![Rise Of Legend [ LIGHTNING]](https://asset.asean.biz.id/rise-of-legend---lightning-.webp)
Untungnya bibi Em memperbolehkan Ellena sarapan.
Pagi itu, saat matahari belum menunjukkan sinarnya, Ellena sudah bersiap di lokasi yang disebutkan bibi Em padanya. Berada di luar area kota, di tanah lapang yang telah di tandai dan sebuah rumah pondok sederhana. Rumah itu mirip semacam camp pelatihan karena banyaknya alat-alat yang menunjang pelatihan fisik.
Tempat ini jauh dari jalur yang biasa di lalui pendatang. Karenanya tempat ini meski berada di tempat terbuka, terlihat sangat sepi.
Ellena menggunakan seragam latihannya. Itu adalah baju yang dibuat khusus oleh bibi Em. Di mansion, Ellena memiliki banyak baju semacam ini karena banyak dari waktunya yang dihabiskan menjelajah hutan atau berlatih dengan bibinya. Tapi karena Ellena sama sekali tidak menyangka akan ada latihan dalam berjualan rutin ke Delos, Emily berbaik hari memberikan baju ini. Dan entah bagaimana menjelaskannya, baju kali ini sedikit berbeda dari biasa.
“Bah! Apa maksud wanita liar itu memaksaku mengajari bocah kurus ini?!” suara rutukan itu menyadarkan Ellena dari lamunanya.
Dari pintu pondok yang dibanting, sosok pria besar dengan otot di sana sini keluar dengan mengerutu kesal. Pria itu nampak berumur baya, lima puluh keatas melihat banyak rambutnya berganti warna putih. Berkumis dan berjenggot tipis serta dahi yang senantiasa mengkerut membuat wajahnya terkesan sangar. Meski begitu aura yang keluar dari pria itu kuat.
Xeain Broklyn adalah mantan kepala prajurit penjaga perbatasan daerah barat—daerah bersinggungan dengan Wood Empire yang terkenal dengan hewan buasnya. Karir nya sebagai kepala prajurit berakhir tujuh tahun lalu setelah peristiwa serbuan hewan buas berskala besar pada pos penjagaan dan menewaskan hampir seluruh bawahannya. Sebagai bentuk pertanggung jawaban, Xeain turun dari jabatannya dan pergi tiada kabar.
Hari masih pagi buta, tapi pria tua nan seram itu sudah membawa segelas botol yang Ellena kenali sebagai arak. Alis menyerngit saat hidungnya mencium aroma alcohol murah yang biasa di minum para petualang saat kosong misi alias miskin.
“Ada apa dengan wajahmu itu hah? Mau ku tampar kau bocah ranting?!” sentak pak tua Xeain—panggilan khusus dari Ellena—kejam dan masa bodoh. Pak tua itu berdiri di hadapan Ellena dan mengamati seksama wajahnya.
Dalam keadaan itu Ellena mati-matian menahan nafas selama mungkin karena tidak ingin muntah dan ditampar oleh pria yang di gadang-gadang sebagai guru barunya.
“Lumayan. Kau punya bakat dalam dirimu bocah.” Ucapnya setelah beberapa lama mengamatai lekat-lekat gadis berpenampilan laki-laki di depannya. Entah guru barunya itu tahu atau tidak identitas sebenarnya Ellena dari bibinya , Ellena tidak akan bertanya dengan sengaja.
“Tapi kau terlalu kurus!”
“Lembek.”
“Payah!”
“Lemah!”
“Kau akan ditangkap dan dijual sebagai budak dengan wajah seperti itu!”
Jika kata bisa membunuh, Ellena pasti sudah mati berkali-kali. Mulut pak tua ini sangat pedas dan menyebalkan.
__ADS_1
“Saya…tidak selemah itu…guru?” Ellena adalah orang yang memiliki ego yang cukup tinggi. Dia memang masih lemah tapi dia berkeyakinan akan bertambah kuat di kemudian hari.
Lalu tanpa di duga sebuah tangan melayang cepat mengarah pada Ellena. Selanjutnya yang terjadi Ellena sudah berada di tanah dengan tubuh sedikit gemetar.
PLAK –“Bocah busuk! Aku bahkan belum mengizinkanmu menjadi muridku dan kau sudah berani membalas perkataanku?!” Xeain memandang kesal bocah kurus yang terbaring di tanah. Dia tidak menggunakan segenap kekuatannya tapi cukup membuat bocah lemah itu mengerti posisinya.
Beberapa hari yang laku Xeain keadatangan tamu tidak di undang. Emily Ellyzzia. Seorang teman lama dari ibu kota. Xeain sudah lama menghilang dan memastikan tidak ada orang yang mengenalnya di pengasingan ini. Tapi Emily dengan santai menemuinya dan meminta bantuan. Apa Xeainppl menolak? Tentu saja. Tapi dia meremehkan wanita liar itu.
Sesuatu tumbuh dalam diri Ellena. Dia mengenali itu. Perasaan negatif manusia—Amarah. Bibi Em selalu mengingatkan Ellena untuk berhati-hati pada emosi jenis ini. Amarah membuat seseorang menjadi lebih kuat tapi dengan bayaran lengah di aspek lain. Ellena memang merasa marah pada pria tua menyebalkan yang berani menamparnya di pertemuan pertama mereka tapi Ellena punya cara nya sendiri.
“Maaf—Maafkan kelancangan saya. Bibi Em tidak memberitahu kalau calon guru saya saadalah orang tua tempramen dan bermulut kotor.” Tukas Ellena seraya bangkit dengan senyuman—senyum ramah tidak tulus yang membuat orang di depannya emosi.
“Apa—”
“Tahu begitu saya membawa sabun dari rumah.” Ujarnya lagi main-main."Mulut anda perlu di bersihkan hingga berbusa. " Ucapan sarkas itu telak membuat pria mabuk itu menjadi emosi.
“Terkutuk!”
Pria tua itu tanpa ampun melempar botol arak cepat kepada Ellena yang dengan gesit dia hindari tapi Ellena gagal melihat serangan lanjutan lawan barunya. Sebuah tinju mengarah padanya cepat tak sempat Ellena mengelak. Ellena merasa ada beberapa tulangnya yang patah. Tapi tidak ada waktu memeriksanya karena serangan lain datang dan Ellena memaksa dirinya untuk bergerak.
Gadis berumur tiga belas tahun itu mengeluarkan dua pisau dan menyerang cepat kedua mata lawan. Pria tua Xeain menangkis serangan dengan mengorbankan lengannya. Tapi Ellena belum selesai. Dia mengeluarkan dua pisau lain yang telah terikat dengan tali panjang. Ellena melempar dua pisau bersamaan—menargetkan kedua kaki lawannya hingga terikat dengan talinya.
Saat Xeain menyadari kedua kakinya telah terikat, dia terlambat bertindak karena Ellena dengan sekuat tenaga menarik kedua tali hingga dia terjengkang ke belakang. Xeain terbatuk sejenak sebelum menyadarkan diri untuk bangun. Tapi sebelum dia bisa beranjak, benda tajam telah berada pada kedua sisi lehernya. Xeain melirik dan mendapati dua pisau bersilang di lehernya serta dua pisau lain di masing-masing pergelangan tangannya.
Pertarungan singkat itu berakhir pada kemenangan telak Ellena. Yah meski itu karena Xeain meremehkan Ellena dari awal.
“Pak tua Xeain, saya telah mendengar beberapa kisah anda dari bibi saya dan saya cukup menaruh hormat karenanya. Tapi saya juga bukan orang tolol yang diam saat tertindas. Meski anda lebih kuat, saya selalu akan mencari dan menemukan cara untuk mengalahkan musuh saya.” Perkataan Ellena mengalun bertepatan dengan terbitnya matahari. Xeian sempat terpaku dengan sosok bocah kurang ajar yang berhasil membuatnya terdiam beberapa saat.
“Kau banyak bicara bocah. Singkirkan mainan mu.” Dia bilang mainan tapi Xeain sendiri tidak berani resiko dengan nekat melukai atau bahkan menebas tangannya sendiri. Dia sudah tua dan butuh kedua lengannya utuh. Pisau-pisau ini tajam juga.
Tapi Ellena juga seorang bocah pendendam jadi…, “Baik tapi sebelum itu kenalkan nama saya El, Tuan Xeain.” Ujarnya dengan nada seramah mungkin.
“Aku tidak butuh namamu! Cepat lepaskan aku.” Bentak Xeain emosi.
__ADS_1
“Panggil saja El, Tuan Xeain.” Ujar Ellena lagi seolah Xeain tidak bisa mendengarnya.
“Ck, masa bodoh bocah, cepatlah!”
“Nama saya El, pak tua.” Ellena belum menyerah. Bahkan dia dengan sengaja memangganti panggilan ‘Tuan’ ke ‘Pak tua’ lagi.
“Kau—“
“El. Bukankah nama saya sangat sederhana?”
“Apa peduli—“
“Oh? Apa anda sudah tidak bisa mendengar dengan baik, pak tua? Maafkan saya, saya lupa orang tua seperti anda rata-rata memang biasa mengalami ketulian dini.”
“Bocah busu—“
“Kalau begitu saya akan melapor pada bibi saya sementara anda bisa santai dulu. Saya akan kembali setelah…yaah petang nanti.”
Mata Xeian melotot dan hampir keluar dari rongganya saat Ellena benar-benar membalikkan badan dan berjalan menjauh.
Bocah itu berniat membuat nya terkapar di tanah dan terkena terik matahari sepanjang hari? Sialan!
Akhirnya Xeain menyerah.
“BOCAH KURANG AJAR! BAIK, NAMAMU, EL—SI BOCAH EL, KEMARI DAN BEBASKAN AKU RUBAH KECIL!” raungan Xeain bahkan membangunkan burung-burung yang masih bertengger di pepohonan.
Sementara Ellena menyeringai puas sebelum kembali polos tak berdosa saat menghadap kembali pada pria malang yang dia kerjai.
“Lain kali saya akan tetap membawa sabun.”
Untuk mencuci mulut kotor pria tua yang saat ini tiada henti mengutuk Ellena dengan bahasa yang lebih beragam.
.
__ADS_1
.
.