![Rise Of Legend [ LIGHTNING]](https://asset.asean.biz.id/rise-of-legend---lightning-.webp)
Namanya Nora Gress. Dia adalah seorang half breed dari ibunya Elf dan ayahnya manusia. Karena darah Elf dalam tubuhnya Nora memiliki beberapa keanehan seperti warna rambut hijau mencolok mata, kulit terlalu putih serta halus dan wajah cantik meski dia laki-laki( laki-laki sungguhan bukan menyamar seperti seseorang). Pun dengan pertumbuhannya yang lambat. Nora berumur sepuluh tahun tapi terlihat lebih kecil dari semestinya—seperti bocah umur lima atau enam tahun.
Selama sepuluh tahun hidupnya dia tinggal dan dibesarkan oleh Ayahnya. Seorang petualang Rank B. Karena kondisinya yang menarik perhatian, Ayahnya merawat dirinya dalam pengasingan. Nora sangat jarang bertemu manusia lain selain ayahnya. Yang dia lakukan berdiam dirumah dan berusaha semaksimal mungkin tidak membuat susah Ayahnya.
Nora tidak pernah tahu bagaiamana Ayahnya bertemu dengan Ibunya dan kenapa dia cuma tinggal dengan Ayahnya. Apa ibunya meninggalkannya? Mungkin saja. Tapi jika begitu Nora berpikir kenapa Ayahnya tidak membuangnya saja? Malah beliau merawat Nora dengan penuh kasih.
Apapun itu, Nora sangat mencintai dunia kecilnya.
Tapi dunia kecilnya berhenti pada suatu malam. Malam itu berada sendirian di pondok terpencil mereka. Ayahnya pergi melakukan misi pengawalan seorang putri bangsawan dan pergi selama seminggu. Nora yang sudah sering tinggal sendirian tidak masalah dan mengerti Ayahnya pergi mencari uang.
Malam itu tengah malam. Ketika suara jangkrik berderik sepanjang malam, Nora yang tertidur nyenyak tidak merasakan ada sekelompok orang mengintai kediamannya. Nora kecil tiba-tiba terbangun karena sergapan seseorang yang membekap mulutnya. Dia dibawa keluar rumahnya dengan paksa dan dipaksa menyaksikan pondok rumahnya yang cuma terbuat dari kayu dibakar habis. Malam yang harusnya gelap gulita seketika terang benderang.
“Lepas! Hik! Arrg!!”
Nora melawan semampunya. Dia berusaha keras melarikan diri dari para penculik itu. Tapi tenaganya kalah jauh dengan lima orang pria dewasa bertubuh besar.
“Ha ha ha! Bocah ini cukup berharga puluhan bahkan ribuan emas! Kita akan kaya, KAYA!” pekik satu orang penculik yang disahuti serupa dengan komplotannya.
Nora sudah tahu rupa miliknya akan membawa petaka baginya. Ayahnya mengetahui hal itu, karenanya Nora dibesarkan di daerah terpencil dan jarang keluar rumah. Tapi takdir begitu kejam dan keras untuk bocah sepertinya. Orang-orang jahat tidak punya nurani dan haus akan harta berhasil menemukan Nora dan sekarang Nora menjadi salah satu ‘dagangan’ mereka.
.
.
.
Satu jam setelah diusir dari kamar penginapan gadis yang telah menyelamatkannya, Nora diperbolehkan masuk kembali. Kali ini bukan sosok gadis muda yang dilihatnya tapi bocah laki-laki berambut hitam pendek , berdada rata dan berpakaian sepertinya—laki-laki.
Dia mengenalkan diri sebagai Ellena. Namun dalam bentuk laki-laki Nora diharuskan memanggilnya dengan ‘El’.
“Ku peringatkan kau. Jangan pernah membuka mulutmu tentang jati diriku. Paham?!” tekan Ellena menyorot tajam pada Nora yang langsung di angguki cepat.
Entah apa alasan gadis itu menyamar, Nora tidak dalam tempat berhak bertanya.
Puas dengan balasan tersebut, Ellena mengendurkan bahunya, “Jadi…kau siapa?” tanya Ellena tanpa basa basi.
Jika Emily melihat anak didiknya sekarang, wanita itu pasti menggelengkan kepala dan mengatakan bahwa Ellena adalah bocah kepribadian ganda atau bocah labil atau bocah sok. Entah berapa muka yang dimiliki gadis tiga belas tahun tersebut.
“Nama saya Nora Gress, No—maksudku Tuan muda El. Kemarin anda lah yang menyelamatkan saya dari sindikat berbudakan manusia. Atas kebaikan anda saya sangat berterima kasih Tuan Muda, terima kasih banyak!” Nora kembali menundukan kepalanya dalam-dalam. Dia benar-benar berterima kasih setulus hati.
__ADS_1
Pada saat itu Ellena akhirnya tahu kenapa bocah dihapannya ini terasa familiar. Rambut hijau dan mata hijau itu…karena sekarang Nora tidak lagi bersimbah lumpur basah dan memakai baju lebih bersih, jangan salahkan Ellena yang melupakannya. Lagi pula ada banyak hal dalam tangan dan pikirannya sejak bangun tidur pagi tadi.
“Oh, kau bocah itu. Aku tidak mengenalimu sejenak. Tapi kenapa kau bisa disini? Kau mengikuti kami?” Ellena mencoba menebak karena Nora jelas-jelas berada di desa Lily kemarin.
Atas pertanyaan ini wajah Nora kembali memerah malu dan mengangguk pelan. Kedua tangannya mencengkram kaos polosnya gugup kemudian menjelaskan bahwa dia memang diam-diam mengikuti rombongan Ellena dan Bibi Em. Nora bersembunyi di kereta barang dan rela berdesakan dengan patung-patung batu demi bertemu langsung dengan Ellena.
Mendegar itu, mulut Ellena sedikit menganga tidak percaya, “Dan bibi Em membiarkanmu begitu saja?” tanya nya.
Sudah Ellena bilang, bibinya itu agak tempramen. Dia tidak menyukai orang asing kecuali pelanggan atau orang-orang berkantong tebal yang bisa dia peras, lebih-lebih pada anak kecil. Satu-satunya anak kecil yang Emily toleransi serta yang tahan dengannya cuma Ellena seorang.
Nora mendadak tersentak kecil. Wajahnya sedikit memucat dan mengalami sedikit tremor—seolah sedang mengingat pengalaman mengerikan yang pernah ada, “I-Itu…Nyonya Emily sempat marah ta-t-tapi kemudian b-beliau mengampuni saya saat sa-saya berkata hendak berterima kasih pada Tuan Muda.” Jelas Nora seraya terus menyeka keringat.
Melihat hal itu, diam-diam Ellena kasihan. Dari penjelasan singkat yang jelas dibuat baik-baik oleh Nora yang polos, Ellena bisa membayangkan bibinya itu murka dan hampir membunuh Nora (Apa lagi alasan bocah itu sangat takut pada Emily yang kejam?).
Selanjutnya Emily tidak mungkin membunuh Nora di tengah kota Delos. Pembunuhan dilarang di kota ini meski setiap tahun kasus itu terus meningkat. Tapi karena Emily harus menjaga citranya dan tidak ingin menakuti para pelanggan, pada akhirnya Emily mengizinkan Nora menemui Ellena (setelah diancam lagi tentu saja)
“Ny-Nyonya Em berkata saya bo-boleh bertemu Tuan Muda sekalian me-mengantar makanan.”
Ellena mengangguk-angguk mengerti. Bocah malang. Baru kemarin selamat dari sindikat perdagangan manusia, hari ini dia berhadapan dengan wanita berbisa macam Emily Ellyzzia.
“Sekarang aku sudah bangun. Kau pergilah.” Usir Ellena tanpa beban seraya bersiap dan meraih jubah dan tas kecilnya.
“A-Anda mau kemana, Tuan Muda?”
“Tu-Tuan Muda—“
“Pergilah Bocah kecil. Aku sudah menerima terima kasihmu, apalagi maumu? Lalu apa-apaan julukan tuan muda ? Orang-orang akan mengira kau budak ku.” Ujar Ellena melempar pandangan agak risih kemudian berjalan ke pintu. Hari ini dia akan berkeliling kota sembari kuliner. Harusnya Ellena membantu Emily di toko atau mengantar pesanan patung tapi karena dia baru selesai menerima hukuman hingga muntah, Ellena memutuskan bahwa dia butuh hiburan.
Toh mereka berencana tujuh hari menetap di kota Delos.
Namun langkah Ellena terhenti saat seseorang menarik ujung jubahnya.
Nora, bocah itu lagi-lagi berlutut dengan wajah menyedihkan, “Tuan muda. Tolong jangan buang saya. Saya berjanji berguna untuk Tuan Muda.” Seru nya pada Ellena. Nora masih bersikeras memanggil nya ‘Tuan Muda’.
“Tidak bisa.” Tolak bocah tiga belas tahun itu cepat.
“Tuan Muda…”
Sementara itu Ellena mendengus kecil. Sedikit heran kenapa bocah itu ngotot ingin ikut dengannya yang juga cuma bocah yang baru masuk usia remaja awal? Ellena bahkan masih menggantungkan hidup pada bibinya.
__ADS_1
Tapi karena kesal Ellena lantas melontarkan pertanyaan, “Memangnya kau bisa melakukan apa untukku?” kesannya Ellena jahat sekali disini. Tapi kalau dengan itu Nora tidak merepotkannya lagi Ellena tidak masalah memasang wajah jutek terbaiknya.
Namun yanh tidak disangmanya, Nora justru menyambut antusias pertanyaan tersebut, “Saya bisa memasak, mencuci baju, membersihkan rumah serta kandang. Saya juga bisa menjahit dan bermain musik untuk anda, Tuan Muda.”
Alis Ellena menyatu memandang Nora keheranan. Apa bocah ini memang terdidik menjadi budak? Jadi apa Ellena sudah salah menyelamatkannya dari kemungkinan dia dijual sebagai budak? Ellena menggaruk kepalanya.
Ellena baru saja akan melontarkan penolakan saat Nora berseru kembali, “SAYA…Saya juga bisa membantu Tuan Muda mengumpulkan tumbuhan berharga di hutan. Saya bisa menemukan semuanya dan memberikan nya pada Tuan Muda. Karena itu tolong…jangan tinggalkan saya.” Pada akhir kalimatnya telinga Ellena tidak tuli hingga tidak mendengar nada sedih bocah itu. Membuat sesuatu dalam dirinya tergugah hingga Ellena harus mengumpati dirinya sendiri karena memiliki hati yang lemah.
‘Aku belum cukup kuat .’ rana Ellena sedih .
Tapi penuturan Nora terakhir agak menarik, “Semua tanaman berharga? Jadi jika aku ingin menemukan Bunga Bintang Biru, kau bisa menemukannya?”
Nora membuka tutup mulutnya. Jelas dia ragu menjawab sebelum berkata, “Bahkan jika Tuan Muda ingin Bunga Bintang Pelangi, saya bisa mendapatkannya.”
Mata Ellena membulat. Dia bahkan tidak sadar kapan dia berlutut dan meraih kedua pundak kecil Nora, “Bunga Bintang Pelangi? Sungguh? Tanaman itu bahkan lebih sulit ditemukan daripada sebuah jarum dalam jerami.”
Bunga Bintang adalah jenis tanaman obat-obatan. Ada beberapa varian Bunga dengan fungsi berbeda. Ada Bunga Bintang Merah untuk mengobati luka ringan, Bintang Ungu untuk mengobati racun tingkat 3 kebawah, Bintang Putih sebagai bahan dasar obat kecantikan dan Bintang Biru sebagai makanan penyambung hidup di keadaan darurat. Bintang Biru adalah benda wajib yang harus dimiliki seorang Petualang sebagai bekal darurat, karena itu permintaan nya cukup tinggi.
Lalu jenis terakhir dan yang paling istimewa ialah Bunga Bintang Pelangi. Bunga ini memiliki khasiat menyembuhkan segala luka, penyakit dan racun. Di sebut-sebut sebagai Bunga Kebangkitan karena selama masih ada nafas berhembus, bunga ini bisa menyelamatkan manusia yang terluka parah. Tapi bunga ini termasuk kategori tanaman langka yang amat sulit ditemukan. Jika pun di temukan, sulit bagi seseorang melepasnya sukarela dan jika dijual, nilainya setara satu juta koin emas untuk tiap tangkainya.
Dan bocah yang diselamatkannya kemarin berkata dia bisa menemukan Bunga Bintang Pelangi? Semudah itu?
Meski tidak semudah itu percaya tapi Ellena bukan orang bodoh. Bibi Em selalu memiliki alasan dalam tindakannya jadi sekarang Ellena memikirkan ulang kenapa bibinya menyodorkan Nora padanya.
Apa yang istimewa dari bocah ini?
“Baiklah. Aku akan menguji kebenaran ucapanmu nanti. Sekarang ikut, aku ingin jalan-jalan dan makan sepuasnya sampai kenyang.” Seusai berkata demikian Ellena kembali menuju pintu dan keluar dari kamar pengipannya.
Kenapa penginapan padahal Bibi nya memiliki toko nya sendiri? Karena biasanya Ellena yang bertugas membersihkan kamar atas tapi karena dia pingsan duluan, bibi Em mengambil langkah boros.
“Oh ya, panggil aku El.”
Senyum simpul mengembang di bibir Nora. Ellena heran tapi mengangkat bahu saja. Jika yang dikatakan Nora benar, bocah itu bisa menjadi tambang uang berjalan masa depannya.
Hehe…
.
.
__ADS_1
.
.