Rise Of Legend [ LIGHTNING]

Rise Of Legend [ LIGHTNING]
Bab 25 Ular Naga


__ADS_3

Untungnya Ellena tepat waktu membungkam Nora. Dia peluk sekencang mungkin tubuh Nora yang lebih kecil darinya. Bahkan saking senangnya Ellena mengangkat Nora dan memutarnya di udara.


"Kau keren, Nora!! Benar-benar keren! " demi menunjukkan rasa senangnya, Ellena tidak segan mencium kedua pipi Nora hingga bocah malang itu terkejut lalu memerah malu.


Jantung Nora seperti ingin meledak saat Ellena memeluk nya dengan tawa bahagia. Dan tawa itu menular padanya.


"Aku... bisa menumbuhkan tumbuhan lain untuk mu El... " guman Nora malu-malu.


Ellena hampir memekik saking bahagia nya mendengar hal tersebut, "Nora! Dengan kemampuan mu ini, kau tahu artinya apa?!"


Nora berkedip namun lalu mengangguk, "A-Aku bisa membantu El mendapatkan uang."


"Ya kau bisa melakukan nya dan kita akan cepat menjadi kaya. Lihat itu! Bunga Bintang Merah, Ungu, Putih, Biru berada di satu tempat dan SANGAT BANYAK!" Mata Ellena yang istinewa menatap bahagia tiap jengkal petak tanah yang di tumbuhi Bunga Bintang berbagai warna. Hingga matanya menangkap sesuatu.


"Apa mata ku membohongiku?" Tidak bisa menahan rasa penasarannya, Ellena menyingkirkan Nora dari tangannya. lalu berderap cepat ke sepetak tanah yang berada di balik pohon. Saat melihat apa yang tumbuh di balik pohon, mata Ellena langsung melotot serta mulutnya yang terbuka lebar.


"HA HA HA! AKU BENAR-BENAR AKAN KAYA!"


Bunga Bintang Pelangi. Atau biasa di juluki Bunga Kebangkitan. Dimana selama seseorang yang terluka parah masih memiliki satu nafas dalam tubuh nya, maka dia masih diselamatkan. Tumbuhan jenis Obat Super Langka. Satu tangkainya bisa mencapai satu juta koin emas!


Dan disini ada banyak yang bisa Ellena petik.


"NORA!" teriak Ellena tetiba.


Nora yang mulai memetik Bunga Bintang Putih menoleh pada tuan nya. Iris hijaunya melihat Ellena yang datang padanya dan berlutut di sebelahnya. Mata emerald indah Ellena menatap Nora lekat-lekat.


"Nora. Mulai sekarang kau resmi jadi adik ku. Tidak, kau harus jadi adikku! Dan karena kau adikku maka aku akan melindungimu dengan nyawaku dan tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu." Ujar Ellena dengan nada paling serius miliknya.


Lagi. Jantung Nora berdegup lebih kencang saat mendengar pernyataan tidak terduga Ellena. "El ingin aku jadi adik? Sungguhan?"


Ellena mengangguk mantap dengan senyuman, "Semua orang menganggap mu adikku jadi kita wujudkan saja. Kau keluarga ku sekarang." kedua tangan Ellena menepuk bahu kecil Nora.


"Keluarga? Aku dan El? " otak Nora masih mencerna namun matanya bekerja lebih cepat dengan berkaca-kaca saat Ellena mengangguk mengiyakan.


"Aku... Aku... " Nora ingin menangis. Akal sehatnya tidak henti mengingatkan bahwa sikap Ellena yang tetiba ini karena kemampuan nya yang bisa mendatangkan untung bagi Ellena. Tapi meski begitu, serbuan perasaan hangat tidak henti menyebar dalam dadanya.


"Nora Ellyzzia. Bagaimana menurutmu?" Nora tidak menjawab dengan kata namun memilih mengungkapkan perasaan nya dengan tindakan yang dipikirkannnya.


Greb


Ellena agak tersentak dengan tindakan tetiba Nora yang memeluknya erat namun dia ikut tersenyum, "Aku anggap jawaban mu adalah iya?" kepala Nora yang berada dalam dekapan Ellena mengangguk cepat.


"Dan aku ingat kau masih memiliki Ayah. Aku akan membantumu mencarinya dan mengajaknya menjadi keluarga kita juga." Nora mengangguk semakin kencang mendengar kata demi kata Ellena yang menghangatkan hatinya.


Keluarga? Tentu saja Nora mau. Memiliki Ellena sebagai saudara tidak pernah dalam mimpinya namun seakan dirinya telah lama terikat dengan Ellena, Nora merasa bagian dalam hidupnya telah lengkap. Jauh dalam raganya, Nora sangat lega dan bahagia bersama dengan Ellena.


"Sudah jangan cengeng. Aku masih akan melatihmu hingga sekarat saat kau menjadi petualang kelak." Ellena melepas pelukan Nora dan mengusap pipi adiknya yang basah dan merah.


"Kita kumpulkan semua Bunga Bintang. Ini sangat cukup untuk persyaratan Ujianku. Untuk Hewan Buas, aku memiliki hampir 50 ekor dan terus bertambah sepanjang kita berjalan. Dua minggu menyusuri gunung ini, ditambah kemampuanmu, aku bisa naik Rank sekaligus kita mendapat sangat banyak uang." Kata Ellena yang mulai memanen Bunga Bintang Pelangi.


Nora yang sering kali merasa lucu tentang kesukaan Ellena dengan uang dan hidup foya-foya, tertawa kecil. Bocah itu menghapus ingusnya dan memulai lagi pekerjaan memanen nya.


"Terima kasih El... "


Ellena yang mendengar Nora berhenti memanen dan menoleh. Saat dia melihay wajah merah dan mata berair Nora, Ellena merasa lucu hingga menyengir lebar, "Tidak usah di pikirkan--"


DEG!!!

__ADS_1


Pada detik itu Ellena tercekat lantaran merasakan hawa membunuh yang sangat pekat. Dan itu berasal dari arah belakang dirinya.


Sesuatu yang sangat berbahaya ada di belakanh Ellena.


"EL, AWAS!"


'KHAHHHK!! '


Kejadian nya sangat cepat. Ellena tidak melihat apapun saat tubuhnya tiba-tiba di hantam sangat keras dan kencang hingga tubuhnya terlempar jauh dengan kecepatan gila hingga menabrak pepohonan lalu berakhir terbanting dengan cara menyakitkan.


"Kuakk!!!" Ellena merasa tubuhnya remuk dan memuntahkan darah segar dari mulutnya.


Apa itu? Sialan! rasanya seperti dirinya baru saja di hantam dengan palu raksasa. Neraka! bahkan palu tidak akan semenyakitkan itu.


"KALIAN BERDUA BERTAHAN LAH!!"


Suara itu milik Andesz. Suara nya terdengar jauh beriringan dengan pekikan kasar hewan buas dan debuman di mana-mana.


Apa yang terjadi? Nora...


"No... ra. " Ellena menggerakkan kepalanya susah payah. Matanya yang buram karena cairan berbau amis. Apa itu darahnya? Kepalanya pasti sobek karena sakitnya bukan main.


Dengan mata sayu, Ellena akhirnya melihat Andesz. Pria itu kini sedang bertarung dengan hewan raksasa berbentuk ular hitam. Sisiknya pekat dan keras serta matanya merah menyala.


Itu Monster Kelas Legenda. Seekor Naga yang bernama VRITRA.


Naga yang memiliki peringkat paling rendah diantara naga-naga lainya. Fisiknya yang seperti Ular raksasa yang tidak memiliki kaki atau pun sayap. Namun VRITRA tidak di sebut naga tanpa alasan. Sisiknya keras dan kemampuannya menyemburkan racun mematikan dari mulutnya. Tidak pernah ada yang selamat setelah terkena racun VRITRA saar bertarung dengannya, karena kebanyakan langsung mati ditempat tanpa pertolongan yang cepat.


Kenapa monster sekelas naga ada di Gunung Talos?


Baguslah. Sekarang Ellena hanya perlu menemukan Nora dan bersembunyi.


Ellena berusaha bangun meski sangat menyakitkan. Dia bisa mendengar tulang tulang berderak karena bergeser dari posisi bahkan patah. Namun Ellena benar-benar harus bangun dan menemukan adiknya.


[...zzttz...]


CETAR!!


Bumi bergetar. Langit pun mulai bergemuruh.


Ellena akhirnya menemukan kekuatan untuk bangkit. Meski seluruh tulangnya berteriak padanya untuk diam, Ellena memerintah seluruh tubuhnya berdiri. Tapi hasilnya tidak lah menyenangkan.


tek tek traak trak- "Sakitttttt!!!" Itu pasti suara tulangnya yang berderak dan bergeser.


Ellena berteriak memilukan saat akhirnya dia berhasil berdiri, tubuhnya tidak tegap dan kakinya bergetar. Wujudnya sekarang persis seperti zombi dalam cerita horor Bibi Em.


CETAR!!


Cahaya sekejab kilat petir membantu Ellena menemukan Nora. Bocah itu tergelak tak sadarkan diri tak jauh darinya. Ellena menghampiri Nora secepat yang dia bisa.


"No-ra... " Ellena jatuh disamping Nora. Dia memeriksa detak jantung Nora dan bernafas lega saat Nora masih hidup. Syukurlah Nora memakai Armor naga sepertinya hingga bisa mengurangi dampak mematikan terlempar dengan kecepatan gila lalu menghantam batu.


Suara pedang, raungan dan teriakan terdengar semakin merisaukan dan memecah kesunyian malam hutan di kaki Gunung Delos. Normalnya Ellena akan ikut dalam pertarungan karena untuk moment ini Ellena berlatih.


Tapi sial dia terluka parah karena serangan kejutan monster licik itu.


Ellena memutuskan bersembunyi dengan Nora. Memaksa bertarung pun, yang ada dia malah menjadi beban dan mati. Lebih baik biar Andesz dan yang lain mengurus VRITRA.

__ADS_1


Mereka semua adalah Petualang rank B keatas. Ellena bahkan yakin Andesz dan Kirein setidaknya memiliki Rank A karena aura keduanya yang dominan saat pertama kali bertemu dulu di toko. Sedang Max dan Luxia adalah Petualang dengan keahlian support terbaik.


Mereka pasti berhasil. Ellena yakin itu.


Namun nasip sial masih saja mengikutinya.


Niat hati bersembunyi, VRITRA yang harusnya berada agak jauh dari tempatnya sekarang, justru terlempar kemari hingga tanah berguncang dan pepohonan patah dan berjatuhan.


"Sial, kenapa kalian lempar dia kemari!" umpat Ellena kesal nan lemah saat melihat VRITRA bangun lagi. Monster ular naga itu mengangkat tubuh nya tinggi hingga menjulang ke langit. Monster itu menatap garang Ellena yang terungkap persembunyiannya.


'KHAAAHH''


Jantung Ellena berdetak kencang menerima raungan tersebut. Namun dia menolak untuk mati sia-sia disini.


"Makhluk jelek! Tersambarlah petir karena nafasmu sangat menjijikan!"


CETARRRR!!!


'KHAAHHHH '


Petir besar turun dari langit dan menyambar telak kepala VRITRA. Ular naga itu memekik nyaring nan kesakitan. Petir itu berhasil menggosongkan sisi kepalanya dan membutakan satu matanya.


[...zzttzz...] Ellena memanfaatkan kesempatan itu. Dia kembali memaksa tubuhnya mati-matian berlari terseok seok sembari merangkul Nora yang tak sadarkan diri. Namun VRITRA lebih cepat sadar dari serangan petir barusan lalu mengejar Ellena dan Nora. Tidak sulit bagi VRITRA mengejar keduanya dan sekali lagi menyeruduk kencang keduanya hingga terbang menabrak pepohonan keras.


"AKH" Ellena mengerang keras saat tubuh jatuh dan berguling cepat. Dia memeluk Nora kencang selama proses kesakitan itu. Menerima semua benturan dan luka daripada Nora.


"HABISI ULAR ITU!"


"SISIK NYA SANGAT KERAS! "


"HINDARI RACUNNYA, BODOH!"


"EL! NORA! KALIAN BERTAHANLAH!"


Ellena kembali mengerang sakit saat badannya di guncang kasar, tapi bedanya kali ini pelaku nya adalah Andesz yang menatapnya dengan wajah pucat , berkeringat dan sangat amat khawatir.


"Bertahanlah El, jangan mati disini." kata Andesz yang mungkin bertujuan menyemangati El yang sekarat agar tidak menyerah pada hidup.


Sialan sekali, Ellena berharap Andesz merasakan seluruh sakitnya agar pria itu tahu bagaimana rasanya di sarkasi saat sekarat.


Dan apa? Mati?


DEG...Mati?...Deg...Mati dia bilang? Deg


"YANG MULIA, PERGI DARI SANA!"


'KHAHHKK'


"Aku... " deg


Naga VRITRA meraung dan membuka mulutnya lebar-lebar. Dari badan VRITRA muncul sinar-sinar berwarna ungu pekat yang merambat naik menuju kepala dan akhirnya terkumpul menjadi bola raksasa di mulut VRITRA. Matanya yang tadinya merah, berganti ungu gelap yang membawa dingin yang mencekam. Seolah VRITRA menjelma menjadi kematian.


...mati?"


DEG!


BBBLLLLAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRR!!!

__ADS_1


__ADS_2