Rise Of Legend [ LIGHTNING]

Rise Of Legend [ LIGHTNING]
Bab 72 Bangun III


__ADS_3

Setelah Andesz dan Nora puas menangis, bersyukur, memeluk dan mengecek keadaannya untuk kesekian kali, akhirnya keduanya memutuskan membawa Ellena ke desa.


Terima kasih pada Druk yang memberinya energinya hingga Ellena merasa baru lagi. Otot otot yang lemas seperti baru saja di isi dan kepalanya tidak pusing lagi. Meski suaranya masih serak dan tentu saja...


Grrrrlllp"...." Ellena memegang perutnya.


"Ugh...perutmu terdengar seperti auman naga." Kata Andesz yang berupaya meledek. Iris emerald Ellena melirik sinis Andesz kemudian menginjak kakinya.


"Iya maaf." kata Andesz meski dengan senyum canda. Walaupun matanya agak bengkak, hal itu nyatanya tidak mengurangi ketampanan pria berambut putih keperakan itu. Apa Ellena terpesona? Jelas tidak.


Tahu kakaknya kelaparan, Nora dengan secepat kilat berubah ekspresinya menjadi antusias, "El, aku telah membuat sangat banyak makanan untukmu."


Setelah berkata begitu, Nora kemudian mengeluarkan sebuah kantung usang kecoklatan yang hanya seukuran telapak tangan orang dewasa. Bocah berambut hijau itu merogoh kantong dan saat mengeluarkan tangannya, Nora telah memegang sepiring ayam bakar utuh yang mengeluarkan semerbak aroma lezat. Tak berhenti, Nora mengeluarkan lebih banyak makanan dari kantung yang pasti adalah Space Thing.

__ADS_1


Kini diatas rerumputan pendek dan dibawah Pohon Emas serta mentari yang bersahabat, tersaji banyak makanan lezat nan sehat, yang semuanya nampak menggoda perut Ellena yang kelaparan.


"Berkat kantong ajaib yang diberikan oleh guru (Elf Pyne) semua makanan yang aku buat seminggu lalu saat kepulangan El tidak terbuang sia sia. Awalnya cuma ada daging, tapi aku berpikir El pasti butuh makanan sehat, jadi aku juga menyiapkan susu dari Pegasus, Salad dari semua buah menyehatkan yang bisa aku temukan. Lalu ada jus apel kemudian... "


Baik Ellena dan Andesz hampir melongo dan menatap Nora yang mengoceh panjang tentang semua makanan itu. Andesz menganggap itu sedikit lucu serta lega karena sejak Ellena dibawa dengan keadaan sekarat, Nora lebih murung dan pendiam. Syukurlah Nora menjadi lebih ceria dan hidup.


Sedang Ellena menangkap informasi bahwa dia telah tak sadarkan diri selama seminggu. Dibanding dengan sebelumnya, tentu seminggu lebih baik dari pada dua minggu. Tapi kok Ellena jadi kesal sekaligus malu ya? Dalam 2 bulan dia pingsan 2kali. Lama pula. Kesannya dia lemah sekali meski yaa memang luka dalam maupun luarnya memang parah sekali.


"El? Kenapa tidak makan? Apa El menginginkan sesuatu yang lain? Akan segera aku buatkan apapun untuk El!" kata Nora dengan semangat, menunjukkan perhatiannya pada sang kakak.


"Pak-kai-an... Ti-dahk...ma-khan... "


Andesz yang mengerti langsung mengangguk seraya mengusap kepalanya dengan canggung. Irisnya sesekali melirik tak sengaja pada figur Ellena yang kurus dan hanya di tutupi jubah miliknya saja. Ditambah dengan rambut ungunya yang kini panjang hingga menyebar ke tanah, Ellena nampak seperti peri tersesat tanpa sayap dan rapuh tapi cantik. Andesz memukul dirinya sendiri.

__ADS_1


"Nora, kita akan makan di tempat El jadi masukkan lagi semua makanan ini. Pertama kita harus membawa El ke Desa, memberinya pakaian dan memanggil Nayla. "


Nora yang sangat tidak sabar untuk pamer pada Ellena menjadi agak sedih saat harus memasukkan kembali semua makanan. Niatnya ingin cepat cepat memberikan makanan itu pada Ellena agar kakaknya tahu seberapa rasa syukur dan sayangnya.


Kemudian tiba-tiba, tangan Ellena menepuk puncak kepala Nora. Kedua mata hijau saling bersitatap dan perasaan Nora menjadi jauh lebih baik saat melihat senyum kecil Ellena.


"Aku ingin menyuapi El nanti. Harus."


Ellena mengangguk saja menuruti permintaan sepihak itu. Yang penting bocah itu tidak sedih lagi. Nora jelek kalau menangis (Tidak, Ellena hanya gengsi mengakui tidak suka melihat Nora sedih atau kecewa.)


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2