Rise Of Legend [ LIGHTNING]

Rise Of Legend [ LIGHTNING]
Bab 58 Menyelamatkan Ellena


__ADS_3

Itu lah kenapa semua Elf Desa Sylfhim memusuhi Suku Dark Elf yang berisi orang-orang buangan karena kejahatan mereka. Terutama Frega, saudara kembar Freya itu melakukan dosa besar dengan membunuh mantan Oberon sebelum Freya yang dihormati seluruh Elf. Semua warga desa dilarang mendekati Suku Dark Elves dikedalaman utara Pulau Sylfy.


Para orang orang dari suku buangan itu mungkin ingin Zeni menderita lebih lama dari pada langsung membunuhnya dengan membuangnya ke teritori Monster Beruang Putih dalam keadaan tak berdaya.


Tapi mereka meremehkan Zeni terlalu jauh. Dia adalah salah satu Elf penjaga terkuat Desa Sylfhim. Dosis Bubuk Mimpi yang dipakai para penculik itu mungkin tinggi tapi Zeni berhasil menetralisir sebagian besar khasiatnya dengan teknik pernapasan yang diajarkan pada seluruh Elf penjaga. Teknik Pernapasan ini baru diajarkan dua ratus tahun belakangan oleh para Devisi Pengamat yang bertugas mengumpulkan informasi di luar Pulau Sylfhim.


Maka Zeni segera berusaha menjauh dari teritori para monster. Larinya oleng, nafasnya terengah dan pandangannya agak buram. Zeni tak pernah merasa seperti ini, merasa sangat dekat dengan kematian.


Tapi bukankah Nona El dan Tuan Andesz lebih parah darinya. Mereka berdua tertangkap oleh para Elf sakit itu dan juga Frega. Delapan ratus tahun lalu Elf gila itu berani membunuh mantan Oberon dengan dingin, sekarang sayup sayup kabar Frega melayani Naga buas, Zeni ketakutan membayangkan nasip keduanya. Meski harusnya Zeni tidak gampang berburuk sangka karena Nona El adalah seorang Guardian. Gadis itu berhasil menundukkan 2 Monster kelas Legenda, yang mana tidak pernah terjadi di pulau ini. Selain itu Nona El juga bisa memanggil petir dan tinju petir yang menyakitkan. Zeni bisa membayangkan nona manusia itu akan melempar pisau ke para penculiknya dan meledakkan petir dimana-mana. Sangat keren.


Tapi Zeni tidak mendengar petir sejauh ini. Zeni yakin Ellena dan Andesz harusnya sudah sadar di waktu ini menurut seberapa banyak bubuk mimpi yang dia netralisir. Jika keduanya bangun, terlebih jika Ellena bangun, suara perlawanan yang melibatkan ledakan petir tidak akan sesunyi ini. Sepanjang Zeni berlari dia terus terbayang kedua rekan berburunya.


Ini buruk.


Firasatnya bilang dia harus pergi menyelamatkan mereka berdua.


Namun Zeni sangat tahu dia tidak bisa menyelesaikan ini dengan dirinya sendiri. Dia butuh bantuan. Dan satu satunya bantuan yang dia pikirkan adalah sukunya, Desa Sylfhim. Tapi jaraknya sangat jauh, sudah terlambat jika Zeni berlari seperti ini.


Maka Zeni melakukan pilihan terakhir. Tindakan ini bisa menarik resiko baginya yang sendirian dan dalam kondisi buruk di tengah hutan. Tapi dia kekurangan pilihan sekarang.


Demikian Zeni mengambil benda pipih dari sabuknya. Benda itu adalah Parasut Flare. Petasan yang meluncur dan meledak di langit sebagai sinyal darurat. Sebelum berangkat, dia mengemasi barang tersebut dan menyimpanya rapat di sabuk pinggangnya. Meski ukurannya tipis, cahaya yang dihasilkan cukup terang dan daya lontarnya cukup tinggi sehingga petasan itu akan lama jatuh. Elf Pengawas Desa Sylfhim pasti mengerti saat melihat flare berbentuk naga Druk meledak di langit malam. Mereka akan segera tahu bahwa terjadi sesuatu pada dia, Ellena dan Andesz.


Tapi Zeni punya masalah lain. Tentu sinyal itu pasti sampai pada Desa Sylfhim, tapi begitu pun dengan para Hewan Buas dan Monster yang tertarik pada asal petasan itu. Berhasil lari dari teritori Beruang Putih, sekarang Zeni justru membuat dirinya menjadi mangsa para monster. Dia tidak bisa lari kemanapun karena dia merasakan banyak Monster yang datang dari segala arah.


Zeni tahu dia akan berakhir di sini sebelum bantuan datang. Paling cepat butuh 4 jam bagi para Elf sampai ke tempat ini dengan kecepatan maksimal tanpa istirahat dan Zeni tak yakin dia bisa bertahan selama itu menghadapi banyak monster dengan keadaannya yang payah.


Dung Dung Dung Dung Dung


Derapan langkah yang amat banyak membuat tanah sekitar bergetar. Suara raungan demi raungan bersahutan dan membuat ramai hutan Sylfy yang telah berlangit malam.


Zeni merasakan tubuhnya merinding saat menghitung kasar berapa banyak monster yang telah dia tarik perhatiannya.

__ADS_1


Dia memejamkan matanya dan menelan ludah, "Jadi ini akhirnya ya." guman Zeni getir.


Mati diusia cukup muda. Ada yang banyak yang ingin Zeni lakukan untuk Desa nya dan kakaknya, Zeno. Tapi dewa memutuskan akan mengambilnya hari ini maka dia akan menerimanya dengan lapang dada. Setidaknya semoga pengorbannya sepantas dengan keselamatan Nona El dan Tuan Andesz.


Ellena harus selamat. Mengorbankan nyawanya untuk kesalamatan Guardian, berarti Zeni berkontribusi pada keselamatan daratan ini di masa depan. Jasanya tidak akan terkenang, tapi Zeni cukup puas mengetahui arti kematiannya tidak buruk.


Tapi seandainya Zeni bisa melihat Ellena sekali lagi...


Ah! Betapa konyolnya. Jatuh hati pada gadis manusia yang bahkan belum dewasa, Zeni tidak membayangkan hal itu. Tapi bahkan kini saat kematian mendekatinya, Zeni tidak lagi menampik bahwa dia memang menginginkan Ellena untuknya.


Ellena yang energik tapi malas. Ellena yang sarkas tapi pengertian. Ellena yang suka makan tapi tak pelit berbagi. Ellena yang sadis tapi polos. Ellena yang cantik tapi galak. Ellena yang sangat kuat juga lemah. Ellena yang bebas tapi juga terikat.


Bagi Zeni, yang mengamati Ellena selama dua minggu ini dari dekat, menyimpulkan bahwa sang Guardian adalah makhluk paling kontradiksi yang pernah dia temui. Semua hal tentang Ellena berkebalikan namun entah bagaimana bisa terlihat sangat mempesona.


Sungguh manusia yang unik. Bagi Zeni untuk jatuh cinta pada Ellena adalah keajaiban. Dan mati untuk Ellena adalah kehormatan.


"Saya berharap bisa melihatmu berjaya, Nona El. Saya juga berharap bisa menyertai disisi anda di masa depan." Jika suatu ketika benar terjadi bencana dan Ellena membutuhkan bantuan, maka Zeni siap akan membantunya bahkan dengan jiwanya.


Dung Dung Dung Dung


Zeni telah pasrah kematian menjemputnya. Badannya luruh pada lututnya saat para monster menyibak pepohonan hutan dan berderap ganas menuju arahnya.


Zeni mendongak pada langit dan memejamkan matanya. Pada angin dia berbisik, "Nona El..."


Tapi kemudian.


**GRUUUOKK*


Raungan itu mengejutkan Zeni yang merasa tubuhnya tiba tiba disambar oleh tangan besar. Dia mengira akan mati diremas dan dipatahkan, tapi Zeni justru diletakkan di bahu penangkapnya.


"Wukong?!"

__ADS_1


Yang mengambilnya ternyata Wukong, Monster kelas Legenda. Salah satu monster yang berhasil di taklukkan Ellena. Dari bahu sang raja Kong, Zeni melihat Wukong yang bertarung dan menyingkirkan para monster yang datang bak air bah.


*ZRUUOKK*


"Ganesh?"


Seolah menunggu siyal tersebut, Wukong membanting monster badak di tangannya dengan bunyi debuman keras dan melompat tinggi. Zeni mencengkram kuat bulu Wukong yang berderap cepat. Tak lama Zeni melihat Gajah Ganesha milik Ellena sudah berlari di depan mereka.


Melihat arah mereka berlari, Zeni segera tahu tujuan kedua monster ini, "Kalian hendak menyelamatkan Nona El?"


*HUUHUU AKK*


*ZRUUEKK*


Kedua monster serempak meraung. Zeni tidak perlu menjadi ahli bahasa monster untuk mengerti artinya.


"Ya, mari selamatkan tuan kalian."


Zeni mendapatkan bantuan sempurna.


'Nona El. Kami datang.' Tekad Zeni dalam hati. Dengan bantuan Wukong dan Ganesh, dia yakin memiliki kesempatan membawa lari Ellena dan Andesz daru suku keparat Dark Elves.


Zeni sama sekali tidak menyangka saat tiba, dia akan melihat gadis manusia yang dia cintai akan tergelak di tanah dengan lubang menganga serta darah menggenang.


"NONA EL!!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2