Rise Of Legend [ LIGHTNING]

Rise Of Legend [ LIGHTNING]
Bab 13 Laki-Laki Asing


__ADS_3

Deru nafas terengah memburu di udara. Uap-uap hangat keluar dari mulut karena dinginnya suasana pukul enam pagi. Kaki-kaki ramping tidak berhenti bergerak kala tujuan sudah di depan mata.


Di titik yang sudah ditandai, Nora menyambut Ellena dengan sorak gembira.


“Selamat El. Kali ini lima belas putaran. Pecah rekor!” serunya pada Ellena yang langsung terbaring di rerumputan dengan nafas terengah. Ada senyum di wajah tak kalah cantik itu. Merasa bangga bisa mengalahkan dirinya yang kemarin.


Setelah menstabilkan nafasnya Ellena duduk bersisihan dengan Nora dan mengeluarkan tas besar berisi sarapan mereka.


“Nora kau…membuat ini semua?” mulut Ellena membulat menatap takjub berbagai makanan yang disiapkan Nora diatas alas kain. Yang membuat Ellena terpukau ialah semua makanan itu kesukaannya.


Melihat eskpresi tuannya Nora merasa tidak sia-sia membeli bahan kamarin dan bangun pagi-pagi untuk membuat semua makanan itu, “Ini hadiah dari saya. Saya merasa belum berterima kasih dengan benar atas bantuan El di desa Lily. Selain itu El juga telah berusaha keras jadi silahkan dinikmati.”


Jika ada hal yang paling Ellena cintai di dunia ini selain bibi Em dan uang, maka jawabannya adalah makanan. Mata emerald itu kini memandang Nora dengan sorot gembira dan senyum terima kasih.


“Nora, kau yang terbaik!” yang lebih muda menanggapinya dengan senyuman lebar.


Keduanya kemudian menikmati sarapan lezat seraya memandang matahari terbit. Suasana berlangsung khikmat dan tenang bagi Ellena maupun Nora. Mereka berpikir jika bibi Em masih belum ada niatan pergi dari Delos, keduanya bisa lebih sering melakukan kegiatan ini.


Tapi memang tidak ada yang abadi—terlebih jika berkaitan dengan kesenangan seorang Ellena Ellyzzia. Seolah semesta sudah mengatur tiada hari tanpa gangguan. Ellena nyaris menyemburkan teh miliknya saat melihat tiga sosok mendekati tempat mereka berdua. Dan Ellena mengenali salah satunya.


“Kalian pegawai Nyonya Em.” Todong tiba-tiba sosok laki-laki yang berjalan paling depan. Itu jelas bukan pertanyaan. Dalam hati Ellena mencibir sapaan kaku dari laki-laki yang kemarin dengan kurang ajar ingin menyentuh wajahnya.


Baik Ellena dan Nora tidak ada yang membalas. Tepatnya Ellena yang mencegah Nora bersuara dan menempatkan bocah itu untuk berdiri di belakang tubuhnya.

__ADS_1


“Kau punya mulut kan? Jawab jika ada yang bicara denganmu.” Satu orang dari dua orang yang bersama laki-laki kemarin berkata ketus. Seorang perempuan yang berumur tak jauh dari temannya—dua puluh tahunan.


“Maaf. Bibi selalu mengingatkan untuk tidak menanggapi orang asing tidak dikenal.” Sahut Ellena seraya menekan kata terakhir dengan nada tidak bersahabat pula.


Ellena tidak sedang menjadi pegawai Toko the M dan ketiga orang di depannya juga bukan pelanggan, tidak ada keharusan dia harus beramah tamah. Terlebih aura dari sosok ditengah—laki-laki kemarin terasa berbeda. Meski dia cuma diam, tapi Ellena bisa merasakan aura arogan sekaligus dominan mengelilingi pemuda tersebut. Insting nya mengatakan untuk menjauh dari orang-orang ini atau di akan terlibat masalah.


“Namamu El bukan? Apa yang kalian lakukan di jam segini?” pria di tengah kembali bertanya.


Kenapa kau mau tahu? “Saya yakin itu bukan urusan anda tapi orang yang punya mata biasanya bisa melihat kami baru selesai sarapan.” Kali ini Ellena menjawab dengan tersenyum dan penuh sarcasme. Senyuman yang tidak mencapai matanya.


Balasan Ellena ternyata direspon agak agresif oleh perempuan yang menemani si laki-laki. Perempuan itu hampir menarik belati panjang dari pinggangnya sebelum sosok lain—seorang pria besar nan kekar dengan perisai yang besar pula di punggungnya menghentikan aksi si perempuan.


“Tidak ada yang pernah mengatakan bahwa ucapanmu sangat tidak sopan pada orang yang lebih tua?” mata hitam lelaki itu sedikit memincing. Kentara dia agak tidak suka dengan sarkas Ellena kepada dirinya. Seolah dia tidak biasa berbicara dengan orang bermulut semacam Ellena.


“Selamat tinggal.” Ujar Ellena sambil lalu. Gadis berpenampilan layaknya laki-laki itu benar-benar tidak ada niatan berbasa-basi atau bersopan ria. Melenggang pergi dengan Nora yang mengikuti setelah satu kali memberi salam sopan kepada tiga orang asing tersebut.


Meski sudah jauh, tatapan mata hitam laki-laki itu tidak berpaling dari punggung kecil sosok bermulut pedas barusan. Hingga perkataan temannya yang bertubuh besar menyapa telinga, “Tuan, tidak biasanya anda seperti tadi.”


“Seperti tadi bagaimana?” seulas senyum terpatri dalam wajah yang bisa dibilang tampan tersebut.


“Anda…seperti tertarik dengan remaja itu.” Ujar si pria besar.


Tawa kecil kemudian terdengar, “Kau tidak salah. Tapi itu karena dia mirip seseorang.”

__ADS_1


Si pria besar tidak membalas. Tapi dari tatapannya sepertinya dia bisa menebak siapa yang dimaksud.


“Benar Max. Dia sangat mirip adikku. Kau tahu apa artinya bukan?” ujarnya dengan seringai. Seakan dia telah menemukan lokasi harta karun terpendam dan siap memburunya.


Tapi kemudian teman perempuannya menyela, “Saya tidak merasa mereka mirip, Yang mulia. Adik anda tidak bermulut kurang ajar seperti itu.”


Laki-laki itu sontak tertawa mendengar hal itu. Jika dia pikir kembali memang sangat tidak cocok membandingkan adiknya yang anggun, lembut dan santun dengan laki-laki muda yang kasar dan bermulut pedas yang telah dua kali dilihatnya. Meski juga tidak bisa dibantah kemiripan wajah keduanya.


“Kau benar Luxia. Tapi bukankah itu daya tariknya? Lagi pula dia masih remaja dan lihat, dia sangat protektif pada adiknya. Kakak yang baik bukan.” Lelaki itu jelas-jelas memandang datar Ellena dan Nora beberapa waktu lalu. Tapi sekarang dia justru terkekeh tidak jelas mengingat tingkah duo kakak-adiktersebut.


Max si pria besar tidak tahan untuk berkata, “Anda memang memiliki selera yang tidak biasa, Tuan.”


Yang dipanggil ‘Tuan’ hanya balas kekehan kecil, “Dan kau beruntung adalah salah satu orang terpercayaku, Max.” katanya seraya membuat gerakan memotong udara tepat di depan lehernya.


Mengindikasi bahwa Max sudah pasti kehilangan kepala dari tubuhnya karena telah menghina selera anggota Kekaisaran jika bukan statusnya sebagai orang kepercayaan.


Meski kenyataannya memang benar seleranya aneh.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2