra atau bahkan pewaris salah satu keluarga bangsawan yang sedang pergi mengelana.Kau sedang dalam misi dalam rangka memenuhi syarat dari keluargamu?"
Table manner sempurna Andesz yang seperti salah tempat langsung terhenti dan pria itu menatap langsung mata Ellena. Gadis itu menyeringai kecil, "Aku benar?"
Ellena bersorak dalam hati saat tebakannya di angguki Andesz. Astaga ternyata mendengar ocehan dan cerita panjang Xeain tentang kehidupannya dulu di Ibu Kota sebelum menjadi prajurit berguna juga.
Andesz tidak tahu kenapa rasanya dia terus kalah pada bocah tiga belas tahun itu. Anehnya Andesz merasa tidak keberatan selama kelakukan Ellena masih bisa dia toleransi.
Apa ini karena wajah yang familiar itu?
"Kau sangat pintar bisa menebaknya," Sebenarnya kurang tepat tapi Ellena tidak perlu tahu, "Lalu dari mana kau belajar sihir perubah? Sejak kapan kau menggunakannya?"
Sihir perubah adalah sihir tingkat tinggi yang umumnya hanya di pakai oleh penyihir tingkat 7 hingga 9. Golongan penyihir ini jumlahnya sangat sedikit karena pada dasarnya manusia tidak memiliki jejak sihir dalam tubuhnya. Tercatat hanya ada satu hingga 2 penyihir saja di setiap wilayah di Kekaisaran Shinetheria dan paling tinggi cuma tingkat 7. Tingkat 9 dikatakan hanya sebuah level yang tak akan bisa ditembus penyihir sekarang ini.
__ADS_1
Andesz memiliki sebuah artefak dari keluarganya. Artefak ini memiliki fungsi mengubah bentuk pemakai sesuka hati tanpa perlu menjadi penyihir. Tentu saja Artefak itu termasuk barang langka yang tak diperjual belikan lagi.
Merasa pertanyaan Andesz tidak berarti apapun, Ellena menjawab nya dengan mudah, "Sejak aku berusia 7 tahun dari bibi Em."
"Nyonya Em bisa sihir? Tingkat apa?" tanya Andesz terkejut mendengar pemilik toko The M adalah penyihir.
"Tidak tahu. Bibi Em selalu menyentilku jika aku bertanya." bibir Ellena sedikit maju saat mengingat masa kecilnya yang penuh sentilan kasih sayang Emily.
"Aku yakin sentilan El pasti menurun dari Nyonya." sahut Nora tiba-tiba.
Ellena mengangguk mengiyakan, "Kau beruntung aku yang menyentilmu bukan bibi Em, Nora."
Membayangkan Emily menyentil nya, Nora langsung bergidik dan menggeleng kuat-kuat. Dia akan mati bila terkena sentilan Nyonya Em.
"El, tidak kah kau tahu arti sihirmu itu?"
Ellena menatap Andesz seolah pria itu bodoh, "Ya artinya aku bisa mengubah rambutku dan warnanya. Punya rambut panjang itu menyebalkan." Andai bukan karena Emily yang meminta Ellena tidak memotong rambut nya, Ellena tidak akan susah payah belajar sihir perubah. Mantra nya panjang sekali.
"Bukan begitu bocah!" lama-lama Andesz jengkel juga, "Artinya kau memiliki potensi menjadi penyihir--Tidak! Kau sudah otomatis menjadi penyihir tingkat 7 jika kau bisa menggunakan sihir perubah."
Ellena dan Nora tidak tahu harus bereaksi apa saat Andesz tertawa sendiri.
"Katakan! Sihir apa lagi yang kau bisa? Kau bisa menggunakan sihir terbang?"
Kepala Ellena menggeleng.
"Sihir apung?"
Ellena kembali menggeleng.
Masih menggeleng.
"..."
Mata emerald Ellena mengerjab polos.
"Kau tidak punya sihir apapun kecuali sihir perubah?"
Akhirnya Ellena menganggukkan kepalanya. Tapi binar antusias yang tadi berapi-api di mata biru Andesz langsung sirna. "El, jangan bilang kau benar-benar hanya tahu sihir perubah."
Entah kasihan atau apa, Ellena menjawab dengan jujur, "Aku pernah belajar sihir api, tapi karena waktu itu aku hampir membakar halaman rumah beserta hutan nya, Bibi Em menyita semua buku mantra dan menekan ku pada latihan fisik. Sekarang aku tidak hafal lagi mantra lain selain sihir perubah."
Toh Ellena belajar sihir karena murni agar rambutnya pendek dan tidak ungu.
Benar-benar sesederhana itu.
Meski beranjak besar, di ulang tahun kesebelas Ellena, Emily memberikan seluruh buku sihir untuk Ellena pelajari sendiri. Sayangnya semua buku berharga itu ikut hilang bersama tas kunung Ellena
Rasanya Ellena ingin menghancurkan sesuatu saat ingat tas berharganya hilang.
Andesz menghela nafas panjang, "Kau nampak kecewa." pria itu menggeleng, "Salahku yang berharap padamu."
Ellena tidak sakit hati mendengar itu. Benar-benar tidak masalah.
__ADS_1
Sekarang giliran Ellena bertanya.
"Sekarang, kalian berdua, jelaskan padaku apa yang terjadi pada kita bertiga? Dan dimana Max, Kirein dan Luxia?"
Baik Andesz dan Nora berhenti mengunyah makanan mereka. Mata kedua saling melirik satu sama lain sebelum menatap Ellena kompak.
"El, apa kau tidak pernah merasa ada yang aneh padamu?" tanya Andesz tiba-tiba.
"Permisi, apa kau baru saja mengataiku?" mata emerald Ellena melihat sinis pada pria yang lebih tua.
"Ya Dewa. Bukan itu! Maksudnya apa kau tidak merasa kau itu terlalu berbeda dengan kebanyakan orang?!"
"..."
"Aku mengamatimu El. Kau memiliki stamina lebih banyak untuk bocah seusiamu--biarkan aku selesai!" Ellena mengatupkan mulutnya cepat. Andesz mengacak rambut putihnya, "Meski sangat menyebalkan tapi aku mengakui bahwa kau memiliki tingkat kecerdasan tinggi. Tubuhmu yang jarang sakit dan cepat beregenerasi dan terakhir..." Andesz mengamati Ellena lamat-lamat, "Matamu El, mereka istimewa."
Kalimat terakhir Andesz bukan pertanyaan namun pernyataan. Sejenak Ellena tidak bergeming. Semua perkataan Andesz menembus otaknya dan membenarkan semua itu.
"Apa hubungannya dengan pertanyaanku tadi?"
"Aku hampir sampai ke sana. Terakhir, benar-benar terakhir, lihat lengan kanan mu."
Ellena segera menyingkap lengan bajunya dan melihat apa yang ada disana. Saat menemukan sesuatu yang asing disana, Ellena benar-benar terkejut.
"Kalian mentatoku?!" pekik Ellena tidak percaya.
Sebuah tato terukir di lengan nya. Tato sebuah pohon di dalam lingkaran.
"Bukan aku." seru Nora menggeleng cepat.
Andesz memejamkan matanya, dia hampir saja meraung dan membalik meja makan bila, lagi-lagi, tidak mengingat yang dihadapannya ini bocah. Perempuan pula. Harus banyak sabarrr.
Ya Dewa, andai Kirein disini. Andesz tak perlu panjang lebar menjelaskan semua ini. Dia tinggal terima jadi saja.
"Tidak ada yang mentatomu. Nayla dan Elf lain juga tidak ada yang mentatomu!" lagi lagi Andesz membungkam Ellena sebelum gadis tengil itu protes, "Tidak ada El, tato itu muncul di lenganmu setelah kita sampai disini!" Andesz cuma duduk tapi kenapa dadanya terengah seperti habis berlari? Sialan.
"Kau bilang tato ini muncul begitu saja?"
"Memang iya!"
"Baik, katakan saja begitu. Tapi aku masih buta melihat hubungan ini dengan apa yang terjadi pada kita?!"
Andesz tidak tahan lagi, "ITU ULAHMU, El! KAU YANG MEMINDAHKAN KITA SEMUA KE SINI!"
Mata Ellena melebar. Dia menunjukkan dirinya sendiri.
"Teleport(Teleportasi). Kemampuan berpindah tempat dalam sekejab. Kemampuan yang telah lama hilang dan hanya ada di dalam catatan kuno. Kau El... "
Andesz menatap lurus pada Ellena.
"Tato itu menjelaskan siapa dirimu. Kau adalah salah satu Guardian Divernia. Dan Lightning adalah kekuatan mu."
.
__ADS_1
.
.