![Rise Of Legend [ LIGHTNING]](https://asset.asean.biz.id/rise-of-legend---lightning-.webp)
Ellena membawa tumbuhan almarhum Zeni ke desa Sylfhim. Dia ataupun Nora tidak sampai hati meninggalkannya di hutan liar tanpa pohon Zeni bisa tumbuh dengan baik atau tidak. Bayangan kalau suatu waktu monster besar bisa saja menginjaknya, itu seperti membiarkan Zeni mati dua kali. Untungnya Andesz setuju dan membatu Ellena berbicara pada para Elf Warrior yang berkata pohon milik Elf yang gugur sebaiknya tetap berada di tempat terakhir Elf berbaring sebagai bentuk pernghormatan.Ini sudah menjadi tradisi para Elf sejak dahulu kala.
Tapi menjadi Ellena yang keras kepala, gadis itu pun berkata "Aku akan menanamnya di taman Eden, dengan begitu Druk juga bisa menjaganya. Apa yang kurang terhormat dari itu?"
Siapa yang akan membatah bila gadis yang digadang-gadang sebagai satu dari Guardian bicara begitu? Terlebih mereka para suka Elf pulau Sylfhim memiliki ketertarikan aneh dengan Ellena.
Jadilah pohon kecil jelmaan Zeni ditanam di taman Eden. Ellena tidak menanamnya dekat Pohon Apel Emas, melainkan di sudut taman, dimana tanaman berbunga paling lebat.
"Kenapa El taruh pohon Zeni disitu?" tanya Nora penasaran.
Ellena mengangkat bahu seraya menjawab, "Ingin saja."
Hari hari berlalu agak lambat. Ellena tidak terlarut dalam kesedihan atas kematian Zeni begitu lama. Orang biasa akan menganggap gadis itu tidak tahu malu tapi bagi yang memperhatikan bahwa Ellena setiap pagi selalu pergi Taman Eden , menyiram pohon Zeni dan merawatnya hati-hati.
Itu adalah tindakan yang dilakukan Ellena untuk membalas budi Zeni sekaligus upaya untuk terus mengingatnya.
Sementara itu Nora semakin gencar mengikuti Ellena kemanapun dia pergi.
Lalu Andesz...
"Kita harus kembali ke Shinetheria."
Satu-satunya manusia berjenis laki-laki di pulau ini mulai membujuk bahkan mendesak Ellena untuk meninggalkan pulau.
Ellena terdiam mendengarnya. Bukannya dia tidak mau kembali, tentu saja dia ingin cepat pulang karena merindukan bibi Em.
Tapi...
"Ada yang masih harus ku lakukan." kata Ellena.
"Apa?"
"Aku ingin bertambah kuat."
Andesz membalas cepat atas perkataan tersebut, " Ellena, kau sudah cukup kuat. Mau kuingatkan seberapa kuat petirmu?"
Ellena mendelik pada Andesz, "Kutanya sudah berapa kali aku pingsan setelah kita pergi dari Delos? Dua kali. Bahkan yang terakhir aku pingsan tanpa sempat menghajar si bajingan itu dan membuat Zeni tewas."
"Zeni tidak tewas karenamu Ellena."
"Aku merasa begitu!!! Sial! Andai dia tidak begitu bodoh kembali untuk menyelamatkan ku, dia masih hidup sekarang!" seru Ellena tiba-tiba menaikkan suaranya.
Andesz nampak terpaku sejenak. Mungkin sedang menunggu Ellena tenang setelah ledakan singkatnya tadi. Memang, akhir akhir ini meski masih cuek, Ellena bisa dengan mudah meledak bila menyangkut Zeni.
"Zeni tidak mati sia-sia. Dia mati demi masa depan dunia ini. Demi dirimu." kata Andesz dengan suara rendah. Nafas Andesz terasa panas dan dekat pada Ellena saat dia mendekati sang gadis.
"Kau berharga Ellena, karena itu Zeni berani mempertaruhkan nyawanya demi kau." lanjutnya.
Mata Ellena tiba-tiba memanas. Gadis lima belas tahun itu merasakan emosi pada dadanya saat diingatkan lagi pada takdir yang dielu-elu menjadi miliknya.
__ADS_1
Omong kosong seorang Guardian.
Mata emerald Ellena menatap lekat wajah rupawan Andesz lalu bersuara dengan pelan, "Antara aku dan Nora, jika ada saat dimana kau hanya bisa menyelamatkan satu dari kami, mana kau yang pilih?"
"Kau."
Andesz menjawab cepat dan tanpa keraguan.
Ellena menganggukan kepala seolah paham. Gadis itu kemudian mundur memberikan jarak pada dirinya dan Andesz lalu berbalik.
Sebelum melangkah Ellena mengatakan sesuatu yang membuat Andesz tertegun.
"Maka lebih banyak alasan bagiku untuk bertambah kuat. Daripada selamat, aku lebih memilih melindungi orang berharga bagiku. Bahkan dengan nyawaku sendiri."
.
.
.
Zeno menatap terkejut sekaligus bingung.
"Anda apa Nona El?"
"Ajari aku."
"Skill apa yang kau miliki?"
Skill apa yang dimiliki Zeno sang pemimpin Devisi Senjata Desa Sylfy?
"Membuat senjata?" suaranya Zeno mengambang seolah dia sedang bertanya.
"Maka ajari aku membuat semua senjata yang bisa kau buat." ujar Ellena tiba-tiba tanpa angin dan hujan.
Zeno tidak menjawabnya karena pria Elf itu agak lamban mencerna kronologi asal muasal kejadian ini. Ah! Bila dipikir lagi memang tidak ada asal usul karena faktanya Ellena benar-benar hanya tiba tiba datang ke bengkelnya, bertemu dengannya lalu tanpa dengan seenak jidat minta berguru.
Lalu saat memikirkan bahwa ini Adalah Ellena, si gadis manusia yang aneh dan sulit ditebak kenalanya, Zeno entah kenapa jadi bisa memakluminya.
"Kenapa Nona El tiba tiba ingin belajar?" tanya Zeno
"Bibiku Emily selalu berkata bahwa aku harus banyak belajar dan punya banyak kemampuan untuk bisa hidup enak dan kaya sampai tua nanti."
Heh?! Alasan murahan macam apa itu?
Hidup ratusan tahun di kedalaman hutan dan pulau terpencil seperti Pulau Sylfhim ini membuat Zeno dan banyak Elves lainnya akal logika dengan manusia di benua Shinetheria. Para Elf hidup dengan prinsip alam, sederhana, gotong royong serta ketulusan hati. Meski beberapa Elf menyimpang dan berbuat dosa macam Frega serta kawan kawannya, tapi jumlah mereka tetap kecil dibanding para Elf normal lainnya.
Tentu saja Zeno tahu para manusia membutuhkan uang untuk hidup. Tapi apa perlu Ellena menjawab dengan jawaban serakah seperti itu ketimbang menjawab sedikit elegan?
Coba saja Ellena menjawab 'Karena aku menyukai ilmu penempaan dan ingin menjadi master yang hebat seperti anda, Tuan Zeni' mungkin saja Zeni akan langsung mengiyakan.
__ADS_1
Sayangnya Zeni lupa kalau mulut Ellena memang bisa sangat bebas dan murah.
Zeni menghela nafas sejenak, "Nona El bisa berguru dengan Medea Devisi Kerajinan atau Nayla Debisi Obat dan Ramuan. Kudengar skill-skill semacam itu lebih berguna dan mahal di benua Shinetheria?"
Di zaman banyaknya bangsawan dan monster, tentu saja keahlian memvuat suatu karya indah nan berguna dan obat obat mujarab sangat dinilai tinggi dan berharga mahal.
Sebagai Petualang Ellena tentu tahu berharganya keduanya, "Aku juga mempelajarinya sedikit tapi Medea berteriak padaku setiap tidak sengaja mematahkan kerajinannya di tengah pembuatan lalu menyuruhku pergi dan datang lain kali. Sedangkan Nayla bilang aku cukup baik membuat ramuan racun tapi melarangku membuat Potion karena entah bagaimana semua Potionku berubah hitam. Akhirnya Nayla mengusirku dari sana." Ellena menjelaskan panjang lebar. Sekilas gadis cantik itu nampak cemberut saat mengingat lagi dia diusir oleh Nayla yang geram pada Ellena yang gagal ke-20 kalinya dan menghabiskan bahan berharga.
"Tapi untungnya Nora bisa menangani semua itu jadi aku beralih pada keahlian yang kiranya cocok denganku." sambung Ellena.
"Devisi Senjata cocok denganmu?"
"Kenapa tidak? Bisa membuat sendiri senjataku bahkan membuatnya lebih hebat, bukankah itu keren?"
Seolah tersihir, Zeno mengangguk-angguk membenarkan.
"Lagi pula bibi Em bilang aku bisa mencoba segalanya tapi sejauh ini pekerjaan kasar baru bisa ditangani. "
"P-Pekerjaan kasar...?"
Memang kasar tapi apa harus kau mengatakannya begitu kasar Ellena? Zeno agak sakit hati.
"Nona El... "
Zeno menghela nafas panjang. Kepalanya mendadak pusing seperti diserang tornado hingga berantakan. Aduh.
"Anda benar ingin belajar?"
Ellena mengangguk mantap.
"Saya guru yang keras. Saya tidak akan segan pada anda bahkan bila anda adalah Guardian masa depan."
Mendengar itu, Ellena malah menyeringai.
"Aku harap bersabar dengan saya, Guru."
Sejenak bulu kuduk Zeno berdiri dan merinding.
'Sial apa itu? Firasat buruk?'
Selamat pada Zeno telah menerima murid dengan mulut paling pedas di dunia.
.
.
.
Tolong Votenya^^
__ADS_1