![Rise Of Legend [ LIGHTNING]](https://asset.asean.biz.id/rise-of-legend---lightning-.webp)
Reyna Freya. Seorang ratu yang memimpin para Elf di desa Sylfhim. Perempuan Elf itu dengan mudah membelah kerumunan diikuti beberapa Elf lain di belakangnya.
Andesz menundukan kepalanya hormat saat Reyna Freya berada di depannya. Sedang sang reyna menyapa lembut Andesz lalu menatap Ellena yang menyembunyikan wajahnya dengan ekspresi tertarik.
Andesz yang merasa tidak enak kepada pemimpin para Elf itu kemudian membujuk Ellena untuk menyapa sang reyna. Tapi bukannya menurut, Ellena tanpa belas kasihan meraih rambut putih keperakan Andesz di sisi belakang lalu meremas dan menariknya kuat-kuat.
Tentu saja perbuatannya nyaris membuat Andesz jatuh konyol di hadapan Reyna Freya. Dengan tampang memelas dan suara menahan sakit, Andesz berusaha membujuk Ellena untuk melepas kepalanya yang panas dan berdenyut seolah kulit kepalanya akan lepas. Tapi Ellena tidak menggubrisnya. Rupanya gadis itu sedang balas dendam.
Reyna Freya menatap kejadian itu dengan senyuman, "Wahai, apa nona kecil merasa tidak nyaman? Maafkan rakyatku yang membuatmu demikian. Percayalah mereka tidak bermaksud jahat."Ujar sang reyna dengan suara yang halus dan merdu. Suara nya indah seolah memiliki kekuatan didalamnya untuk menarik orang-orang mendengarkannya.
Tangan Ellena berhenti mengepal dan melepas kepala Andesz. Perlahan gadis yang masih sakit itu mengangkat wajahnya dari bahu Andesz dan menoleh kepada Reyna Freya.
"Wahai, mata nona kecil sangat indah." puji sang reyna tulus tatkala menatap mata emerald Ellena yang berkilat tipis. Baginya yang telah hidup cukup lama, ini adalah pertama kalinya Freya melihat mata istimewa yang sarat kekuatan suci yang murni.
Dipuji demikian oleh wanita cantik, siapa yang tak senang? Ellena tidak sadar pipinya memiliki rona merah yang tipis.
"Wahai, maaf belum memperkenalkan diri. Aku Freya, seorang Reyna (ratu) Desa Sylfhim, desa kecil para Elf di pulau ini. Nona kecil bernama Ellena bukan?" Tentu saja Reyna Freya tahu nama Ellena, dia sekedar ingin membuka percakapan ringan dengan gadis yang baru saja menurunkan petir itu.
"El, cuma El." sahut Ellena setelah lama diam.
Reyna Freya menanggapi dengan senyuman, "Wahai, Nona El, mari pergi ke tempat lebih tenang. Terima kasih tidak membuat sihir pelindung kami pecah atau para *Tinker akan begadang malam ini." ada nada geli di kalimat Freya yang tidak sebanding dengan wajah-wajah lelah di belakangnya.(*Tingker\=Devisi Pekerja Elf)
Hm? Apa Ellena baru saja membuat masalah? Daritadi dia cuma diam.
"Wahai, mari pergi, nona kecil."
.
.
.
Salah satu sifat Ellena yang masih bocah (atau bahkan hingga dewasa nanti) adalah menjadi pendiam dan tidak akan membuka suara bila tidak disenggol terlebih dahulu.
Andesz mengenali sisi Ellena yang satu ini mirip ketika awal bertemu. Dan sekarang gadis itu sedang melakukan nya kepada Reyna Freya dan beberapa *Older Elf yang mengikuti di belakang. (*Older\= Tetua)
Biasanya wajar melihat orang lain menjadi lebih jinak atau terintimidasi saat menghadapi sosok yang lebih superior. Tapi Ellena tidak. Bocah digendongan Andesz itu justru lebih tertarik menatap pemandangan sepanjang jalan daripada manaruh minat pada Reyna Freya yang berjalan sedikit di depan keduanya. Pun dengan Nora yang setia mengikuti.
"El, apa petir tadi karena mu? " tanya Nora tiba-tiba. Pertanyaan itu menarik perhatian Ellena. Mata emerald nya menatap mata hijau adik angkatnya kemudian mengangkat bahu ringan, "Aku tidak yakin." jawabnya seadanya.
__ADS_1
Jujur saja, Ellena juga bingung. Disatu sisi dia tidak mengerti kenapa petir bisa menyambar tiba-tiba di tengaj hari bolong. Namun disisi lain Ellena tidak merasa aneh tentang hal itu. Seolah... langit berada dibalik punggungnya dan siap menggosongkan siapapun yang membuatnya kesal.
Ah! Bukankah petir-petir itu sangat keren.
"Wahai, kalian berdua sangat menggemaskan." tukas Reyna Freya.
Tadinya Ellena ingin menilai ratu para Elf ini sedikit lebih baik, tapi rupanya dia tidak lebih baik dari rakyatnya. Ellena ini menggemaskan darimana nya?! Nora benar dia setuju.
Ellena dan Nora saling berpandangan, "Terima kasih, Reyna." Nora menundukkan kepalanya sopan. Seminggu lebih hidup dengan ras Ibunya, Nora menumbuhkan respek kepada ratu dan tetua desa yang baik mau menerimanya serta merawat Ellena.
"Meski kalian bersaudara, segi sifat kalian bagai bumi dan langit." sahut Andesz tiba-tiba.
Disini Ellena dan Nora kembali berpandangan, "Apa kepalamu benar-benar pajangan, Andesz?"
Uhuk! Andesz hampir menjatuhkan Ellena atas komentar pedas bocah kurang ajar itu. Sialan!
"Apa lagi salahku?" Andesz hampir mengerang frustasi.
"Banyak. Salah satunya kau pura-pura tuli dan sibuk menatap dada besar para Elf daripada memperhatikan keadaanku. Aku sedang sakit."
"Kau sedang menyalahkanku?" terus, Andesz selalu salah.
"Jadi kau mengakui petir itu ulahmu?"
Sialan! Pertanyaan jebakan ternyata.
Kesal Andesz berhasil mempermainkannya, dengan wajah datar Ellena menarik rambut belakang kepala pria itu kencang. Andesz tak kuasa menjerit karena rasanya itu akan menghancurkan harga dirinya. Lagi!
Memang sesakit apa jambakan bocah tiga belas tahun?
Tentu saja berbeda kasus bila Ellena yang melakukan. Gadis itu memusatkan seluruh kekuatan jemarinya yang bebas luka untuk menarik rambut Andesz seolah ingin mengelupas kulitnya. Lagi!
Pemandangan seorang pria tampan nan gagah tengah menderita lantaran dijambak oleh gadis lebih kecil darinya sungguh konyol. Reyna Freya tertawa kecil seakan menikmati tontonan sedang Tiga Older Elf yang hadir melihat dengan pandangan heran.
Akhirnya Andesz sekali lagi harus menelan egonya dan meminta maaf pada Ellena. Untungnya gadis iti mau melepasnya.
Mungkin Nora merasa kasihan pada Andesz yang sejak tadi dibully kakaknya (Sayangnya Nora cukup senang sekarang bukan dia seorang korban kekejaman kakak paling baiknya), "Tuan Andesz, aku dan El bukan saudara kandung tapi kami berdua sudah bersumpah untuk menjadi saudara." jelas Nora.
Andesz menghembuskan nafas lemas, "Amu tertipu lagi." orang lain pasti kasihan melihat pria itu.
__ADS_1
Tapi Ellena justru semakin menjadi.
"Otakmu mungkin tertinggal bersama Kirein." Andesz sudah pasrah dihina sedemikian rupa dan terus menyebut 'sabar' dalam hati.
Hingga kemudian mereka menjauhi pemukinan Elf dan terus bergerak menyibak hutan. Ellena tidak bertanya. Tak lama rombongan kecil itu sampai di bebatuan besar yang menumpuk dan berjejer seperti kaki gunung.
Ellena yang sebelumnya acuh pada sang reyna, kini dia memandang perempuan Elf itu dengan sorot tak terbaca. Seolah tahu arti tatapan Ellena, Reyna Freya justru tertawa geli.Tawa kecil yang merdu serta memberi efek wajah merah kepada para lelaki. Bahkan Nora tidak terkecuali.
"Wahai, Nona kecil, apa yang kau rasakan?" tanya Freya seolah sedang mengetes gadis muda dalam gendongan Andesz.
Ellena tentu tidak sesombong itu hingga tidak membalas, " Aku merasa... aneh."
"Wahai, aneh bagaimana?"
Ellena tidak bisa menjelaskan perasaannya saat ini, tapi seperti... "Apa ada seseorang di sana?" Ellena memandang bebatuan tinggi, menunjuk arah di balik dinding batu tersebut.
Tangan Freya yang lentik dan cantik, menopang anggun sebelah pipinya, "Wahai, kenapa Nona kecil merasa begitu?" ada nada geli di dalam suara nya merdu.
"Seperti ada yang menunggu." Ellena bilang bahwa ada tarikan tak kasat mata dan tidak wajar saat berlama-lama di tempat ini. Jantungnya berdebar lebih cepat tanpa alaaan. Dan Ellena tidak mau dianggap gila dan mengatakan bahwa ada yang memanggilnya dan menunggunnya.
Apapun itu berasal di balik bebatuan tinggi ini.
"Wahai, Itu agak lebih sedikit dari yang kubayangkan, tapi berhubung Nona kecil masih muda dan terluka hingga mungkin koneksi itu belum sempurna." kata Reyna Freya seraya berjalan membelakangi semua orang dan menyentuh permukaan batu.
Koneksi apa?
Baik Ellena, Andesz dan Nora melihat bongkahan batu setinggi 3 meter bergerak dan perlahan bergeser hingga memperlihatkan jalan masuk yang terhalang tirai tumbuhan rambat.
Sang reyna berbalik. Manik nya yang berwarna emas bening memandang lurus pada ketiga tamunya, terutama Ellena, "Wahai, masuklah." kata nya ramah.
Reyna Freya mempersilahkan ketiganya memasuki terlebih dahulu. Andesz tidak ragu melangkah. Andesz mengikuti dengan takzim. Sementar Ellena merasa semakin gelisah.
Saat ujung jalan terlihat, ketiganya menyipitkan mata lantaran silau yang teramat terang. Butuh beberapa saat mereka menyesuaikan diri hingga pemandangan di depan mereka.
"Wahai, kami menyebutnya Taman Eden."
.
.
__ADS_1
.