![Rise Of Legend [ LIGHTNING]](https://asset.asean.biz.id/rise-of-legend---lightning-.webp)
Sebelum bertemu Xeain, Ellena selalu menganggap seni pedang itu payah. Mungkin karena Ellena kurang bertemu dengan orang-orang yang benar-benar ahli berpedang pandangannya menjadi sempit.
Sekarang, meski Ellena masih tidak tertarik untuk menjadikan pedang sebagai senjata utamanya, Xeain mengubah cara pandangnya secara signifikan.
Pedang Besi dari Barat. Gelar itu adalah gelar Xeain yang paling banyak diketahui khalayak. Xeain mendapat gelar itu sebelum menjadi Kepala Penjaga. Waktu itu dia adalah ketua pasukan yang hanya berjumlah lima puluh orang. Xeain mendapat gelar itu saat dia dan pasukannya berhasil mempertahankan benteng selama lima hari di Masa Buas sebelum pasukan bantuan datang. Perlu dicatat, Xeain dan pasukannya bertarung tanpa henti. Tanpa makan dan tanpa istirahat.
Apa itu Masa Buas? ialah masa dimana hewan buas atau kadang monster tingkat rendah menyerang pemukiman manusia. Keadaan ini sering kali terjadi karena cepatnya proses kembang biak suatu koloni namum tidak diimbangi dengan predatornya. Celakanya kondisi ini bisa terjadi sekaligus pada beberapa koloni. Maka saat persediaan makanan menipis di hutan, para hewan buas dan monster menargetkan manusia.
“Guru, Aku tidak memerlukan senjata lebih. Kurasa pisau dan belatiku sudah cukup.” Ucap Ellena pada Xeain yang akhirnya mengizinkannya memanggil Guru meski Ellena—El, masih sering menggodanya dengan panggilan pak tua. Sama halnya dengan Xeain yang masih memanggil El dengan sebutan rubah kecil. Tak ada alasan jelas.
Siang itu Xeain, Ellena dan Nora tengah menikmati makan siang bersama. Dibawah pohon yang telah menjadi tempat favorit mereka berkumpul. Pertama kali Xeain bergabung makan siang ialah di hari ke lima pelatihan. Ellena sebenarnya cuma iseng saja untuk menggoda Xeain tapi saat mengetahui gurunya itu hanya memakan daging asap saja setiap hari, Ellena memberitahu Nora untuk menambah porsi bekal mereka. Beruntung bibi Em tidak keberatan. Pun dengan Xeain yang senang—meski tidak diperlihatkan langsung— mendapat makanan lezat dan teman mengobrol.
Xeain menggeleng tidak setuju, “Percaya padaku, suatu saat kau membutuhkan lebih dari pisau kecil dan belatimu itu.”
Pak tua Xeain menunjuk sepasang belati yang terpasang di belakang pinggul muridnya. Itu adalah hasil kerja El sendiri yang dulu melihat bengkel kerjanya membuat senjata dan secara kurang ajar meminta untuk di ajarkan menempa dan membuat senjata. Awalnya Xeain menolak tapi apa daya, Emily ternyata bisa sangat menakutkan bila keinginan keponakan kesayangan nya tidak terpenuhi.
Sebulan kemudian, di sela latihan berat, El berhasil membuat sepasang belati kembar dengan kualitas rendah. Yah Xeain sudah menduga itu.
“Jadi apa aku harus menjadi ahli pedang sepertimu?” Ellena mendengus sebal dengan gagasan tersebut. Membayangkan dirinya bertarung dengan pedang itu aneh. Sesuatu mengatakan jika dia tidak cocok dengan jenis senjata tersebut. Aneh.
“Jika kau bisa maka bagus. Jika tidak masih banyak pilihan untuk kau jadikan senjata utama, tombak, cambuk, kapak atau gada.” Xeain tidak henti memberi pilihan pada Ellena. Dia merasa Ellena harus menggunakan senjata lain selain pisau dan belatinya. Dengan begitu serangan pisau Ellena bisa dijadikan elemen kejutan di dalam pertarungan.
Ellena bergidik ngeri membayangkan dirinya menggunakan gada—tidak keren.
“Aku cukup ahli dengan tombak, kau tahu saat di desa Lily aku—“
“Kenapa El tidak mencoba menjadi pemanah?” Ucapan Ellena terpotong begitu saja oleh Nora.
__ADS_1
Si bocah laki-laki cantik itu kini tidak lagi memanggil Ellena “Tuan” setelah majikannya itu menggantungnya terbalik di pohon dari siang hingga malam. Xeain juga akhirnya mengetahui jenis gender Ellena sebenarnya tapi tidak dengan nama panjangnya.
Ellena tidak bergerak. Hampir membatu sepersekian detik sebelum normal kembali. Sangat cepat hingga tidak ada yang menyadari.
Dia nampak berpikir sejenak sebelum kemudian mengangkat bahu , “Menjadi pemanah tidak keren.” Ucap nya acuh tak acuh sembari menyuap makanan dalam mulutnya.
Xeain yang mendengar itu mendengus sebal, “Dasar anak muda zaman sekarang. Kau akan cepat mati jika mementingkan gayamu itu!” sentaknya benar-benar sama dengan para orang tua kolot yang kurang jalan-jalan.
Oh, Ellena lupa Xeain memang sudah tua dan jarang keluar rumah.
“Guru santai saja, saya akan hidup lebih lama dari anda.” Celetuknya tenang yang tak sadar menuai pelototan dari gurunya.
“Bocah sial, kau menyumpahiku cepat mati?!”
Ellena kaget tentu saja, dia tidak bermaksud selain mengatakan kenyataan—kenyataan bahwa Xeain memang sudah pantas kalau mati.
Tahu dirinya dalam bahaya, Ellena buru-buru berdiri dan berlari menghindari Xeain yang melempar piring ke arahnya. Tak lama adegan kejar mengejar dari seorang guru yang mengacungkan sebilah pedang panjang dan seorang murid yang melompat lompat macam monyet menjadi tontonan Nora yang asik melahap makan siangnya.
“El dan Tuan Xeain sangat akrab.”
Untungnya dua orang itu tidak mendengar. Kalau iya mungkin mereka akan mencongkel mata Nora di tempat.
Siang ini sedikit istimewa. Emily Ellyzzia datang bersama Nora.
Tepat satu bulan, Ellena berguru dengan Xeain. Bermacam pelatihan fisik, jurus-jurus beladiri dan berbagai teknik pertarungan, Ellena pelajari dengan tiap tetes tangis, keringat dan darahnya. Pelatihan neraka kini mencapai puncaknya.
“Guru, murid ini akan terus mengingat semua ajaran guru.” Hari ini tidak ada Ellena yang kurang ajar. Gadis tiga belas tahun itu mengambil posisi berlutut dengan satu kaki dan kepala menunduk dengan tangan kanan diatas dada. Memberi hormat secara penuh kepada Xeain yang telah menjadi gurunya selama sebulan ini. Tangan Xeain menepuk kepala Ellena tiga kali sebagai tanda menerima penghormatan muridnya itu.
__ADS_1
“El—aku akan jujur padamu. Kau adalah bocah paling menyebalkan yang pernah ku temui,” Ellena mengerucutkan bibirnya sebal dengan pernyataan gurunya tersebut, “…tapi terima kasih padamu, sebulan ini hidupku cukup menyenangkan. Aku memiliki keyakinan di masa depan kau akan jauh dan jauh lebih kuat dari sekarang. Kau akan membuat namamu sendiri di Shinetheria. Saat itu terjadi maka aku akan merindukan masa bisa menendangmu—Ha Ha Ha.” Sekali lagi Ellena yakin gurunya memang aneh tapi dia maafkan saja. Toh ini terakhir kali dia akan bertemu dengan Xeain.
“Ingat El, kau tidak boleh berguru pada orang yang lebih lemah dariku. Kau mengerti?” Ellena mengangguk. Xeain sudah memberinya wejangan tersebut selama seminggu terakhir.
Di masa depan tidak menutup kemungkinan Ellena memiliki lebih dari satu guru untuk bertambah kuat. Ilmu yang diajarkan Xeain hanyalah dasar. Fondasi bagi kekuatan besar Ellena di masa depan.
“Kau melakukannya dengan baik, Xe.” Pria tua itu menatap kawan lamanya, Emily yang menghampiri nya setelah menyuruh Ellena mengemasi barang-barangnya dengan Nora.
“Tidak juga. Ku harap kau tidak terkejut, mulut rubah kecil itu bertambah lemas dan pedas.” Xeain menyeringai kecil kepada Emily yang memutar matanya.
“Dimana kau selama ini Emily? Aku tidak pernah mendengar kabarmu sejak kau menghilang.” Xeain tidak bisa dibilang akrab dengan Emily tapi mereka adalah kenalan karena keluarga keduanya adalah mitra dekat. Xeain mengenal Emily di pergaulan ibu kota tapi suatu ketika, saat Xeain masih tujuh belas tahun, dia tidak lagi mendengar kabar Emily. Yang mengejutkan, Emily tidak nampak menua sepertinya. Wanita yang dia sebut liar itu masih sangat cantik dan bahkan mempesona. Jika tidak ingat betapa mengerikan nya Emily saat wanita itu mau, Xeain pasti sudah lama jatuh cinta.
Atau lebih tepatnya tidak lagi jatuh cinta. Masa itu sudah usai, pikir Xeain.
Emily tidak langsung menjawab. Matanya justru menerawang jauh pada hamparan tanah lapang hingga berakhir kepada Ellena.
“Sejak awal Ibu kota bukan tempat seharusnya aku berada. Aku pergi mencari alasan keberadaan ku di dunia. Hampir tidak berhasil hingga aku bertemu dengannya.” Kata Emily tanpa memandang Xeain. Mata abunya memandang Ellena dengan senyum kecil yang sangat tulus dan keibuan.
“Dimana orang tuanya?” sejak awal Xeain tahu Ellena tidak ada hubungan darah dengan Emily. Meski begitu dia tidak bisa menyangkal hubungan erat keduanya yang lebih dari ikatan darah. Emily sangat menyayangi El, begitu pun sebaliknya. Tiada hari tanpa cerita tentang Emily setiap Ellena bercerita tentang kehidupannya. Bocah itu sangat mengagumi Emily
“Aku orang tuanya Xe. Aku ibunya. Ayahnya. Bibinya. Pamannya. Aku juga guru dan sahabatnya. Aku bisa menjadi apapun untuk El.”
Kali ini Xeain benar-benar memandang Emily dengan pandangan lain. Gadis paling cantik, pintar dan dingin bagai es dulu telah berubah menjadi sosok yang sangat hangat di dalam saat bicara tentang anak didik mereka.
“Di sangat berharga, bukan?”
Seulas senyum kembali terpatri.
__ADS_1
“Sangat. Sangat berharga.”
'Cahaya kecilku... '