![Rise Of Legend [ LIGHTNING]](https://asset.asean.biz.id/rise-of-legend---lightning-.webp)
“Mau kemana kita El?” tanya Nora yang sedari tadi mengikuti langkah Ellena kembali ke dalam kota Delos.
Aktifitas warga mulai nampak saat cahaya metahari menyentuh daratan. Langit biru tanpa awan diatas sana. Menandakan hari cerah yang menyenangkan untuk keluar rumah.
Ellena tidak berhenti berjalan dan menjawab, “Kita akan membeli beberapa kebutuhan. Pakaian, sepatu, tenda, makanan kering, bumbu dan beberapa peralatan memasak.”
Nora yang mendengar jawaba tuannya tidak bisa tidak bertanya bingung, “Untuk apa semua itu El?”
Ellena mengangkat bahu acuh, “Dulu aku melakukannya karena bosan dan berpikir untuk menyetok persedian saat akan kembali pulang. Lagi pula kebanyakan yang ku beli adalah untukmu." Jelasnya.
“Untukku?”
“Iya. Aku sudah memiliki barang-barang itu di tas untukku sendiri. Sekarang karena aku merasa kau akan sering menempel padaku jadi sekalian saja. Uangku juga masih banyak.” Sekali lagi Ellena mengatakan itu dengan nada santai. Dia tidak melihat wajah Nora yang tersentuh olehnya.
“Oh kecuali peralatan masak. Itu khusus untukmu. Sekarang karena aku tahu kau bisa memasak dengan baik, aku berharap tidak pernah kelaparan ke depannya. Tenang saja, bahan tinggal kau sebutkan dan akan aku carikan.” Nora tertawa kecil lalu mengangguk-angguk mengerti. Senang rasanya Ellena menyerahkan urusan perut kepadanya. Meski cuma sederhana tapi ini menunjukkan kepercayaan Ellena kepadanya sangat besar.
“Aku mengerti. Kalau begitu bisa kita mampir ke toko buku? Aku ingin mencari buku resep.” Ellena mengangguk setuju.
Tiga jam kemudian Ellena dan Nora hampir mendapat semua yang ingin mereka beli—Ellena beli—hingga yang tersisa hanya buku pesanan Nora. Sekarang mereka berdiri di toko terbesar yang dimiliki Delos, toko Tori Book.
Ting
“Halo, selamat datang di Tori Book. Buku apa yang ingin anda baca hari ini, pelanggan yang budiman?” sapaan ramah menyambut kedatangan Ellena dan Nora. Seorang gadis muda—lebih tua dari Ellena tapi lebih pendek darinya, tersenyum lebar.
Ellena membalas dengan senyum sopan, “Apa kau memiliki buku resep?” tanya langsung tanpa basa-basi.
__ADS_1
Senyuman si pegawai semakin lebar, “Tentu saja Tori Book punya buku resep, kami memiliki cukup banyak resep seluruh wilayah Shinetheria hingga ke makanan dari khas Wood Empire. Ikuti saya.” Kali ini Nora yang pertama mengikuti.
Bocah cantik itu tampak semangat mendengar penjelasan pegawai bernama Gler tentang rekomendasi makanan yang lezat dari yang murah hingga mahal karena bahannya yang langka. Sementara Ellena mengikuti agak terbelakang. Gadis berpenampilan ala lelaki itu berjalan menyusuri rak demi rak dan membaca setiap judul ketegori buku diatas rak dengan hati-hati.
Ellena selalu menyukai buku. Di mansion Del Selto tiada buku yang belum di bacanya. Dia sudah beberapa kali melewati toko ini tapi tidak pernah masuk karena dulu dia benar-benar sibuk membantu bibi Em. Selain itu bibinya melarang dirinya membaca saat bekerja karena kebiasaan Ellena yang jadi lupa waktu dan dunia.
Kemudian sebuah rak buku menarik perhatian Ellena. Dia mendekati rak tersebut dan mengambil salah satu buku yang paling tebal. Buku itu berjudul Divernia’s Monsters Edisi I ; berisi berbagai hewan jenis monster buas tingkat rendah yang diketahui dan dikalahkan.
“Belajar untuk ujian?” suara laki-laki yang tiba-tiba muncul disampingnya hampir membuat Ellena melempar buku itu ke asal suara.
Pegawai toko, mungkin, nampak berumur tujuh puluh keatas dengan seluruh rambut dan jenggotnya yang sudah memutih.
Kalau saja reflek Ellena tidak cepat, pria tua di hadapannya tidak bisa tersenyum ramah seperti sekarang.
Di Guild Petualang, ada beberapa sistem untuk menaikkan status Rank. Bagi ranker bawah seperti E yang ingin naik ke rank D, maka cukup mengumpulkan poin kontribusi yang telah ditentukan dengan menyelesaikan banyak misi kemudian menukarnya dengan Admin Guild terdekat dan selesai. Cara ini digunakan hingga naik ke tingkat C.
Sedangkan untuk naik ke rank yang lebih tinggi seperti B keatas, anggota tidak lagi menukarkan poin melainkan mengikuti Ujian Ranker. Ujian ini dimaksud memastikan para Rank B ke atas ialah para member elit yang memiliki pengetahuan luas dan Pengalaman serta bisa menjadi contoh Rank di bawahnya. Karena menjadi Rank atas berarti siap ditempatkan di garis depan saat keadaan mengharuskan.
Ujian Rank ada 2 tahap; Tahap Tertulis dan Praktik. Tahap tertulis sudah jelas bertujuan menguji sejauh mana pengetahuan para Ranker. Sejauh mana mereka mengetahui hewan buas dan monster , cara bertahan hidup, melaksanakan misi dan lain-lain. Sedang tahap praktik ialah tahap dimana ranker yang lolos Tes Tertulis akan di berikan misi khusus. Misi berkelompok, terdiri beberapa kelompok dengan ketentuan dari panitia. Tujuan nya untuk menyaring petualang ynga cerdas dan tangguh serta bisa diajak berkoordinasi dalam tim. Karena saat terjadi bencana atau krisis, orang tolol yang cuma bisa membuat kekacauan ialah bencana sesungguhnya.
Cara terakhir untuk naik Rank ialah di akui langsung oleh petinggi Guild dengan sejumlah saksi minimal 3 orang. Cara ini cuma terjadi sekali selama Guild Petualang berdiri.
Dalam kasus Ellena, selama tiga tahun tertahan di Rank C , dia tidak berpikir butuh menyiapkan materi untuk Ujian nanti. Dipikirnya tidak mungkin soal-soal ujian bisa diprediksi begitu saja kan? Lagi pula kurang membaca apalagi Ellena?
“Soal-soal Ujian selalu berbeda tapi bukan berarti panitia memberi soal asal-asalan. Materi untuk Ujian tertulis selalu sama, tapi karena tidak semua orang sanggup membaca semua ini, kebanyakan orang hanya mengandalkan keberuntungan semata.” Ellena mengangguk-angguk mendengar penjelasan pria tua tersebut.
__ADS_1
Ellena melihat harga buku ditangannya lalu harga buku yang lain seraya menghitung sisa uang di tas miliknya.
“Tuan, apa toko mu memperbolehkan pembeli membaca disini?” tanya Ellena.
Seolah tahu kearah mana pertanyaan Ellena, pria tua itu kemudian tersenyum ramah,” Anak muda, apa kau seorang Petualang?”
Ellena mengangguk, “Maka kau boleh membaca semua buku di rak ini dengan mambayar tiga koin perak serta tidak boleh membawa pulang buku-buku ini.” Kata pria tua tersebut yang langsung disambut senyum cerah dan mata berbinar Ellena.
“Anda sangat murah hati Tuan. Terima kasih.” Ellena tidak pernah sungkan berterima kasih pada orang-orang baik seperti pria tua di depannya. Dia bahkan memberikan lima koin perak sebagai ungkapan senangnya pada pelayanan toko ini.
“Kau boleh menggunakan meja disana. Aku akan mengambil cemilan untuk menemanimu belajar.” Setelah berkata seperti itu pak tua—yang kemudian diketahui bernama Isaac—pergi meninggalkan Ellena yang kini membuka buku pertamanya.
Tak lama Nora datang dengan membawa lima buku dipelukannya, “El, aku sudah selesai.” Katanya.
Ellena mengangguk dan memberikan satu koin emas kepada Nora. Sempat bocah itu menolak karena dia memiliki uang yang cukup untuk membeli bukunya tapi Ellena memaksa menggunakan uangnya.
“Aku akan disini sebentar belajar untuk ujianku. Tenang saja, aku tidak akan lama.” Nora mengangguk mengerti meski tidak yakin tuannya akan cepat selesai. Dia juga senang membaca tapi kalau Ellena berniat menghabiskan lebih dari seratus buku, tidak mungkin sebanyak itu bisa dihabiskan dalam waktu sebentar.
Tapi ternyata Nora belum cukup lama bersama dengan Ellena. Bocah setengah manusia itu tidak bisa menahan mulutnya tidak terbuka saat melihat kecepatan membaca tuannya. Nora yakin Ellena masih membaca halaman pertama semenit lalu dan matanya pasti berbohong karena kini melihat tuannya yang kadang masih kejam padanya sudah setengah jalan alias setengah buku setebal dua senti telah dibaca.
.
.
.
__ADS_1