Rise Of Legend [ LIGHTNING]

Rise Of Legend [ LIGHTNING]
Bab 12 Kebiasaan


__ADS_3

Ting


“Selamat datang di The M. Apakah tuan ingin mengambil pesanan patung? Atau jika tidak silahkan lihat koleksi patung kami yang sesuai dengan keinginan anda , Tuan.”


Hari ini Ellena berniat menghabiskan hari di toko bibi Em. Setelah kemarin berpamitan pada pak tua Xeain, kali ini dia berniat membantu seharian sebelum besok dia pergi ke Guild Petualang Delos untuk mengambil Ujian Ranker. Dia berniat naik rank menjadi B.


Pelanggan yang datang ialah dua orang pemuda. Kira-kira berumur dua puluhan. Keduanya menggunakan jubah hijau tua meski Ellena bisa melihat baju hitam dan sebelah pedang di pinggang mereka.


Seorang petualang? Yah, itu bukan sesuatu istimewa. Di Delos banyak Petualang berkeliaran.


Salah satu pemuda, berambut kecoklatan agak panjang berkata, “Kami akan melihat-lihat dulu.”


Ellena mengangguk dengan senyum khas pegawai. Dia sempat bersirobok dengan mata hitam pemuda satu lagi. Laki-laki itu tidak mengatakan apapun tapi terang-terangan menatap lekat Ellena hingga Ellena tersenyum canggung. Andai dia bertemu laki-laki itu di jalan sudah Ellena colok matanya.


“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” akhirnya Ellena bertanya, masih dengan senyum pegawai, tidak tahan di tatapi lebih lanjut.


Lagi-lagi pemuda itu cuma memandang Ellena. Tidak mengatakan apapun atas pertanyaannya. Ellena bahkan curiga orang itu sebenarnya ingin mencari ribut dengannya.


“Kau…siapa namamu?” Ujar laki-laki itu tiba-tiba. Ellena balik memandang sang pelanggan yang mendekat dua langkah padanya.


“Orang-orang biasa memangil saya El, Tuan.” Jawab Ellena sekenanya. Pertanyaan ini biasa dia dapat dari pelanggan baru bibinya.


Laki-laki itu kembali terdiam seraya tidak lepas menatap Ellena. Hingga gerakan sederhana laki-laki itu mengejutkannya. Ellena bergerak mundur satu langkah menghindari tangan yang ingin menggapai wajahnya. Reflek tubuhnya bekerja begitu saja.


Pandangan Ellena berubah. Tidak ada lagi senyuman di wajahnya. Dia memandang waspada pada laki-laki di depannya. Xeain selalu mengatakan untuk tidak membiarkan orang tidak dikenal menyentuhnya sembarangan. Tidak ada yang tahu kapan seseorang melukai atau bahkan meracunimu.


“Kau mirip seseorang.” Ujar laki-laki asing itu—tidak mau susah payah menjelaskan tindakannya yang tiba-tiba tersebut. Meski berkata begitu, tatapan mata Ellena tidak berubah. Raut dingin dia kenakan untuk menunjukkan dia tidak mentoleransi tindakan orang asing di depannya.


“Silahkan melihat-lihat, Tuan.” Ellena bahkan tidak repot-repot menunjukkan sikap ramah nya tadi. Alih-alih dia justru pergi ke belakang dan meminta Nora untuk menggantikannya sejenak.

__ADS_1


“Dasar aneh.” Decak Ellena saaaaaaangat pelan.


.


.


.


“Nora! Cepat atau ku tinggal!” seru Ellena.


Ellena berdiri tak sabaran dengan baju latihannya di depan toko The M. Jalanan kota Delos sepi, hanya sedikit sekali orang yang bangun dan memulai aktifitas pukul tiga pagi.


Meski sudah tidak lagi dibawah bimbingan Xeain, kebiasaan lari dan latihan ringan tidak Ellena tinggalkan. Malah sekarang gadis itu justru bergairah ingin memecahkan rekor larinya tempo hari.


Yang di tunggu akhirnya menampakan batang hidungnya. Nora si bocah cantik itu berkata ingin menemani Ellena berlari hari ini. Awalnya Ellena menolak tapi bibi Em justru menegurnya dan bilang bahwa sekarang dia harus mengajari Nora agar minimal bisa mempertahankan diri sendiri. Karena itu sebagai langkah awal ada baiknya Nora bisa menemani lari pagi Ellena.


“Kau lama karena membuat makanan? Sarapan nanti?” tanya Ellena memastikan.


“Biar El tidak menahan lapar terlalu lama, saya sengaja bangun lebih awal untuk membuat makanan kesukaan El. Kita bisa makan sama-sama sambill melihat matahari terbit.” Ujar Nora dengan senyum polosnya. Tindakan itu jelas menyentuh hati Ellena.


Sejak Nora menjadi pelayannya, Ellena sedikit demi sedikit mulai mengakui keberadaan Nora. Begitu pun dengan Nora yang sudah sepenuhnya mempercayai Emily dan Ellena hingga berani memberitahukan asal-usul kelahirannya.


Bocah kecil yang malang, pikir Ellena.


Kehidupan Nora cukup sulit sebelum bertemu dirinya. Apalagi Nora juga pasti merindukan Ayahnya yang sekarang entah dimana. Saat Emily bertanya dimana rumahnya, Nora menjawab tidak tahu karena Ayahnya tidak pernah mengatakan dimana mereka tinggal.


Selain itu Nora juga terbukti sangat berguna bagi Ellena. Hidup Ellena sedikit sejahtera dengan adanya Nora yang mengurus keperluan seperti menyiapkan makan dan membersihkan pakaian. Bocah itu juga sangat giat bekerja dan tak mengeluh membantu Emily di toko. Ini membuat Ellena mudah memfokuskan diri pada latihannya dan menjadi lebih kuat.


Dan tentu saja, perlakuan Emily pada Nora juga menjadi lebih baik. Emily sekarang juga memberikan beberapa keping koin perak sebagai uang jajan Nora.

__ADS_1


“Bawa sini tasnya.” Ellena meminta tas berisi bekal dari tangan Nora. Lalu tanpa berkata apapun dia memasukannya ke dalam tas kecil yang ada dipinggangnya. Dalam sekejab tas besar itu menghilang dari pandangan.


“Saya juga ingin memiliki spacebag seperti El.” Kata Nora dengan nada kagum dan setitik iri. Ellena yang mendengar terkekeh kecil kemudian menyentil dahi Nora hingga empunya meringis.


“Minta saja pada bibi Em. Itu kalau kau berani.” Ejek Ellena sengaja yang menuai tatapan cemberut dari Nora. Sampai saat ini, meski sudah lebih baik, Nora masih enggan berinteaksi dengan Emily. Dia tidak berani melunjak meminta sesuatu yang mahal seperti tas milik tuannya.


“El, kita jadi lari tidak ?” tanya Nora mengalihkan bahasan. Dia sedikit sebal melihat Ellena habis tertawa meledeknya.


“Tentu saja. Nora, jangan sampai tertinggal. Kalau lelah bilang padaku, mengerti?” Nora mengangguk kepalanya dua kali.


Maka keduanya kemudian berlari menuju gerbang kota. Tidak ada halangan karena penjaga gerbang sudah terlalu hafal dengan wajah keduanya, meski agak heran melihat Nora yang ikut lari pagi Ellena.


“Kali ini membawa adikmu, El?” salah satu penjaga menyapa Ellena yang dijawab cengiran beserta acungan jempol yang kemudian di balas acungan jempol juga dari dua penjaga, ditambah teriakan semangat yang membelah kesunyian jalanan sepi nan gelap.


Semua orang kini menyangka Nora ialah adik Ellena. Adik perempuan manis yang selalu ingin berada di dekat kakak laki-lakinya. Ellena tidak memiliki niat menyanggah kesalahfahaman tersebut. Biarkan orang-orang ini beramsumsi sesukanya sepanjang tidak merugikan dirinya, Nora ataupun bibi Em. Kecuali dia masih merasa geli karena jenis kelamin nya dan Nora serasa tertukar.


Sementara Nora mengulum senyum masam diam-diam disela lari kecilnya di samping Ellena. Dia pasrah dengan orang-orang yang menyebutnya perempuan. Hampir semua orang yang dia temui menyangka dia gadis kecil. Tapi di satu sisi Nora juga sedikit senang di kenal sebagai adik Ellena.


Sejak dulu Nora selalu ingin memiliki saudara. Yang menemaninya dalam keseharian yang monoton dan membosankan dalam pondok.


Sekarang dia memiliki itu. Tidak ada hubungan darah antara keduanya. Tapi bagi Nora kecil, kepedulian Ellena kepada nya terasa layaknya kakak kepada adiknya.


Dan itu membuat Ellena sangat berharga baginya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2