Rise Of Legend [ LIGHTNING]

Rise Of Legend [ LIGHTNING]
Bab 67 Si Tongkat Yang Bicara


__ADS_3

"Jadi... "


Setelah kejadian aneh dimana Ellena di pukul berulang kali dengan rotan oleh sebatang tongkat setinggi 3 meter yang bisa berbicara. Ellena mendapat beberapa informasi kecil.


Pertama, ini mimpi. Mimpi yang sama Ellena dapatkan selama tak sadarkan 2 minggu di Pulau Sylfy. Ellena lupa keseluruhan mimpi itu, tapi pohon besar yang menaunginya ini sama persis dengan yang dia ingat.


"Ya aku ibumu. Aku sudah bilang itu." si tongkat bicara. Dan Ellena tidak bisa memutuskan jenis suara macam apa itu, tidak jelas. Terdengar seperti perempuan baya tapi disatu waktu juga seperti laki laki diusia lima puluhan.


"Maafkan aku tapi aku masih butuh waktu menerimanya."


Lebih parah daripada saat Freya mengatakan bahwa dia adalah salah satu Guardian yang punya tanggung jawab menyelamatkan dunia di masa depan, Ellena lebih syok dengan perkataan si tongkat yang mengaku ibunya.


Dimana logikanya?!!


Nampak tahu apa yang dipikirkan Ellena, si tongkat berkata lagi, "Tidak bisa kau terima fakta itu, Nak? Semuanya akan lebih mudah untuk kita berdua."


"Apa kau bisa memutuskan mana diantara telur dan ayam yang duluan yang tercipta?" tanya Ellena random.


"...."


"Apapun jawabannya, tetap ada ganjalan. Seperti itu perasaan ku saat ini saat kau berkata bahwa kau ibuku."


"..."


Si tongkat mengeluarkan helaan nafas sabar. Aneh karena Ellena tidak melihat ada hidung apalagi mulut dimana wajah si tongkat berada. Atau mata, alis, pipi, lebih-lebih jidat dan dagu. Tidak. Si tongkat tidak memiliki semua itu. Dia berwajah seperti tongkat pada umunmnya. Kecuali sepasang tangan dan kaki tipis dari ranting yang bisa bergerak bebas.


"Aku tidak menyangka anak bungsu ku akan tumbuh dengan mulut pedas dan minim budinya."


Oh Ellena tidak kesal kok. Sudah banyak yang muak dan kesal dengannya jadi sindiran halus semacam ini tidak berefek apapun.


"Aku ingat kau begitu kalem saat lahir." kata si tongkat malah bernostalgia.


"Kau berkata seperti orang tua diusia uzur." tukas Ellena polos.


"Aku lebih dari uzur, Nak. Kau pikir berapa umurku?" pada pertanyaan itu Ellena mengangkat bahu serta menggeleng.


Informasi lain yang Ellena dapat ialah dia berada di *Faradisa (berarti surga). Kata si tongkat tempat ini berada di luar Divernia dan tidak bisa dijangkau oleh sembarang orang, terlebih manusia fana. Tempat dimana Pohon Kehidupan berada setelah menghilang di era Guardian pertama. Sekaligus tempat dimana para Guardian terlahir.


"Apa aku benar-benar terlahir dari pohon?" guman Ellena seraya menatap luasnya hutan lebat yang berada dibawah. Ellena ingat dulu dia terbangun setelah terjatuh dari ketinggian tempat ini.


"Kau masih tidak terima?" Ellena mengangguk kecil.


"Kalau bibi Em tahu dia akan mengolokku sampai mati." Mengingat betapa senangnya Emily mengejek keponakan sekaligus muridnya ini, Ellena bisa membayangka ejekan ini akan berlaku lama daripada hinaan sebagai monyet atau kera.

__ADS_1


Si tongkat menyahut sambil mendengus, "Dia harusnya lebih bersyukur. Jika dulu aku tidak mengirimmu padanya, mungkin dia sekarang telah menjadi makhluk kegelapan paling berbahaya di masa depan."


Dahi Ellena menyengit. Ada beberapa konteks dari si tongkat katakan yang membuatnya tidak menyukainya tapi Ellena menahannya, "Kenapa mengirimku ke bibi Em?"


"Dia akan berguna untukmu dimasa depan."


Kali ini mata Ellena memincing, "Apa itu makhluk kegelapan?"


"Menurutmu apa?"


Ck! Lagi-lagi. Para orang tua ini kenapa suka sekali membalas pertanyaan anak muda sepertinya dengan pertanyaan. Apa mereka menggunakan panduan para manula?


Sayang sekali Ellena tidak bisa memanggil petir ataupun kekuatan lain. Disini Ellena merasa sangat manusia, "Terdengar seperti orang jahat." jawab Ellena sekenanya biar cepat.


"Singkatnya memang begitu." balas si tongkat singkat, biar cepat.


Tiba tiba saja perempatan nadi muncul di pelipis Ellena, kok dia jadi kesal? "Bibi Em bukan orang jahat."


"Ya, berkat kau dia terhindar dari takdir itu. Dia dipenuhi cinta dan kasih sayang untukmu dan kutukannya akan hilang berkatmu juga."


"Kutukan?"


"Kau akan tahu suatu saat nanti."


Setelahnya Ellena tidak bertanya lagi karena sebelumnya dia benar benar sudah kenyang di cekoki pecutan rotan, wejangan menjadi orang beraklak mulia dan penjelasan singkat tentang Faradisa.


Tapi diam saja terasa sangat sepi meski pemandangan hutan luas dibawah dan cakrawala nan jauh disana terasa menenangkan dan indah.


"Kenapa aku disini lagi?"


Ada beberapa jeda sebelum si tongkat menjawab, "Kau anak nakal, hampir mati diluar sana."


Oh? Jadi ingatan dia yang dikoyak oleh Naga Orochi itu memang benar.


"Dua kali kau mendarat kesini. Pertama karena kelelahan lantaran tubuhmu belum bisa menanggung teknik teleport jarak jauh. Lalu kadua kalinya ini... hahh, " Si tongkat mengusap dahinya (jika ada) lelah, "Menggunakan Doping Kekuatan Pohon Emas secara tidak masuk akal hingga sangat ceroboh dan hampir mati dimakan hewan rendahan. Astaga, aku akan memukulmu!"


PLAK!! pecutan rotan mengenai punggung Ellena. Membuat gadis itu terjatuh ke depan dengan tangan diatas punggungnya.


"Aduh!"


"Ini terakhir kalinya kau masuk ke sini tanpa ku undang anak nakal."


'Anak nakal. Datang bila sudah saatnya!'

__ADS_1


Tiba tiba sekelebat ingatan datang pada Ellena. Tentang sebaris kalimat yang diucapkan seseorang. Dimana Ellena mengingat itu terjadi sebelum dia terjatuh dari tebing ini. Atau...didorong?!


Kemudian Ellena menatap tajam si tongkat yang mengangkay alis (jika ada) , "Apa?" tanyanya seolah menantang.


'Jadi dia yang mendorongku? Pantas aku agak sebal mendengarnya sedari awal.'


"Aku bahkan tidak tahu kenapa aku disini." kata Ellena masih dengan mata menyipit pada si tongkat.


"Kau yang sekarat dan aku yang tidak bisa membiarkanmu mati sebelum waktunya, membuatku harus memperbaiki dan menyembuhkan luka mu." kata si tongkat.


"Oh...terimakasih." saat disinggung luka akibat dikoyak Naga Orochi, kekesalan Ellena agak mendingan. Dia sempat ingat kakinya juga terluka dan melihat sekarang dia utuh lagi, Ellena tidak sungkan mengucapkan terimakasih. Bibi Em setidaknya mengajarinya untuk tahu terimakasih.


Tiba tiba Ellena merasakan puncak kepalanya ditepuk oleh tangan dari ranting tipis, "Setelah kau bangun hingga saatnya tiba kau tidak bisa datang kemari. Pertemuan selanjutnya bukan hanya jiwamu saja tapi ragamu juga. Ada tugas menanti kelak."


"Tugas apa?"


"Merawat saudaramu."


Mata Ellena melebar sedikit, "Kau hamil lagi? kok tidak kelihatan? Tongkat hamil tetap rata rupanya."


PLAK PLAK PLAK


"I-IYA AMPUN!"


"Anak kurang ajar! Sini kau! Ternyata mulutmu belum sembuh bila belum terkena rotanku!"


Ellena yang tidak mau terkena rotan lagi, mencoba melarikan diri. Tapi naas, kakinya yang tidak seimbang membuat kakinya menginjak tanah yang salah. Tubuh Ellena olong kearah tepi tebing dan tertarik jatuh seperti terakhir kali.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa... "


"Usahakan tidak hampir mati lagi sampai aku memanggilmu, Anak nakal!"


Oh ibu macam apa yang diam melihat anaknya terjun bebas dan justru dipetuahi jangan mati? Memang mencurigakan ibu tongkat satu itu.


Oh ya sudahlah.


Waktunya bangun.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2