![Rise Of Legend [ LIGHTNING]](https://asset.asean.biz.id/rise-of-legend---lightning-.webp)
Nora belum pernah merasa sangat sedih karena seseorang. Mungkin Ayahnya. Nora yang tidak pernah bertemu ibunya tidak berpikir dia akan menangisi orang lain yang tidak ada hubungan darah dengannya.
Nora ingat malam itu.
Malam tepat 2 minggu Ellena pergi berburu. Yang mana seharusnya kakak sekaligus tuannya itu kembali seperti yang dia katakan dulu padanya sebelum berangkat.
Di pagi hari Nora menjalani hari dengan semamgat dan persiapan. Tahu bahwa Ellena pasti kelaparan, Nora mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk memasak dan menyiapkan cemilan yang disukai kakak angkatnya. Tak lupa Nora juga membersihkan dan memberi aroma lavender pada ruangan Ellena agar si empunya bisa tidur nyenyak. Dan masih banyak lagi yang Nora siapkan sepanjang hari itu. Mata hijaunya sering kali melihat pada gerbang ( dua pohon besar) Desa Sylfhim kalau kalau Ellena dan rombongan datang.
Beranjak sore, Nora telah selesai mempersiapkan semuanya dan dengan sengaja menunggu di depan gerbang. Dia ingin yang pertama menyambut Ellena.
Lalu saat matahari telah tenggelam dan batu batu bintang (batu sihir dari alam sebagai pengganti lampu) dihidupkan, tidak ada tanda tanda Ellena, Andesz dan Zeni kembali.
Adalah Nayla yang memberikan Nora selimut saat malam semakin dingin, "Nora, sebaiknya menunggu di tempat lebih hangat. Mereka mungkin akan tiba esok hari."
Nora yang kini berjongkok dengan kepala tertunduk mengangkat wajahnya yang murung. Mata hijaunya melirik Nayla kemudian menggeleng, "Hm hm... El bilang dia akan pulang hari ini. Tidak bisa hari lain."
Dahi Nayla berkerut pada jawaban itu, "Kenapa tidak bisa?"
Kepala dengan surai hijau itu kembali bergeleng lesu, "El tidak bilang kenapa."
Saat itu Nayla menyerah membujuk Nora yang tidak mau beranjak dari tempatnya berjongkok. Sebagai gantinya, Elf baik hati itu meninggalkan makanan dan nektar demi mengeyangkan perut si kecil Nora.
__ADS_1
Menjelang tengah malam Nora tidak lagi bersedih tapi menjadi risau. Angin malam membuat pipinya memerah dan dingin tapi Nora justru gelisah seperti cacing sakit perut.
Hingga kemudian Nora melihatnya.
CIUTTT PYYARRRR
Di langit yang jauh, baik Nora dan Elf Penjaga melihat seekor naga muncul dari ledakan. Detik selanjutnya sebuah teriakan terdengar dimana mana.
"SINYAL FLARE TERLIHAT DI UTARA! "
"SINYAL FLARE NAGA NAGA AGUNG TERLIHAT DI UTARA!"
"SINYAL FLARE MILIK PRAJURIT ZENI TERLIHAT DI UTARA!"
Sesuatu terjadi. Apapun itu Nora berharap Ellena tidak terluka. Bila pun iya semoga tidak parah.
Dalam waktu singkat prajurit terbaik berkumpul di depan gerbang Desa. Mereka berlutut di depan Reyna Freya yang keluar mendengar keributan dan diberitahu apa yanh terjadi.
"Para prajurit Desa Sylfhim yang gagah perkasa. Aku memerintahkan kalian untuk pergi secepatnya pada sinyal Flare diluncurkan dan selamatkan saudara dan kedua tamu kita. PERGI!!"
"BAIK REYNA!!"
__ADS_1
Tepat saat semua prajurit terbaik hendak pergi, sesuatu melesat sangat cepat diatas mereka.
***GRAAAHHHHH***
Itu adalah Naga Agung Hitam. Makhluk agung yang diyakini menjadi pelindung Desa Sylfhim itu terbang melesat menuju ke utara dengan raungan kencang yang membelah malam. Meninggalkan semua Elf memandang kepergiannya dengan perasaan cemas.
"Oh tidak...Nona El... "
Semua orang secara serempak menggumankan Ellena dengan nada khawatir. Pertama sinyal Flare lalu Naga Agung Druk sendiri keluar dari Taman Eden. Satu satunya alasan bagi makhluk agung itu bangun dari tidurnya tentu saja sudah jelas.
Tuannya membutuhkannya.
Dan Nora yang mendengar dan sadar dengan situasi yang terjadi pun semakin tidak bisa menahan sesak dalam dadanya.
"...El...hic... "
Firasatnya buruk.
.
.
__ADS_1
.