Rise Of Legend [ LIGHTNING]

Rise Of Legend [ LIGHTNING]
Bab 66 Ibu


__ADS_3

Tiada yang bersuara saat Naga Agung Druk melahap pemimpin suku Dark Elves sekaligus pendosa dari Desa Sylfhim ratusan tahun lalu. Semunya menganggap itu adalah penebusan dosa paling ringan untuk apa yang Frega perbuat.


Setelah apa yang dia lakukan pada Ellena.


Andesz tidak membuang waktu terpaku. Pria itu berlari ke arah tubuh Ellena yang tergeletak tak berdaya. Saat jari jarinya menyentuh tubuh dingin sang gadis, nafas Andesz seolah berhenti sesaat.


"El... kumohon, bertahanlah." Andesz kembali merasa matanya memanas saat memeluk tubuh Ellena dalam dekapannya. Kemudian dia mengangkat tubuh lemah itu dan berteriak pada sang naga.


"Naga Agung!"


Cukup satu seruan dan naga hitam besar itu mengerti. Kepalanya menunduk, moncongnya menyentuh lembut kepala Ellena. Mengirim sengatan kecil, demi memeriksa sejauh mana kondisi tuannya.


Andesz tidak tahu apa maksudnya, tapi tiba tiba saja Naga Agung Druk menggeram. Seolah tidak senang pada sesuatu...atau apa itu tatapan seorang peliharaan yang khawayir pada hidup tuannya?


Tentu saja. Andesz pun seperti akan gila karena dia hampir tidak menemukan tanda kehidupan pada Ellena.


Naga Druk kemudian memberikan punggungnya untuk Andesz naik. Jika kondisinya lain, Andesz akan merasa terhormat pada kesempatan itu. Tapi selain rasa khawatir, tidak ada yang Andesz rasakan. Ellena benar benar sekarat dilengannya dan harus segera di selamatkan.


"Tuan Andesz! Mohon pastikan Nona El selamat!" seru salah satu prajurit Desa Sylfhim.


"Nona El harus selamat!"


"Nona El kami..."


Ada rasa hangat yang tumbuh dalam dadanya saat mengetahui ada banyak orang yang peduli pada Ellena. Gadis ini, gadis yang sering kali mengoloknya dan menistakan banyak orang, ternyata disayangi banyak orang. Meski beberapa hanya peduli pada stutus Ellena sebagai Guardian, tapi itu cukup.


Diatas punggung Naga Druk yang bersiap terbang, Andesz berbisik di telinga Ellena, "El, kau sangat berharga untukku dan banyak orang. Jadi, kumohon jangan mati didepan mataku.

__ADS_1


...


Saat membuka matanya, iris emerald Ellena mendapati langit langit kayu yang asing. Belum cukup, gadis itu hampir berteriak lantaran baru menyadari tubuhnya terendam air. Air bening namun memancarkan sinar kehijauan di dalam sebuah bak bulat setinggi satu meter dengan lubang diatasnya. Parahnya tubuhnya juga telanjang.


Gadis biasa akan berteriak panik. Sayangnya Ellena cukup mampu mengendalikan diri dan tenang sedikit karena merasa tidak ada orang lain yang melihatnya telanjang.


Dia bergegas keluar dari bak bulat tersebut dan secara ajaib, sebuah pakaian langsung menutupi tubuhnya. Itu adalah 'Elfhim Fashion', baju elastis nan magis dari merek buatan Medea, pemimpin Devisi Kerajinan Desa Sylfhim. Lengkap dengan armor sisik naganya. Set pakaian yang dia gunakan terakhir kali.


Hm? Bukannyan bail armor maupun bajunya sobek ya? Mengingat Naga Orochi mengoyaknya dengan gigi tajam mereka.


He? Tunggu!? Ellena langsung mengingat ingatan terakhirnya.


Si bajingan Frega menumbalkannya pada Naga Orochi yang kemudian mengoyaknya dengan gigi gigi tajamnya. Ellena ingat sekali rasa sakit yang amat terasa menembus perutnya hingga dia langsung kehilangan kesadaran.


"Hm... tidak bolong." saat memerik perutnya, tidak ada dagingnya yang hilang. Perutnya masih kecil tanpa lubang menganga. Pun seluruh tubuhnya terasa baik tanpa luka. Ellena pun akhirnya bisa menggerakkan tubuhnya lagi setelah sebelumnya merasa seperti orang menderita kelumpuhan seluruh tubuh.


Ellena mengamati tempatnya berada. Tempat ini asing sekaligus familiar. Yang membingungkan Ellena tidak merasakan bahaya apapun dari tempat asing ini. Ruangan kayu ini benar benar kosong dan hanya berisi bak bulat yang air tak lagi bersinar. Hm... kalau dipikir pikir Ellena mirip anak ayam yang baru menetas dari telurnya. Bedanya Ellena langsung besar.


Memutuskan tidak mendapati apapun di ruangan itu, Ellena keluar melalui satu satunya jalan keluar yang terlihat. Tepay saat Ellena menginjakan kaki pada rerumputan hijau, angin sepoi menerbangkan surai ungu panjangnya serta matahari yang bersinar terang.


"Ugh... Dimana...?"


"Oh kau akhirnya bangun, anak nakal."


Sebuah suara mengangetkan Ellena. Gadis itu bahkan terlonjak mundur dua kali sebelum menengok siapa gerangan yang berbicara.


Yang dilihatnya membuat emerald Ellena melotot, "Astaga! Ada ranting bisa berbicara!"

__ADS_1


PLAK


Tepat saat itu juga, yang disebut Ellena ranting mengeluarkan rotan entah dari mana dan memecut kepalanya. Ellena mengerang karena sakit bukan kepalang.


"Dasar anak kurang ajar. Begini kau memerlakukan ibu mu?"


Sekali lagi Ellena melotot, "Ibuku? Kau???!!"


PLAK PLAK -rotan melecut lagi.


Kali ini kedua kaki Ellena menjadi sasaran hingga gadis itu kini melompat melompat seperti kera kehilangan ekornya.


"Aku mengerti kau punya banyak pertanyaan, tapi sebelum itu aku harus membenahi sikap kurang ajarmu itu."


"Aku kena--ADUH ADUH!!"


Belum Ellena selesai menyuarakan protes, pecutan rotan kembali menyambarnya.


PLAK PLAK PLAK


ARRGGHH! Matikan saja dia!


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2