Rise Of Legend [ LIGHTNING]

Rise Of Legend [ LIGHTNING]
Bab 40 Badai Kedua


__ADS_3

Badai juga menerpa tempat lain.


Devisi Pengrajin pun tidak elak dari kerusuhan yang Ellena bawa. Sebenarnya Devisi ini hanya ditugaskan mendaur ulang armor milik Ellena dan Nora menjadi lebih kuat dan menambahkan sihir. Tapi sialnya, Ellena yang kala itu mampir tiba-tiba berujar dia memerlukan pakaian untuknya dan Nora. Tentu nya permintaannya ini langsung dilaksanakan. Para Tinker pengrajin sedikit berbeda dengan Devisi Senjata. Mereka ini justru semangat saat Ellena meminta banyak baju. Terlebih saat Ellena memberikan spesifikasi dan sketsa kasar bagaimana baju yang dia inginkan. Para Elf pengrajin yang haus akan ide dan kreatifitas merasa tertantang untuk menyelesaikan pesanan gadis itu. Akibatnya bukan hanya pesanan Ellena saja, para Elf ini bahkan menambah pernak pernik lain yang tidak dibutuhkan. Yang repot justru Ellena yang tak sekali dua kali di seret untuk dimintai saran.


Di tempat lain juga diterpa badai. Kali ini sasarannya adalah para Elf penyembuh, yang mana Nayla Elf yang merawat Ellena, termasuk di dalamnya.


"1000 potion Bunga Bintang? Untuk masing-masing bunga? " suara Nayla yang halus hampir terdengar seperti orang tercekik, "El, aku ingin sekali membantumu. Tapi aku dan teman-teman ku tidak bisa menyediakan potion sebegitu banyak nya dalam waktu singkat. Bahannya pun kami juga tidak punya sebanyak itu." kata Nayla yang menyesal sekaligus gemas pada Ellena.


Bunga bintang sudah terkenal sebagai tanaman obat sejak dahulu kala.Terlebih Bunga Bintang Pelangi, obat itu bisa digunakan untuk semua ras hingga menjadi incaran banyak orang. Singkatnya obat semacam itu berharga.


Sebenarnya ada lebih dari cukup persediaan untuk membuat pesanan Ellena. Namun itu adalah persediaan milik Desa Sylfhim untuk kebutuhan sendiri. Terlebih yang berbentuk potion. Tanaman obat yang sudah diolah menjadi potion biasanya lebih efektif dicerna tubuh dan lebih mahal dijual. Tentu membuatnya lebih susah.


Nayla dan teman-temannya bis membuatnya tapi dia tidak bisa menggunakan persedian itu untuk simpanan Ellena. Guardian atau bukan, keselamatan untuk sukunya lebih penting dari apapun.


Ellena yang diberitahu begitu tidak menyerah, "Kalau aku bisa menyediakan Bunga Bintang, apa kau bisa membuatkanku potion nya?"


"Sebanyak yang kau mau." Jawab Nayla mantap.Tentu jika Ellena memiliki Bunga Bintang nya sendiri maka masalah selesai.


"Baik, aku akan mengingatnya. Tapi untuk sekarang, apa aku bisa mendapat beberapa potion untuk berjaga-jaga saat berburu?" tanya Ellena dengan muka dibuat memelas. Remaja satu ini benar-benar pintar memanfaatkan wajahnya.


"Tentu El. Aku akan memberimu masing 10 potion Bunga Bintang Merah, Ungu dan Biru."


"Potion Bunga Bintang Pelangi?"


"Aku akan memberimu 5 botol." kata Nayla.


"Cuma 5?"


"......"


"Hehe, terimakasih Nayla."


***


Secara harfiah Ellena memang membawa badai pada seluruh penduduk Desa Sylfhim sejak kedatangannya yang tidak lazim. Tidak cukup kehebohan atas dugaan (ini hanya Ellena yang masih menolak kenyataan) bahwa si gadis berambut ungu dan bermata emerald adalah salah Guardian dalam legenda, Ellena juga membuat desa para Elf ini cukup sibuk.


Yah meski beberapa pihak mengeluh, sebenarnya kebanyakan dari mereka senang. Baik Ellena, Nora dan Andesz disambut dengan hangat di desa ini.


Nora menjadi lebih ceria dan semangat belajar apapun yang dia bisa. Pun sihir alam miliknya yang bertambah kuat dengan bimbingan salah satu Older yang tertarik pada bakat Nora. Ternyata bakat alam yang bisa menumbuhkan tumbuhan sesukanya seperti Nora tergolong langka, bahkan di kalangan Elf yang merupakan ras yang dekat dengan alam. Biasanya Elf hanya bisa menyihir tanah menjadi lebih subur dan mengatur suhu yang tepat untuk pertumbuhan tanaman terbaik.


Bakat sihir alam Nora jelas menakjubkan. Sayangnya Nora hanya bisa menumbuhkan tanaman yang dia tahu. Pun ada dugaan kekuatan Nora terpengaruh emosinya dan faktor luar yang aneh. Saat latihan Nora hanya bisa menumbuhkan beberapa puluh tanaman saja. Berbeda dengan sebelumnya kala di Delos lalu, Nora bisa menumbukan ribuan Bunga Bintang sekaligus. Lalu saat Ellena ikut melihat latihan Nora, tumbuhan yang keluar mencapai ratusan.

__ADS_1


Tentu saja membuat bingung Older Pyne, Elf pria yang tertarik dengan bakat Nora, dan semua murid sang Older.


Ellena yang melihat itu menggeleng prihatin, "Nora, berusahalah lebih keras tanpa harus mencoba pamer kepadaku."


"EL! Aku tidak begituuuuuu... " Nora yang malang hampir menangis di goda demikian.


Pada latihan selanjutnya Nora berhasil menumbuhkan lebih banyak tumbuhan saat tanpa Ellena melihat, tapi Nora menjadi cepat pusing.


Saat tahu hasilnya, sekali lagi Ellena iseng mengolok adik angkatnya, "Bilang saja kau jadi latihan semangat setiap ada aku kaann?"


Wajah Nora terbakar merah digoda seperti itu tapi bocah sepuluh tahun itu tidak membantah. Sontak saja Ellena terbahak-bahak karenanya.


"EL!


Lain dengan Andesz, pria tampan itu menghabiskan waktu dengan berlatih pedang seorang diri. Yah dibilang seorang diri juga tidak karena setiap Andesz berlatih pasti banyak Elf wanita berbaris dan menyebar untuk menontonnya mengayunkan pedang.


Bagaimana tidak bila setiap berlatih Andesz selalu membuka atasan bajunya. Tubuh tegap terlatih, dada bidang, lengan kuat berokot cukup, dan 6 lekukan di perutnya, terlebih wajahnya yang tampan. Bagi para Elf wanita yang kurang asupan pria tampan selain ras mereka sendiri, tentu pemandangan itu cukup menyegarkan mata. Bahkan ada beberapa Elf wanita muda yang diam-diam merekam Andesz untuk simpanan pribadi.


Ellena sendiri mengakui Andesz adalah pria yang enak dipandang. Setidaknya pria itu tidak seperti para paman yang jelek, gendut atau biasa saja yang sering dia temui di Desa Lily.


Tapi Ellena benar-benar tidak tahu letak kelebihan Andesz hingga membuat para wanita Elf menjerit saat menggerakkan salah satu teknik pedang dasar. Menurut Ellena, Andesz terlihat seperti sedang bermain-main dan sok keren.


"Tuan Andeszzz... anda sangat tampan."


"Andesz yang tampan, rumahku sepi hari ini."


Terus kenapa kalau rumah sepi? Duh! Sebelum telinganya tercemar lebih jauh, Ellena langsung menjauh dari tempat itu.


...


Bagi Ellena sendiri, dia menghabiskan 7 hari sebelum jadwal berburunya untuk berlatih mandiri. Mirip seperti Andesz, Ellena melatih jurus-jurus yang dipelajarinya dari Xeain dan terus melakukan latihan untuk tubuhnya.


Sejak bangun dari koma selama 2 minggu, Ellena menyadari bahwa tubuhnya mengalami beberapa peningkatan yang cukup mengejutkan. Gerakannya menjadi lebih cepat, stamaninya meningkat dan beberapa massa otot yang bertambah di lengan dan pahanya. Selain itu, matanya. Ellena merasa. matanya menjadi lebih jelas lagi.


"Druk!"


Ellena bukannya sendiri. Gadis itu memilih Taman Eden untuk berlatih tentu dia akan bertemu dengan Druk, si naga hitam besar yang asik bergulung di bawah Pohon Apel Emas.


"Aku mau tanya." orang lain akan menganggap Ellena gila jika mendengarnya berbicara bahkan bertanya pada Monster. Tapi bagi Ellena ini sangat keren hingga pada titik dia tidak peduli pendapat orang lain soal ini.


Druk mengangkat kepalanya dari pembaringan dan menjulur mendekati Ellena. Tangan sang gadis otomatis menyentuh moncong sang naga dan terasa sengatan kecil pada otaknya, "Silahkan Tuan El."

__ADS_1


Oh ya Druk tidak lagi berbicara patah patah.


"Waktu itu aku pertama kali bertemu denganmu, apa yang kau lakukan padaku hingga seluruh tubuhku membaik cuma kau setrum?"


Elusan tangan Ellena membuat Druk mendengkur kecil, "Saya memberi setetes energi saya untuk anda serap dan mempercepat pemulihan anda."


Mendengar hal ini jelas alis Ellena terangkat, "Kau bisa melakukan itu?"


"Semua Familiar adalah milik tuannya. Familiar tidak berarti tanpa tuannya. Familiar ada untuk tuannya."


"Kenapa kau malah berpantun seperti orang tua, Druk?" kata Ellena malas karena lagi-lagi dia mendapat petuah penuh makna nan ribet. Ellena itu cerdas, sungguh, tapi saat mendengar kalimat semacam ini Ellena menjadi gemas. Ah ya Druk kan memang tua! usianya lebih dari 5000 tahun.


Druk menghembuskan nafas dari hidungnya agak keras kearah Ellena, "Baik-baik, aku serius. Aku tidak mau bilang kalau aku tuanmu, " Ellena masih tidak terima bahwa dia dan tuannya Druk adalah orang yang sama, " Tapi untuk memudahkanmu, anggap saja begitu. Jadi singkatnya selama aku ingin atau perlu, aku bisa menggunakan energi mu untukku?"


"Hingga tetes terakhir hidup saya adalah milik tuan."


Kali ini dahi Ellena yang berkerut, "Terdengar kejam. Jika kau Familiarku---" "Saya Familiar tuan." "Ya ya terserahmu, aku mana mungkin menguras habis energimu, Druk. Kalau seperti itu kau akan mati kan?"


Druk tidak menjawab Ellena namun menggesek moncongnya lembut pada waja Ellena. Wajah sangar sang nada nampak melembut pada sang gadis yang jauh lebih kecil darinya.


"Tuan masih sama. Familiar Druk akan mengabdikan hidupnya kepada Tuan El."


Ellena kira dia salah saat merasakan perasaan semacam ini. Perasaan akrab yang kian terasa tiap kali bahasan yang berhubungan dengan Guardian terungkit. Yang paling terasa adalah saat bersama Druk. Naga Hitam yang diagung-agungkan penduduk Sylfhim itu seolah telah menjalin ikatan kuat dengan Ellena tanpa gadis itu ketahui kapan.


Ellena tidak bisa memungkiri bahwa selain berbicara dengan Druk, terkadang--benar-benar terkadang, Ellena dapat melihat ingatan Druk. Ini tentu mengagetkannya. Dimana Ellena melihat seorang wanita berambut ungu tanpa wajah meninggalkan Druk kemudian menghilang.


Perasaannya sesak tanpa diminta. Ellena merasa sedih pada sesuatu yang bukan dilakukannya, selain karena kekuatan bisa membaca pikiran yang baru ditemukannya.


"Ini gila."


Ellena benar-benar tidak menganggap dirinya adalah Guardian. Tapi sejauh ini bukti terus bermunculan dan mengarah pada dirinya yang merupakan tokoh dalam legenda itu.


Bila hal semacam itu benar, bukankah harusnya Ellena marasa senang dan bangga pada dirinya? Hek, dia diramalkan memiliki kekuatan semesta dan akan menyelamatkan dunia! Siapapun akan melompat dan terbang ke langit ketujuh jika memiliki takdir semacam itu.


Tapi....


Kenapa yang dirasakan Ellena justru kesepian dan kesedihan tidak berujung?


Perasaan ini sungguh menyesakkan.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2