Rise Of Legend [ LIGHTNING]

Rise Of Legend [ LIGHTNING]
Bab 75 Meratapi Yang Telah Tiada


__ADS_3

Ellena menatap kaku sebuah pohon kecil di hadapannya. Dia berada di tanah terbuka yang kosong tapi ada dimana bekas bekas pertarungan dimana-mana. Tapi bahkan diantara semua itu, sebuah pohon kecil berdiri ditengah tengahnya seolah tidak tergores apapun.


"Zeni telah gugur. Bawahan Frega meminumkannya Bunga Laba-Laba yang membuatnya mati terbakar dari dalam."


"Maaf El."


Kaum Elves adalah salah satu makhluk yang dekat dengan alam di daratan Divernia. Mereka memiliki rupa rupawan, berintelektual,berumur panjang, kuat, dan ahli sihir. Tapi lebih dari itu yang membuat para Elf berbeda dengan yang lain adalah saat Elf mati, maka mereka akan melebur dengan alam kemudian tumbuh menjadi tumbuhan.


Ellena masih ingat betapa suram suasana para Elf, Nora bahkan Andesz saat dia bertanya perihal Zeni yang tak terlihat. Dia pikir Zeni sedang berburu atau tugas patroli hingga belum menemuinya. Tapi jawaban yang dia dapat dari Freya membuat Ellena dengan keras kepala pergi keluar desa dan menuju tempat ini. Tempat dimana dia hampir mati. Ellena tidak terpikir dia bersukarela datang kesini tanpa merasa trauma.


Greb


"El...pohonnya cantik." kata Seseorang yang memeluk Ellena dari belakang. Kedua lengan kecil Nora melingkari leher Ellena yang telah terduduk lesu di hadapan pohon kecil yang mana merupakan milik Zeni.


Ya, Zeni sudah mati. Digantikan oleh pohon yang hanya setinggi dua ratus centimeter dengan tujuh daun lebar dan lima daun muda.


Cantik, katanya?


Senyum yang nampak getir bergetar di ujung bibir Ellena, "Ya...ini cantik."


"Seperti Tuan Zeni. Pohonnya cantik karena Tuan Zeni adalah orang baik berwajah cantik."


Ya, Zeni memang punya wajah menarik, seperti kebanyakan Elf lainnya. Baik? Tentu saja. Zeni yang mau meladeni Ellena yang terkadang sering iseng padanya, tentu saja adalah pria baik. Teramat baik hingga dia...


"...iya, baik sekali." Ah mata Ellena memanas.


Lalu secara tiba-tiba Nora berpindah dari punggung Ellena ke samping. Bocah itu dengan lembut menyusup demi dapat memeluk Ellena dan menghadapnya. Kedua iris hijau saling bertatapan. Yang satu berkaca dan yang satu bersinar tulus kehangatan.

__ADS_1


Nora kemudian lembut mengambil tangan kanan Ellena dan mengarahkan untuk menyentuh pohon milik Zeni. Tepat saat jemari Ellena menyentuh daunnya, percikan listrik muncul dan sekejab hal tak terduga terjadi.


..."Nona El, maaf. Kumohon tetaplah hidup dan bahagia."...


...Zeni memuntahkan banyak darah dari mulutnya. Sekujur tubuhnya telah memerah seperti bara api , bahkan mengeluarkan uap panas....


^^^"....Nona El sangat cantik saat tertawa.'^^^


DEG!


Ha?!


Mata Ellena yang berair terbelalak lebar saat tiba tiba dia mendengar suara Zeni. Suaranya terdengar jauh dan samar namun itu jelas suaranya. Ini seperti... Ellena, entah bagaimana, baru saja melihat dan mendengar suara terakhir Zeni sebelum dia meninggalkan dunia fana ini.


"HUWAAAAAAAAAAA."


"Nora...?"


Ellena yang bersiap menumpahkan tangis keduluan oleh Nora yang sudah banjir air mata dan menjerit keras.


Tangisannya pasti keras karena Andesz dan sepuluh Elf warrior yang memaksa menemaninya menghampiri keduanya dengan tergesa.


"Ada apa? Hah? Ada serangan? Kalian terluka?" Andesz menerjang Ellena yang dipeluk erat Nora yang menangis keras.


Saat memastikan keduanya tidak terluka, Andesz baru bertanya, "El, Nora kau apakan?"


Loh? Kok kesannya kayak nuduh begitu? Ellena bersumpah tidak melakukan apapun. Tahu tahu aja Nora menangis. Membuatnya Ellena batal menangis haru. Haduh malu.

__ADS_1


Saat Ellena menggeleng beruntungnya Nora berucap dengan tersendat-sendat ingus, "Huwaa... Tuan Zeni hic... Dia terluka parah, hic... aku lihat Tuan Zeni hic... banyak darah... kesakitan... hic terus dia doain... El bahagia... HUWAAAAA TUAN ZENI KASIHAN HIC!!!


Ah! Jadi... Nora juga melihatnya?


"Lihat apa?" tanya Andesz yang tak mengerti.


Malas menjelaskan Ellena menarik tangan Andesz kemudian bersama tangan mereka berdua menyentuh daun pohon milik Zeni. Dan sekali lagi, Ellena melihat lagi kilas balik serta suara terakhir Zeni. Hanya beberapa saat. Benar-benar sangat singkat tapi mampu membuat Ellena merasa sedih lagi hingga menagis.


Greb


Kemudian tanpa di duga Andesz memeluknya dengan Nora. Kepala Ellena di tekan pada dada Andesz yang juga ikut bergetar.


"Dia benar. Kau seribu kali lebih baik tertawa dan berbuat gila daripada harus menangis."


Hei ada apa dengan kedua orang ini?


Baik Andesz dan Nora sama-sama memeluknya erat seolah mencoba menguatkan Ellena padahal mereka berdua yang menangis.


"....Nona El sangat cantik saat tertawa.'


Tapi pada akhirnya air mata jatuh dan mengalir di pipi Ellena. Tangan Ellena memeluk Nora dan Andesz erat-erat. Merasakan hangatnya tubuh mereka berdua. Yang menandakan mereka hidup. Juga menandakan Ellena juga hidup. Kehangatan ini ada berkat pengorbanan orang lain.


'Terima kasih Zeni. Aku tak akan pernah melupakanmu. Aku berjanji.'


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2