Rise Of Legend [ LIGHTNING]

Rise Of Legend [ LIGHTNING]
Bab 26 Hidup


__ADS_3

Ellena berharap tidak mati.


Sungguh sangat disayangkan bila dia mati semuda itu. Ellena belum puas foya-foya dan belum melihat banyak hal di dunia. Juga bibi Em...


Astaga, kasihan Emily kalau dia mati. Wanita yang masih cantik dan seksi di usia baya itu pasti kesepian tanpa gangguan Ellena.


Semilir angin berhembus. Ellena yang terbiasa menjelajahi kawasan hutan Outer sekitar mansion nya dapat mengenali harum rerumputan hijau, bunga liar, dan tanah segar.


Emerald Ellena akhirnya terbuka. Kelopak matanya mengerjab pelan, menyesuaikan sinar mentari yang bersinar dari balik kanopi pohon. Tanpa kata dia bangkit dari tempatnya berbaring.


Hm? Dimana ini?


Ingatakan terakhir Ellena ialah dia babak belur di seruduk Ular Naga besar licik. Apa sekarang dia sudah mati? Kalau begitu apa tempat ini surga? Satu-satunya dosa yang Ellena ingat adalah mengibarkan rok Bibi Em hingga celananya terlihat dan menjadi pemandangan surga para lelaki saat toko The M ramai. Waktu itu dia berusia 4 tahun.


Itu terhitung dosa atau amalan?


Ellena mengamati seksama tempatnya berada sekarang. Hal pertama yang Ellena lihat adalah pohon. Pohon yang menaunginya sangat-sangat besar dan rimbun. Besar pohon ini seperti bisa membuat rumah di dalam batang nya. Dahan nya menjulur ke bawah dengan banyak sulur-sulur panjang.



Sejenak Ellena mengagumi pohon besar yang terasa begitu agung, dan menenangkan hati. Terlebih setiap semilir angin bertiup, dedaunan pohon bergerak harmoni mengeluarkan nyanyian alam lembut serta kerlap kerlip bias cahaya hijau dan kuning.


Biasanya Ellena tidak akan takjub hanya karena sebatang pohon besar. Tapi perasaannya campur aduk karena pohon ini sangat tidak biasa. Pohon yang tadinya hijau sekarang memiliki warna lain dari kuncup-kuncup bunga yang tiba-tiba tumbuh.


Apa ini yang namanya sihir alam? Mirip seperti milik Nora. Tapi lebih kuat.


Ellena terpana melihat itu dan mendekati kuncup bunga terdekat. Tak lama memperhatikan kuncup bunga mekar sempurna. Namun yang menarik Ellena ialah objek yang keluar dari kuncup. Bola cahaya seukuran kepalan orang dewasa, tak hanya itu, dalam bola tersebut terdapat gambar bergerak.


Ellena mengamati penampakan dari seorang gadis berwajah serupa dengannya namun dengan rambut pirang panjang dan mata biru sewarna angkasa. Perawakannya langsing dan anggun. Dilihat dari cara gadis itu berpakaian sepertinya dia gadis bangsawan.


Ellena mendekati kuncup lainnya, kali ini dia melihat gadis lain yang juga mirip dengannya. Bedanya rambutnya coklat tembaga dengan iris hitam. Gadis ini terlihat kotor dan cemong dengan pakaian ala pekerja kasar.


Kuncup lain memperlihatkan hal lain lagi. Kali ini Ellena melihat seekor hewan bersayap biru dan berkepala elang terbang mengitari langit hingga hewan itu menukik cepat ke bawah. Ellena tidak mengira dia akan melihat gadis mirip dengannya lagi, berambut hitam dengan iris biru samudra. Nampaknya gadis itu pemilik hewan bersayap biru itu, dilihat dari akrabnya mereka berdua bermain. Ellena memincingkan matanya saat gadis berambut hitam panjang itu tetiba tersenyum manis kearahnya.


Ha?


Ellena mengabaikan kejadian itu dan menatap kuncup-kuncup bunga lain. Setiap bola cahaya sangat menarik hingga Ellena melihat satu kuncup bola cahaya yang menampilkan seekor Ular raksasa(lebih besar dari VRITRA) mengamuk di tengah kota. Ular dengan sisik hijau kegelapan itu menghancurkan bangunan demi bangunan rumah. Anehnya Ellena seperti familiar dengan lingkungan tersebut.


Sekali lagi Ellena berlalu dengan cepat. Setelah puas melihat kuncup bunga, Ellena mendapati benda lainnya di pohon besar itu. Kali ini dia melihat empat benda. Empat benda beda jenis yang menggantung bebas dan terlilit sulur-sulur pohon.


Pedang, Hammer, Kipas Besi dan Busur.


Masing-masing dari empat benda itu terlilit banyak sulur seolah pohon ini memang sengaja menjebak keempatnya di sana. Ellena mencoba menarik pedang, tapi sulur-sulur itu tidak bisa di urai dan sangat keras. Ellena menyerah dan tidak mencoba menarik ketiga benda lainnya. Dia tahu itu sia-sia.


Ellena kembali berlalu. Kali ini dia mengamati batang pohon yang sangat besar. Diameternya kira kira 15 meter. Dia mengitari pohon sembari melihat sekeliling. Ternyata tempatnya berpijak sekarang adalah secuil tanah yang melayang diudara. Dibawah Ellena melihat hutan lebat terhampar luas dengan pusatnya adalah pohon besar ini. Akar-akar pohon ini merambat ke arah hutan dan menyebar.


Jatuh dari sini setidaknya akan mematahkan beberapa tulangnya. Lagi.


"Hm? Apa gunung itu baru saja bergerak?" mata emerald itu memincing tajam, memastikan dugaannya bahwa gunung batu yang jauh itu baru saja bergeser. Tapi gunung batu itu tidak bergerak lagi.


"Cuman perasaanku." guman Ellena sendiri dan terus melangkah hingga dia berhenti melangkah.


Bukan tanpa alasan karena Ellena benar-benar kehilangan suara saat melihat objek di depannya ini.


Di salah satu lekukan batang pohon yang besar, terdapat bola besar setinggi dada nya. Bola itu memancarkan cahaya hijau lembut. Namun bukan itu yang mengejutkan Ellena tapi sosok makhluk di dalamnya.


Sesosok manusia, gadis, yang lagi-lagi mirip dengannya. Kali ini dengan rambut merah panjang. Ellena tidak yakin apa warna matanya karena gadis ini terpejam meringkuk seperti janin di dalam bola yang seperti terdapat air.


"Apa dia hidup? " Dari semua hal gila yang pernah Ellena alami, baca dan dengar dari Emily, Ellena tidak pernah mendengar apapun tentang manusia di dalam bola cahaya. Ellena cukup yakin reproduksi manusia tidak melibatkan batang pohon dan bola besar bercahaya. Ditambah tidak ada manusia yang lahir langsung besar. Mereka lahir dari rahim wanita dan berupa bayi.


Jika manusia lain lahir dari rahim, maka gadis ini seperti... dilahirkan dari sini, oleh pohon raksasa ini. Bukan kah ini aneh?


Yang tambah anehnya lagi, Ellena merasa semua ini familiar meski logikanya bekerja keras mencerna teori ini.


Ellena sama sekali tidak menyadari bahwa ada empat bola lain di lekukan lain yang telah pecah dan kering. Salah satu nya bahkan telah ditumbuhi semak belukar sementara sisanya berlumut.


Ellena mendekati sosok yang tengah tertidur itu. Sedari tadi Ellena hampir gila memikirkan siapa gadis-gadis yang mirip dengan nya ini. Mereka saudaranya? Bohong besar, Bibi Em tidak pernah mengatakan dia punya saudara.

__ADS_1


Tangan Ellena terulur ke depan. Telapaknya yang tak seberapa besar menyentuh lembut permukaan bola tersebut dan seketika itu Ellena merasa hangat. Seakan makhluk di dalamnya bisa merasakan kehadiran Ellena, dia menggeliat kecil dan mencondongkan sedikit kepalanya kearah telapak tangannya berada.


"Kau benar-benar hidup. " guman Ellena merasa takjub. Mata emeraldnya berbinar dan jantungnya berdegub kencang tanpa alasan.


Ellena berdiri diam seperti itu hingga suara mengagetkannya.


"Sedang apa kau?"


Ellena terlambat bereaksi dan tiba-tiba saja tubuhnya sudah ditarik kuat menjauh dari bola.


"Apa--!!? "


"Anak nakal. Datang bila sudah saatnya!"


Ellena JATUH! Di dorong oleh sosok asing hingga tubuhnya jatuh dari daratan pohon. Sekilas Ellena melihat sosom asing itu tinggi besar dengan kulit seperti pohon.


"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA. "


.


.


.


Seorang gadis cantik berambut pirang dan bermata biru melangkah lembut lalu berputar dengan indah. Kerlap kerlip dari mutiara dari gaunnya menambah pesona sang gadis yang menari dengan sempurna.


clap clap clap


"Luar biasa, Nona. Kemampuan berdansa anda sangat indah dan anggun layaknya seekor angsa. Oh Tuan Putri juga populer di sosialita para putri bangsawan, bahkan pelajaran etiket, tatakrama serta menyulam anda mengagumkan. Anda sangat sempurna." puji seorang wanita baya bergaun lebar. Dia adalah seorang janda bangsawan yang bekerja sebagai Tutor sang Tuan Putri. Betapa beruntungnya dia memiliki murid yang begitu cantik dan sempurna seperti Tuan Putri.


Sang Tuan Putri tersenyum kecil atas pujian sang tutor. Namun tidak dia tampik bahwa dia setuju bahwa dia memang luar biasa. Semua yang dilakukannya indah dan sempurna.


"Semua ini atas didikan mu, Baroness Maria."


Maria, sang tutor, sekali lagi terpukau dengan kerendahan hati junjungan sekaligus muridnya.


Delyzzia tersenyum makfum. Hidup ini memang sempurna.


.


.


.


Tang Tang Tang


Di sebuah bengkel dimana langit gelap berada, pria-pria berwajah garang tidak henti memukul palu mereka pada sebatang besi panas. Mereka memukul, memanaskan, memukul lagi, kemudian di poles lalu didinginkan. Tumpukan bilah pedang yang masih kasar berada pada satu wadah yang kemudian akan dipindahkan untuk proses selanjutnya.


TAK


"SIAL! HANCUR LAGI! " Kesal salah satu pria garang dengan otot lengan yang besar dan kencang. "MICHELLE! BAWAKAN LAGI BIJI BESINYA! " seru pria itu tanpa mendapat teguran dari pekerja lainnya. Seolah itu hal biasa yang terjadi di bengkel tersebut.


Tak lama, lima kotak penuh berisi biji besi yang berat masuk. Kelima kotak itu ditumpuk menjadi satu hingga si pembawa kotak tidak terlihat. Nampak kotak kotak itu sangat berat namun si pembawa kotak dengan keras kepala membawa nya dalam satu angkatan daripada bolak balik.


BUGH! Lima kotak biji besi itu diletakkan kasar di samping pria garang yang berteriak tadi.


"Sudah kubawakan." kata si pembawa kotak yang ternyata adalah gadis mungil kecil yang memiliki rambut coklat tembaga dan mata hitam. Wajahnya yang datar dan kotor sedikit terengah karena memaksa membawa lima kotak berat sekaligus.


Pria itu mendengus, "Ya kembalilah membuat sarung pedang." usir nya tanpa melihat sang gadis.


Tapi gadis itu, Michelle bergeming ditempatnya. Tangannya yang terbalut sarung tangan hitam butut meremat baju dan apron seragamnya. "Paman Nico...kalau boleh saya ingin..." Pria besar, Nico memandang Michelle dengan alis terangkat tidak suka, "...Saya ingin--"


"Kalau kau berkata ingin menempa pedang atau senjata lain, lupakan! Sampai kapan pun aku tak akan mengizinkan mu menggunakan satu pun alat dan bahan ku yang berharga hanya untukmu bermain, bocah!" bentak Nico pada Michelle yang bergetar.


"Kembali bekerja! "


"Baik, Paman... "

__ADS_1


Michelle kembali dengan hati sakit. Tangannya mencengkram kuat apronnya seraya menahan desakan mata yang ingin menangis.


Hidup ini sangat memuakan.


.


.


.


Di pinggir sungai yang sangat jernih dan kehijauan, sesosok gadis bergaun biru dan putih tengah bermain air. Kakinya yang ramping setengah terendam di dalam air.


"Aduh... geli. " gadis itu tertawa kecil saat ikan ikan kecil mengkerubungi kakinya.


Dilangit hewan bersayap biru berputar rendah, seolah sedang mengintai mangsa diudara sekaligus menjaga jaraknya agar tidak berjauhan dengan sang gadis berambut hitam.


"Hidup adalah anugrah." gadis itu menatap langit biru dengan matahari yang bersinar terang. "Tapi aku mulai lelah."


Kapan perjalanan panjang ini berakhir?


.


.


.


"Hidup ku begitu sial!!!"


Raungan gadis berambut ungu panjang dan bermata emerald memenuhi seluruh penjuru Rumah pondok terpencil di puncak gunung.


Raungan tidak tahu diri itu ditanggapi malas oleh sosok pria berambut putih keperakan dan mata biru.


"15. Sudah lima belas kali kau merancau hal yang sama , Ellena. "


Ellena memandamg tajam pria itu, "Diam kau. Dan jangan panggil aku Ellena--AKH! Nora! Sakittttt."


Nora tidak menghiraukan kesakitan kakaknya dan dengan tenang membalur luka-luka di sekujur tubuh Ellena.


"Jangan bergerak El."


Andesz, pria berambut putih keperakan dan bermata biru, melihat interaksi keduanya dengan pandangan tertarik.


Sepasang kakak adik yang manarik.


Kakaknya yang Andesz kira laki-laki ternyata perempuan. Dan adiknya yang dia perempuan ternyata laki-laki.


Rasanya sebal sekali karena merasa telah di tipu tapi...


"Ini akan lebih menarik. "


.


.


.


[...bluppb...]


Cahaya hijau berpendar dalam bola raksasa.


'Hidup...akan dimulai.'


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2