![Rise Of Legend [ LIGHTNING]](https://asset.asean.biz.id/rise-of-legend---lightning-.webp)
Layaknya surga tersembunyi, Taman Eden sangat mempesona bagi siapapun yang pertama kali melihatnya.
Bebatuan besar ternyata menumpuk dan mengelilingi tempat ini sehingga nampak tersembunyi karena dari luar, hanya akan terlihat seperi bukit batu.
Tanah hijau terhapar seperti karpet nyaman, berbagai macam bunga warna-warni. Hewan-hewan kecil seperti Kupu-kupu, lebah, capung hingga burung kecil bernyanyian. Hewan layaknya kelinci , tupai, hingga rusa pun tidak ketinggalan ada disana. Sungai kecil yang mengalir dari celah bebatuan menjadi sumber air disana dengan sesekali ikan melompat.
Bagaimana pun menggambarkannya, Taman Eden adalah kenyamanan. Ketiga orang baru itu bahkan tergoda untuk meluruhkan tubuh mereka ke tanah berumput.
"Tempat ini sangat cantik." kata Nora.
Ellena setuju, Taman Eden sangat indah dan memukau, bila mata istimewa tidak melihat satu kejanggalan. Bukan sesuatu yang merusak keindahan taman, hanya...keberadaannya terlampau luar biasa untuk ada disana.
"Wahai, nona kecil melihatnya dengan cepat, seperti yang diharapkan." ujar Freya yang tersenyum kecil menatap Ellena yang terus menatap lurus pada satu arah.
Andesz dan Nora akhirnya melihat sesuatu itu dan sontak membuka mulut mereka.
"Itu... ." Andesz terkejut sangat terkejut hingga tak bisa berkata-kata.
"Pohon Emas!"pekik Nora heboh.
Bukan! Bukan itu yang membuat terkejut Andesz. Pohon Emas yang nampak rimbun dan berbuah banyak itu memang mengejutkan, tapi Andezs lebih peduli pada sosok makhluk yang tidur di bawahnya. Seekor hewan besar, bersisik hitam dan cakar tajam di tiap kakinya.
Seekor Naga! Terlebih dengan aura nya yang terasa lebih agung dan luar biasa, dia tahu monster satu ini jauh lebih tinggi daripada VRITRA.
"Seekor Naga Tingkat Atas, aku tak menyangka akan melihatnya disini." guman Andesz dengan takjub.
"Ya, aku juga."
Andesz menunduk pada gadis gendongannya. Perasaan nya menjadi rumit saat melihat bocah yang tadi berdebat dengannya kini nampak lebih diam.
"Wahai, Nona kecil, mendekatlah. Dia telah lama menunggumu."
Biasanya Ellena akan bebal. Dia suka melihat orang lain sebal padanya, bahkan bibi Em tidak terkecuali (tidak sering). Namun kali Ini Ellena tidak membantah. Dia meminta Andesz membawa mendekat kearah pohon emas dan naga itu. Hingga tersisa lima puluh meter Ellena diturunkan karena naga hitam itu menggeram kearah Andesz dan Nora.
"El..."
"Aku bisa Nora." Ellena menghentikan Nora yang hendak meraih lengannya.
[...zzzttzzz...]
Doping kekuatan itu datang lagi. Sekujur tubuh Ellena yang ngilu tidak lagi terasa meski lemasnya tidak ikut menghilang.Tapi Ellena tidak lemah. Dia bangkit dan berjalan pelan meski sedikit membungkuk.
Ellena hampir terjatuh karena tersandung kakinya sendiri bila kepala naga yang besar tidak berhasil menahannya. Jemari Ellena nampak kecil berada diatas hidung keras dan dingin sang naga.
"Aku merasa aneh. Setelah aku bangun aku terus merasa ada yang berubah. Dan yang paling janggal aku sekarang tiba-tiba merasa ingin berbincang dengan mu, seekor kadal besar." Rambut Ellena seketika terbang ke segala arah saat naga hitam itu menghembuskan nafas dari hidungnya kencang seolah mendengus.
Ellena tertawa, "Kau mengerti ucapanku! Sungguh pintar." dengan gemas gadis berambut ungu itu mengelus (menggosok) moncong sang naga yang bersisik tebal.
__ADS_1
Dikejauhan, Andesz, Nora dan Reyna Freya beserta Older Elf lainnya menatap naga hitam itu menggoyangkan ekornya seperti anjing yang kesenangan.
Jujur saja Ellena sedikit memiliki sedikit ketakutan terhadap ular besar dan monster kelas legenda lainnya setelah dibantai habis-habisan oleh VRITRA di Gunung Talos. Tapi saat melihat naga cantik ini, Ellena seperti sedang bertemu dengan kawan lama.
"Kau tahu, aku merasa seperti mengenalmu." kata Ellena tiba-tiba.
Sang Naga hitam itu menatap Ellena dengan mata besar yang hitam. Bagi orang lain mata itu terlihat jahat dan kejam, tapi kepada Ellena mata sang naga berisi dengan kasih sayang.
Tiba-tiba naga itu meluruskan kepalanya dan mensejajarkannya dengan tubuh Ellena yang lebih kecil. Dengan tak sadar gadis itu mengulurkan tangan kanan nya dan menyentuh lembut moncong sang naga. Dan tanpa aba-aba sengatan berkekuatan sedang mengalir dari tangannya.
[ZZTTZZ]
Ellena sontak melepas tangannya dan melotot pada sang naga.
"Hei! Kukira kita teman. Aku akan mati jika kau setrum seperti....itu...??" Omelan Ellena mati seiring melihat tubuhnya yang terasa baik.
Ellena merasa kehilangan akalnya tapi dia tetap mencoba berdiri dan betapa terkejutnya dia bisa berdiri tegak dan tidak membungkuk lagi seperti remaja jompo.
Gadis itu meraba tubuhnya dan menekan bagian-bagian yang tadinya sakit tapi seluruh tubuhnya telah baik-baik saja. Ellena melompat-lompat kecil untuk mengetes otot kakinya dan luar biasa!
"EL! KENAPA LARI-LARI?!" Nora sontak menjerit saat melihat kakak angkatnya yang sakit tiba-tiba berdiri, melompat-lompat lalu tanpa peringatan lari begitu saja.
Ellena tidak mengacuhkan teriakan Nora dan berlari mengelilingi taman tersebut. Gerak kakinya semakin cepat dan semakin cepat hingga membuat Ellena tertawa kegirangan.
"Ini hebat! Apa yang kau lakukan? Aku merasa baru dan sehat." saat Ellena kembali pada Naga hitam yang entah bagaimana menyembuhkan sakitnya dengan sengatan listrik.
Saking senangnya Ellena memeluk moncong keras naga tersebut dengan seluruh tubuhnya, membuat nya mirip cicak di kulit naga yang sekerad tembok.
Dari kejauhan salah satu Older Elf berbisik pada Older lainnya, "Baru kali ini aku melihat Sang Naga membiarkan cicak di wajahnya. Jika itu kita pasti sudah mati tersengat."
"Kenapa kau membandingkan dirimu dengan anak kecil?"
"Aku tidak! Cih!"
Kembali pada Ellena.
"Apapun itu, kau sangat kerennn." serunya hingga kemduian Ellena merasa setruman sekali lagi, namun kali ini setruman itu mengenai otaknya.
"Sama... sama... tuanku... "
Eh?
Tanpa melepas tubuhnya yang menempel bagai cicak, kepala Ellena mendongak menatap mata besar hitam yang memandangnya lurus.
"Apa...Yang bicara dikepalaku...apa itu kau?"
Menjawab Ellena, sang naga mendengkur lagi lalu sengatan itu kembali dia rasakan.
__ADS_1
"Saya... Druk... teman... familiar... tuan..."
Jantung Ellena kembali berdebar lebih cepat. Dia kembali merasakan getaran-getaran asing yang terus terjadi seharian ini. Namun berbeda dengan penyangkalan yang terus Ellenalakukan pada Andesz, gadis itu penasaran kenapa dia naga besar nan kuat ini menyatakan diri sebagai teman nya meski ini adalah pertemuan pertama mereka.
"Saya... menunggu... tuan... lama... sejak... ditinggalkan... menjaga... pohon... secuil... Pohon... Kehidupan."
Ellena terus mendengar setiap kata demi kata yang terucap di kepalanya. Druk, sang naga yang bisa bicara di kepalanya nampak kesulitan menyusun kata dengan benar seolah ini adalah kali pertama bicara lagi dengan manusia setelah sekian lama.
Ini terasa konyol tapi Druk, naga ini tidak punya alasan untuk berbohong padanya.
"Druk... aku bukan tuanmu. Aku bukan yang kau tunggu dan aku juga bukan yang meninggalkanmu." Ellena kembali menolak.
Sejak Andesz mengemukakan identitas tak masuk akal tadi siang, Ellena selalu merasa dirinya resah. Logikanya menentang tapi ada bagian dirinya yang terus mengirim sinyal keakaban.
"Aku bingung... dan takut."
Seumur hidupnya Ellena tidak pernah merasa takut. Benar dia ketakutan bila Bibi Em marah atau memiliki niat jahat menambah latihan nerakanya tapi ketakutan yang dirasanya ini berbeda.
Kehilangan jati diri. Disaat Ellena hanya tahu dia adalah Ellena Ellyzzia, keponakan Emily Ellyzzia dari Hutan Outer, bukan kah dia akan gila kalau ada orang lain menyebutnya sebagai sosok lain. Sosok yang tak pernah diketahuinya.
Druk sang naga kembali mendengkur dan menyengat kepalanya, "Tuan...nyata... selalu... pergi... datang... pada akhirnya... tuan... adalah...tuanku..."
Ellena menatap sang naga dan berkata, " Kau harus banyak memperbaiki kosakatamu, Druk."
Druk sang naga mendengus.
"Saya... bicara... tuan... saja..."
"Ya karena kau hanya bisa bicara padaku maka aku akan lebih banyak bicara padamu." Ellena menolak konsep Tuan yang disebutkan Druk tapi dengan sendirinya Ellena memperlakukan naga itu layaknya kawan lama.
"El!"
Tak sadar bahwa dia asik bercengkrama dengan Druk dikepalanya, Ellena lupa bahwa dia masih menempel bagai cicak di moncong Druk. Di belakang, Andesz dan Nora mendekat diikuti Reyna Freya dan Older lainnya.
Adalah Freya yang menghampirinya dengan senyum penuh ekspetasi.
"Wahai, nona kecil, kau nampak sudah akrab dengan Sang Naga Petir Agung, penjaga Pohon Apel Emas, di pulau ini. Luar biasa."
Ellena diam saja tidak menanggapk pujian sang Reyna dan Freya pun nampak tersenyum makluk dengan keterdiaman remaja di depan nya.
"Wahai, aku tahu ada banyak yang ingin kau tanyakan, Nona kecil." Pada bagian ini Ellena mengangguk. Lagi dan lagi Reyna Freya tersenyum makfum
"Wahai, kalau begitu mari duduk. Sudah saatnya kau mengetahui siapa dirimu, nona kecil. Atau lebih tepatnya siapa dirimu dulu."
.
.
__ADS_1
.