Rise Of Legend [ LIGHTNING]

Rise Of Legend [ LIGHTNING]
Bab 16 Pertemuan Ketiga


__ADS_3

Ellena membiarkan Nora sesukanya karena dia tahu sedari bocah itu gelisah sejak memasuki gedung Guild. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Admin menyelesaikan urusannya—entah apapun itu.


“Petualang El, silahkan mengikuti rekan saya ke ruang Ujian Tertulis. Semoga berhasil.” Ellena mengangguk berterima kasih dan mengikuti seorang laki-laki muda berseragam yang mirip di gunakan oleh Admin Amel.


Petugas itu membimbing Ellena dan Nora hingga ke sebuah ruangan tidak terlalu besar yang berisi lima meja panjang dan kursi serta satu meja diatas panggung di depan ruangan.


“Semoga berhasil dalam Ujian Tertulis anda, Petualang.” Ujar petugas tadi lalu meninggalkan ruangan tersebut.


Di dalam sana terdapat lima orang yang duduk berpencar di meja panjang. Selain itu lima orang lainnya yang berdiri merapat di tembok. Mereka nampak tidak seperti pengawas Ujian bagi Ellena—yah bukan berarti dia tahu karena ini juga Ujian pertamanya.


Tak lama seorang pria dewasa masuk dengan seorang pria lebih muda yang membawa lembaran kertas. Pria dewasa yang mengenakan atribut mewah layaknya seorang bangsawan membuka suara, “Selamat siang para Petualang. Ujian Tertulis Kenaikan Rank akan segera dimulai. Bagi yang bukan peserta diperbolehkan tetap di ruangan selama tidak mengganggu atau duduk di samping peserta.” Jelas pria tersebut.


Ellena mengambil tempat duduk yang jauh dari peserta lain, di bangku terdepan yang kosong melompong tiada yang menempati. Sementara Nora dia suruh untuk berdiri menunggu di sisi tembok samping kanannya. Pria yang lebih muda—seorang petugas Guild, membagikan para peserta kertas soal dan pensil.


“Tidak boleh ada kecurangan. Pelanggaran yang dilakukan selama Ujian akan berakibat ditahannya kartu Guild selama tiga bulan, yang artinya pelanggar tidak bisa mengambil misi dan menjual apapun kepada Guild selama masa hukuman.” Peringatan pengawas Ujian dibalas anggukan mengerti Ellena dan peserta lain.


“Waktu kalian satu jam untuk mengerjakan. Di mulai dari...Sekarang!”


Selanjutnya yang terdengar di ruangan tersebut ialah suara kertas yang bergesekan dengan pensil dan deru nafas para penghuninya. Sesekali terdengar batuk atau suara tercekat—Ellena yakin itu pasti dari salah satu peserta Ujian lain.


Ellena sendiri mengerjakan soal Ujian dengan tenang. Di lihat sekilas soal-soal itu berisi pertanyaan tentang pengetahuan umum tentang monsters, hewan buas, tumbuhan liar, obat hingga barang-barang langka.

__ADS_1


Ada lima puluh soal terdiri dari tiga puluh pilihan ganda, sepuluh soal uraian, dan sepuluh tersisa agak berbeda karena peserta diminta memberi pendapat tentang masalah yang tertera pada soal.


Ellena mengerjakan soal-soal tersebut tanpa kendala berarti. Terima kasih kepada Isaac yang telah membiarkannya membaca buku-bukunya, kebanyakan soal bisa di kerjakan dengan mudah dan tepat. Setengah jam kemudian Ellena selesai mengerjakan soal pilihan ganda dan Uraian. Gadis itu membutuhkan waktu lebih banyak untuk memahami sisa soal dan menjawabnya.


Suasana masih hening hingga pada menit ke empat puluh lima suara pekikan mengagetkan Ellena. Dia menoleh dan mendapati Pengawas Ujian tengah membekuk salah satu orang yang berdiri merapat ditembok. Dengan matanya yang istimewa Ellena melihat pria yang dibekuk Pengawas menggenggam sebuah kertas di tangannya. Sebuah contekan. Dia juga melihat salah satu peserta berwajah sangat pucat, kemungkinan itu patnernya.


“Kecurangan dalam Ujian tidak di tolerensi. Sebagai Petualang tidak cukup kekuatan tapi kepatuhan pada peraturan juga diperlukan.”


Pengawas Ujian melepas pria yang dibekuknya dan mengambil kertas contekan beserta kertas soal peserta, “Tuan Roin, silahkan keluar dari ruangan ini.” Ujarnya dingin—sedingin Es beku yang membuat merinding semua orang yang mendengar bahkan Ellena.


Semua orang menatap dalam diam saat pria bernama Roin dan temannya keluar dari ruangan dengan kepala tertunduk kesal. Pengawas lalu menyuruh peserta kembali mengerjakan Ujian.


Tepat satu jam sejak Ujian dimulai pengawas Ujian akhirnya bersuara kembali, “Waktu selesai. Semua orang silahkan keluar. Peserta bisa melihat hasil Ujian di papan pengumuman dalam waktu satu jam ke depan. Terima kasih.” Setelah itu semua orang serentak beranjak dari ruangan.


Karena risih dengan pertanyaan bertubi Nora, dengan sengaja gadis yang sekarang lebih tinggi dari sebulan lalu menyentil dahi Nora agak keras, “Kau cerewet. Intinya aku yakin lolos Ujian tertulis ini meski tidak yakin sepuluh soal terakhir—tapi aku yakin aku pasti berhasil.”


Nora mengangguk agak cemberut seraya mengelus pelan dahinya. Tuannya ini semakin hari semakin kuat dan kejam saja. Tuannya seorang gadis tiga belas tahun tapi berpenampilan laki-laki berumur tujuh belas. Tinggi Ellena sekarang mencapai 168 sentimeter, padahal sebulan lalu masih 160.


Emily sekali lagi mengatakan Ellena adalah anak yang istimewa. Selain kemampuan membaca, stamina serta matanya, nyatanya tubuh Ellena juga tidak seperti orang sepantaranya. Ellena selalu lima atau bahkan sepuluh senti lebih tinggi dari sebanyanya. Sekarang di usianya yang tiga belas, Ellena nampak seperti gadis—pemuda tujuh belas tahun. Dan tinggi Ellena masih akan terus bertambah.


“Boleh kami duduk disini?” Atensi keduanya langsung teralih pada suara yang baru datang. Mereka menoleh dan mendapati ada empat orang asing sekaligus familiar . Ekspresi Ellena yang tadinya cuma datar sedikit beriak. Menatap tidak berminat pada laki-laki berambut hitam yang sudah 2 kali ditemuinya.

__ADS_1


“Masih banyak tempat kosong, Tuan. Anda bisa duduk selain disini.” Jawab Ellena atas pertanyaan laki-laki tersebut datar tanpa berusaha tersenyum.


Tapi bukannya merasa tersinggung laki-laki itu justru terkekeh kecil dan menenangkan teman perempuannya yang bersiap maju, “Aku dan teman-temanku orang baru di Delos jadi agak kurang nyaman dengan kerumunan hingga aku melihatmu. Senang akhirnya ada yang ku kenal disini.” Ellena menggeleng tidak setuju dengan perkataannya.


“Tuan, ada yang harus sedikit diluruskan disini. Saya tidak mengenal anda.” Ucap Ellena tegas dan menekan baris kalimat tidak mengenal pada pria di depannya ini.


Namun seolah sudah kebal dengan ucapan pedas Ellena, pria itu justru tanpa di minta duduk di kursi hadapan Ellena seraya berkata, “Kalau begitu mari saling mengenal. Kau El bukan? Aku Andesz dan mereka teman-temanku.” Lalu tanpa diminta pria bernama Andes mengenalkan rombongannya.


Pria yang bersamanya saat datang ke toko bernama Kirein. Yang bertubuh besar dengan perisai yang juga besar di punggung adalah Max. Lalu terakhir perempuan yang menatap jutek Ellena bernama Luxia. Perempuan itu membawa busur besar dan anak panah di balakang tubuhnya.


Ellena menatap tidak percaya Andesz. Pria yang ditatap balas menatap tapi dengan seringai yang dirasa menyebalkan. Merasa bahwa pria di depannya tidak paham bahasa manusia, akhirnya Ellena menghela nafas dan mengangguk sebagai respon.


“Sebagai bentuk kesopanan ajaran bibi saya, saya El dan ini adik saya Nora.” Katanya menepuk lembut kepala Nora yang tertutup tudung.


“Apa adikmu pemalu?” tanya Andesz


“Tidak, dia ketakutan. Maklumi saja, adikku cuma begitu pada orang asing tidak tahu diri dan tidak paham bahasa manusia.” Sindir Ellena masih menatap datar Andesz. Sekali lagi, pria itu bukannya tersinggung malah terkekeh seraya berguman ‘Lucu’ dengan sangat pelan.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2