![Rise Of Legend [ LIGHTNING]](https://asset.asean.biz.id/rise-of-legend---lightning-.webp)
Perburuan Ellena, Andesz dan Zeni berlanjut dengan satu tambahan anggota. Ganesh, Monster kelas Legenda itu benar-benar sudah ditaklukkan Ellena dan mengikuti perintah gadis itu layaknya peliharaan penurut.
"Naga Agung akan cemburu." kata Andesz tiba-tiba suatu ketika. Itu adalah malam ke lima mereka keluar Desa Sylfhim.
"Hm?" Pernyataan Andesz jelas tertuju untuk Ellena yang sedang mengelap belati hitamnya untuk kesekian kalinya. Terlihat sekali gadis berambut ungu panjang terkuncit tinggi itu menyukai senjata tersebut.
"Naga Agung pasti cemburu saat kembali kau membawa Ganesh dan monster lainnya." Andesz memperjelas ucapan sebelumnya.
Ellena santai tanpa melihat pada Andesz yang duduk disebrang api unggun. "Tidak akan, Druk bukan seperti seseorang yang mudah ngambek karena hal sepele." cibir gadis itu jelas menyindir seseorang. Andesz mendengus tahu bahwa dia yang sedang disindir remaja di depannya.
Sampai detik ini Ellena tidak mau memberitahu cara dia bisa menaklukkan Monster Gajah Ganesha pada Andesz. Sempat terpikir pria itu untuk terus menekan Ellena karena ilmu seperti itu pastilah sangat berharga. Tapi Andesz keburu dipelototi Ganesh yang merasa 'temannya' tidak suka diganggu oleh dia. Tidak mau jadi manusia gepeng dalam waktu dekat, Andesz tidak memaksa keberuntungannya lebih jauh.
"Kau menyebalkan, El."
"Aku sudah begini sejak awal, bukan? Aneh kalau kau baru protes sekarang." mulut lemas Ellena membalas ucapan Andesz dengan telak.
Benar. Dulu pertama bertemu dia menganggap semua kelakuan Ellena menarik dan agak lucu karena dia tidak pernah melihat bocah seunik Ellena (El) dan waktu itu bukan dia sendiri yang menghadapi Ellena. Tidak terpikir olehnya bahwa suatu hari Andesz akan menangani Ellena seorang diri tanpa bantuan ketiga rekan sekaligus bawahannya. Mengurusi bocah pintar yang kurang akhlak macam Ellena ternyata menyiksa batin dan menguras kesabaran.
Sekarang dia memang merasa sedikit lebih akrab dengan Ellena dan itu bagus untuk misinya, tapi itu justru semakin membuat Ellena nyaman menistakan Andesz.
Apa ini yang namanya pedang bermata? Ada yang sakit tapi tidak berdarah.
"Nona El, anda bisa beristirahat lebih dulu." Zeni, satu satunya Elf dikelompok itu menyela perbincangan seru kedua manusia.
Mata emerald Ellena bertemu dengan mata coklat madu Zeni lalu tersenyum, "Apa aku pernah bilang kau sangat manis, Zeni?" tanya Ellena tiba-tiba.
"E-Eh? Saya...Eh ti-tidak Nona." Zeni merasa wajahnya memerah dengan serangan tidak terduga dari remaja manusia.
__ADS_1
Melihat Zeni yang menjadi gugup, Ellena semakin ingin menggodanya, "Ternyata Zeni sangat manis dan tampan. Terima kasih sudah memperhatikan ku." ucapnya dengan senyuman sangat manis. Wajah Ellena yang memang dasarnya cantik, terlihat mempesona tertimpa cahaya emas api unggung.
"Emmm... sudah tugas saya... Nona." Zeni tertunduk kalah dengan wajah merah karena malu.
Percayalah Zeni ini sangat polos bila berhubungan asmara dengan wanita. Usianya yang masih muda (200-an itu muda menurut bangsa Elves) membuat ide untuk berpasangan belum terlintas. Rata-rata Elf berpasangan dan berkembang biak di Desa Sylfhim adalah 500-600 keatas. Bahkan Reyna Freya, Elf tercantik dan spiritual terkuat saja masih sendiri diumurnya yang 1000 tahun lebih. Ada yang berkata Reyna Freya memang tidak ingin berpasangan.
Umumnya pasangan Elf adalah Elf lainnya. Tapi bukan berarti perkawinan silang antar ras tidak pernah terjadi. Buktinya Nora setengah Elf dan setengah manusia. Namun uniknya, dari berbagai kasus persilangan antar ras, yang paling banyak berhasil adalah perkawinan silang dengan ras manusia. Bila salah satu pasangan manusia, presentasi memiliki keturunan lebih besar daripada persilangan non manusia.
Desa Sylfhim yang tak pernah dijamah manusia sejak lama sekali membuat para Elf berpasangan dengan Elf suku mereka sendiri. Karena alasan itulah Andesz sangat populer oleh para Elf perempuan yang melihat Andesz sebagai calon pasangan potensial.
Nora masih terlalu kecil untuk dilirik, kemudian Ellena...
Yahh Ellena bukannya tidak populer. Tapi dibanding dilihat sebagai calon pasangan, para penduduk Desa Sylfhim terlihat seperti hamba yang siap menyembah dan melayani Ellena karena statusnya sebagai Guardian yang melegenda. Ingat dulu ada Elf yang ingin Ellena memberkati anaknya?
Tentu bagi beberapa Elf juga menganggap Ellena tukang rusuh yang tidak bisa mereka benci. Dan bagi Reyna Freya, Ellena malah diperlakukan layaknya cucu yang akan dituruti semua keinginannya.
Kembali pada Zeno, kesimpulan Elf pria satu ini jadi salah tingkah menerima godaan dari satu-satunya gadis manusia di pulau ini, meski cuma sebatas candaan. Jantungnya jadi berdebar tanpa keinginkannya.
Ellena sekali lagi membalas cuek, "Aku hanya berkata Zeni tampan dan manis."
Gadis itu tidak menyadari dahi Andesz yang semakin berkerut, "Manis?"
"Iya, Zeni manis."
Tidak ada yang memperhatikan Zeni yang malang yang terus menunduk seiring kedua manusia beda gender di depannya berdebat. Pernyataan Ellena yang terus memujinya tampan dan manis membuat Zeni salah tingkah karena jantungnya jadi berdebar lebih cepat.
Astaga! Tanda-tanda ini! Jangan-jangan....?
__ADS_1
Andesz bukannya tidak melihat ini. Mata birunya memincing menembus api unggun melihat Zeni yang melirik Ellena malu-malu dan wajah memerah. Sial.
Baik, Zeni memang rupawan. Kata tampan dan cantik sepertinya tidak cocok menggambarkan keindahan ras Elves. Tidak ada satupun Elf yang jelek di Desa Sylfhim. Mereka semua rupawan dengan khas mereka masing-masing. Zeni sendiri tergolong rupawan dengan garis wajah tegas yang indah dipandang. Wajah Zeni ini pasti menjadi idola di desa manusia biasa.
Tapi tolonglah, Andesz benar-benar tidak mau ada laki-laki manapun mendekati Ellena untuk jadi pasangan, meski itu Zeni atau Elf pria manapun. DEMI TUHAN! GADIS INI MASIH TIGA BELAS TAHUN!!
"Zeni, tolong jangan hiraukan El. Dia hanya bercanda padamu." kata Andesz halus tapi menegaskan pada Elf pria itu bahwa Ellena tidak serius memuji Zeni tampan dan manis.
"Ya, Tuan Andesz." Zeni berkata begitu tapi Elf itu tidak berhenti melirik Ellena selama 5 menit sekali dengan wajah merona tipis.
Hah! Andesz jadi ingin memukul wajah 'tampan dan manis' itu!
"EL! Ini semua salahmu!" seru Andesz tiba-tiba memuntahkan kekesalannya.
Ya. Ini kesalahan Ellena yang dengan gampangnya menggoda Zeni yang notabene Elf yang belum punya pasangan. Sungguh bencana jika sampai Zeni sungguhan kepincut pada Ellena.
Ellena yang diteriaki tanpa kejelasan tentu bingung, "Kau kenapa sih?"
"Jangan seenaknya memuji laki-laki itu tampan dan manis." Andesz berdecak kesal.
Ellena tambah bingung. Apa masalah pria ini?
"Aku sungguh tidak tahu apa maksudmu, Andesz. Mau berkelahi?" Ellena masih muda. Masih tiga belas tahun. Mana tahu dia masalah rumit seperti cinta-cintaan antara pria dan wanita. Jadi ketika melihat Andesz emosian dan berteriak tidak jelas padanya, otak pintar Ellena berpikir pria itu mengajaknya berduel.
Andesz kesal. Dia merasa frustasi kekesalannya tidak tersampaikan dengan benar pada Ellena dan justru disalah artikan ajakan duel. Duh! Disaat seperti ini Ellena jadi mirip sekali dengan Nora, polos-polos menyabalkan.
.
__ADS_1
.
.